
Malam harinya Damian, Hope, dan Caitlyn makan malam bersama di apartemen Damian. Belakang ini Caitlyn begitu sibuk mengurus berbagai hal dan menghabiskan waktunya mencari hal baru yang disukai. Caitlyn juga sibuk membantu Amber dengan kehamilannya, Caitlyn begitu antusias menunggu cucunya lahir. Caitlyn bahkan juga membantu Hope dengan kuliahnya. Saking sibuknya Caitlyn jadi jarang menghabiskan waktu bersama Damian, biasanya Caitlyn bisa seharian bersama Damian. Tapi sekarang berbeda karena Caitlyn sudah lebih bebas.
“Belakangan ini Tante terlihat begitu bahagia,” ucap Damian.
“Tentu saja, belakang ini semua berjalan begitu lancar. Tante merasa bahagia akan hal itu,” balas Caitlyn lalu tersenyum.
“Syukurlah jika seperti itu,” ucap Damian lalu membalas senyuman Caitlyn.
“Aku juga ikut senang mendengar itu, Tante jadi lebih semangat sekarang. Energi Tante seperti tidak habis-habis,” ucap Hope lalu Caitlyn tertawa mendengar itu.
“Kamu bisa saja, Hope,” balas Caitlyn.
Setelah selesai makan malam, Caitlyn meminta tolong kepada Damian untuk mengambil barangnya yang tertinggal di griya tawangnya. Dengan cepat Damian langsung pergi dan mengambilkan barang yang Caitlyn minta. Saat Damian pergi Caitlyn langsung menghampiri Hope dan berbicara kepada Hope. Caitlyn memberitahu Hope tentang hubungan Damian dan Liam yang semakin renggang.
Caitlyn juga memberitahu Hope jika Liam sedang ada di griya tawangnya. Caitlyn memberikan Liam kesempatan untuk berbicara kepada Damian, walau Damian mungkin akan menolak. Namun, tidak ada salahnya mencoba untuk memperbaiki hubungan ayah dan anak yang sudah lama renggang, Caitlyn juga tidak mau mereka seperti itu terus.
Damian pun sampai di griya tawang Caitlyn dan segera membuka pintunya, namun Damian terkejut saat melihat Liam. Damian tidak menduga jika ada Liam, pasti ini ulah Caitlyn yang membiarkan Liam masuk. Damian menyapa Liam dengan begitu canggung dan Liam menyuruh Damian duduk di hadapannya. Damian hanya menurut perkataan Liam, walau Damian tahu dirinya belum siap berbicara dengan Liam. Entah Damian belum siap atau memang ia menunda untuk berbicara kepada Liam. Tapi bagaimanapun juga mereka harus meluruskan kesalahpahaman yang ada di dalam hubungan mereka sebagai ayah dan anak.
Liam hanya terdiam dan menatap Damian, setiap kali Liam melihat Damian ia teringat dengan ibunya Damian. Matanya, rambutnya, dan kepribadiannya semua itu membuat Liam teringat oleh ibunya. Liam mengingat di mana Damian masih anak kecil yang begitu polos dan tidak mengerti betapa kejamnya dunia ini, terutama kejamnya perlakuan ayahnya. Melihat mata Damian membuat Liam teringat, betapa takutnya Damian kepada Liam. Liam bisa melihat semua itu hanya dari matanya Damian.
“Kamu sekarang terlihat begitu bahagia, Damian. Sudah lama Ayah tidak melihat hal itu,” ucap Liam.
“Tentu saja, aku bahagia karena tidak harus berhubungan dengan keluarga yang penuh dengan kebohongan. Terutama kepada orang yang telah membuat ibuku pergi untuk selamanya,” balas Damian.
“Kamu sama saja seperti ibu kamu. Dia selalu berkata jujur, keras kepala, pemberani, dan suka menolong orang. Semua itu kamu miliki, kamu hanya lebih realistis dan menganggap dunia ini tidak adil. Ibu kamu selalu mengatakan jika dunia ini adil, setiap orang pasti akan mendapatkan kebahagiaannya dan karma akan perlakuannya. Mendengar hal itu, pasti membuat kamu berpikir betapa sempurnanya ibu kamu,” ucap Liam.
“Tapi tidak ada manusia yang sempurna, ibu kamu salah dalam memilih pria yang dia nikahi. Dia memilih untuk mengikuti hatinya daripada logikanya, dari situ terjadi semua kejadian yang tidak diinginkan. Jika saja dia memilih mengikuti logikanya, mungkin dia akan pergi meninggalkan Ayah dan membawa kamu pergi. Tapi ibu kamu malah mengikuti hatinya, dia memilih tinggal dan menerima semua penyiksaan nenek kamu, lalu berharap jika semua itu berakhir. Memang semua itu berakhir, namun akhir yang tidak menyenangkan,” lanjut Liam.
“Saat itu aku hanya pecundang yang mengikuti semua kata nenek dan mempercayai nenek dengan sepenuh hati. Bagaimana tidak, nenek adalah orang yang melahirkan Ayah. Sayang sekali dia tidak bisa membuat anak lelakinya menjadi lelaki sejati, nenek hanya membuat Ayah seperti pengecut yang hanya bergantung pada uang. Maafkan Ayah, Damian.”
“Aneh sekali, setelah selama ini Ayah melakukan hal buruk aku tetap saja menyayangi Ayah. Aku tidak pernah sekalipun memikirkan untuk berhenti menganggap Ayah, walau Ayah membenciku. Aku tetap berusaha membuat Ayah bangga dengan segala hal yang aku capai, hingga akhirnya aku menyerah. Tapi aku tetap menyayangi Ayah, entah mengapa aku tidak bisa membenci Ayah,” balas Damian.
“Aku sudah membuat keputusan, aku akan meninggalkan keluarga Ayah dan tidak ingin berhubungan dengan kalian lagi. Aku tidak ingin melukai diriku sendiri dengan berada dilingkungan yang tidak dapat menerimaku. Aku sudah nyaman seperti ini dan aku tidak akan kembali kepada keluarga Ayah atau kembali ke tempat yang membuat aku tidak nyaman,” lanjut Damian.
“Ayah mengerti semua keputusan kamu, tapi setidaknya berikan Ayah kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini. Bertahun-tahun kita seperti orang asing yang tidak kenal satu sama lain, kita tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Setidaknya kamu izinkan Ayah mengenal diri kamu lebih baik,” ucap Liam.
“Semua sudah terlambat, aku sudah menjadi pria dewasa sekarang. Ayah bahkan tidak mengetahui apa-apa tentang diriku, Ayah tidak mengetahui warna kesukaanku, Ayah tidak mengetahui apa makanan kesukaanku, Ayah tidak pernah bertanya mengapa aku selalu berdiam diri. Ayah hanya diam sepanjang hidupku dan tidak melakukan apa-apa,” balas Damian.
“Damian, apa kamu baik-baik?” tanya Caitlyn.
“Tentu saja, aku hanya sedikit terbawa emosi,” jawab Damian.
“Percakapan kita belum selesai, Damian. Kamu tetap tidak ingin memberikan Ayah kesempatan, apa kamu tidak ingin mencoba sekali saja?” ucap Liam dengan nada begitu memohon.
“Damian, yang Ayah kamu katakan tidak ada salahnya. Kalian pantas mendapatkan kesempatan kedua dalam hubungan kalian, bagaimanapun juga Liam adalah Ayah kamu. Setidaknya jika kamu tidak memberikan kesempatan kepada Liam, kamu harus menerima permintaan maafnya. Liam, kamu juga harus berusaha untuk mengerti apa yang Damian rasakan, kamu tidak boleh bersikap egois lagi,” ucap Caitlyn.
“Baiklah, aku akan memberikan kesempatan kedua untuk Ayah jika Ayah ingin mengerti bagaimana perasaan aku. Tapi keputusan aku akan tetap, aku akan meninggalkan keluarga Ayah. Aku hanya memberi satu kesempatan dalam waktu yang singkat, jadi gunakanlah sebaik mungkin. Aku memberi Ayah waktu satu bulan untuk memperbaiki semua ini dan jika itu gagal, aku tidak akan memberikan kesempatan lagi,” ucap Damian.
“Keputusan?” tanya Caitlyn yang bingung.
“Iya, Damian sudah memilih. Damian memilih kamu, Caitlyn, dan tentu saja kebahagiaan dirinya sendiri, dia memilih meninggalkan keluarganya dan bahagia dengan dirinya sendiri. Keputusan yang bagus, tapi sulit diterima. Aku selalu berpikir Damian akan tetap bersama keluarganya apa pun yang terjadi, namun aku salah dia memilih kebahagiaan dirinya,” jawab Liam.
“Tunggu dulu! Kamu tidak bisa seperti itu, Damian. Kamu tidak bisa meninggalkan Ayah kamu, semuanya ini bukan murni kesalahannya. Dia hanya terlalu mengikuti kata ibunya dan melupakan semua hal di sekitarnya, kamu tidak bisa menaruh semua kesalahan kepada Ayah kamu. Damian, kamu tidak harus memilih harus berpisah atau tinggal bersama Liam. Kamu hanya harus berdamai dengan keadaan, kamu sudah memberikan kesempatan pada Liam. Jika kesempatan itu berjalan baik, kamu seharusnya jangan pergi,” ucap Caitlyn.
“Baiklah, aku akan berusaha yang terbaik untuk memperbaiki hubungan ini. Aku ingin semuanya damai dan tenteram, aku tidak mau ada keributan lagi,” balas Damian.
Akhirnya Damian dan Liam sepakat akan semua itu, setelah selesai Liam langsung pamit pulang karena ada urusan. Sekarang hanya ada Damian dan Caitlyn. Damian merasa lega dengan keadaan ini dan tentu saja Damian masih memikirkan tentang kesempatan kedua itu. Awalnya Damian ragu, namun Damian juga ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Walaupun Damian adalah pria dewasa, tapi Damian juga ingin merasakan apa itu kasih sayang seorang ayah.
Caitlyn menatap mata Damian yang penuh dengan rasa lelah, Caitlyn bisa merasakan apa yang Damian rasakan. Caitlyn tahu pasti ini semua berat untuk Damian, ditambah keadaan yang begitu tegang. Caitlyn pun memeluk Damian agar anak itu tenang, namun Damian malah melepaskan pelukan Caitlyn dan tersenyum kepada Caitlyn.
“Terima kasih, Tante. Sudah berusaha meluruskan semua ini, jika tidak ada Tante mungkin aku akan membiarkan amarahku menguasai semuanya,” ucap Damian.
“Itulah yang seharusnya seorang ibu lakukan, aku berusaha membuat anakku tetap berada dalam kondisi stabil. Aku bersyukur kamu bisa mengerti itu semua dan berusaha menerima saranku dengan senang hati. Kamu adalah anak yang baik,” balas Caitlyn.
“Bolehkah aku memanggil Tante dengan panggilan Mama? Hanya untuk sebentar saja,” pinta Damian.
“Tentu saja, kamu boleh memanggil aku Mama kapan pun yang kamu mau. Bagaimanapun kamu juga anakku,” ucap Caitlyn.
“Terima kasih, Mama. Aku menyayangi, Mama,” ucap Damian lalu memeluk Caitlyn dengan begitu erat.
Bersambung…..