
Usai makan malam, Zea dan Liana ijin untuk pergi malam ini untuk bertemu dengan teman kuliah Liana di Mall terdekat yang tidak jauh dari rumah nya. Arnold pun mengijinkan sang Istri dan Putrinya untuk pergi hanya berdua saja dengan di antar oleh Supir pribadi Liana tentunya.
Kini Zea dan sang Ibu sudah berada di dalam Mall besar yang terletak tidak jauh dari rumah mereka tinggal. Sambil menunggu Teman sang Ibu datang, Zea dan Ibunya itu memesan terlebih dulu minuman di Cafe yang ada di Mall itu.
Sang Ibu yang sibuk menghubungi temannya itu melipir agak menjauh dari jarak sang Putri duduk, sedangkan Zea fokus memainkan ponselnya!
Tidak lama kemudian Teman dari Liana itupun datang bersama Putranya berjalan menghampiri Liana yang melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Hai, Li. Ma'af ya telat, tadi ada kendala sedikit di jalan!" Ujar Indira teman kuliah Liana sambil cipika cipika dengan Liana Ibu dari Zea itu.
"Iya Nggak pa-pa kok In!" Liana melirik sekilas pada Pemuda tampan yang berdiri tepat di samping Ibunya, lalu Liana menatap kembali pada Indira Ibu dari pemuda itu dengan tatapan bertanya
"Oh. Iya, kenalin ini anakku Li. Aldo ayo beri salam pada tante Liana!" Indira ibu Aldo itu langsung mengerti dengan tatapan Liana dan langsung menyuruh sang Putra untuk memberi salam pada teman kuliah nya itu.
"Aldo. Tante!" Aldo dengan sopan menyalami Liana sambil membungkuk dan tersenyum tipis.
Liana tersenyum pada Aldo dan menoleh pada Zea yang fokus dengan ponsel nya tanpa menghiraukan sang Ibu yang sedang menyapa Teman kuliah dan Putranya.
"Dek!" panggil Liana pada Zea, Zea pun mendongak dan langsung berdiri mendekati sang Ibu lalu membungkuk sopan pada Indira teman sang Ibu.
"Ini siapa?" Tanya Indira pada Liana, pasalnya Indira memang belum tahu tentang Zea, yang Indira tahu Liana hanya memiliki satu anak laki-laki yang lebih tua 5 tahun dari Aldo putranya.
Liana tersenyum tipis dan melirik Zea seraya merangkul sang Putri dan kembali menatap pada Indira untuk menjelaskan Siapa Zea. Liana memperkenalkan Zea sebagai Putri bungsunya yang tidak banyak orang ketahui selama ini. Liana berusaha keras meyakinkan pada Indira bahwa dia memiliki putra dan putri, Liana mencoba dengan tenang menjelaskan kelahiran Zea pada Indira di depan sang Putri. Liana tahu ini akan membuat Zea menjadi bingung namun wanita paruh baya itu sambil tersenyum meyakinkan semua orang bahwa Zea adalah putri yang selama ini di harapkan setelah putra pertamanya Shaka!
"Zea!" Aldo yang baru sadar kalau gadis di hadapannya itu adalah teman sekelasnya langsung reflek memanggil nama Zea sambil menatap zea intens.
Aldo mencairkan suasana tegang Liana yang sejak tadi berusaha keras meyakinkan Temannya tentang Zea!
Zea pun menoleh pada Aldo dan melotot tak percaya kalau dirinya bisa kebetulan seperti itu berdiri berhadapan dengan Aldo!
"Aldo!" Zea menatap intens pada Aldo.
Liana dan Indira melirik Zea dan Aldo bergantian dengan tatapan bingung.
"Dia teman sekelas aku Ma" Jelaskan Aldo sambil tersenyum pada Ibunya dan Liana Ibu dari Zea.
Zea mengangguk mengiyakan menatap sang Ibu.
"Oh ya, Bisa kebetulan gitu ya. Berarti kalian berteman dong selama ini?" ujar Indira tersenyum pada Zea dan Aldo.
"Betul sekali Tante, kami berteman sudah hampir 3 tahun, benar kan Al?" Ujar Zea
"Benar Ma!" sahut Aldo sambil tersenyum tipis.
"Wah, bagus dong!" Liana melirik pada Indira dengan senyuman mengkode pada Ibu Aldo itu. Indira pun tersenyum pada Liana dan mengangguk pelan.
"Ma, aku sama Aldo misah aja ya!" Zea meminta ijin pada sang Ibu untuk memisahkan diri dari tempat itu bersama Aldo.
Liana tentu saja mengijinkan tanpa drama, Zea mengajak Aldo untuk melipir dan agak menjauh dari para orangtua agar bisa mengobrol dengan tenang tidak di campuri oleh obrolan orangtua!
"Ze. Nggak usah tarik-tarik juga kali, Takut banget ya Gue kabur!" Aldo tersenyum menggoda pada Zea.
Aldo hanya menanggapi dengan senyum kecil lalu duduk di kursi di ikuti oleh Zea yang duduk di hadapannya.
"Oh iya Al, Gimana kerja kelompok besok, jadinya ngerjain di rumah siapa?, kok belum ada konfirmasi sih?" tanya Zea
"Jadi kok di rumah nya Rachel, barusan dia DM gue, udah dapet ijin katanya!" ujar Aldo seraya menunjukan chat dari Rachel di Instagram nya.
"Kok dia nggak hubungin Gue, malah DM ke Lo" ujar Zea sambil memicingkan matanya pada Aldo.
"Dia mana punya nomor Lo. emang siapa yang berani minta nomor pemilik Jegguk School!" ujar Aldo sambil melambaikan tangannya memanggil pelayan.
"Gak gitu juga konsepnya. Hmmm!" Zea mendengus dan menghela nafas.
"Tapi kenyataan nya Gitu kan Ze!, Es coffe latte satu. Lo pesen apa Ze?" Aldo melirik sekilas pada Zea sambil membaca menu yang di berikan oleh pelayan.
"Samain aja deh!" Sahut Zea dengan cepat
"Dua ya Mbak, cemilannya apa aja yang paling enak di sini!" Aldo memberikan kembali buku menu pada pelayan setelah memesan Es coffe dan cemilan.
"Besok mau berangkat bareng gak, Gue jemput kalau Lo mau bareng sekalian!" ujar Aldo menawarkan diri untuk pergi bersama ke rumah Rachel besok.
"Hmmm. Boleh deh. Lumayan hemat ongkos!" ujar Zea sambil tersenyum kecil.
"Haisshh, Lo tuh anak sultan, perhitungan amat soal ongkos!" Aldo geleng-geleng kepala menatap tak percaya Pada Zea.
Zea malah tertawa menampilkan deretan gigi putihnya, membuat Aldo terpaku sejenak menatap dalam pada Zea yang tertawa dengan begitu manisnya. Aldo memang menyukai Zea dari kelas 11 tahun lalu, tapi Aldo tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Zea, karena Aldo sadar kalau Zea bukanlah Gadis yang mudah untuk dia gapai, kalau pun bisa Aldo pasti akan memiliki banyak saingan dan pastinya dia yang akan kalah lebih dulu. Aldo lebih memilih menyimpan perasaannya sendiri tanpa terlihat oleh siapapun kalau dirinya mengagumi Zea!
"Silahkan Kak!" pelayan datang mengantar pesanan membuyarkan lamunan Aldo yang sejak tadi memperhatikan Zea.
"Terimakasih Mbak!" ucap Zea pada sang Pelayan kafe itu.
"Terimakasih!" ucap Aldo tersenyum tipis.
"Sama-sama Kak, Permisi!" Pelayan dengan sopan pamit undur diri.
Zea dan Aldo tidak lagi bicara, mereka menikmati minuman di hadapannya masing-masing untuk sejenak.
Dari meja belakang seorang laki-laki paruh baya ternyata sedang memperhatikan Zea sejak tadi, bahkan sejak saat Zea baru datang ke Kafe itu bersama Liana, Ya. Laki-laki paruh baya itu adalah Tuan Dilan, Ayah biologis Zea yang masih ingin mencari tahu info tentang Bayinya yang terlahir 18 tahun yang lalu. Meski Nina tidak memberitahunya tapi laki-laki itu merasa ada yang janggal dari kehadiran Seorang Nona muda di keluarga Grup Jegguk itu.
Dilan terus mencari informasi tentang siapa Gadis yang usianya sama dengan Bayi Nina yang tidak dia harapkan waktu itu.
Dilan menatap dalam pada Punggung Zea, Zea yang tidak menyadari kalau dirinya sedang di tatap oleh Ayah biologisnya itu pun tetap tenang mengobrol dan sesekali bercanda dengan Aldo.
Aldo yang merasa curiga dengan keberadaan Dilan yang duduk tepat di meja belakang Zea, Dilan memicingkan matanya menatap intens pada laki-laki paruh baya itu.
Dilan yang sadar akan tatapan pemuda yang sedang bersama Zea itu, Laki-laki paruh baya itu pun langsung menetralkan diri dan berdiri dengan elegan, lalu beranjak begitu saja meninggalkan meja nya.
Aldo semakin curiga dengan pergerakan laki-laki paruh baya itu, namun Aldo tetap tenang menanggapi celotehan Zea agar Zea tidak mencurigainya.
Aldo tersenyum pada Zea berusaha tetap menghargai lawan bicaranya. Sesekali Aldo melirik ke arah pintu keluar menatap punggung Dilan yang sudah keluar dari Kafe tersebut!