Wishing For You

Wishing For You
Everything Is Gonna be Okay



“Aku juga ingin minta maaf, Tante. Aku sudah menuduh Damian dan membuat keributan di keluarga Tante. Harusnya aku tidak pernah melakukan itu, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar orang yang bodoh saat itu, maafkan aku. Aku akan melakukan apa saja untuk memperbaiki semua kesalahanku kepada Tante,” ucap Amber.


“Tentu saja Mama maafkan kalian berdua, kalian adalah orang yang baik tapi dibutakan oleh rasa cemburu. Itu adalah hal berani bagi kalian mengakui kesalahan, Mama hanya ingin itu dari kalian. Kalian membuat Mama bangga dan menghilangkan rasa kecewa Mama selama ini,” balas Caitlyn.


Caitlyn pun berdiri dan meminta Dareen berserta Amber memeluknya. Dareen dan Amber langsung menghampiri Caitlyn dan memeluknya. Tanpa disadari Caitlyn meneteskan air mata bahagia, karena anaknya sudah ingin berubah. Caitlyn sempat mengira Dareen tidak akan pernah berubah, namun dirinya salah. Dareen benar-benar meminta maaf kepada dirinya dan berusaha melakukan yang terbaik, Caitlyn benar-benar menghargai itu.


“Berarti jika aku dan Amber menikah, Mama akan datang?” tanya Dareen.


“Apa! Menikah? Apa kalian tidak terlalu terburu-buru, ini terlalu cepat,” ucap Caitlyn yang terkejut dan langsung melepas pelukan.


“Apa Tante tidak setuju?” tanya Amber.


“Tentu saja setuju, ini adalah pilihan kalian jadi Mama akan menyetujuinya. Tapi bagaimana dengan orang tua kamu Amber, apa mereka setuju?” tanya Caitlyn.


“Mereka tidak peduli lagi, jadi ini adalah keputusan aku,” jawab Amber.


“Baiklah kalian boleh menikah dan Mama pasti akan datang,” ucap Caitlyn.


“Terima kasih, Mah. Satu lagi aku dan Amber akan memiliki bayi,” balas Dareen dan Caitlyn berusaha mencerna itu semua.


“Apa kamu ingin mengatakan Amber hamil dengan kata yang lebih halus,” ucap Caitlyn dan Dareen langsung mengangguk.


Caitlyn pun langsung memeluk keduanya. Dareen pun menghela nafas, Dareen sempat mengira Caitlyn akan marah atau kecewa lagi. Tapi ternyata dirinya salah, Caitlyn terlihat gembira dengan kabar itu dan itu membuat Amber juga ikut lega. Akhirnya Dareen benar-benar bisa merasa lega, karena Caitlyn memaafkan dirinya dan juga menerimanya kembali sebagai anaknya.


***


Malam harinya, Hope berbaring di sofa bersama Damian. Sejak kembali dari penjara Hope terus menangis dan tidak ingin bercerita kepada Damian. Damian hanya bisa memaklumi itu, karena bagaimanapun juga Hope butuh waktu. Sedari tadi Hope terus menempel kepada Damian, Hope seakan tidak bisa jauh dari Damian. Damian sekarang hanya menunggu Hope tenang dan mau berbicara kepadanya. Melihat Hope membuat Damian terluka, karena Damian hanya bisa mendengar tangisan Hope di dekatnya.


“Apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Damian dan Hope hanya terdiam.


Diamnya Hope sudah memberikan Damian jawaban, Damian pun mengelus rambutnya Hope agar Hope tenang. Damian mengeratkan pelukan mereka dan mencium kening Hope. Setelah itu Hope langsung menaruh kepalanya didadanya Damian, tangisan menjadi sedikit reda. Damian hanya terus mengelus rambut Hope agar Hope merasa lebih baik dan mungkin Damian akan menunggu hingga Hope tertidur.


“Damian, kenapa tidak ada satu pun orang yang mencintai aku?” tanya Hope disela-sela tangisnya.


“Aku sudah membuat banyak masalah untuk kamu, kamu bahkan dihina keluarga kamu sendiri. Kenapa kamu masih mencintai aku?” ucap Hope. Damian pun melonggarkan pelukan dan melihat kedua mata Hope, Damian mengelus kedua mata Hope yang terlihat merah. Hope berusaha tersenyum kepada Damian, walau hatinya masih terasa sakit.


“Semua masalah akan datang sendirinya, tidak ada sangkut-pautnya dengan adanya kamu atau tidak. Aku akan tetap mencintai kamu bagaimanapun juga, karena hatiku tidak bisa berbohong, Hope. Dan, jika seseorang membenci kamu, kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa, kamu akan tetap salah dimata mereka. Jadi kamu tidak usah pikirkan ya,” balas Damian.


“Apa kamu ingin tidur sekarang?” tanya Damian.


“Tidak, aku ingin terus di sini bersama kamu. Aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku,” jawab Hope.


“Hei, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak,” ucap Damian.


“Apa kamu tahu, Hope. Saat pertama kali aku melihat kamu, kamu seperti gadis yang begitu ambisius dan tidak mempunyai kehidupan di luar sana. Setalah aku tahu kehidupan kamu di luar kampus, aku mengerti kenapa aku begitu ambisius. Kamu hampir sama seperti aku, mencari pelarian dari keluarga yang menyiksa. Bedanya, aku hanya tersiksa batin sedangkan kamu tersiksa batin dan fisiknya,” ucap Damian.


“Sekarang kamu sudah bebas dari siksaan itu, Hope. Harusnya kamu bahagia dan tidak mendengar kata wanita tua itu, yang sudah membuat kamu menderita,” lanjut Damian.


“Ta– tapi, akulah yang membuat mama menderita,” ucap Hope. Hope pun mulai bercerita tentang percakapan bersama Emma, walau dengan nada yang tidak begitu nyaman Hope tetap bercerita. Damian hanya mendengar dan tidak berkomentar apa-apa, Damian menunggu Hope selesai untuk berbicara.


“Ja– jadi ini semua salah aku, karena aku ada didunia ini mama jadi menderita. Aku pantas mendapatkan ini,” ucap Hope.


“Hope sayang. Kamu tidak salah dan kamu tidak pantas mendapatkan itu semua. Itu adalah keputusan mama kamu yang ingin kamu hadir didunia ini dan merawat kamu, jika mama kamu benar-benar ingin menyingkirkan kamu pasti dia akan melakukan hal di luar nalar. Jika dia ibu yang baik mungkin dia akan melepaskan kamu dan memberikan kamu kepada pasangan yang menginginkan anak, karena sejak kamu lahir dia tahu dia tidak sanggup merawat kamu,” balas Damian.


“Tapi lihatlah dia malah membuat kamu menderita, seakan kamu adalah alat pelampiasannya. Jadi jika dilihat kamulah orang yang paling menderita, kamu adalah orang yang paling terluka. Mama kamu sudah memilih jalan hidupnya dan dia memilih jalan yang buruk dan salah. Sedangkan kamu, kamu memilih jalan yang baik dan itu yang membuat aku jatuh cinta kepada kamu,” lanjut Damian.


“Terima kasih, sudah berkata seperti itu. Aku menghargainya, Damian. Kamu membuat aku lebih lega sekarang,” ucap Hope.


“Kamu ingin istirahat sekarang? Kamu pasti lelah menghadapi itu semua. Kamu butuh istirahat agar tidak sakit,” tanya Damian dan Hope langsung mengangguk.


Damian pun bangun dan mengangkat tubuh Hope lalu membawanya ke kamar. Sesampainya dikamar Damian membaringkan Hope diranjang dan menyelimuti Hope, tidak lupa Damian mencium kening Hope. Damian menunggu Hope hingga tertidur pulas dan setelah itu Damian kembali ke apartemen lalu mengistirahatkan dirinya sendiri.


Bersambung……