
Zea mendahului Shaka dan Bima berjalan ke arah dimana Tempat Es Krim itu berada. Sedangkan Shaka dan Bima mengekor di belakangnya berjalan beriringan saling menatap tajam satu sama lain.
"Jangan Coba-coba Lo godain Adek Gue!" Bisik Shaka lirih
"Bawel banget sih Lo" Sahut Bima melirik sinis pada Shaka yang sejak tadi terus memperingatinya membuat Bima semakin tertantang untuk mendekati Zea.
Zea menoleh pada Shaka dan Bima, Gadis itu memicingkan matanya menyorot tajam pada Dua laki-laki dewasa di belakangnya itu, Shaka dan Bima langsung terdiam dan tersenyum paksa pada Zea.
Zea segera memesan tiga cup es krim pada kasir, lalu mengajak Shaka dan Bima untuk duduk menunggu.
Bima yang melihat Zea yang sudah duduk lebih dulu, segera mengambil kesempatan untuk menempati kursi di sebelah nya, Bima menarik kursi itu dan duduk begitu saja di samping Zea sambil tersenyum. Zea menoleh pada Bima dan melirik pada Sang Kakak yang masih berdiri di hadapannya.
Zea merasa tidak enak hati pada sang Kakak namun Zea juga tidak mungkin menyuruh Bima untuk pindah tempat duduk dari sebelahnya.
Shaka pun dengan malas menarik kursi di hadapan sang Adik dan Sahabatnya itu lalu duduk dengan tenang.
"Silahkan Kak" Pelayan datang mengantar Pesanan Es krim yang telah di pesan oleh Zea tadi ke meja mereka dengan sopan.
"Terimakasih" ucap Zea sambil tersenyum pada pelayan itu.
Zea menyodorkan masing-masing Cup es krim ke hadapan Shaka dan Bima dengan wajah datar melirik Sang Kakak dan Sahabatnya itu, lalu Zea fokus pada Es krim miliknya.
"Enak?" Tanya Bima melongok pada Wajah Zea yang sedang makan es krim.
Zea mengangguk dan tersenyum pada Bima.
"Mau coba punya Kakak nggak?" Bima tersenyum seraya menyodorkan satu sendok es krim ke Zea dan Zea membuka mulutnya lalu melahap es krim dari suapan Bima.
Zea tersenyum kikuk namun hatinya merasa menghangat dengan perlakuan Bima yang mendadak romantis. Bahkan Zea sampai terbawa suasana bergantian menyuapi Bima dengan sendok yang sama bekasnya makan tadi.
"Pakai Sendok bekas kamu ternyata lebih Enak!" Bima reflek mengusap Rambut Zea yang tergerai sambil mengangkat alisnya naik turun menatap intens pada Zea
Zea sontak saja terdiam menatap pada Bima dan melirik Shaka yang sejak tadi menyorotnya tajam.
Shaka merasa jengah dengan perlakuan manis Bima terhadap Adiknya, Shaka merasa sangat Cemburu dan tidak terima melihat Sang Adik di perlakukan seromantis itu oleh laki-laki lain di hadapannya.
Shaka menghela nafas berat dan berdiri lalu berpindah tempat duduk di tengah-tengah antara Bima dan Zea dengan membawa kursinya.
"Haishh, Ganggu aja Lo!" Bima mendengus kesal menatap pada Shaka yang tiba-tiba membawa kursi dan duduk di tengah-tengah dirinya dan Zea.
"Minggir Lo!" Shaka menyenggol bahu Bima dengan Bahunya menatap Bima dengan tatapan sinis.
"Kakak Ih!" Zea merasa tidak enak hati pada Bima dengan sikap sang Kakak yang menurutnya tidak sopan dan berlebihan pada Bima.
"Cepat habiskan, lalu pulang. Nggak ada alasan lagi!" Shaka menginterupsi sang Adik untuk segera menghabiskan Es krimnya. Shaka melirik pada Bima yang duduk bergeser tersingkirkan oleh ulahnya.
Zea menatap Bima dengan perasaan bersalah namun tidak berani melakukan apapun di depan sang Kakak yang terlalu Over protektif itu, Zea hanya diam menundukkan kepalanya sambil menghabiskan sisa Es krim di hadapannya.
Bima merasa semakin ingin mengenal lebih dekat lagi dengan Zea Adik dari Sahabatnya itu, Mungkin saja akan banyak rintangan dan Problem untuk Bima bisa menggapai tujuannya. Namun Bima akan berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan sampai dapat dan berhasil dia genggam!
Beberapa menit kemudian Mereka telah selesai makan Es krim dan memutuskan untuk pulang!
"Bim, kita pulang dulu ya" Shaka menepuk bahu Bima seperti biasa ketika mereka akan berpisah.
"Oke, Hati-hati ya. Dan Terimakasih Atas suapan pertamanya Cantik!" Bima tersenyum menaik turunkan alisnya menggoda dan melongok pada Zea.
Zea mendongak menatap pada Bima, Zea terdiam sejenak dengan mata yang berkedip-kedip menatap Bima tak percaya membuat Bima merasa gemas dengan Gadis Cantik dan polos itu,
Lagi-lagi Shaka di buat jengah oleh Sahabatnya sendiri yang masih saja berusaha menggoda sang Adik.
"Ayo Dek!" Shaka menarik lengan Zea begitu saja dan meninggalkan Bima.
"Jangan lupa Bayar!" Sahut Shaka agak teriak sambil berjalan menggandeng Zea dan menoleh pada Bima menginterupsi Sahabatnya kalau Es krim yang mereka makan tadi belum di bayar.
"Haishh. Sialan!" Gumam Bima lirih menatap kepergian Sahabat dan Adiknya dengan wajah kesal. Namun Bima merasa senang hari Ini bisa bertemu dan duduk berdampingan seperti tadi bersama Gadis yang dia sukai!
Hanya untuk membayar 3 Cup Es krim saja tidak masalah bagi Bima, jangankan Es krim. Emas Hantaran saja Bima bisa berikan untuk Zea!
Bima berjalan gontai menuju ke kasir sambil senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Zea yang polos dan malu-malu di hadapannya tadi!
Setelah membayar tagihan Es krim Bima langsung pulang ke rumah, karena tidak ada lagi aktivitas lain hari ini, Bima memutuskan untuk pulang saja.
Di tempat lain Shaka dan Zea yang sudah sampai di rumah, mereka langsung masuk rumah hampir petang. Keduanya sama-sama masuk kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan shalat magrib berjamaah seperti biasa dengan Ayah dan Ibunya.
Keluarga Arnold pun menjalankan Ibadah shalat magrib bersama di Mushola dalam rumah mereka. Setelah selesai Shalat berjamaah seperti biasa mereka akan menuju ke ruang makan untuk makan malam.
"Sayang. Habis makan malam kamu ikut Mama ya!" Liana menahan pergerakan Zea sambil berbisik lirih pada Putrinya.
"Kemana Ma?" tanya Zea mengerutkan alisnya menatap serius pada sang Ibu.
"Ke Mall, Mama ada janji ketemu sama temen kuliah Mama dulu. mau kan temenin Mama?" Ujar Liana
"Oke Aku temenin Ma!" Zea tersenyum seraya mengusap punggung tangan sang Ibu lalu mencium nya dengan sopan.
Liana tersenyum menatap lekat pada Zea, Ibu kandung dari Shaka itu selalu merasa tersentuh dengan sikap anak-anaknya yang selalu menghargainya sebagai seorang Ibu, itulah alasan terberat Liana untuk tetap menjaga rahasia besar dari sang Putri, Liana tidak ingin, lebih tepatnya Liana tidak akan pernah siap kehilangan Sang Putri.
Liana menatap sendu dengan tatapan dalam pada Zea sambil mengusap punggung sang putri dengan lembut penuh kasih!
"Ma!" Shaka memutar tubuhnya seraya mengulurkan tangannya pada Liana untuk mencium tangan Sang Ibu, membuat Liana tersadar dari lamunannya yang sejak tadi menatap dalam pada sang Putri.
Liana menoleh pada Shaka lalu tersenyum, Dan Zea segera melipat mukenah nya dan bergantian mencium punggung tangan sang Ayah dan Kakaknya dengan takzim.
Zea dan Shaka lebih dulu melipir ke meja makan. sepasang kakak beradik itu sudah kelaparan sejak tadi sore pulang dari Danau, mereka belum sempat makan karena pertemuan dengan Bima yang membuat suasana hati Shaka menjadi tidak baik-baik saja!