
Setelah makan malam bersama keluarganya Shaka menyibukkan diri di kamar nya, pria tinggi dan tampan itu berkutat dengan laptop nya, Shaka mulai fokus mencari ide untuk bahan Skripsi nya.
"Kakak!" Suara Zea memekik seisi ruangan kamar Shaka, tiba-tiba Zea masuk kamar kakaknya seperti biasa tanpa di undang,
Zea mendekati sang Kakak dengan membawa buku di tangannya!
"Ze, bisa gak ketuk pintu dulu. Pr lagi?" Shaka menatap sang Adik sambil melirik buku di tangan Zea.
"Hehe, Bantuin dong Kak, Ya ya Kakak ku tersayang yang paling ganteng sedunia" Zea cengengesan tersenyum manja merayu sang Kakak agar Kakaknya mau membantu mengerjakan Pr nya.
"Nggak usah ngerayu, Duduk" Shaka langsung menutup laptop nya dan meminta buku dari tangan Zea, Shaka membuka Buku Pr sang Adik kemudian menghela nafas berat!
Shaka menjatuhkan tubuh nya tengkurep sambil membuka Buku milik Zea di ikuti oleh Zea di samping Shaka, Zea memperhatikan Shaka yang sedang menjelaskan isi-isi Pr nya dengan serius!
"Dek, makanya kamu tuh banyakin belajar biar bisa dapat Ranking, kamu kan sudah kelas 3 sebentar lagi lulus, harus punya nilai yang bagus kalau mau masuk universitas elit!" Ujar Shaka meletakan sejenak bolpoint di buku, Shaka menatap sang Adik dengan tatapan dalam menasehati adiknya yang memang sedikit lemot dan tidak sepintar dirinya.
"Iya Kak, Kakak kan paling pinter, Nggak kayak aku. jadi jangan di samain. Kita tuh sekandung tapi kenapa beda ya, Kakak lebih pintar dan aku-"! Zea memberengut menatap sang Kakak dengan wajah sendu.
Wajah Shaka langsung berubah mendung saat Zea mengatakan Dirinya dan Zea berbeda, Shaka menatap dalam pada Zea dan langsung duduk tegap, Shaka terdiam sejenak berpikir apa yang harus di jelaskannya. tidak mungkin Shaka mengatakan yang sebenarnya Bahwa mereka hanyalah saudara tidak sedarah!
"Kamu ngerti maksud kakak gak sih?, malah mikirnya kemana-mana!" Shaka mencoba tenang dan kembali mencairkan suasana tegang di antara dirinya dan sang Adik!
"Sstttt" Zea malah menyuruh Shaka diam dengan Jari telunjuk nya yang di tempelkan ke bibir sang Kaka dengan tidak sopannya, Zea malah memainkan ponselnya sambil tersenyum kegirangan.
Sontak saja Shaka di buat kesal oleh kelakuan sang Adik yang memang agak absurd, Shaka mengerutkan alisnya menatap intens pada Zea seraya menurunkan pelan jari telunjuk sang adik yang bertengger dengan tidak sopannya di Bibir nya!
"Aaaa akhirnya dia Dm aku!" Zea tersenyum lebar melihat ke Shaka sekilas lalu kembali menatap layar ponsel nya dengan senyum yang masih mengembang.
"Siapa?" Tanya Shaka melongok ponsel Zea namun Zea segera menjauhkan ponselnya dari wajah sang Kakak yang hampir saja melihat chat dari seseorang.
Shaka memicingkan matanya menatap sang Adik dengan tatapan curiga!
"Kak Bima Dm aku!" Akhirnya Zea mengakuinya kalau dirinya mendapatkan Chat dari sang Idola, Zea terlihat sumringah dan bahagia sekali membuat Shaka tiba-tiba merasa kesal.
"Bima?, kok bisa dia Dm kamu?" tanya Shaka penuh selidik.
"Kemarin dia nunjukin akunnya buat aku Follow dan lihatlah malam ini dia akhirnya Dm aku Kak!" Zea dengan semangat menjelaskan pada sang Kakak.
Namun Shaka justru semakin kesal dan memasang wajah datar seketika!
"Nih, kerjakan sendiri sisanya. kakak Capek mau istirahat. ayo cepat keluar!" Shaka melempar buku Pr Zea ke pangkuan Zea yang masih duduk di ranjang milik sang Kakak!
Zea sontak saja kaget dengan apa yang di lakukan sang Kakak. Zea mendongak sambil mengerutkan dahinya menatap Shaka tak percaya.
"Ih Kok gitu, kan belum selesai Kak," Zea langsung memasang wajah sedih seperti biasa memancing sang Kakak agar iba padanya.
"Selesaikan sendiri, sekali-sekali kamu harus belajar sendiri tanpa melibatkan Kakak, Ayo keluar!" Shaka menarik tubuh Sang Adik dan mendorongnya pelan sampai keluar kamar, lalu Shaka menutup kembali pintu kamarnya.
Shaka menghela nafas panjang dan kembali ke ranjang nya.
"Ada apa denganku, Akh ini membuatku Gila, harusnya aku bisa menahan perasaan sialan ini!" Gumam Shaka merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol perasaan cemburunya pada Zea dan Bima!
Shaka mengambil bantal dan menutupi wajahnya dengan bantal itu, Shaka benar-benar frustasi dengan yang namanya hati!
Zea yang masih di depan pintu kamar Shaka menatap tak percaya pada pintu kayu yang sudah tertutup rapat itu.
"Nggak jelas banget, ada apa dengannya. Ahhh sial, aku harus menyelesaikan Pr ini!" Zea mendengus kesal menatap buku Pr di tangannya yang belum selesai di kerjakan oleh sang Kakak.
Keesokan paginya, Zea dan keluarganya sarapan pagi bersama, Ibu dan Ayah nya sudah lebih dulu berada di meja makan menunggu anak-anak mereka keluar dari kamar dan turun untuk bergabung sarapan pagi!
"Pagi Ma. Pa" Zea langsung ikut bergabung duduk di kursi setelah turun dan menyapa orangtuanya di ikuti Shaka duduk di samping kursi Zea.
"Susunya Non!" Nina menaruh segelas susu di hadapan Zea sambil tersenyum.
"Terimakasih Bi!" Ucap Zea membalas tersenyum pada Nina.
"Zea, Kamu berangkat sekolah bareng kakakmu ya. Pak Bandu masih sakit soalnya!" Arnold menginterupsi Zea untuk berangkat bersama sang Kakak ke sekolah.
"Naik motor Pa?" Zea yang masih trauma naik motor mengingat kejadian kemarin saat dirinya di bonceng oleh sang kakak yang hampir saja celaka membuat Zea merasa takut dan khawatir!
"Udah, nanti Kakak bawa mobil deh!" Shaka angkat suara, Pria itu sangat peka melihat wajah sang Adik yang takut naik motor karena insiden kecil kemarin bersamanya.
Zea menoleh pada Shaka dengan wajah masam. Zea masih mode ngambek gara-gara semalam di usir oleh sang Kakak dari kamarnya!
"Kalian lagi berantem ya?" Liana menangkap gelagat kedua anaknya yang saling tatap menatap tajam sejak turun dari kamar mereka.
Arnold menoleh pada Shaka dan Zea bergantian sambil memicingkan matanya menatap kedua putra putrinya yang memang jarang sekali akur!
"Shaka, kamu sudah dewasa. mengalahlah sama Adik kamu!" ujar Arnold menasehati Shaka.
Shaka hanya diam mengangguk dan menghela nafas panjang. sudah biasa bagi Shaka selalu mengalah pada sang Adik yang memang sangat di manja oleh orangtuanya!
Sedangkan Zea menahan senyum melirik sang Kakak penuh kemenangan.
Shaka dan Zea berangkat menggunakan mobil milik Shaka yang jarang di pakai, karena Shaka lebih sering memakai motor nya untuk menghindari kemacetan ibu kota di saat waktu yang mendesak!
Zea langsung keluar mobil setelah sampai di depan gedung sekolah, Sedangkan Shaka langsung pergi ke kampus setelah sang Adik turun dari mobilnya.
"Kak Bima!" gumam Zea lirih, Zea tidak sengaja melihat Bima yang mengantar Rachel dengan motornya saat Zea berjalan mendekati parkiran motor.
Zea melihat dengan jelas interaksi antara Bima dan Rachel yang menurutnya begitu dekat seperti sepasang kekasih. Zea sepertinya salah paham dengan apa yang di lihatnya, Zea memicingkan matanya menatap intens pada Bima dan Rachel yang sedang tertawa bersama.
tidak lama kemudian Bima pergi dan Zea langsung menghampiri Rachel dengan wajah datar dan hati yang gemuruh menahan cemburu, namun Zea berusaha tetap tenang di depan Rachel.
"Rachel!" Pekik Zea memanggil Rachel yang sudah hampir berjalan masuk ke koridor sekolah.
"Zea" Rachel menoleh pada Zea yang berjalan cepat menghampirinya sambil mengerutkan dahinya.
"Kamu di antar siapa?" Zea langsung bertanya tanpa basa basi pada Rachel.
"Maksudnya?" Rachel menatap bingung pada Zea.
"Tadi kamu berangkat di antar siapa, Kak Bima Pacar kamu ya?" Zea dengan wajah sedikit masam namun masih berusaha tetap cool menatap Rachel menunggu jawaban dari Rachel.
Rachel lagi-lagi mengerutkan dahinya semakin bingung dengan pertanyaan Zea, namun Rachel melihat gelagat Zea yang sepertinya sedang Cemburu padanya, Rachel pun tersenyum tipis, Rachel dengan sengaja menggoda Zea dan mengaku Kalau Bima memang Pacarnya.
"Iya, memangnya kenapa kalau Kak Bima pacar ku?, kamu kenal dengan Pacarku Ze?" tanya Rachel sengaja memancing reaksi Zea
Zea tentu saja kaget dan melongo menatap intens pada Rachel, namun Zea segera tersadar kalau kecemburuannya itu salah, karena Bima memang bukan laki-laki yang di harapkannya.
Zea tersenyum pada Rachel dan mengalihkan perhatian Rachel mengajaknya untuk masuk kelas demi menepis perasaan cemburunya pada Rachel. Zea sedikit kecewa dengan Bima yang telah memberinya peluang untuk masuk ke hatinya, bahkan semalam Bima mengirim Pesan lewat DM di Instagram, tapi pagi ini Justru Zea mendapati Bima mengantar Pacarnya ke sekolah,
Rachel yang sejak tadi memperhatikan Zea, gadis itu menahan Senyum nya melihat raut Wajah Zea yang terlihat kecewa!