Wishing For You

Wishing For You
I Love You, Hope



Sebulan kemudian, Hope sudah kembali ke kampus dan semua sudah kembali normal. Selama Hope kembali ia tidak melihat Amber sama sekali, tidak ada yang tahu ke mana perginya Amber. Damian juga sudah membuat semua gosip itu hilang, Damian menyakal semua itu dan mengatakan yang sebenarnya kepada pihak yayasan. Untung saja beasiswa Hope selamat dan Hope bisa mengejar mimpinya, Hope sempat berpikir beasiswanya akan dicabut.


Setelah kelasnya selesai Hope langsung pergi dari kampus untuk menemui Stevani yang berada di rumah sakit, Hope begitu rindu dengan Stevani. Beberapa Minggu Hope tidak bisa bertemu dengan Stevani karena Stevani sibuk dengan kuliahnya dan juga sibuk bekerja untuk Bastian. Sekarang Stevani dan Hope sedang makan bersama di kantin rumah sakit, walaupun sudah mau sore tapi Stevani belum sempat makan.


“Kak Stevani terlihat begitu lapar,” ucap Hope.


“Tentu saja, Bastian membuat gila dengan tingkah manjanya. Dia meminta aku untuk membuatkan secangkir kopi, bayangkan Hope. Sebuah kopi saja harus meminta tolong aku, bagaimana aku tidak lelah,” balas Stevani.


“Kak Stevani itu mulutnya banyak saus,” ucap Hope lalu mengambil tisu dan mengelap mulut Stevani.


“Maaf aku emosi,” balas Stevani.


Tak lama kemudian Bastian datang dengan wajah cemberut, itu berarti nasib buruk akan mendatangi Stevani. Bastian duduk di samping Stevani dan menaruh kepalanya di pundak Stevani, Hope yang melihat itu terkejut. Tidak ada pria yang berani melakukan itu kepada Stevani, Hope pun memandangi Stevani tapi Stevani tidak mengerti mengapa Hope memandanginya.


“Hope, kenapa mata kamu seperti itu?” tanya Stevani yang tidak nyaman dengan tatapan Hope.


“Ah, tidak apa. Mas Bastian terlihat begitu murung, kenapa ada masalah ya?” tanya Hope kepada Bastian.


“Iya, ini semua karena Damian sialan itu. Aku sedang rapat penting, tapi anak terus menelepon bahkan menelepon pihak rumah sakit. Damian mengatakan itu adalah hal yang penting dan kamu tahu hal penting itu apa, dia bertanya apa Hope ada di rumah sakit bersama Stevani. Dia takut Hope kenapa-kenapa,” ucap Bastian dan Stevani langsung tertawa.


“Damian takut jika Hope miliknya seorang hilang diambil pria lain,” goda Stevani lalu tertawa.


“Apa sih, Mas Bastian dan Kak Stevani. Aku dan Damian itu tidak ada hubungan apa-apa, lebih baik aku pergi,” ucap Hope lalu berlari keluar dari kantin.


***


Setelah bertemu dengan Stevani, Hope langsung pergi untuk bertemu dengan Damian. Damian begitu khawatir karena Hope tidak memberikan kabar kepadanya, Damian takut kejadian waktu itu terulang lagi. Hope pun datang ke apartemen Damian untuk menemuinya, padahal Hope bertetangga dengan Damian. Damian membuat Hope tinggal di apartemen sebelah dan membiayai semuanya, tentu saja awalnya Hope menolak. Namun, Damian memaksa agar dirinya bisa mengawasi Hope, setidaknya hingga semuanya pulih.


Hope mengetuk pintu apartemen Damian, tapi Damian tidak membukakan sama sekali. Akhirnya Hope masuk sendiri dan mengecek apa Damian ada di dalam. Saat Sampai di dapur Hope terkejut melihat meja makan yang terlihat begitu rapi, seakan Damian ingin berkencan dengan seseorang. Hope pun melihat ke sekitarnya dan melihat Damian yang baru datang, Hope pun tersenyum kepada Damian.


“Kamu ingin kencan dengan seseorang?” ucap Hope lalu menunjuk meja makan.


“Tidak, aku ingin mengajak kamu makan malam,” balas Damian.


“Tapi ini matahari belum terbenam,” ucap Hope yang tiba-tiba merasa gugup.


“Tenang saja, baru mejanya saja yang siap bukan makanannya. Aku ingin mengajak kamu melihat matahari,” ajak Damian.


Damian pun menggenggam tangan Hope dan membawa keluar dari apartemennya, Damian membawa Hope ke lantai atas apartemen. Di mana lantai atas hanya bisa diakses oleh pemilik apartemen, yaitu Caitlyn. Dilantai akhir apartemen adalah griya tawang, Damian hanya akan meminjam satu ruangan saja. Caitlyn mempunyai satu ruang khusus untuk melihat pemandangan di luar dan Damian meminjam ruangan itu.


Damian membawa Hope ke ruangan itu dan betapa terkejutnya Hope melihat pemandangan yang begitu indah. Karena matahari ingin terbenam langit menjadi jingga dan begitu indah, itu membuat Hope takjub dan tidak bisa berkata-kata. Hope tidak menyaka akan melihat pemandangan seindah itu, bahkan Hope sampai tidak percaya dirinya bisa melihat hal seperti ini. Langit yang begitu indah, awan yang indah, matahari yang akan terbenam, Hope mencintai semua itu.


“Tentu saja, apa kamu bercanda aku menyukai ini. Aku bisa terus memandangi ini hingga malam hari, aku tidak percaya betapa indah langit sore hari ini,” balas Hope.


Damian pun menaruh tangannya di pundak Hope dan membawa Hope agar lebih dekat dengan dirinya. Sebenarnya Damian gugup melakukan hal ini, ia takut Hope merasa tidak nyaman. Namun, Hope seperti tidak menghiraukan hal itu, Hope hanya berfokus kepada langit yang begitu indah. Damian bersyukur Hope menyukai langitnya, karena Damian saja jatuh cinta kepada langit sore hari. Damian yakin sekali Hope akan menyukainya dan benar saja, Hope benar-benar mencintai langit sore hari.


“Hope, apa besok kamu mau melihat langit sore hari lagi?” tanya Damian.


“Tentu saja, aku mencintainya dan aku ingin menatapnya setiap hari,” jawab Hope yang begitu gembira.


“Apa kamu menyukai aku seperti kamu menyukai langit ini?” tanya Damian dan Hope langsung terkejut.


“Kamu dan langit ini sama-sama indah untuk dilihat, tapi ada perbedaan antara kamu dan langit ini. Kamu membuat aku aman berada di dekat kamu sedangkan langit hanya ini bisa memberikan keindahannya bukan keamanannya. Jadi aku mungkin menyukai kamu lebih daripada langit ini, tidak ada yang bisa mengganti peran kamu dalam hidupku,” jawab Hope.


“Apa kamu hanya menyukaiku? Apa kamu tidak mencintaiku?” tanya Damian lagi.


“Eh, bagaimana ya. Aku tidak tahu, nanti jawaban aku membuat kamu tidak nyaman lagi,” jawab Hope.


“Jujur saja aku tidak akan marah.”


“Baiklah, aku mungkin mencintai kamu. Waktu kecil aku selalu berandai-andai jika ada seseorang yang datang dan menyelamatkan aku dari kedua orang tuaku, setiap hari aku berharap dia datang. Tapi tahun ke tahun tidak ada satu pun orang yang menyelamatkan aku dari kedua orang tuaku, aku hampir putus asa dan mengira tidak ada yang akan menolongku. Hingga kamu datang, kamu menolong aku keluar dari neraka yang aku miliki. Seakan Tuhan akhirnya menjawab permohonan aku dan mendatangkan kamu ke dalam kehidupan aku.”


“Aku mencintai kamu, Hope.”


Hope terkejut mendengar itu, tidak disangka Damian akan mengatakan hal seperti itu. Jadi selama ini Hope menahan perasaannya kepada Damian, namun Damian malah memiliki rasa yang sama. Rasanya Hope ingin berteriak karena perasaannya terbalas, tapi Hope harus menahan sikap ia tidak mau Damian berpikir selama ini Hope mencintainya. Namun, tetap saja Hope merasa senang dan tidak tahu harus mengatakan apa, Damian adalah pria yang dingin dan terkadang manis. Hope bingung bagaimana merespons itu semua ditambah Damian bukanlah orang yang suka berbicara tentang perasaan.


“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu berbohong saat bilang mencintai aku,” ucap Damian yang terdengar mengintimidasi.


“Aku bilang mungkin, tapi jika perasaan kamu seperti itu aku tidak akan menolak. Aku memang mencintai kamu tapi tidak menduga kamu mencintai aku balik,” balas Hope.


“Aku tertarik kepada kamu sejak aku pertama kali melihat kamu dikelas, rambut pirang kamu, mata coklat kamu, dan senyuman manis kamu. Setelah mengenal kamu, aku malah jatuh cinta kepada kamu, aku kira aku hanya tertarik karena kamu pintar tapi ternyata ada hal lain. Aku tahu ini melanggar aturan, harusnya aku tidak jatuh cinta kepada kamu. Tapi hatiku tidak berbohong,” ucap Damian.


“Aku juga mencintai kamu, jadi apakah kamu mau jadi kekasih aku?” tanya Hope dan Damian tertawa.


“Tentu saja mau, bagaimana aku menolak perasaan tulus kamu,” jawab Damian.


Akhirnya mereka berdua menghabiskan sore hari mereka dengan memandang langit yang indah dan matahari terbenam. Malam harinya mereka makan malam bersama dan bersenang-senang, terutama Hope yang mengajak Damian untuk keluar dan melihat bintang dimalam hari. Mereka pun keluar bersama melihat bulan dan bintang dilangit dan menghabiskan waktu bersama. Terutama Hope yang tidak ingin berpisah dengan Damian dan ingin terus bersamanya, Hope masih begitu bahagia karena Damian menyatakan perasaannya.


Bersambung…..