Who Are My Parents

Who Are My Parents
Who Are My Parents Bab 27



"Kak Bima kok tiba-tiba ada di sini aja?" Zea mengalihkan perhatian Bima agar tidak lagi membahas hubungannya yang baru di mulai itu terlalu serius.


"Sengaja!, karena feeling ku mengatakan kalau kamu stand by di sini seperti biasa!" jawab Bima sambil tersenyum genit pada Zea.


"Hmmmm" Zea memicingkan matanya menatap curiga pada Kekasihnya itu.


"Mau pulang sekarang, atau mau jalan-jalan dulu sama Pacar kamu ini?" tanya Bima sambil menaik turunkan alisnya menatap menggoda pada Zea.


"Langsung pulang aja deh Kak, motor Kakak mana?" Zea celingukan karena tidak melihat motor Bima yang terparkir di belakang tertutup pembatas.


"Tuh, Ayo Kakak Antar Sayang!" Bima menunjukkan motornya dengan mengangkat dagunya seraya mengulurkan tangan pada Zea.


Zea tersenyum dan meraih uluran tangan Bima lalu di genggamnya oleh Bima sambil beranjak mendekati motornya.


Sepasang kekasih yang baru saja jadian itu pun pergi meninggalkan Halte area Jegguk.


Sesampainya di halaman rumah Zea, Gadis itu langsung turun dan tersenyum sambil bergumam mengucapkan terimakasih pada Bima.


"Terimakasih Kak. Sudah mengantarku pulang. Kak Bima langsung pulang saja ya, Hati-hati di jalan" ujar Zea demi melihat sekeliling yang masih sepi. Gadis itu takut sang Kakak melihat interaksi antara dirinya dengan Bima.


"Sama-sama Sayang. Tapi kok pacar nya di usir sih!" Bima mengerucutkan bibirnya menatap manja pada Zea.


"Bukan ngusir Kak, tapi aku takut Kak Shaka akan melihat kita di sini" sahut Zea menekankan nada bicaranya. Menatap serius pada Bima


"Memangnya kenapa kalau Shaka tahu?" Bima masih ngeyel dan tidak segera beranjak dari hadapan sang Kekasih yang sudah menyuruhnya pergi.


Zea menghela nafas panjang menatap tajam pada Bima. Lalu Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Bima.


"Aku belum siap untuk publikasi hubungan kita Kak. Terutama pada Kak Shaka. Tolong mengertilah!" lirih Zea agak berbisik pada Bima.


Bima terdiam sejenak lalu mengangguk mengerti dan tersenyum tipis pada Zea.


"Baiklah Cantikku. Aku mengerti, Ya sudah Kakak pulang ya, Sana gih kamu masuk duluan" Bima mencoba mengerti dan menyuruh Zea untuk masuk rumah terlebih dulu sebelum dirinya meninggalkan Halaman rumah kekasihnya itu.


Zea mengangguk dan tersenyum pada Bima. Tangan lebar Bima reflek mengusap kepala Zea dengan lembut dan menatapnya dalam. Zea menatap intens pada Bima kemudian membungkuk pamit undur diri untuk masuk ke rumahnya.


Zea memutar tubuhnya dan melambaikan tangan pada Bima.


Dari jarak sekitar 2 meter, Shaka yang baru saja pulang dari kampus tidak sengaja di suguhkan pemandangan yang menurutnya begitu manis namun memuakan.


Shaka menyorot tajam pada Bima yang sudah siap pergi meninggalkan halaman Rumah kekasihnya itu.


Bima sontak saja kaget pada saat dirinya memutar motornya dan semakin mendekati dimana Shaka dan motornya stand by, Bima menelan saliva melihat Shaka yang sedang menyorotnya tajam.


"Shak. Baru pulang?" Bima tetap mencoba untuk tenang dan menyapa Sahabatnya itu.


"Ada hubungan apa Lo sama Adek Gue?" Shaka dengan sarkas menatap tajam pada Bima.


Bima menghela nafas dan menatap tegas pada Shaka.


"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Adek Lo. Dan kalaupun Gue punya hubungan sama Zea memangnya kenapa, nggak ada yang salah kan?. Apa yang Lo takutin dari Gue Shak. Kita udah kenal dari SMA, masa Lo nggak percaya sama Gue, Gue nggak seberengsek itu Shaka!" Bima panjang lebar menekankan pada Shaka kalau dirinya berhak menentukan pilihan, Bima meyakinkan Shaka kalau Adiknya akan baik-baik saja jika memang takdir akan berpihak dengannya.


Shaka tiba-tiba terdiam menatap kosong pada Bima. Laki-laki itu sebenarnya khawatir pada sang Adik. Bukan khawatir karena Adik perempuannya akan bersanding dengan sahabatnya. Tapi hati Shaka yang tidak rela dan tidak siap melihat Zea bersama laki-laki lain.


Shaka melirik kepergian Bima dengan perasaan kesal. Laki-laki itu menghela nafas berat, kemudian dia masuk ke dalam rumah dengan wajah masam!


Shaka langsung mencari Zea ke kamarnya tanpa masuk ke kamarnya terlebih dulu.


"Dek, Zea kamu di dalam?" Shaka menggedor-gedor pintu kamar sang Adik dengan tidak sabaran.


"Iya Kak. Bentar!" Sahut Zea dengan suara melengking dari dalam kamar.


Zea membukakan pintu untuk sang Kakak dan Shaka masuk begitu saja tanpa menatap sang Adik.


Zea menutup kembali pintu kamarnya dan mendekati sang kakak dengan hati yang bertanya-tanya!


"Kakak minta kamu jujur. Zea!" Shaka dengan tegas menatap tajam pada Zea.


Zea mengerutkan dahinya menatap bingung pada sang Kakak yang tiba-tiba memasang wajah galak sepulang kuliah.


"Jujur tentang apa, Kakak kenapa sih?" Zea berdecak sebal dengan sang Kakak yang tiba-tiba menyidangnya.


"Ada hubungan apa kamu sama Bima, Hah?" Shaka menatap tajam pada Zea dengan sedikit meninggikan suaranya.


Jantung Zea seketika berdebar kencang, Gadis itu menelan saliva takut jika sang Kakak mengetahui hubungannya dengan Bima.


"Jawab!" bentak Shaka, membuat Zea terjingkat kaget.


"Aku dan Kak Bima tidak ada hubungan apa-apa Kak!" jawab Zea dengan bibir gemetar menatap takut pada sang Kakak.


"Lantas kenapa kamu bisa pulang dengan Bima lagi?" Tanya Shaka masih menatap intens pada Zea dengan tatapan penuh selidik.


"Itu cuma kebetulan saja. Dia lewat halte jadi sekalian" ujar Zea mulai kesal pada sang Kakak yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Jangan Bohong. Di depan ada Cctv Zea!" Shaka masih tidak ingin mengalah dan tetap mendesak sang adik untuk jujur padanya.


"Terserah Kakak. Mendingan Kakak keluar aja deh, Aku mau istirahat nggak usah ganggu!" Zea berdecak sebal dan mendorong bahu sang Kakak agar keluar dari kamarnya.


Shaka menatap tak percaya pada Zea, bisa-bisanya sang Adik berani mengusirnya dengan wajah masam.


"Dek. Kamu ngusir Kakak?" Shaka membuka bola matanya menatap sang Adik.


"Iya. Kenapa?. Kakak nyebelin!" Cetus Zea mendorong lebih kuat lagi tubuh Saka hingga keluar dari pintu kamarnya. Zea lalu menutup pintu dengan keras membuat Shaka terjingkat kaget.


Shaka geleng-geleng kepala menatap pintu kamar sang Adik yang sudah tertutup rapat itu. Kemudian Shaka memutar tubuhnya berjalan gontai menuju ke kamarnya sendiri.


Dengan perasaan Gamang Shaka menjatuhkan bobot tubuhnya pada kasur empuk miliknya. Pria itu menatap langi-langit kamarnya sambil menghela nafas panjang.


Ada rasa Sesal dalam hati Shaka karena telah memarahi Sang Adik tanpa alasan yang jelas. hanya karena dirinya cemburu pada Sahabatnya, Shaka sampai harus meluapkan emosinya pada sang Adik. Kecemburuan Shaka memang lah wajar dan tidak salah. Hanya saja Shaka salah menempatkan hatinya untuk menyukai sang Adik. Bukan rasa Sayang sebagai seorang Kakak terhadap Adik perempuannya melainkan perasaan Cinta terhadap Gadis yang selama ini telah hidup bersamanya sejak kecil.


Shaka sangat tersiksa dengan perasaannya saat ini, Shaka tidak bisa menahan perasaan Cinta itu pada Sang Adik, namun Shaka juga tidak mungkin mengatakan dengan jujur pada Zea kalau Mereka sebenarnya bukanlah saudara kandung.


"Argh. Sial!, kenapa hati Gue harus kayak gini sih!" Shaka mengusap wajahnya dengan kasar, Shaka dengan frustasi menutupi wajahnya dengan bantal.