Who Are My Parents

Who Are My Parents
Who Are My Parents Bab 21



Sesampainya Zea dan Aldo di halaman rumah Rachel. Mereka masuk setelah mendapat ijin dari tuan rumah dan di bukakan gerbang oleh Satpam.


Aldo memarkirkan motornya di sebelah motor Haikal yang sudah datang lebih awal darinya. Aldo dan Zea berjalan beriringan masuk ke dalam rumah mewah Milik Om dan tantenya Rachel.


Zea dan Aldo langsung menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul di gazebo pinggir kolam di halaman belakang rumah. Rachel memilih mengajak teman-temannya untuk mengerjakan tugas di belakang saja, agar bisa lebih menghirup udara luar daripada di dalam rumah yang terasa panas dengan cuaca Ibu kota yang saat ini sedang panas terik meski belum terlalu siang!


"Ra Lo nyampe sini duluan ternyata!" ujar Zea seraya menyapa Haikal dan Rachel juga Namira yang sudah berada di sana lebih dulu darinya.


"Iya, Gue ikut Haikal sekalian tadi. Lo sendiri bareng Aldo?" Namira melirik sekilas pada Aldo.


"Sama, Gue juga bareng Aldo sih. Kemaren dia ngajakin bareng sekalian. Iya kan Al!" sahut Zea menoleh pada Aldo sambil tersenyum.


Aldo tersenyum dan mengangguk lalu ikut bergabung duduk di samping Haikal.


Namira menatap datar pada Zea dan Aldo. Ada rasa cemburu di hati Namira melihat Zea dan Aldo berangkat bersama, namun Namira berusaha tetap cool di hadapan teman-temannya.


"Guys. Gue mau ambil minuman sama cemilan dulu ya, buat temen kita nugas!" ujar Rachel beranjak dari duduknya.


"Hel Gue ikut ya. Gue numpang ke kamar mandi!" ujar Zea menahan pergerakan Rachel yang sudah berdiri hendak melangkah.


"Oh. Ya udah Ayo Ze Gue antar ke kamar mandi" Sahut Rachel mengajak sekalian Zea untuk ikut dengannya, karena Zea ingin ke kamar kecil!


"Ma'af Non, mau ke kamar mandi ya?" Asisten rumah tangga menegur Rachel dan Zea yang hendak ke kamar mandi dapur, namun di tahan oleh Asisten rumah tangga itu.


"Iya, kenapa Bi?" tanya Rachel


"Ma'af Non. Kamar mandinya sedang di perbaiki sama Pak tukang!" jawab Asisten rumah tangga itu lalu pamit undur diri.


"Ya udah ke kamar Gue aja Ze. Kamar Gue di atas Lo naik aja ya. Gue mau siapin minuman buat anak-anak dulu!" Ujar Rachel


"Nggak apa-apa nih Hel. Gue udah kebelet banget nih!" ujar Zea merasa sungkan.


"Nggak papa. Udah sana gih. Kamar Gue sebelah kiri yang pintunya sama!" ujar Rachel tersenyum tipis pada Zea.


Zea pun mengangguk dan langsung beranjak naik ke atas ke kamar Rachel. Namun pada saat Zea sudah berada di depan pintu kamar, Zea merasa bingung dengan dua kamar yang bersebelahan memiliki pintu yang sama persis. Zea seketika lupa dengan ucapan Rachel tadi, yang mana kamar Rachel.


Karena Zea sudah merasa tidak tahan lagi ingin segera ke kamar kecil. Zea asal saja masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di hadapannya.


Zea telah salah masuk kamar, Kamar yang dia masuki adalah Kamar Bima Kakak sepupu dari Rachel.


Karena Zea ingin segera ke kamar kecil, Gadis itu tanpa melihat sekeliling di kamar itu dan langsung mencari kamar kecil dan masuk begitu saja tanpa pikir panjang lagi.


Bima yang baru saja bangun tidur, pria itu membuka selimutnya dan memicingkan mata menatap bayangan Seseorang yang berlari ke kamar mandi. dengan wajah yang setengah mengantuk dan rambut yang berantakan Bima berjalan pelan ke arah kamar mandi, Bima mendengar gemercik air mengalir dari dalam kamar mandi. Bima mengerutkan dahinya merasa bingung, siapa yang sudah lancang berani masuk tanpa permisi ke kamar nya dan memakai kamar mandinya.


Bima menunggu dengan elegan dan datar di depan pintu kamar mandi menunggu seseorang keluar dari dalam.


Pada Saat Zea membuka pintu kamar mandi secara bersamaan Bima menoleh dengan rambut yang berantakan, Zea reflek saja berteriak karena Kaget tiba-tiba ada orang berdiri di depan pintu!


Bima yang juga kaget dengan teriakan Zea, langsung membekap mulut Zea dan menatapnya Intens. Bima mengernyit dan betapa kagetnya ketika Bima menyadari kalau Gadis itu adalah Zea.


Kenapa Zea tiba-tiba ada di dalam kamar nya saat ini. Itu lah yang ada dalam pikiran Bima saat menatap Zea. Bima melepaskan bekapan tangannya pada mulut Zea dan menginterupsi Zea untuk duduk sebentar ke ranjang y. Bima akan meminta penjelasan pada Zea, kenapa dirinya bisa salah masuk kamar!


"Kak Bima kok bisa ada di sini?" Tanya Zea bingung. Pasalnya Zea belum tahu kalau Bima adalah Kakak sepupunya Rachel, yang Zea tahu kalau Rachel dan Bima itu berpacaran.


Bima mengerutkan dahinya menatap bingung pada Zea.


"Rumah Kak Bima. Tunggu-tunggu, maksudnya gimana, Ini rumah Om dan tantenya Rachel kan?" tanya Zea masih bingung dengan pernyataan Bima, Zea sampai mengabaikan pertanyaan Bima.


"Iya Benar!" jawab Bima datar


"Terus. Kak Bima ngapain di sini?, Kakak tinggal serumah sama Rachel?" tanya Zea lagi, Zea semakin di buat penasaran dan sudah salah mengira.


"Iya. Memangnya kenapa?, ada yang salah?" sahut Bima melongok wajah Zea yang mulai tegang.


"Kak Bima!, Tentu saja salah. Kalian baru pacaran bisa-bisanya tinggal bersama!" Zea menatap tak percaya pada Bima sambil geleng-geleng kepala.


Bima baru ingat kalau Rachel pernah mengatakan kalau Mereka berpacaran. Bima menghela nafas panjang dan berusaha menjelaskan yang sebenarnya pada Zea.


Zea mendengarkan penjelasan Bima dengan baik dan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Namun Zea tentu saja tidak terima sudah di bohongi oleh Rachel.


Zea menatap sebal pada Bima sambil mengerucutkan Bibirnya.


"Ma'af ya. Kan Kakak gak tahu kalau Rachel bilang gitu!" Bima mencoba mencairkan suasana tegang di antara dirinya dan Zea.


"Bisa-bisanya Rachel bohongin aku!" cetus Zea dengan mimik wajah yang menahan kesal dan memutar tubuhnya hendak keluar dari kamar Bima.


Bima yang melihat wajah Zea yang mulai kesal pun menarik lengan Zea hingga terjatuh ke pelukannya. Zea sontak saja kaget dan melotot pada Bima.


Namun Bima justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menahan Zea sebentar di dalam kamarnya.


Bima melepaskan pelukannya dan menatap dalam pada Zea, membuat Zea mengedip-ngedipkan matanya menatap bingung pada Bima.


Bima tanpa aba-aba menarik tengkuk Zea dan mencium bibir Ranum Gadis itu dengan cepat. Membuat Zea semakin melotot tak percaya dengan tindakan Bima yang tiba-tiba terhadapnya.


Zea mendorong dengan kuat dada bidang Bima hingga ciuman itu terlepas. Zea menatap tajam pada Bima, namun Bima justru tersenyum manis pada Zea membuat Zea semakin bingung dan sebal.


"Jangan ngambek. Kamu sangat Manis kalau sedang cemburu!" bisik Bima tepat pada telinga Zea.


Zea mengerutkan dahinya dan mendengus kesal.


"Kak Bima apa yang Kakak lakukan!" Zea menatap kesal pada Bima yang terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka barusan.


"Tanpa harus aku jelaskan, harusnya kamu memahami tindakan ku barusan Zea!" Bima menatap dalam pada Zea dengan tatapan serius.


"Ze. Kamu salah masuk kamar ya!" Rachel yang merasa temannya itu terlalu lama tidak kembali, Rachel pun memutuskan menyusulnya ke atas.


Namun pada Saat Rachel ke kamar nya tidak menemukan Zea di dalam kamarnya, Rachel sudah menduga pasti Zea salah masuk kamar, dan benar saja, Zea berada di dalam kamar Bima sang Kakak sepupunya.


"Sorry ya Hel, Gue lupa ucapan Lo tadi!" Sesal Zea dengan wajah sendu menatap pada Rachel.


"Ya udah Gak apa-apa. Yuk!" Ajak Rachel menuntun Zea untuk keluar dari kamar Bima "Lo Nggak di apa-apain kan sama Kak Bima?" Rachel melirik sekilas pada Bima.


Zea hanya menggeleng pelan dan ikut keluar bersama Rachel. Zea tidak mungkin mengatakan kalau dirinya baru saja berciuman dengan Bima secara tidak sengaja bagi Zea, tapi Bima sudah jelas-jelas dengan sengaja mencium Zea.


Bima senyum-senyum sendiri membayangkan tindakannya tadi, Bima geleng-geleng kepala menatap pintu yang sudah tertutup rapat setelah Zea dan Rachel keluar dari kamarnya.


"Apa yang Gue lakukan, Gue Udah Gila!" Bima masih senyum-senyum tak percaya dengan kelakuannya sendiri.