
Keesokan harinya, Damian berencana untuk menghabiskan waktu berdua saja bersama Hope. Karena ini adalah hari libur jadi Damian bisa menghabiskan banyak waktu bersama Hope. Namun, Hope mempunyai rencana lain, yaitu berkumpul bersama dengan teman-temannya. Tentu saja Damian tidak mengizinkan itu, Damian hanya ingin Hope bersama dengannya. Padahal Damian bisa mencari kegiatan lain.
“Ayolah, Damian. Aku hanya pergi sebentar saja,” ucap Hope yang sedang bercermin di kamarnya.
“Tapi kamu sudah berjanji akan menghabiskan hari libur bersamaku, apa kamu lupa?” balas Damian yang berdiri di pintu kamar Hope.
“Iya, tapi ini sangat penting. Masalah perempuan yang tidak akan kamu mengerti. Lagi pula kamu bisa menghabiskan waktu bersama Bastian dan yang lainnya, kamu itu bertingkah seakan kamu tidak memiliki teman,” oceh Hope.
“Bastian sedang ada urusan keluarga keluar kota, jadi aku benar-benar tidak ada teman, Hope. Jika Bastian ada tidak mungkin aku meminta kamu untuk tetap tinggal dan jangan pergi,” sangkal Damian. Hope pun langsung melihat kepada Damian dan menghela nafasnya, lalu Hope menghampiri Damian.
“Damian, aku hanya pergi sebentar saja. Satu jam saja, ya. Nanti sehabis itu kita menghabiskan waktu sepanjang hari,” ucap Hope.
“Bagaimana kalau kamu pergi bersenang-senang sendiri. Kamu bisa pergi mendaki gunung, berenang, memancing, dan mungkin kamu bisa pergi ke mal seorang diri. Kamu itu terlalu banyak bekerja sehingga jarang bersenang-senang, pantas saja kamu membosankan,” lanjut Hope.
“Memang benar aku membosankan, lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Damian.
“Kamu bisa menghabiskan waktu bersama ayah kamu, jika kamu mau,” celetuk Hope.
Damian pun menggeleng kepala, Damian belum siap untuk bertemu dengan ayahnya lagi. Setelah apa yang terjadi semalam, Damian masih terus memikirkan perkataan ayahnya begitu juga perkataan Caitlyn. Tapi jika Damian yang tidak mau, itu namanya bukan memberi kesempatan kedua. Damian sebenarnya bingung harus melakukan apa jika menghabiskan waktu bersama Liam. Damian tidak mengetahui apa-apa tentang ayahnya, begitu juga sebaliknya.
“Ah, aku baru ingat jika aku ada perkerjaan yang belum selesai,” dusta Damian lalu pergi dari kamar Hope, namun Hope malah menahan lengan Damian.
“Kamu berbohong, kan? Ayolah, Damian. Katanya kamu ingin memberikan kesempatan kedua, maka gunakan kesempatan itu untuk hal-hal yang tidak pernah kalian lakukan. Jika kamu takut kamu bisa katakan kepada aku, aku akan menemani kamu. Bagaimana kalau kamu mengajak ayah kamu ke taman bermain, kalian bisa bermain di sana,” ucap Hope.
“Memangnya aku anak kecil yang pergi ke taman bermain, lebih baik aku tetap berada di rumah,” sangkal Damian.
“Damian, itu hanya untuk menghabiskan waktu bersama. Memangnya hanya anak kecil yang bermain di taman bermain. Pokoknya aku tidak tahu, kamu telepon ayah kamu dan mengajaknya pergi atau apa pun yang kamu,” protes Hope.
“Baiklah.”
Damian langsung pergi dan menelepon Liam, awalnya Damian ragu Liam akan mengangkatnya. Tapi Liam menjawab panggilan itu, Damian yang mengetahui itu menjadi senang. Damian mengatakan jika dirinya ingin menghabiskan waktu bersama Liam, jika Liam tidak sibuk dan keberatan. Tanpa pikir panjang Liam langsung mengiyakan ajakan Damian dan akan melakukan apa saja yang Damian mau.
***
Sekarang Hope, Stevani, dan Amber sedang berada di rumah lama Hope. Hope datang ke situ untuk mengambil barang-barangnya semasa kecil dan mengambil beberapa foto dirinya. Setelah orang tuanya masuk ke dalam penjara Hope belum sempat mengunjungi rumahnya lagi, karena polisi memeriksanya. Hanya beberapa barang yang tersisa, sebagian besar diambil sebagai barang bukti.
“Kenapa kamu tidak pernah tersenyum difoto-foto semasa kamu sekolah?” tanya Amber yang melihat album foto sekolah Hope.
Hope pun terdiam dan melihat foto-foto itu, memang dirinya jarang tersenyum saat itu. Semasa kecil Hope tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya, Hope diasuh oleh seorang pengasuh. Hope tidak pernah tahu mengapa orang tuanya jarang pulang hingga dirinya cukup dewasa. Ayah dan ibunya tidak pernah datang diacara sekolah Hope atau apa pun itu, Hope hanya sendirian dan merasa iri dengan anak yang lain.
“Karena mama-papa tidak pernah menemani aku semasa sekolah, jadi semua foto ini terlihat sedih,” jawab Hope.
“Seharusnya kamu tidak usah sedih karena mereka bukan orang tua yang baik,” celetuk Stevani.
“Ah, tidak apa-apa kok. Aku sudah biasa mendengar itu semua, aku sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Lagi pula aku kembali kesini untuk mengambil barang-barangku sewaktu kecil bukan untuk mengingat betapa kejamnya orang tuaku. Setidaknya rumah ini mempunyai hal-hal kecil yang membuat aku bahagia,” ucap Hope lalu meneteskan air mata.
Hope merasa nyaman di rumahnya terutama kamarnya, Hope hanya tidak suka dengan orang yang tinggal di rumahnya. Boneka-boneka Hope yang selalu membuatnya nyaman dan membuat Hope tidur nyenyak. Penangkal mimpi buruknya yang membuat Hope tenang dan damai, karena keindahannya. Buku-buku dongeng yang begitu Hope sukai semasa ia kecil. Semua itu membuat Hope melalui masa-masa sulitnya.
“Sudahlah, jangan mengingat hal yang buruk. Kamu kesini untuk mengambil barang-barang kamu yang membuat kamu bahagia,” ucap Amber.
“Iya, Hope. Jangan menangis,” ucap Stevani.
“Kalian tahu, penangkal mimpi itu aku beli karena aku sungguh percaya akan keajaibannya. Tapi setelah aku dewasa aku sadar itu hanya mitos belakang, tapi aku tetap menyimpannya. Karena aku yakin jika mimpi indahku akan terwujud, walau membutuhkan waktu yang lama. Aku akan membawa lagi, karena aku menyukainya dan ingin terus mempunyai mimpi indah,” ucap Hope.
“Jika aku membeli satu, apa aku akan mendapatkan pangeran tampanku?” canda Amber. Hope dan Stevani pun langsung tertawa mendengar itu.
“Jadi jika pangeran tampanmu datang, kamu akan meninggalkan Dareen?” tanya Stevani dan Amber langsung mengangguk.
“Baiklah, jika seperti itu aku ingin mempunyai peliharaan singa jadi aku akan membeli satu,” canda Stevani.
“Ih, kalian bukan seperti itu cara kerjanya. Itu hanya mitos jadi belum tentu bisa terwujud, loh. Kalian ini ada-ada saja, nanti kalau seperti itu penangkal mimpi menjadi benda yang langkah,” protes Hope. Stevani dan Amber pun langsung tertawa mendengar itu, padahal mereka hanya bercanda.
***
Damian benar-benar mengajak Liam untuk pergi ke taman bermain. Entah apa yang Damian lakukan ia hanya mengikuti saran Hope, ia tidak bisa memikirkan hal lain. Sekarang Damian dan Liam hanya berkeliling di taman bermain, mereka bingung harus melakukan apa. Rasanya begitu canggung, hanya ada keheningan di sekitar mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka seperti orang asing yang berjalan bersamaan. Liam sendiri ingin berbicara kepada Damian, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
“Apa kamu tidak ingin membeli es krim?” tanya Liam yang melihat penjualan es krim.
“Boleh saja,” jawab Damian.
Liam dan Damian pun langsung menghampiri penjualan es krim itu dan membelinya. Damian membeli es krim rasa stroberi dan Liam membeli es krim rasa vanila. Setelah selesai membeli es krim, mereka berdua duduk disalah satu kursi taman dan berdiam diri. Damian dan Liam hanya terdiam, bahkan mereka tidak memakan es krim yang mereka beli.
“Bukannya kamu menyukai es krim rasa cokelat?” tanya Liam.
“Sekarang berbeda, aku lebih menyukai stroberi,” jawab Damian.
“Apa kamu masih menyukai warna kuning?” tanya Liam lagi.
“Tidak, sekarang aku menyukai warna biru tua. Kuning terlalu terang untukku, biru tua terasa lebih cocok,” jawab Damian lalu memakan es krimnya.
“Ternyata kamu memiliki banyak perubahan, tidak disangka. Dulu kamu hanya ingin es krim rasa cokelat dan mengenakan baju berwarna kuning, entah mengapa kamu begitu mencintai kedua hal itu. Tapi sekarang itu semua berubah, kamu lebih menyukai stroberi daripada cokelat dan biru tua daripada kuning,” ucap Liam dan Damian hanya terdiam.
Bersambung….