Wishing For You

Wishing For You
HAPPY BIRTHDAY TO MY HOPE



Disisi lain, ada Amber yang sedang bingung untuk memilih hadiah ulang tahun untuk Hope. Amber sudah membeli beberapa barang yang mungkin Hope suka, hanya saja Amber bingung mana yang terbaik. Karena ini adalah pertama kali Amber memberikan Hope hadiah, jadi Amber tidak tahu pasti apa yang akan membuat Hope senang. Ditambah Hope adalah orang yang jarang menerima hadiah, jadi Amber semakin bingung.


Sedangkan itu, Dareen sudah bosan menunggu Amber memilih hadiah. Amber tidak mengizinkan Dareen pergi hingga dirinya mendapat hadiah yang cocok. Permasalahannya Amber tidak ingin mendengar saran apa pun dari Dareen, Amber juga tidak membiarkan Dareen memilih. Jadi Dareen hanya duduk diam di kasur, sedangkan Amber sibuk mencari hadiah yang pas.


“Apakah masih lama?” tanya Dareen yang sudah frustrasi.


“Belum! Aku masih bingung mana yang Hope suka,” jawab Amber.


“Berikan saja yang menurut kamu bagus,” ucap Dareen dengan enteng.


“Tidak bisa seperti itu! Bagaimana kalau Hope tidak menyukainya? Bagaimana kalau Hope malah membuang hadiah dari aku? Nanti yang ada Hope malah marah kepada aku. Pokoknya kamu tidak akan pernah mengerti pentingnya memberikan hal yang terbaik,” balas Amber.


“Kamu saja memberikan Hope baju Damian semasa kecil, mana ada hadiah seperti itu!” lanjut Amber.


“Hei, itu sudah kesepakatan aku dengan Damian. Lagi pula itu sangat cocok, baju itu bukan sembarang baju. Baju itu Damian kenakan saat mendapat juara pertama menulis puisi romantis, jadi itu sangat pas dan puisinya juga masih ada, aku berikan sekalian bajunya. Mama dan ayah juga memberi foto kelahiran Damian. Simpel sekali, jadi kamu tidak usah pusing.”


Yang dikatakan Dareen ada benarnya, Hope bukanlah tipe orang yang tidak menghargai pemberian orang. Lagi pula Amber datang saja sudah termasuk menghargai Hope, apalagi Amber memberikan Hadiah. Mungkin Amber hanya terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak, Amber sudah berpikir jika Hope akan membuang hadiah darinya. Entah apa yang merasuki Amber hingga mengatakan hal seperti itu, padahal Hope tidak mungkin bersikap seperti itu.


“Sini duduk di samping aku,” ucap Dareen sambil menepuk kasur. Amber pun segera menghampiri Dareen dan duduk di sampingnya, tiba-tiba Amber merasa sedih entah dari mana.


“Entah mengapa belakang ini aku selalu berpikir negatif, setelah itu aku malah merasa sedih. Padahal aku tidak pernah bermaksud berpikir negatif,” ucap Amber.


“Mungkin itu karena kehamilan kamu, jadi kamu lebih sensitif. Kamu tidak usah memusingkan hal itu, karena lambat-laun pasti akan hilang,” balas Dareen.


“Jadi kamu ingin memberikan hadiah yang mana?” tanya Dareen.


Amber pun menunjuk kepada syal warna putih, dari sekian banyak pilihan. Mengetahui itu Dareen hanya bisa menghela nafas, rasanya ingin marah tapi tidak bisa. Karena syal itu adalah saran Dareen sejak pertama kali, namun Amber menghiraukannya. Memang itu adalah sikap Amber, jadi Dareen harus ekstra sabar dengan wanita satu ini.


“Bukankah itu yang tadi aku sarankan?” tanya Dareen dengan nada lembut tapi menyindir.


“Hehe, iya. Tapi kamu tidak bisa salahkan aku, kamu sendiri yang bilang mungkin ini karena kehamilan aku. Jadi ini tidak sepenuhnya salah aku, bayi di dalam perut aku juga bersalah. Mengerti, kan?” sangkal Amber dengan begitu pintar.


“Baiklah, apa pun yang kamu katakan itu benar. Jadi intinya kamu bersalah tapi sedikit dan bayinya yang salah lebih banyak, seperti itu, kan? Dasar anak licik. Masih bisa-bisanya kamu menyalahkan bayi yang tidak tahu apa-apa.”


“Namun, jika aku tidak licik mungkin kamu tidak akan mencintai aku. Jadi ada untungnya sikap licik aku bisa mendapatkan kamu.” Mendengar itu Dareen langsung menggeleng-geleng kepalanya. Bisa-bisanya Amber memberikan alasan seperti itu untuk sikapnya sendiri, namun itu tidak apa. Karena Dareen menyukai itu, apalagi saat Amber berusaha benar padahal ia salah.


***


Sekarang Hope sedang berada di balkon apartemennya, sedangkan yang lain sibuk masing-masing. Hope melihat bulan yang begitu indah di langit diikuti dengan bintang-bintang di langit. Tak lama Damian datang menghampiri Hope, Damian berdiri di samping Hope dan merangkul Hope. Hope yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum manis kepada Damian, walau hatinya masih berdebar saat di dekat Damian. Namun, kali ini Hope berusaha bersikap biasa saja agar tidak merasa malu.


“Apa kamu suka pesta ulang tahun kamu?” tanya Damian.


“Tentu saja suka, apalagi kamu dan yang lain sudah datang. Aku merasa begitu bahagia, aku bahkan tidak tahu bagaimana harus berterima kasih dengan cara apa,” jawab Hope.


“Kamu tidak perlu berterima kasih, karena ini adalah hari spesial untuk kamu. Kamu berhak merayakan hari di mana kamu lahir ke dunia. Kamu hanya harus berterima kasih, karena kamu masih diberikan umur untuk merayakan ulang tahun kali ini,” ucap Damian.


“Kamu jangan ngomong seperti itu, ah. Itu terdengar seperti aku akan mati muda,” protes Hope dan Damian langsung tertawa.


Damian hanya bisa merasa gemas kepada Hope, padahal bukan itu maksud Damian. Damian menyuruh Hope bersyukur karena bisa merayakan ulang tahun kali ini, namun Hope malah salah menangkap. Tapi itu tidak apa, karena itu terlihat lucu bagi Damian. Sifat kekanak-kanakan Hope masih saja bisa membuat Damian tertawa, Damian tidak akan pernah bosan dengan hal itu. Damian tidak akan bosan jika itu tentang Hope, karena Damian begitu mencintai Hope.


“Kamu ingat tidak? Saat kita pertama kali berbicara di restoran tempat kamu bekerja,” ucap Damian.


“Ingat, saat itu adalah kata terpanjang yang pernah kamu ucapkan kepada aku. Selama kamu mengajar kamu jarang sekali berbicara, makanya banyak orang takut kepada kamu. Aku juga takut kepada kamu saat pertama-tama. Kamu terlihat begitu kejam dan begitu mengintimidasi, melihat itu aku menjadi takut,” balas Hope.


“Tapi saat pertama berbicara dengan kamu, aku merasa aneh. Karena kamu adalah orang asing, tapi kamu begitu peduli kepada aku. Kamu menolong aku dan membantu masalah yang aku lalui, aku sempat mengira kamu mempunyai maksud tersendiri. Tapi tidak ada, kamu hanya berlaku baik kepada aku,” lanjut Hope.


“Iya, aku sempat berpikir jika kamu mengira aku orang aneh. Tapi aku melakukan itu semua ada alasannya, karena aku menyukai kamu sejak pertama kali melihat kamu. Aku selalu memerhatikan kamu dari jauh, melihat apa saja yang kamu lakukan selama di kampus. Awalnya aku ingin melupakan rasa suka itu, namun tiba-tiba kamu berlaku begitu aneh seperti sedang menutupi sesuatu. Aku tidak tega melihat itu, jadi aku berusaha untuk mencari tahu dan membantu jika mungkin,” balas Damian.


“Setelah membantu kamu, aku berniat untuk melepaskan kamu. Aku ingin kamu menjalani hidup yang kamu mau dan melakukan apa pun yang kamu suka, namun di dalam diriku seperti ada yang tidak rela. Maka dari itu aku membuat kamu tinggal tidak begitu jauh dan memberikan kamu pekerjaan. Mungkin itu terkesan memaksa, tapi aku tidak tahu harus apa,” lanjut Damian.


Hope pun menatap mata Damian dengan begitu dalam. Sebegitu dalam kah perasaan Damian untuk Hope, hingga Damian rela melakukan itu semua. Berarti selama ini Damian membantu Hope atas dasar cinta, bukan atas dasar kasihan. Itu membuat Hope lega, karena Damian melakukan itu tulus dari hatinya. Mengetahui itu rasanya campur aduk, jika Damian tidak pernah suka dengan Hope mungkin sekarang Hope masih di neraka yang sama.


Saat Hope mulai menyadari jika dirinya mencintai Damian, ia menolak dengan begitu tegas. Hope tidak mungkin jatuh cinta kepada dosennya sendiri, terutama Damian sudah banyak membantu Hope. Rasa bersalah Hope karena membuat Damian terlibat masalah, menutupi rasa cintanya. Namun, disisi lain rasa berterima kasih Hope ingin selalu dilindungi oleh Damian. Hope mengira jika semua masalah sudah selesai, Damian akan membiarkan Hope begitu saja. Namun, ternyata tidak Damian tetap bersama Hope dan memulai keseriusannya.


“Terima kasih sudah mencintai aku sedalam itu. Aku tidak pernah dengar kata-kata itu dari mulut orang lain, jika mendengar pun aku tidak yakin itu dari hatinya. Namun, jika kamu yang mengatakan aku yakin itu dari lubuk hati terdalam kamu, Damian. Jadi terima kasih sekali lagi untuk semuanya. Aku mencintai kamu,” ucap Hope.


“Aku juga berterima kasih, karena kamu sudah mau menerima aku. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku temui. Semua tentang diri kamu membuat aku jatuh hati, bahkan sifat kekanak-kanakan kamu. Aku akan benar-benar takut jika kamu meninggalkan aku, tapi itu tidak mungkin, kan? Kamu berada di sini bersama aku. Aku juga mencintai kamu, Hope,” balas Damian lalu mencium kening Hope dengan begitu lembut.


“Hei! Kalian berhenti bermesraan, ayo gabung bersama kami!” teriak Bastian.


Hope dan Damian pun masuk, lalu bergabung dengan yang lain. Mereka bersenang-senang semalaman dengan rasa penuh bahagia. Kebahagiaan yang mungkin tidak pernah Hope bayangkan akan ia dapatkan. Semuanya mimpi indahnya sudah terpampang jelas di depan matanya. Mimpi indah yang Hope harap tidak pernah berakhir dan akan terus selamanya indah. Apa pun yang terjadi sekarang adalah masa di mana Hope benar-benar bahagia bersama Damian. Inilah akhir yang bahagia menurut Hope, di mana ia tidak berada di neraka hidupnya.


...^^^TAMAT^^^...