Wishing For You

Wishing For You
Awkward



Satu bulan kemudian.


Pagi hari ini Caitlyn mengadakan sarapan bersama Damian dan Dareen. Sebagai perayaan karena Dareen sudah berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Namun, yang Caitlyn tidak tahu Damian dan Dareen mengundang Liam tanpa sepengetahuan Caitlyn. Mereka ingin Caitlyn juga berbaikan dengan Liam, karena bagaimanapun Liam juga harus meluruskan masalahnya dengan Caitlyn. Tiba-tiba bel berbunyi, Caitlyn segera mengecek siapa itu dan ternyata itu Liam. Caitlyn yang melihat itu langsung terkejut, ditambah Liam membawa buket bunga. Caitlyn mengizinkan Liam masuk dan mengajak Liam sarapan bersama. Liam pun mengasih buket bunga itu kepada Caitlyn dan tersenyum begitu canggung.


Akhirnya mereka semua makan bersama, namun Liam merasa canggung dengan Caitlyn. Caitlyn hanya terdiam sedari tadi, Liam menduga jika Caitlyn tidak nyaman dengan keberadaannya. Liam mengetahui jika Caitlyn merasa tidak nyaman, bagaimanapun juga Liam pernah menikah dengan Caitlyn. Walaupun sekarang mereka sudah berpisah, namun Liam masih hafal dengan kelakuan Caitlyn. Liam memilih menghiraukan Caitlyn yang terlihat tidak nyaman, ia lebih fokus kepada kedua putranya.


Setelah sarapan bersama selesai Damian dan Dareen pergi lebih dulu. Sekarang hanya tinggal Liam dan Caitlyn berdua saja. Liam memilih untuk membantu Caitlyn merapikan meja makan. Mungkin ini terasa begitu canggung, namun Liam tidak enak jika tidak membantu. Lagi pula niat Liam baik ia ingin membantu, bukan mencari keributan dengan Caitlyn.


“Apa kamu sibuk hari ini?” tanya Caitlyn.


“Tidak, aku tidak mempunyai kegiatan apa-apa lagi,” jawab Liam.


“Tidak seperti biasa, biasanya kamu sibuk di hari libur sekalipun.”


“Sekarang aku mengurangi waktu bekerja dan berusaha untuk mendapatkan kesempatan dari kedua putraku. Terdengar menyedihkan, bukan? Tapi itulah yang harus aku lakukan untuk mengenal mereka lebih baik. Aku juga berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada yang sebelumnya, kamu tahu sendiri.”


“Aku selalu mengetahui itu, Liam. Tapi syukurlah kamu ingin menjadi orang yang lebih baik.”


“Apa kamu sibuk nanti malam?” tanya Liam.


“Tidak, mengapa?” jawab Caitlyn.


“Ayo makan malam bersama, sebagai tanda permintaan maafku kepada kamu. Apakah kamu mau?”


“Boleh-boleh saja, aku juga sudah lama tidak makan keluar.”


Mereka berdua melanjutkan pembicaraan mereka seperti yang selalu mereka lakukan dulu. Caitlyn merindukan hari-hari itu, di mana Liam begitu manis dan baik. Sayang sekali Caitlyn hanya mendapatkan kenyamanan itu di saat mereka mempunyai Dareen, setelah itu mereka sibuk dengan dunia masing-masing lagi. Terkadang Caitlyn merindukan hal-hal manis yang Liam lakukan kepadanya, tapi terkadang Caitlyn tersadar jika Liam tidak pernah mencintainya.


***


Setelah sarapan bersama Caitlyn, Damian pergi ke apartemen Hope untuk mengajak Hope mencari udara segar di luar. Damian pun memencet bel dan menunggu Hope membukakan pintu. Namun, Damian malah terkejut melihat Hope. Hope terlihat seperti orang yang belum tidur semalaman, bahkan rambut Hope sangat berantakan. Hope juga tidak terlihat senang melihat Damian, tidak seperti biasa.


“Menurut kamu? Apa aku terlihat seperti orang yang tidur nyenyak?” jawab Hope dengan nada tinggi.


Hope menyuruh Damian masuk dan duduk di mana yang ia mau. Namun, Damian lebih terkejut melihat dalam apartemen Hope. Apartemennya begitu berantakan, ada buku di mana-mana. Damian bingung ingin duduk di mana, karena semua terisi oleh buku-buku. Sedangkan Hope tidak menghiraukan Damian, ia kembali menatap laptopnya dan mengetik tugasnya. Bahkan Hope tidak bertanya mengapa Damian datang, Hope hanya membiarkan Damian masuk dan melakukan apa ia mau.


“Hope, ini semua terlihat begitu kacau? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Damian. Hope langsung melihat kepada Damian dan menatap Damian begitu tajam. Tatapan itu membuat Damian sedikit takut, tidak biasanya Hope memberikan tatapan seperti itu kepada orang lain. Apakah Damian membuat kesalahan kepada Hope? Damian bahkan tidak tahu.


“Pakai bertanya, apa kamu tidak lihat aku stres mengajarkan tugas makalah bodoh ini?! Aku tidak tidur semalaman, apa kamu tidak melihat mata dan rambutku? Aku bahkan belum sarapan pagi. Dan, kamu malah bertanya apa aku baik-baik saja, MENURUT KAMU,” teriak Hope kepada Damian. Damian pun mendekati Hope dan melihat tugas apa yang membuat Hope menjadi seperti ini. Ternyata itu adalah tugas makalah dari Damian yang begitu banyak, pantas saja Hope marah.


“Kamu itu jadi dosen memang gila ya! Tugas sebanyak ini dengan waktu pengumpulan yang begitu mepet. Aku itu ingin kuliah bukan ingin menjadi gila! Jika kamu bilang aku tidak boleh seperti. Kamu lihat anak-anak yang kamu ajar menjadi gila, dasar dosen gila! Kamu sudah merebut hari Mingguku yang cerah!” teriak Hope semakin menjadi-jadi. Hope benar-benar lelah dengan tugas ini.


“Kamu hanya lelah, sayang. Tugas itu sangat sedikit untuk anak kuliah,” ucap Damian dengan senyum tanpa dosa.


Hope yang melihat senyuman tanpa dosa Damian, langsung mengambil buku yang begitu tebal. Hope merenggangkan buku itu lalu memukul Damian dengan buku tersebut, pukulan itu tepat mengenai wajah Damian. Damian merasa sakit di seluruh wajahnya, karena buku itu begitu tebal. Damian ingin marah, namun yang Hope katakan benar. Lagi pula Damian sendiri yang meminta pandangan Hope sebagai mahasiswi kepadanya, sepertinya Hope benar-benar mengambil kata-kata itu dengan serius.


“Itu sangat standar, kok. Kamu hanya sedang emosi karena kurang tidur.”Damian langsung mendekati Hope lalu memeluknya.


“Tapi kamu memang dosen gila, tanya saja Amber dan kak Stevani,” ucap Hope yang terdengar begitu mengantuk.


“Hahaha, kamu sedang tidak stabil saat ini. Lebih baik kamu istirahat dan lanjut mengerjakan nanti malam,” balas Damian dengan tawa canggung miliknya.


“Tidak bisa, kamu sendiri yang bilang Senin besok harus sudah jadi,” protes Hope yang terdengar kesal dengan Damian.


“Baiklah, jika seperti kamu kerjakan lalu istirahat,” saran Damian tanpa dosa. Rasanya ingin Hope remuk wajah itu. Namun, Hope mana bisa melakukan itu kepada pria yang ia cintai.


Hope pun mencium pipi Damian dan melepaskan pelukan. Hope tersenyum tipis dan memeluk Damian lagi. Tanpa disadari Hope tertidur di pelukan Damian, Damian pun mengangkat tubuh Hope lalu membawanya ke kamar. Setelah menidurkan Hope, Damian langsung membereskan kekacauan yang ada. Damian merapikan buku-buku yang berantakan, Damian juga menyimpan dokumen tugas Hope. Setelah Damian menyimpan dokumen itu, tidak sengaja ia melihat salah satu website yang Hope kunjungi. Website itu berisi tawaran beasiswa di luar negeri. Damian yang melihat itu menjadi sedikit khawatir, jika Hope tertarik dengan beasiswa itu berarti mereka akan berjauhan.


Bersambung…..