
"Kakak, udah belum?" Pekik Zea dari balik pintu seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar sang Kakak dengan keras.
"Udah dari tadi!" Sahut Shaka dari dalam kamar.
Zea langsung membuka pintu dan menghampiri sang Kakak yang sudah berdiri sambil mengambil kunci mobil.
"Kakak mau kemana, kok udah rapi?" Tanya Zea mengamati penampilan sang Kakak yang sudah rapi memakai jaket dan tercium wangi parfum dari tubuh Shaka.
"Mau pergi lah, Nih sudah kakak isi semua. Makasih ya!" Shaka menyodorkan buku yang tadi telah di isi jawaban olehnya ke Sang Adik sambil mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat pada telinga Zea.
"Iya Makasih" Ucap Zea, Gadis itu masih mengamati dengan Intens pergerakan sang Kakak yang hendak melangkah keluar.
"Kakak tunggu, Aku ikut ya!" Zea dengan cepat menghadang langkah Shaka yang hampir saja membuka handle pintu hendak keluar kamar.
Shaka memicingkan matanya menatap tajam pada sang Adik.
"Boleh ya, ya ya, ya Kak" Zea merayu sang Kakak dengan wajah sendu sambil menautkan jemarinya di depan wajah sang Kakak memohon pada Shaka.
"Anak Kecil nggak boleh ikut-ikutan, Diam di rumah!" Sahut Shaka seraya mendorong pelan bahu Zea yang menghalangi pintu.
Zea cemberut dan siap melakukan aksinya mengadu pada Orangtuanya.
"Mama!" Zea mulai teriak memanggil sang Ibu.
Shaka menoleh dan melotot pada Zea namun Zea justru semakin berani melanjutkan aksinya agar sang Kakak mau mengajaknya keluar rumah.
"Jangan gunakan trik itu, Tetap diam di Rumah!" Tegaskan Shaka tidak ingin mengalah.
"Papa!" Zea lanjut memanggil sng Ayah.
Shaka mendengus kesal dengan sikap sang Adik yang selalu saja mengganggu dirinya ketika hendak pergi.
"Iya, Oke Oke, Kamu boleh ikut!" Finally, Shaka pun akhirnya mengalah agar Sang Adik tidak merajuk dan mengadu pada orangtuanya.
Senyum mengembang langsung tersungging dari bibir Gadis itu, Sedangkan Shaka hanya menghela nafas panjang, Sebagai seorang Kakak, Shaka harus selalu banyak mengalah pada Adiknya!
"Aku Akan bersiap-siap" Zea membuka pintu kamar Shaka dan menoleh sekilas pada Shaka.
"Tiga menit!" Shaka dengan asal memberi waktu untuk Zea bersiap-siap.
Namun Zea membalikkan tubuhnya menatap tajam pada sang Kakak,
"Yang benar saja Kak, Ih Kakak jahat banget!" Zea memasang wajah cemberut pada Shaka.
"Lima menit!" Shaka sengaja menggoda Adiknya dan membuat Zea semakin kesal.
"Kakak!" Pekik Zea menyorot tajam pada Sang Kakak, Gadis itu tidak terima dengan waktu yang di berikan Shaka untuk dirinya bersiap-siap.
"Ya Udah iya, 30 menit dari sekarang. Kakak tunggu di bawah!" Shaka pun akhirnya memberi waktu yang masuk akal dan tersenyum kecil menatap wajah kesal sang Adik.
"Oke. Tunggu!" Zea langsung beranjak ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap untuk ikut pergi bersama Shaka.
Shaka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang Adik yang terkadang begitu Manja padanya, meski begitu Shaka sama sekali tidak merasa risih dengan sikap Zea, Justru Shaka merasa senang karena dia merasa di butuhkan oleh sang Adik. Lepas bagaimana dengan perasaan Shaka pada Zea, Shaka tetap bersikap selayaknya pada Adik kandungnya sendiri, seperti yang selama ini Zea ketahui, bahwa Shaka adalah Seorang Kakak kandung dan pelindung baginya!
Shaka menunggu Zea dengan sabar di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Ma'af Tuan, Tuan Muda mau keluar ya?" Tiba-tiba Nina muncul dari belakang Shaka membuat Shaka reflek menoleh pada Nina.
"Eh, Iya Bi. Aku mau Keluar sama Zea!" jawab Shaka sambil tersenyum pada Nina.
"Tuan Muda dan Nona Zea, sebaiknya hati-hati di luar ya. tolong Jaga Nona Muda jangan sampai lepas dari pengawasan Tuan Muda!" Nina khawatir pada Putrinya yang bisa saja bertemu dengan Ayah biologisnya secara tidak sengaja di luar.
Shaka mengerutkan Alisnya menatap bingung pada Nina, Namun pada saat Shaka baru akan membuka mulutnya untuk menjawab nasehat sang Pelayan, Secara bersamaan Zea yang sudah Siap menghampirinya membuat Shaka menutup kembali mulutnya dan mengkode pada Nina untuk tidak membahas lagi percakapannya.
"Ayo Kak, Aku sudah siap nih!" Zea dengan semangat tersenyum manis pada sang Kakak.
"Nona Muda Cantik sekali!" Cetus Nina menatap kagum pada Zea yang terlihat begitu manis dengan Dress selutut di padukan Jaket jeans krop top melekat di tubuh mungilnya dengan anggun.
"Terimakasih Bi" Zea tersenyum pada Nina.
Shaka ikut melirik pada sang Adik dan tersenyum tipis, lalu Shaka segera mengajak Zea untuk keluar dan berpamitan pada Nina sang Pelayan di rumah itu!
Shaka mengajak Zea mengunjungi Danau Cinta yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya. Zea tersenyum sumringah begitu turun dari mobil dan di suguhi pemandangan yang begitu efik di pandang mata. Zea dan Shaka langsung berjalan ke pinggiran Danau, dimana banyak angsa putih berenang berpasang-pasangan di Danau itu,
"Sumpah Demi apa, ini Indah banget Kak!" Zea memutar tubuhnya dan tersenyum pada sang Kakak dengan begitu manisnya.
Shaka yang berjalan di belakang sang Adik sampai menghentikan langkahnya melihat senyum Zea yang begitu manis mengembang menatapnya, Shaka menatap dalam pada Zea dengan perasaan gamang, Perasaan aneh itu tiba-tiba datang lagi tanpa kendali,
Shaka menghela nafas berat dan segera tersadar dari lamunannya, Shaka berjalan cepat mensejajarkan langkah nya dengan sang Adik yang sudah lebih dulu mendekati Danau itu.
Zea Menoleh pada Shaka saat Shaka sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Ayo Kak kita Selfie bareng!" Zea mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas selempang yang dia pakai dan menyalakan Camera lalu mengarahkan ke depan.
"Nggak mau ah, kamu saja, sini Kakak fotoin!" Shaka mengambil alih ponsel Zea dan mengarahkan camera pada Adiknya itu.
"Ih kok gitu, Kenapa sih Kakak gak pernah mau foto sama Aku?" Zea memberengut menatap tajam pada Sang Kakak.
"Karena kamu selalu di kira Pacar kakak sama Teman-teman Kakak" Jawab Shaka simple saja.
"Ya udah biarin sih, Biar nggak ada Cewek yang berani deketin Kakak. Karena Kakak cuma milik Aku sampai Aku menemukan Cowok yang sesuai aku inginkan" Cetus Zea tanpa filter membuat Shaka geleng-geleng kepala menatap sang Adik.
"Sini. Senyum dong Kak!" Zea merebut kembali ponselnya dari tangan Shaka dan menginterupsi sang Kakak agar tersenyum melihat ke Camera.
Shaka pun akhirnya mengalah dan menurut saja dengan arahan Sang Adik yang mengambil beberapa gambar Foto mereka berdua.
"Nah gitu dong Kak, bagus-bagus kan Fotonya. Nanti aku tunjukan ke Mama dan Papa!" Zea menatap bahagia pada layar ponselnya yang terpampang foto dirinya dengan sang Kakak yang tersenyum sumringah di dalam foto itu.
"Hmmm. Terserah kamu Saja Dek!" Shaka memutar tubuhnya dan berjalan pelan ke kursi panjang yang tersedia di Danau itu.
"Kak, gantian fotoin aku sendiri dong!" Zea menarik jaket Shaka dengan muka yang menggemaskan meminta tolong pada Shaka untuk memfotokan dirinya di pinggiran Danau.
Shaka pun menghela nafas panjang, menghadapi sang Adik benar-benar harus extra sabar seluas samudra untuk Shaka!
Shaka pun kembali berbalik dan mengiyakan permintaan sang Adik dan mengikuti kembali langkah Zea yang mendekati Danau itu.
Zea sudah siap berfose dengan Gaya khas nya sambil tersenyum lebar melihat ke arah Camera yang di arahkan oleh Shaka.
Satu dua jepretan sudah berhasil tersimpan ke galeri. Zea menghentikan sejenak acara Foto-fotonya dan melirik pada sepasang Angsa putih yang berenang ke arah nya.
"Ternyata benar ya, Hewan yang paling romantis itu adalah Angsa, Lihatlah Kak. Mereka begitu Manis dan sangat Romantis kan?" Zea tersenyum lebar sambil menunjukkan sepasang Angsa putih itu pada sang Kakak.
Zea semakin mendekati ke pinggiran pantai itu setelah sepasang Angsa berenang semakin dekat padanya.
Shaka yang sejak tadi mendengarkan celotehan sang Adik dan memperhatikan pergerakan Zea mengerutkan dahinya pada saat Zea mulai menurunkan satu kakinya ke pinggir Danau.
Shaka langsung mendekati sang Adik, Tepat pada Saat Shaka sudah deket ke arah sang Adik. Satu Kaki Zea terpeleset dan dengan Sigap Shaka menarik tubuh sang Adik ke pelukannya, Hampir saja Zea terjebur ke Danau karena ulah nya sendiri.
"Kakak!" Zea mendongak dan merasa bersalah karena sudah ceroboh dan membahayakan dirinya sendiri.
"Jangan terlalu dekat ke Danau, kamu bisa terjebur!" Shaka menatap intens pada Sang Adik yang masih ketakutan.
"Ma'af Kak!" Sesal Zea masih berada dalam pelukan sang Kakak, Zea merasa aman.
Shaka segera tersadar dengan posisinya saat ini yang masih memeluk sang Adik dengan erat. Shaka sangat Khawatir pada Zea, Shaka segera melepaskan pelukannya dan menarik tubuh Zea ke atas Danau.
"Kakak. Sepatu Aku lepas!" Zea dengan wajah sendu menunjuk pada Sepatunya yang sudah berenang di Danau.
Shaka reflek menoleh mengikuti arah jari telunjuk Zea dan menatap bengong pada Sepatu sebelah milik sang Adik yang terjebur ke Danau tepat di samping Sepasang Angsa yang sedang berenang itu!