
3 bulan kemudian, hari-hari berjalan seperti biasa. Hope sudah mulai berdamai dengan masalahnya dengan Emma, awalnya Hope sempat tertekan tapi semua itu berhasil Hope terima dengan lapang dada. Damian juga membantu Hope menerima itu semua. Damian sendiri sudah menjalani harinya seperti biasa, tapi ada satu hal yang mengganggunya. Yaitu Liam yang berusaha berbicara kepada Damian. Sejak kejadian waktu itu Damian tidak pernah berbicara kepada Liam lagi, bahkan Damian tidak kembali ke rumah itu.
Damian belum siap untuk berbicara kepada Liam, karena terakhir mereka berbicara empat mata adalah saat ibunya meninggal. Itu membuat beban tersendiri untuk Damian yang harus berbicara kepada ayahnya lagi setelah sekian lamanya, harusnya Damian senang tapi ini sebaliknya. Selama ini Damian tidak pernah merasa jika Liam adalah ayah yang baik untuk dirinya, entah bagaimana Damian bisa berpikir seperti itu.
“Damian, kenapa kamu diam saja? Katanya mau berangkat sekarang,” ucap Hope yang membuat Damian terkejut.
Damian pun tersadar jika sedari tadi dirinya hanya diam saat memasuki mobil, banyak hal yang membuat pikiran Damian terganggu. Bahkan sedari tadi Hope menunggu Damian untuk menyalakan mobilnya tapi Damian hanya diam, Hope sempat mengira sakit. Namun, sepertinya Damian sedang banyak pikiran dan menjadi tidak fokus dengan keadaan sekitar.
“Kamu baik-baik saja, kan? Dari kemarin kamu suka sekali seperti ini, terdiam begitu lama dengan tatapan kosong,” ucap Hope.
“Aku hanya banyak pikiran, kamu tidak usah menghiraukannya,” balas Damian.
“Bagaimana aku bisa diam?! Kamu itu sangat aneh tahu, jika dibiarkan kamu bisa menjadi lebih aneh lagi.”
“Aku hanya sedang banyak pikiran, Hope. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku hanya sedang memikirkan beberapa masalah. Jadi kamu tidak usah ikut campur, kamu fokus saja dengan kegiatan kamu.”
“Baiklah, tapi setidaknya kamu cerita kepada aku. Aku ini kekasih kamu, Damian. Kamu bisa menceritakan apa pun kepada aku, aku janji akan mendengarkan cerita kamu.”
Damian pun menunda keberangkatannya dan menceritakan semua pikirannya kepada Hope. Tentu saja Hope bersedia mendengarkan keluh kesah Damian, itulah yang dilakukan oleh sepasang kekasih. Hope berusaha mengerti Damian yang terus memikirkan tentang ayahnya, Hope tahu jika Damian tidak suka dengan Liam. Tapi mau bagaimanapun juga Liam tetaplah ayahnya Damian dan juga semua kejadian bukan murni dari Liam. Namun, entah mengapa Damian sulit sekali memutuskan, apakah dia akan kembali bersama ayahnya atau memilih Caitlyn yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
Pilihan yang sulit, jika bisa Damian tidak ingin memihak salah satu dari mereka. Damian hanya ingin hubungan tetap baik dengan Caitlyn maupun Liam, tapi sepertinya itu sungguh sulit. Ditambah Liam yang berusaha berbicara dengan Damian dan membujuk Damian untuk kembali ke keluarganya. Itu sungguh sulit untuk Damian, apalagi Helen yang terus mengusik Damian hingga sekarang. Damian tentu saja memilih kebahagiaan dirinya sendiri daripada keluarganya yang egois itu.
“Mungkin aku tidak bisa mengerti apa yang kamu alami, tapi aku yakin semuanya ada jawabannya. Kamu adalah orang yang paling dewasa yang pernah aku temui, jadi pasti kamu akan mengambil keputusan yang terbaik untuk diri kamu dan semua orang,” ucap Hope.
“Terima kasih, Hope. Kamu sudah mau mengerti masalah aku dan membuat aku sedikit tenang,” balas Damian.
“Itulah gunanya seorang pacar. Iya bukan?” ucap Hope dengan ragu.
“Aku rasa. Namun, menurutku kamu lebih dari hal itu. Kamu manis, pintar walau tidak terlalu cantik. Kamu mengerti kondisiku. Dimana lagi aku menemukan gadis seperti itu coba,” balas Damian yang membuat Hope malu.
“Jadi sekarang aku bisa sombong. Aku yang tidak terlalu cantik bisa mendapatkan kamu sebagai pasanganku. Walau aku terdengar seperti orang yang menggoda dosen,” ucap Hope.
“Aku yang mengajak kencan lebih dulu, jadi aku yang menggoda kamu,” balas Damian sambil tersenyum.
“Baiklah, Pak Damian. Kamu yang menggoda aku jadi aku tidak perlu khawatir,” canda Hope.
“Ya. Benar sekali 100 buat kamu,” ucap Damian yang membuat Hope tertawa.
“Aku jarang memberikan 100, harusnya kamu bersyukur,” balas Damian.
“Apa kamu tahu? Saat aku bertemu kamu, aku mengira kamu adalah orang terangkuh sedunia. Aku tidak menduga orang seperti kamu bisa mencintai gadis seperti aku,” protes Hope.
“Jika seperti itu, kamu harus bersyukur lagi. Cintaiku bukan untuk sembarang orang,” ucap Damian dengan bangga.
“Kenapa harus aku yang bersyukur? Berkencan dengan kamu seperti aku berkencan degan barang langkah,” protes Hope sekali lagi.
“Aku adalah orang yang pemilih. Aku hanya mempunyai mantan satu. Banyak yang di luar sana, tapi tidak bisa mendapatkan aku,” ucap Damian dengan begitu bangga.
“Jika seperti itu, ayo sekarang kita berangkat,” ucap Hope.
“Kenapa? Kita sedang di mobil, kita bisa ke mana saja. Apa kamu tidak ingin bolos?” balas Damian.
“Apa kamu gila? Aku berusaha keras untuk mendapat beasiswa, hanya untuk membolos. Kamu adalah pengaruh buruk,” protes Hope.
“Aku bisa membayar jika beasiswa kamu dicabut,” canda Damian.
“Tidak lucu, kamu terdengar seperti ayahku yang membiayai hidupku. Kamu memang tua, tapi jangan bertingkah seperti orang tua,” keluh Hope.
“Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak setua itu,” ucap Damian dengan nada tinggi.
“Ya sudah! Ayo berangkat,” protes Hope kesekian kalinya.
“Tidak mau, aku ingin kita lebih lama di sini. Aku ingin menghabiskan waktu dengan kamu sebagai kekasih aku, jika sudah di kampus kita sudah tidak bisa menjadi sepasang kekasih lagi,” pinta Damian.
“Eh, mana bisa. Aku ada ujian penting hari ini dan aku harus belajar, lagi pula kita akan bertemu setelah aku selesai bekerja. Habis itu nanti malam kita akan makan malam bersama tante Caitlyn, lalu kamu janji untuk mengajak aku melihat bintang malam hari. Apa itu tidak cukup untuk kamu?” oceh Hope.
“Tidak, tidak ada satu pun yang cukup jika tentang kamu,” goda Damian.
“Sudah, ah! Lebih baik kita berangkat sekarang saja, nanti aku telat!” ucap Hope yang merasa malu.
Akhirnya Damian langsung menginjak pedal gas mobilnya dan segera pergi menuju kampus. Sepanjang perjalanan Damian terus menggoda Hope agar membolos saja dan menghabiskan waktu bersamanya. Tentu saja Hope tidak ingin membolos, mau itu yang meminta Damian sekalipun Hope tetap menolaknya. Akhirnya Hope terus mengoceh tentang semua waktu yang mereka habiskan di luar kampus dan juga setiap hari libur yang mereka habiskan. Namun, tetap saja untuk Damian itu tidak cukup dan Hope merasa itu semua cukup. Alhasil mereka terus berargumen tentang hal itu sepanjang jalan.
Bersambung…..