
Shaka dan Zea saling Lirik sekilas dengan wajah datar, Lalu mereka kembali menatap Sepatu Zea yang sudah berenang ke tengah Danau. Shaka menghela nafas panjang dan menuntun sang Adik ke kursi panjang.
"Kak. Gimana dong Sepatu aku!" Zea menatap sedih pada sang Kakak membuat Shaka menatap kasihan pada Adiknya.
"Nanti Kakak minta seseorang buat belikan kamu Sepatu baru. Yang Ini lepas dulu ya!" Shaka mencoba menenangkan sang Adik dan berjongkok di hadapan Zea lalu membuka sepatu sebelah Zea yang masih di pakainya.
Zea menatap sendu pada Shaka, namun gadis itu mengangguk pasrah mengiyakan sang Kakak yang akan membelikannya sepasang sepatu baru. Dengan hati yang merasa bersalah Zea hanya diam memperhatikan sang Kakak yang begitu memperhatikannya. Namun Zea terkadang tidak menyadari bahwa sang Kakak begitu menyayanginya!
"Bentar ya!" Shaka berdiri dan berjalan agak menjauh dari Sang Adik untuk menelepon seseorang.
Shaka merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang yang akan dia mintai tolong untuk membelikan Sepatu baru untuk Zea,
"Dek, ukurannya berapa?" Shaka menoleh ke belakang dimana Zea sedang duduk menunduk.
Zea mendongak dan menatap pada Shaka sambil menyebutkan ukuran sepatunya.
"38. Gue tunggu di pinggir Danau Cinta, Cepetan!" Shaka menginterupsi Seseorang di balik telepon untuk segera datang karena takut sang Adik akan merajuk jika terlalu lama menunggu.
Shaka melirik sekilas pada Zea dan melipir membeli minuman dingin sebentar, kemudian kembali lagi dengan 1 minuman botol yang dingin di tangannya.
"Tunggu ya, Nih minum dulu" Shaka duduk di sebelah Zea sambil menyodorkan minuman itu pada Adiknya.
Zea menerima minuman botol itu dan meneguknya hingga setengah dari isinya.
"Haus banget?" Shaka melongok wajah sang Adik dan melirik minuman yang tadi di teguknya,
Zea melirik pada Sang Kakak seraya menyodorkan Minuman itu pada Shaka sambil cemberut.
"Aku kesel banget deh!" Gumam Zea
"Itu kan kesalahan kamu sendiri Dek!" Shaka meneguk sisa minuman yang sudah setengah di minum oleh sang Adik.
Tidak ada yang aneh, karena mereka sudah terbiasa berbagi makanan dan minuman dalam kemasan yang sama!
"Shak" Tiba-tiba Seseorang dari samping Shaka menepuk pundak Shaka mengangetkan, membuat Shaka reflek menoleh dan mendongak pada orang itu.
Zea hanya melirik sekilas pada laki-laki yang membawakannya Sepatu baru itu, Zea tidak terlalu mengamati siapa Laki-laki itu.
"Eh Iya, Mana Sepatunya?" Shaka menengadahkan tangannya meminta sepatu pesanannya pada Bima.
"Nih, Adek Lo Nggak Pa-pa kan?" Tanya Bima melongok pada Zea sekilas sambil memberikan paper bag berisi sepatu baru untuk Adik Shaka itu.
"Aman!" jawab Shaka singkat saja.
Shaka mendekati Zea dan berjongkok di hadapan sang Adik dan memakaikan Sepatu itu pada Zea,
Bima yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Adik dan Kakak itu pun menyadari kalau Gadis di hadapannya itu adalah Zea, gadis yang sedang di dekatinya.
Bima mengerutkan dahinya menatap intens pada Zea dan Shaka.
Shaka yang sudah selesai memasangkan sepatu pada Sang Adik kembali berdiri dan menatap pada Bima, begitupun dengan Zea, Zea mendongak dan tersenyum sambil menggumamkan kata terimakasih pada Bima.
Namun pada Saat Zea menyadari kalau laki-laki itu adalah Bima, Zea langsung membelalakkan matanya tak percaya, Gadis itu langsung berdiri menatap intens pada Bima!
"Zea!" Akhirnya Bima benar-benar yakin kalau Adik dari Sahabatnya itu adalah Zea.
"Kak Bima!" Zea tentu saja kaget menatap Bima dan menoleh pada Shaka dengan dahi berkerut.
"Jadi. Adik kandung Lo itu. Zea, Shak?" Tanya Bima tak percaya sambil berjalan mendekati Shaka dan Zea.
"Ya. Sekarang Lo udah tahu kan. Nggak perlu Gue jawab!" Sahut Shaka dengan pasrah dan datar.
Akhirnya Bima sahabat Shaka itu mengetahui bahwa Shaka dan Zea bukan lah fans dan idola melainkan adalah Sepasang Kakak beradik.
"Haisshh, kenapa Lo nggak pernah cerita Hah!" Bima meninju bahu Shaka dengan keras.
"Karena Gue nggak Mau cowok kayak Lo deketin Adek Gue!" Jawab Shaka ngasal seraya mengusap-usap bahunya yang terasa panas karena tinjuan dari Bima.
Bima memicingkan matanya pada Shaka, dan Zea mengerutkan dahinya menatap sang Kakak dengan tatapan curiga.
"Emang Gue Cowok yang seperti apa?, Sembarangan aja Lo!" Bima tidak terima dengan apa yang Shaka ucapkan.
Meskipun Shaka tidak mengatakan jelek tentang Dirinya, tapi Bima tentu sudah paham arah maksud perkataan Shaka tadi!
Zea hanya terdiam menyimak obrolan random dua laki-laki dewasa di hadapannya, Zea memilih duduk saja sambil menunggu perdebatan antara Kakak dan sahabatnya itu selesai!
Bima melirik pada Zea dan duduk begitu saja di samping Gadis yang ingin di dekatinya itu. Bima tersenyum dan mengangguk pada Zea dan di balas tersenyum oleh Zea.
Bima menekankan bibirnya dan menunduk malu, Bima merasa sangat senang hanya dengan Di suguhi senyuman langka dari Zea!
Shaka memicingkan matanya menatap tajam pada Bima dan melirik sekilas pada Sang Adik yang juga sedang senyum-senyum salah tingkah karena di dekati oleh Bima.
Shaka mendengus kesal dan berjalan mendekati keduanya lalu Duduk begitu saja di tengah-tengah antara Bima dan Zea, dengan menggeser tubuh sahabatnya yang terlalu dekat menempel pada sang Adik, Tentu saja Sebagai seorang Kakak shaka tidak ingin Adiknya terlalu mudah di rayu oleh laki-laki!
Shaka melayangkan tatapan sinis dan tajam pada Bima, sehingga Bima pun mengalah dan menggeser tubuhnya dengan nafas berat.
"Ayo pulang!" Ajak Shaka pada Zea.
"Kok pulang sih, kan Kakak udah janji mau ngajakin aku makan Es krim dulu di sana!" Zea cemberut seraya menunjuk ke arah stand Es krim yang sudah di janjikan oleh Shaka sejak di mobil tadi.
Shaka menghela nafas sambil melirik stand es krim dan menatap intens pada sang Adik.
"Besok-besok aja ya. Kita pulang saja sekarang!" Shaka masih berusaha mengajak Adiknya untuk segera pulang.
"Nggak Mau!" Sahut Zea semakin memasang wajah cemberut menggemaskan, Membuat Bima tersenyum tipis menatapnya,
Bima yang sejak tadi memperhatikan interaksi Kakak beradik itupun mengambil kesempatan untuk mengajak Zea makan Es krim dengannya jika Shaka tidak Mau. Bima tersenyum Smirk dan bangun dari duduknya lalu berjongkok di hadapan Zea yang masih menekuk wajahnya.
"Bagaimana kalau makan es krim nya sama Kakak saja!" Bima mulai merayu dengan gaya khas nya tersenyum manis pada Zea.
Zea menoleh pada Bima dan tersenyum malu, namun akhirnya Zea mengangguk menyetujui ajakan Bima.
Shaka yang masih duduk di sebelah sang Adik melayangkan tatapan tajam pada Bima dan melotot. Namun Bima tidak peduli dan tidak menghiraukan tatapan Shaka padanya. Niatnya hanya ingin mendekati Zea dengan caranya sendiri, terserah bagaimana nanti sikap Shaka terhadapnya, Bima tidak ambil pusing dulu, yang terpenting sekarang Ia akan menjalankan rencananya untuk mendekati Zea Adik dari sahabatnya itu.
Bima menengadahkan tangannya ke hadapan Zea meminta untuk di raih oleh Zea sambil tersenyum.
Zea melirik sekilas pada Shaka dan Shaka memalingkan wajahnya sambil merolingkan matanya jengah!
Zea pun berdiri tanpa menautkan jemarinya pada jemari Bima, Zea masih menghargai keberadaan sang Kakak yang mengawasinya sejak tadi.
Zea mengangguk sopan pada Bima dan mulai melangkahkan kakinya berjalan mendahului Bima dan Shaka, kemudian Di ikuti dari belakang oleh Shaka dan Bima bagaikan bodyguard yang sedang menjaga tuan Putri!