
Di tempat lain Bima yang baru saja sampai di rumah langsung di hadang oleh sang Ibu yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Ada apa sih Ma. Kok Mama berdiri di sini?" Bima mengerutkan alisnya menatap sang Ibu seraya menyalami punggung tangan Ibunya.
Bima tentu bingung dengan tingkah sang Ibu yang tidak biasanya sampai menunggunya di luar. Bima merasa ada yang aneh dan curiga pada Maura Ibunya.
"Papa sudah menunggu kamu di dalam. Ayo masuk Nak!" Maura berbisik lirih pada Bima dengan exfresi yang tidak bisa di tebak.
Bima semakin di buat bingung. Ada apa Papanya menunggunya pulang. Padahal Bima sudah biasa pulang sore atau bahkan pulang malam.
Bima mengangguk dan mengikuti langkah sang Ibu, Bima tidak banyak bertanya lagi, pria itu berjalan gontai di belakang sang Ibu sambil berpikir keras!
"Bima. Duduklah, Papa mau bicara!" Bisma Ayah Bima itu langsung menyuruh Bima untuk duduk menghadap dirinya setelah melihat sang Putra berjalan mendekatinya.
Bima pun menurut saja dan duduk dengan hati yang gelisah!
Bisma menatap intens pada Bima membuat Bima menunduk takut dan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap sang Ayah.
"Bima. Lihat Papa!" Bisma dengan tegas menginterupsi Bima untuk menatapnya. Bima pun mengangkat wajahnya dan menatap takut pada sang Ayah.
"Bima. kamu sudah mengenal Kanza sejak kecil, bukan?" Bisma menatap serius pada Bima.
Deg!
Bima sontak saja kaget, tiba-tiba sang Ayah menyebutkan nama Kanza. Perasaan Bima mulai tidak tenang dan gelisah. Bima mencoba bersikap tenang dengan nafas yang naik turun.
"Iya. Memangnya kenapa Pa?, bukankah Papa dan Om Arfan sahabatan sejak muda kan?" Bima menatap ragu pada sang Ayah.
"Ya benar. Karena itu, Papa dan Om Arfan ingin menjodohkan kamu dengan Kanza, kamu mau kan Bima?" Bisma menatap intens pada Bima.
Bima melotot tak percaya pada sang Ayah. Tentu saja hati Bima menolak perjodohan itu. Rencana macam apa yang telah di sepakati antara Ayahnya dan sahabatnya itu. Bima tidak habis pikir, sang Ayah memiliki pemikiran yang kuno di jaman yang sudah maju ini. Bima tersenyum kecut. dengan nafas yang naik turun Bima menunduk menahan emosi di hatinya.
Bima ingin tahu terlebih dulu apa rencana sang Ayah di balik perjodohan dirinya dengan Kanza!
"Bima. Papa harap kamu tidak akan menolak perjodohan ini. Dengan perjodohan ini keluarga kita akan tetap terjaga silaturahminya kan. Lagian kalian sudah dewasa. Sebentar lagi juga kamu Wisuda kan?" Bima menatap Bima dengan intens.
"Ma'af Pa. Aku nggak bisa menerima perjodohan itu. Aku nggak pernah sekalipun punya pikiran untuk hidup dengan Kanza Pa. Aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat dan Adik saja, tidak lebih!" Bima mulai meninggikan suaranya. Bima menolak perjodohan itu dengan terang-terangan.
Tentu saja Bima tidak akan menerimanya. Karena sekarang Bima sedang menjaga perasaan seorang Gadis yang di cintainya.
Bisma menatap tajam pada Bima. Pria paruh baya itu menatap tak percaya pada sang Putra, yang dengan terang-terangan menolak perjodohan dirinya dengan Kanza.
"Bima. Apa yang membuat kamu tidak menyukai Kanza?, Kanza itu Gadis yang baik, Dia Cantik dan pintar. Jangan bikin malu Papa Bima!" Bisma dengan tegas menatap tajam pada Bima. Dengan rahang mengeras dan wajah yang merah padam, Bisma menahan emosinya.
"Pa. Aku berhak menentukan pilihan ku sendiri. Dan aku berhak memilih siapa yang akan menjadi pendampingku nanti. Papa nggak bisa memaksaku untuk bersanding dengan siapa. Karena aku nggak akan pernah menerima itu!" Bima berdiri dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi. Akhirnya Bima meluapkan isi hatinya pada sang Ayah yang sejak tadi di tahannya.
Bima menghembuskan nafas berat dan melengos pada Ayahnya, Bima beranjak begitu saja ke kamarnya tanpa memperdulikan exfresi sang Ayah yang menatapnya tajam.
Hati Bima merasa kesal dan marah pada sang Ayah. Namun Bima tidak sampai hati melawan lebih pada Ayahnya. Bima memilih menghindar agar tidak sampai berdebat terlalu panjang dengan Ayahnya. Pria itu masuk ke kamarnya dengan sedikit keras membanting pintu.
"Astagfirullah. Kak Bima kenapa sih!" Gumam Rachel yang secara kebetulan baru keluar dari kamarnya. Rachel memicingkan matanya menatap pintu kamar Bima yang sudah tertutup rapat.
Rachel terjingkat kaget saat pintu kamar Bima tertutup dengan keras!
"Tante ada apa sih?" Rachel mengerutkan alisnya hingga bertaut demi melihat Maura ibu dari Bima itu menyusul sang Putra ke atas dengan wajah yang cemas!
Maura menghela nafas panjang dan menatap pada Rachel.
"Nanti Tante ceritakan ya, Kamu belum makan siang kan. Makan dulu gih" Maura malah mengalihkan pembicaraan dan mengabaikan pertanyaan Rachel, Wanita paruh baya itu mengusap bahu keponakannya itu dan berlalu begitu saja ke kamarnya!
***
"Shaka kamu sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk Wisuda nanti?" tanya Liana pada sang Putra.
Saat ini keluarga Arnold sedang makan malam bersama sambil mengobrol membahas Wisuda Shaka dan tentang ujian akhir Zea yang sebentar lagi Lulus!
"Sudah kok Ma. Tenang saja, semuanya sudah Aku siapkan!" jawab Shaka
"Putri Papa juga mau ujian akhir kan?" tanya Arnold melongok wajah sang Putri yang sejak tadi menunduk menekuk wajahnya.
Shaka dan Liana menoleh pada Zea secara bersamaan.
"Iya Pa!" jawab Zea datar saja.
"Kok Nggak semangat gitu, Sayang!" Liana mengusap punggung tangan sang Putri yang duduk di sebelahnya.
Zea menggelengkan kepalanya pelan, seraya mengendurkan tangan sang Ibu dan menyendok makanan di hadapannya dengan lesu.
Shaka yang melihat sang Adik menekuk wajahnya, pria itu merasa bersalah dan kasihan pada Zea. Namun pria itu memilih diam saja.
"Makan nggak boleh sambil cemberut Sayang" Ujar Arnold sambil tersenyum tipis pada Zea
Ayah dua anak itu mencoba membuat sang Putri mencair. Karena ketika Zea sedang kesal atau marah, tentu akan membuat orangtuanya kerepotan untuk mengembalikan mood nya lagi.
"Kamu marah sama Kakak ya!" Akhirnya Shaka tidak tahan dengan sikap diamnya sang Adik.
Arnold dan Liana spontan saja menoleh dan menatap tajam pada Shaka.
Zea mengangkat wajahnya dan menatap Shaka dengan tatapan menusuk. Zea memang masih kesal pada Shaka, tapi Zea tidak ingin terlalu menunjukan kalau dirinya marah pada Kakaknya di depan orangtuanya.
"Aku nggak marah, Aku nggak papa!" Zea melirik orangtua dan sang Kakak bergantian dengan senyum mengembang yang di paksakan.
"Ya sudah. Papa cuma khawatir saja kalau kamu sedang ada masalah di sekolah. Sayang!" ujar Arnold sambil tersenyum.
"Papa. Besok antar aku ke sekolah ya!" Zea menatap manja pada sang Ayah dan memintanya untuk mengantarnya ke sekolah besok pagi.
"Bareng Kakak aja. Sekalian searah kan?" Shaka menyela dan menawarkan diri untuk mengantar sang Adik.
"Tidak. Aku maunya sama Papa!" Zea menatap tajam pada Shaka.
"Nanti Kakak bawa mobil deh" Shaka msih belum menyerah
"Aku bilang tidak ya tidak. Pokoknya sama Papa. Ya Pa!" Zea mengerucutkan bibirnya dan menatap sendu pada sang Ayah.
"Sudah sudah. Kalian ini kenapa sih. Selalu saja ribut, kapan akurnya coba, Mama pusing deh dengernya!, Shaka mengalahlah sama Adik mu!" Liana menengahi keributan antara putra putrinya yang memang jarang sekali bisa akur.
"Besok Zea berangkat sama Papa ya. Shaka kamu berangkat sendiri!" Arnold menyetujui permintaan sang Putri dengan sukarela.
Sebenarnya tanpa di minta pun Arnold pasti akan mengantar Putrinya ke sekolah.
Shaka menghela nafas dan mendengus kesal. Sedangkan Zea menatap meledek pada sang Kakak sambil menjulurkan lidahnya.
"Rumah ini nggak pernah sepi ya kalau kalian ribut terus. Rumah ini selalu penuh warna bahagia karena kalian. Mama dan Papa mungkin akan kesepian jika suatu hari nanti kalian menikah dan menemukan pasangan masing-masing!" Cetus Liana. Ibu dua anak itu tiba-tiba merasa melow membayangkan putra putrinya yang sudah dewasa akan meninggalkannya ketika mereka sudah berkeluarga.
Arnold dan kedua anaknya menatap tak percaya pada Liana dengan tatapan Bingung, namun mereka tentu sangat mengerti dengan ucapan Liana.