Who Are My Parents

Who Are My Parents
Who Are My Farents Bab 7



Zea yang sudah keluar dari gedung sekolah celingukkan mencari keberadaan Supir yang biasa menjemputnya, namun sejak tadi Zea tidak menemukan sang Supir yang tumben sekali telat menjemput hari ini.


Beberapa kali Zea melihat jam di ponselnya sambil mendengus kesal!


"Tiidd" Shaka tiba-tiba muncul dari sebrang jalan dengan motor nya, Shaka langsung menghampiri Adiknya saat melihat sang Adik sudah keluar gedung dengan wajah yang sudah di tekuk.


"Kakak!, kok kakak tiba-tiba ada di sini, ngapain?" Zea menatap Sang kakak penuh selidik.


"Menurut kamu kakak ngapain panas-panas di sini. Ayo naik" Ujar Shaka seraya menyodorkan helm pada Zea.


"Kakak jemput aku, emangnya Pak Bandu kemana?" tanya Zea sambil menerima helm itu dari tangan Shaka.


"Pak Bandu lagi sakit, udah ayo cepetan Naik Dek panas nih!" Shaka tidak ingin berlama-lama karena pria itu merasa tidak nyaman di tatap oleh banyak pelajar gadis yang juga baru saja keluar dari gedung sekolah


"Kok pake motor, aku kan pakai Rok pendek Kak!" Zea memberengut.


"Haissh ribet banget sih Bocah, tinggal naik aja. mau pulang Nggak?, Kakak tinggal nih!" Shaka gemas sendiri dengan tingkah Adiknya, Shaka menyalakan motornya agar Zea segera naik dan tidak banyak bicara lagi.


"Iya-iya. Ini gimana coba bukanya?" Zea menahan pergerakan sang kakak namun Zea kesulitan membuka Selt beat helm nya.


"Sini, buka ginian aja Nggak bisa, bisa nya apa sih kamu ini Dek" Shaka membukakan selt beat helm nya dan memakaikan sekalian pada kepala Sang Adik, Shaka memicingkan matanya menatap sang Adik dengan Intens.


Zea justru malah nyengir kuda saat di tatap sang kakak tanpa rasa bersalah telah membuat Shaka kesal oleh tingkah nya.


"Ya Ampun Kakak ini tinggi banget!" Zea masih mendrama karena Zea memakai rok pendek, gadis itu merasa tidak nyaman ketika hendak naik ke atas motor sang Kakak yang memang Jok belakangnya lebih tinggi dari jok depan.


Shaka menghela nafas panjang, menghadapi sang Adik butuh sedikit kesabaran untuk Shaka!


"Udah cepet naik Dek, pegang tangan Kakak" Shaka mengulurkan satu tangan kirinya pada sang Adik untuk membantu Zea agar bisa segera naik ke motor.


Zea pun Naik dengan sempurna dengan bantuan sang kakak, Zea merapikan Rok nya agar tidak terbang kemana-mana saat motor itu sudah jalan.


"Udah kan?" tanya Shaka memastikan sang adik naik dengan aman.


"Heu'um, pelan-pelan ya Kak" Ujar Zea menginterupsi sang Kakak.


Shaka tidak lagi menyahut, Shaka segera menjalankan motornya meninggalkan sekolah dan mengantar sang Adik pulang ke rumah.


Setengah perjalanan, Shaka tiba-tiba mengerem mendadak membuat Zea kaget dan hampir terjatuh, namun Zea dengan reflek memeluk sang kakak saat motor Shaka hampir saja terjungkal ke depan. untungnya Shaka masih bisa mengendalikan rem nya hingga tidak terjadi kecelakaan.


Zea memejamkan matanya masih dengan memeluk tubuh sang Kakak dari belakang, Shaka melirik tangan sang Adik yang melingkar sempurna di perutnya, Shaka memejamkan matanya sejenak, Pria itu merasakan jantungnya yang berdetak kencang, prasaan macan apa itu, Bahkan Shaka tidak bisa menghindari perasaan itu pada Zea. Shaka menghela nafas berat dan menyentuh tangan sang Adik dengan hati-hati melepaskannya dari perutnya.


"Ze, sudah aman, kamu nggak apa-apa kan?" Shaka menoleh ke belakang melihat wajah Zea yang ketakutan.


Zea mendongak menatap sang kakak dengan wajah yang sudah di tekuk.


"Iya Ma'af. tadi ada kucing lewat di depan. makanya Kakak ngerem mendadak" ujar Shaka sambil mengusap-usap punggung nya yang terasa panas akibat pukulan dari sang Adik!


"Aku mau naik Taxi aja lah!" Zea hendak turun dari motor namun Shaka segera menahan pergerakan Zea agar tidak jadi turun. Bisa panjang urusannya kalau sampai sang Adik merajuk dan mengadu pada Ayah nya!


"Jangan Dek. oke-oke Kita lanjut jalan lagi ya. kakak janji pelan-pelan deh, tapi Ikut kakak mampir dulu sebentar nggak papa kan?" Shaka dengan lembut membujuk sang adik agar tetap ikut dengannya.


Shaka sedang memulai Skripsi terakhir dan membutuhkan bahan-bahan untuk skripsi sore nanti. karena waktu yang sudah mepet, Shaka tidak ada waktu lagi kalau harus mengantarkan Zea pulang dulu dan harus putar balik lagi ke toko majalah untuk bahan Skripsi nya. Shaka akhirnya mengajak sang Adik untuk mampir dulu sebentar sekalian untuk menghemat waktu yang sedang berjalan!


"Kemana lagi?" tanya Zea masih mode ngambek.


"Ikut aja dulu!" Sahut Shaka, Shaka kembali menyalakan motor ya dan melanjutkan perjalanan ke Toko terlebih dulu sebelum ke rumah.


Sesampainya Shaka dan Zea di toko majalah, Shaka memarkirkan motornya dengan Aman kemudian mengajak sang Adik untuk masuk sebentar.


"Kakak sudah mulai Skripsi ya?" tanya Zea melirik sang Kakak sambil melihat-lihat buku-buku dan majalah yang berjejer rapi di etalase.


"Iya, makanya kamu do'ain Kakak ya biar Kakak lulus Skripsi dan cepat Wisuda biar bisa gabung sama Papa!" Ujar Shaka seraya mengambil satu majalah yang di carinya.


"Amin. Jadi Kakak sudah keluar dari Band Walker ya, pasti itu berat buat Kakak!" Zea menatap sendu pada sang Kakak. Zea sangat tahu bagaimana perjuangan Kakaknya dengan Grup nya itu.


Shaka melongok wajah sang Adik sambil tersenyum tipis.


"Iya, Demi Kamu sama Mama!" Ujar Shaka menatap dalam pada Zea


Zea spontan mendongak menatap sang Kakak dengan mata berkaca-kaca, Zea tentu saja terharu, sang Kakak telah rela meninggalkan Musik dan teman-teman geng nya demi Dirinya dan Liana sang Ibu!


"Kakak. Terimakasih, Aku yakin Kakak akan sukses nanti!" Zea menyentuh lengan sang Kakak penuh haru sambil tersenyum.


Shaka melirik tangan Sang Adik yang mengelus-elus lengannya, Shaka menekankan bibirnya tersenyum kecut, lagi-lagi perasaan itu datang secara tiba-tiba tanpa terkendali. Shaka mengacak rambut Zea dengan gemas sambil tersenyum lebar untuk mencairkan suasana hatinya yang sedang dilema!


"Ih Kakak kebiasaan banget tangannya usil!" Zea cemberut begitu menggemaskan bagi Shaka dengan pipi yang mengembung dan mata yang memicing!


"Bocah banyak ngomong, pulang yuk Kakak sudah dapat Majalah nya nih!" Ajak Shaka sambil tersenyum dan berjalan mendahului Zea.


"Haishh Dasar, Aku sudah besar Kak!" protes Zea sambil berjalan di belakang sang Kakak.


Shaka segera membayar Majalah yang di ambilnya dan melanjutkan perjalanan mengantar sang Adik pulang ke rumah.


Setelah mengantar Zea pulang, Shaka hanya masuk rumah sebentar untuk berganti pakaian dan makan siang bersama Adiknya, kemudian Shaka langsung Berpamitan untuk pergi lagi.


Shaka ada Bimbingan Skripsi dengan Dosen bimbingannya di Kampus sore ini. Shaka sudah mempersiapkan Diri untuk belajar dan fokus pada Skripsi akhir nya, Shaka berharap usahanya tidak sia-sia dengan nilai terbaik agar bisa segera lulus dan Wisuda Sesuai dengan apa yang di harapkan sang Ayah!