
2 bulan kemudian
Di hari yang cerah, Hope sedang melihat sekumpulan kupu-kupu yang begitu indah. Kupu-kupu itu hinggap di dedaunan, Hope hanya bisa melihatnya dan tidak berani menyentuhnya. Damian yang melihat itu hanya tertawa kecil, melihat tingkah Hope yang seperti anak kecil. Hope dan Damian sedang piknik makan siang bersama, untuk merayakan ulang tahun Hope. Ulang tahun kali ini begitu spesial untuk Hope, karena ia bisa merayakannya. Ditambah Damian dan yang lainnya mendampingi Hope di saat bahagianya.
“Jika kamu mau sentuh saja kupu-kupunya,” teriak Damian.
“Tidak, ah! Aku takut merusak sayap indahnya,” balas Hope.
Hope pun langsung kembali kepada Damian dan meninggalkan kupu-kupu itu. Damian bisa melihat raut wajah Hope yang begitu bahagia, berbeda saat pertama kali mereka bertemu. Damian tidak menduga jika Hope bisa merasa sebahagia ini, hanya karena bisa merayakan ulang tahunnya. Hope duduk di samping dan tersenyum lebar, Damian langsung tersipu melihat senyuman Hope yang begitu manis. Damian mengalihkan pandangannya, karena pipinya berubah menjadi merah. Damian tidak mau Hope melihat itu, jika Hope melihat pasti Damian merasa malu.
Hope sendiri tidak menghiraukan Damian, ia langsung memakan Sandwich buatan Damian. Hope menawarkan Sandwich itu kepada Damian, namun Damian malah menolaknya. Damian memilih memakan kue stroberi yang tadi ia beli, Damian tidak biasa memakan, makanan buatannya sendiri. Hope yang mengetahui itu menjadi sedih, karena Sandwich buatan Damian sangat enak. Mengapa Damian malah tidak mau memakannya? Aneh sekali.
“Kenapa kamu enggak mau sih? Padahal ini enak sekali,” protes Hope.
“Aku sudah mencobanya dan itu biasa saja. Aku terkejut kamu menyukainya,” balas Damian.
“Ih, padahal ini enak tahu. Kamu saja yang tidak bisa menghargai hasil kerja kamu, padahal kamu dosen loh,” ucap Hope dengan nada meledek.
“Sudah ah, jangan bertengkar hanya karena Sandwich. Ini hari ulang tahun kamu jadi jangan mencari keributan,” balas Damian.
Mendengar itu Hope langsung menghela nafas, siapa pula yang mencari masalah. Padahal Hope hanya menyampaikan pendapat tentang Sandwich buatan Damian, lagi pula tidak ada salahnya Hope sangat menyukai Sandwich itu. Damian sendiri yang mengakui jika rasa Sandwich biasa saja, bahkan ia terkejut Hope menyukainya. Manusia macam apa yang tidak suka dengan buatannya sendiri, mungkin hanya Damian seorang.
“Sudahlah, daripada bahas Sandwich. Lebih baik kamu katakan, kamu mau apa saja untuk ulang tahun kamu. Pasti aku akan mengabulkannya,” ucap Damian.
“Seperti ini sudah cukup, ini sudah aku anggap sebagai kado ulang tahun. Jadi kamu tidak usah melakukan hal lain, ini saja sudah cukup. Belum lagi nanti kamu mengadakan pesta ulang tahun untuk aku,” balas Hope.
“Tapi, aku merasa ini semua belum cukup untuk kamu. Kamu tidak pernah merayakan ulang tahun kamu, jadi wajar saja jika kamu ingin hal-hal yang lebih dari piknik. Lagi pula, apa kamu tidak ingin sesuatu yang mempunyai wujud? Piknik ini hanya seperti makan siang biasa.”
“Kata siapa! Menurut aku piknik ini adalah hadiah yang paling indah dari kamu. Aku lebih suka perlakuan seperti ini daripada kado, jadi kamu tidak usah memberi kado.”
“Baiklah, apa pun yang kamu mau akan aku turuti. Asalkan kamu jangan minta aku untuk menaklukkan dunia, kalau itu sudah pasti aku tidak bisa.” Hope langsung tertawa mendengar itu, bisa-bisanya Damian mengatakan hal seperti itu. Hope pun mencubit perut Damian karena sudah berbicara seperti itu, sedangkan Damian malah tertawa mendapatkan cubitan dari Hope.
***
Sedangkan itu, Stevani dan Bastian sedang mengantre di toko kue untuk mengambil kue ulang tahun Hope. Antrean toko kue itu begitu panjang, Stevani dan Bastian sudah menunggu lebih dari 2 jam. Karena mereka baru saja memesan, padahal Damian sudah menyarankan untuk memesan jauh-jauh hari. Tetap saja Stevani dan Bastian tidak mendengarkan Damian, lihatlah sekarang mereka menunggu antrean kue yang begitu panjang.
Bastian menaruh kepalanya di atas meja, karena sudah merasa lelah. Sedangkan Stevani hanya duduk santai melihat sekitar, karena pasti ada saja drama yang terjadi. Stevani melihat kepada kedua wanita tua yang sedang memarahi pelayan, karena pesanan mereka begitu lama. Stevani yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala, karena dirinya lebih dulu daripada kedua wanita tua itu.
“Kamu sedang melihat apa?” tanya Bastian yang penasaran.
“Kenapa kamu hanya melihat saja, harusnya kita membantu pelayan yang dimarahi itu,” ucap Bastian yang ingin berdiri namun Stevani tahan.
“Tunggu saja, pasti satpam akan membawa mereka berdua keluar,” balas Stevani.
Benar saja, tak lama ada satpam yang membawa kedua wanita tua itu. Bastian yang melihat itu langsung merasa lega, karena keributan sudah berakhir. Sedangkan Stevani hanya tertawa, karena kedua wanita tua itu dipaksa pergi dan dipermalukan di depan umum. Ternyata ada untungnya Stevani berlama-lama di toko kue itu.
“Kenapa kamu malah tertawa? Tidak ada yang lucu tahu,” tegur Bastian.
“Menurutku melihat orang mendapat karmanya itu lucu,” balas Stevani.
“Karma?”
“Iya karma. Kedua nenek itu memarahi pelayan yang tidak tahu apa-apa, mereka seakan menyalahkan semuanya kepada pelayan itu. Padahal pelayan itu hanya bertugas mengantarkan pesanan mereka, pelayan itu tidak bertanggungjawab atas pesanan yang begitu lama. Karena bagaimana juga yang membuat lama adalah pembeli yang banyak, itu adalah keuntungan toko ini. Kedua nenek itu mendapat karma, karena sudah menyusahkan pekerjaan pelayan itu dan mengganggu ketenangan orang lain.”
“Aku tidak menyaka kamu berpikir sejauh itu.”
“Memangnya aku dirimu yang berpikir seperti anak-anak.” Bastian yang mendengar itu langsung tidak terima, bisa-bisanya Stevani mengatai Bastian anak-anak. Namun, Stevani tidak ada salahnya Bastian memang mempunyai sikap kekanak-kanakan. Sudah banyak yang protes tentang hal itu, termasuk Damian. Tapi Bastian masih mengeyel dan tidak mau menerima kenyataan.
“Hei, jangan menghina aku seperti itu! Nanti kamu kena karma saja!” ucap Bastian.
“Tidak apa, karena sikap kekanak-kanakan kamu. Aku jadi menyukai kamu,” balas Stevani.
Mendengar itu Bastian langsung merasa malu, karena bagaimana juga ia masih menyukai Stevani diam-diam. Mendengar Stevani mengatakan itu bagaikan mimpi untuk seorang Bastian. Apalagi Stevani adalah orang yang begitu dingin dan jarang bergaul, ini adalah keuntungan besar untuk Bastian. Padahal Bastian sudah mengakui perasaannya kepada Stevani, tapi Stevani tidak menjawab apa-apa. Namun, sekarang Stevani malah menjawabnya. Itu membuat Bastian sangat bingung, jika Stevani menyukainya kenapa tidak mengatakan sejak awal.
“Menyukai sebagai apa?” tanya Bastian.
“Sebagai seorang kekasih,” jawab Stevani.
“Sejak kamu mengatakan perasaan kamu, bukankah kita sudah menjadi kekasih. Aku diam saja, karena aku mengira kamu sudah mengetahui perasaan aku. Lalu kencan makan malam itu apa, kamu sendiri yang mengajak. Berarti kita sudah resmi menjadi kekasih, sikap kamu yang mengatakan itu. Karena jika kamu mengira aku menolak kamu, mengapa kita masih sering jalan-jalan berdua. Aku hanya berpikir logis saja,” lanjut Stevani.
“STEVANI RESMI MENJADI KEKASIHKU!” teriak Bastian. Itu membuat seluruh pelanggan melihat kepada Bastian yang berteriak, Stevani yang mengetahui itu langsung merasa malu. Tapi bukan Bastian namanya kalau tidak heboh seperti anak kecil. Stevani hanya bisa menghela nafas mengetahui kelakuan Bastian, untuk saja cinta kalau tidak sudah Stevani tinggal di tempat.
Tak lama kemudian kue pesanan mereka sudah bisa diambil, Stevani Langsung mengambil sambil menutupi wajahnya. Karena satu toko melihat kepadanya, bayangkan rasa malu Stevani sekarang. Setelah mengambil kue Stevani langsung menarik Bastian untuk pergi, sedangkan Bastian masih tidak menduga Stevani sudah menjadi kekasihnya sejak lama. Jantung Bastian rasanya mau copot, begitu juga dengan Stevani, namun jantung Stevani mau copot karena merasa malu.
Bersambung.....