Wishing For You

Wishing For You
Get Back Together



Malam harinya Liam dan Caitlyn makan malam bersama, seperti ajakan Liam tadi. Jujur saja Liam merasa sedikit gugup untuk bertemu Caitlyn. Mengingat semua yang pernah terjadi di antara mereka berdua, Liam menjadi cukup canggung di dekat Caitlyn. Bertahun-tahun Liam tidak pernah berbicara dengan Caitlyn dan sekarang Liam harus berbicara dengannya. Seketika Liam merasa menyesal mengajak Caitlyn untuk makan malam bersama.


Sedangkan Caitlyn sedari tadi hanya sibuk dengan ponsel. Jujur saja Caitlyn juga merasa canggung dan bingung. Mengapa dirinya harus menerima tawaran Liam? Harusnya Caitlyn mencari alasan untuk tidak datang. Awal Caitlyn menganggap ini hanya makan malam biasa seakan mereka berteman, namun Caitlyn lupa jika Liam adalah mantan suaminya. Caitlyn melupakan bagaimana canggungnya berbicara dengan mantannya sendiri. Padahal saat sarapan bersama mereka bertingkah biasa-biasa saja.


“Bagaimana keadaan kamu belakang ini?” tanya Liam yang basa-basi.


“Baik-baik saja, semua berjalan lancar,” jawab Caitlyn.


“Syukurlah jika seperti itu. Apa kamu benar-benar merencanakan semua hal yang kamu lakukan saat ini, saat kita bercerai?” tanya Liam.


“Ti– tidak juga. A– aku merencanakan ini semua sa– saat aku menikah dengan kamu. Kamu tahu sendiri bagaimana ibu kamu, ja– jadi aku harus bersiap-siap jika hal yang paling buruk terjadi.”


“Kenapa kamu ragu-ragu mengatakan hal itu?”


“Karena aku tidak mau membuat kamu tersinggung. Kamu itu adalah orang cepat tersinggung dengan kata-kata orang lain, jadi aku sedikit ragu mengucapkannya.”


Liam pun menatap Caitlyn dengan begitu serius. Bagaimana Caitlyn bisa mengetahui hal seperti itu? Liam bukanlah orang yang suka mengekspresikan perasaannya, terutama jika sedang merasa tersinggung. Mendengar itu Liam menjadi tersadar, jika dirinya tidak pernah sadar betapa pekanya Caitlyn kepada dirinya. Caitlyn selalu mengetahui semua tentang Liam, hal sekecil apa pun juga Caitlyn akan mengetahuinya. Karena Liam adalah suami Caitlyn untuk waktu yang cukup lama, bagaimanapun Caitlyn tetap berusaha menjadi istri yang baik.


Caitlyn mengetahui jika Liam dilarang untuk mengekspresikan dirinya sendiri, karena Helen terlalu mengontrol Liam. Hal itu membuat Caitlyn mempelajari sikap-sikap Liam, walau terasa susah karena Liam begitu kaku. 5 tahun awal pernikahan Caitlyn bisa mengerti semua perasaan Liam, dari kata-kata yang Liam ucapkan. Mungkin Liam bisa menutupi ekspresinya dan perasaannya, namun Liam bukanlah pembohong yang pintar. Bisa dibilang Liam jarang berbohong, jika Liam berbohong nada suara dan kata-katanya akan berubah.


“Aku tidak tersinggung sama sekali, yang kamu katakan benar,” ucap Liam


“Jika kamu tersinggung kamu bisa mengatakan langsung, aku tidak akan marah,” balas Caitlyn.


“Tidak, Caitlyn. Aku tidak tersinggung sama sekali.”


“Tapi kata-kata kamu sama seperti saat kamu bilang tidak tersinggung padahal kamu tersinggung. Kamu tidak bisa membohongi aku lagi, Liam, aku sudah hidup bersama kamu bertahun-tahun. Aku mengetahui kamu lebih dari ibu kamu, jadi tidak apa jika kamu jujur kepada aku.”


“Baiklah, aku tersinggung. Aku hanya tidak ingin kamu menganggap aku anak Mama lagi, tatapan bisa mengatakan itu.”


“Hahaha. Aku memang tidak pintar untuk mengontrol mataku yang penuh kebenaran.”


“Ya, aku ingat saat kamu bilang kamu menyukai ibuku, tapi mata kamu seakan memberitahu itu sindiran. Tidak lupa dengan teman pertama Damian, apa kamu ingat anak nakal itu? Kamu selalu tersenyum di depan anak itu, namun mata kamu seakan mengatakan kamu terpaksa tersenyum.”


“Tentu saja, aku mengingat anak nakal itu. Namun, kamu juga tidak suka dengan anak itu, kan? Setiap anak itu datang kamu seperti menahan setiap kata-kata yang ingin keluar dari mulut kamu. Kamu bahkan meyakinkan Damian agar tidak berteman dengan anak itu, dengan kata-kata yang begitu halus dan mengintimidasi.”


“Jika diingat-ingat, itu semua memang benar. Kita begitu akur di saat anak-anak masih kecil, terkadang aku merindukan hal itu.”


Caitlyn hanya terdiam mendengar itu, karena yang Liam katakan ada benarnya. Awal-awal pernikahan mereka adalah masa yang paling indah untuk Caitlyn maupun Liam. Entah apa yang membuat pernikahan mereka menjadi renggang. Yang Caitlyn tahu Liam hanya terus berfokus pada pekerjaannya. Entah itu benar atau ada alasan dibalik itu semua, Caitlyn tidak mengetahui sama sekali. Caitlyn juga tidak pernah bertanya kepada Liam, mengapa Liam tiba-tiba menjauh dari dirinya. Caitlyn hanya menerima itu semua dengan mentah-mentah.


“Iya, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu. Kamu bisa bepergian selama 3 Minggu hanya untuk bekerja, lalu saat kamu pulang kamu menghabiskan waktu sendiri. Terkadang aku merindukan kamu saat kamu melakukan perjalanan bisnis, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Caitlyn.


“Maafkan aku, jika pernah membuat kamu tidak nyaman. Aku melakukan itu semua karena ibuku yang menyuruh, kamu tahu aku tidak bisa menolaknya. Namun, lama-lama aku menyadari jika ibuku memanfaatkan hal itu. Jika bukan karena kamu, mungkin aku akan terus menurut kata-kata ibuku. Terima kasih, Cait.” Balas Liam lalu tersenyum kepada Caitlyn.


“Tentu saja tidak. Pada akhirnya aku mengirim mama untuk pergi ke Singapura. Itu cara satu-satunya agar semua terasa damai dan tenteram.”


Mendengar itu Caitlyn langsung merasa senang, karena Helen pergi jauh dari mereka. Helen adalah pengaruh buruk untuk keluarganya, jadi wajar saja Liam mengirim Helen ke tempat yang jauh dari keluarganya. Setidaknya itu yang bisa Liam lakukan agar ibunya tidak membuat ulah lagi dan memanipulasi orang. Itu adalah pilihan terbaik yang bisa Liam ambil.


***


Setelah makan malam bersama, Liam dan Caitlyn jalan-jalan bersama di sebuah taman untuk melihat bintang malam. Awal pernikahan, Liam suka mengajak Caitlyn melihat bintang dilangit. Begitu juga dengan ibunya Damian, sebelum ia wafat. Menurut Liam bintang adalah hal indah yang hanya bisa dilihat dilangit malam yang indah. Jika langit malam mendung tidak ada bintang satu pun. Bintang itu seakan simbol keindahan di dalam hidup Liam, maka dari itu Liam selalu mengajak orang yang ia cintai untuk melihat bintang.


“Bintang malam ini begitu indah,” ucap Caitlyn.


“Aku sudah lama sekali tidak melihat bintang dilangit malam. Dulu kamu suka mengajak aku melihat bintang-bintang, kan. Aku merindukan hal itu,” lanjut Caitlyn.


“Iya, walaupun bintang di perkotaan tidak seindah bintang dibukit, namun tetap terlihat cantik,” balas Liam.


“Dulu kamu pernah bilang jika aku secantik bintang dilangit perkotaan, apa maksud dari itu?”


“Bintang di perkotaan tetap indah di saat daerah perkotaan mulai terpenuhi polusi. Walaupun bintang di perkotaan hanya terlihat sedikit, namun bintang itu tetap muncul. Seperti kamu, walau ada orang tidak menganggap kamu, kamu tetap berada di samping orang itu. Kamu tetap bersama aku walaupun sikapku yang begitu dingin dan tidak baik.”


“Ternyata seperti itu, aku sempat mengira kamu seakan mengatakan aku tidak secantik ibunya Damian.”


“Kalian berdua sama cantik menurutku, hanya kepribadian kalian yang berbeda. Namun, aku tetap mencintai kalian berdua, mungkin aku tidak mencintai kamu sebesar cintaku kepada dia. Tapi tetap aku mencintai kamu, apa adanya.”


“Kamu sedang tidak bercanda, kan? Kamu tidak pernah memiliki perasaan kepadaku sama sekali, mengapa kamu malah bilang seperti?”


Liam pun menatap Caitlyn lalu tersenyum, apakah Caitlyn benar-benar mengira Liam tidak mencintainya? Tidak Liam sangka. Mungkin karena Liam jarang mengekspresikan perasaannya sendiri dan lebih memilih berdiam diri. Liam tidak berharap Caitlyn mengetahui jika dirinya mencintai Caitlyn, namun Liam terkadang ingin Caitlyn mengetahui hal itu. Liam sendiri tidak mengetahui apakah Caitlyn mencintainya, selama pernikahan mereka tidak pernah membahas tentang hal-hal seperti itu.


“Aku mencintai kamu, kamu saja yang tidak menyadari itu. Aku tidak pernah mengatakannya, karena aku takut kamu malam berpikir sebaliknya. Aku takut kamu tidak mencintai aku, karena kamu adalah wanita yang mandiri. Bodoh sekali aku, mengatakan hal ini di saat kita sudah bercerai,” ucap Liam.


“Aku juga merasakan hal yang sama, aku mencintai kamu tapi takut kamu tidak membalas perasaan aku. Lucu sekali ya, kita memendam perasaan kita, karena takut di antara kita tidak ada yang membalas rasa cinta itu,” balas Caitlyn.


“Mungkin kita harus memperbaiki hubungan kita,” celetuk Caitlyn.


“Maksud kamu? Kamu ingin berhubungan lagi dengan aku?”


“Iya, mungkin kita bisa melakukan hal kecil. Saat kita pertama bertemu kita langsung menikah, itu adalah langkah yang besar. Kali ini mungkin kita mencoba seperti berkencan, melakukan hal seperti sepasang kekasih bukan sepasang suami-istri.”


“Baiklah, aku setuju dengan kamu. Tidak ada salah berkencan dengan kamu dan memperbaiki kesalahpahaman di antara kita berdua.”


Bersambung…….