
Kini Zea dan sang Ayah sudah berada di dalam mobil. Seperti janjinya semalam pada sang Putri, Arnold pagi ini akan mengantar Nona muda kesayangannya itu ke sekolah!
"Papa!" Panggil Zea menatap pada sang Ayah dengan tatapan manja.
"Hmmm. Kenapa sayang?" Arnold menoleh pada Zea lalu kembali fokus pada jalanan di depan.
"Suatu hari nanti. Zea pengen banget punya pasangan hidup yang seperti Papa!" Zea bergelayut manja pada lengan sang Ayah yang sedang menyetir.
Arnold tersenyum simpul dan melirik sekilas pada sang Putri.
"Kenapa begitu?" tanya Arnold.
"Karena Papa adalah Laki-laki yang setia sama Mama, dan penyayang keluarga. Papa adalah Cinta pertama untukku. Maka Papa juga harus setia menemaniku sampai aku menemukan laki-laki yang tepat nanti!" Ujar Zea menatap lembut pada sang Ayah dari samping wajah Ayahnya.
"Dalem banget sih kata-katanya, Putri Papa ini. Tentu saja Papa akan terus menemanimu sampai kapan pun itu. Sayang" Arnold tersenyum dan membuka lebar tangannya, mengusap lembut bahu sang Putri dan memeluknya dari samping.
sepasang Anak dan Ayah itu pun bercerita banyak di dalam mobil sambil sesekali mereka bercanda. Moment langka yang sudah jarang sekali Zea rasakan setelah dirinya tumbuh menjadi anak remaja. Apalagi kesibukan sang Ayah yang menghalangi waktu kebersamaanya dengan Laki-laki Cinta pertamanya itu.
Tidak terasa Mobil Arnold berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Karena mereka sudah sampai. Zea langsung berpamitan pada Ayahnya.
"Belajar yang pintar ya, Semangat Cantiknya Papa!" Arnold mengusap lembut kepala sang Putri sambil tersenyum lebar.
"Makasih Papa" Zea tersenyum sumringah dan mencium pipi sang Ayah sekilas, lalu keluar dari dalam mobil dan melambaikan tangannya pada sang ayah.
Arnold hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah manis sang Putri.
"Putriku sudah Besar!" gumam Arnold lirih sambil memperhatikan Langkah Zea yang memasuki gerbang sekolah.
Laki-laki paruh baya itu merasa waktu begitu cepat berlalu. Kini anak-anak sudah tumbuh menjadi pria dan gadis dewasa.
18 tahun yang lalu, Arnold dan Liana masih begitu kerepotan mengasuh dua bocah yang menggemaskan itu. Sekarang Arnold bisa merasakan perjuangannya dalam membesarkan putra putrinya yang tidak mudah. Namun tanpa terasa waktu pun cepat berlalu. Arnold menghela nafas panjang dan tersenyum haru.
Ayah dua anak itupun membawa mobilnya pergi meninggalkan gedung sekolah tempat Sang Putri menimba Ilmu!
Para siswa dan siswi berbisik-bisik lirih setelah melihat Zea keluar dari mobil mewah. Semua pelajar tentu saja sudah tahu siapa Zea. Kedatangan Zea yang di antar oleh sang Ayah, membuat para siswa dan siswi di sana menatap iri pada Nona Muda Jegguk grup.
Namun Zea tetap bersikap cuek saja dengan bisik-bisik teman-temannya yang tidak berhenti membicarakannya. Lebih tepatnya mereka menatap kagum sekaligus iri pada Zea!
***
Seminggu Kemudian.
Shaka yang sudah bersiap untuk di wisuda. Pria itu celingukan menatap ke depan lobi mencari keluarganya yang belum juga datang. Beberapa kali Shaka melihat jam di pergelangan tangannya dan melirik lagi ke depan.
Shaka menghela nafas panjang dan Duduk dengan gelisah menunggu keluarganya yang belum juga datang. Sedangkan keluarga teman-temannya yang akan di wisuda hari ini sudah berkumpul di ruang tunggu.
Lagi-lagi Shaka melirik jam di pergelangan tangannya. Shaka akhirnya menyerah dan berdiri hendak masuk ke ruang wisuda dengan hati yang sedikit kecewa, Shaka menundukkan kepalanya .
"Kakak!" Pekik Zea yang baru saja sampai, berlari kecil menghampiri sang Kakak di ikuti oleh kedua orangtuanya.
Shaka reflek menoleh ke belakang. Senyum tersungging mengembang dari bibir Shaka. Kini Shaka merasa lega karena orangtua dan Adiknya sudah hadir di hadapannya.
Shaka yang tadi terlihat murung dan tidak bersemangat. Seketika berubah menjadi sumringah setelah sang Adik memanggilnya.
"Ma'af ya Shaka. Kami telat" ujar Liana mengusap bahu Shaka dengan lembut.
Karena sebentar lagi waktu yang sudah di tentukan untuk Wisuda akan di mulai!
Shaka dan kedua orangtuanya juga sang Adik masuk bersama ke ruang Wisuda. di sana sudah banyak orang yang hadir berkumpul. Mahasiswa dan mahasiswi yang akan di wisuda hari ini, dan juga para orangtua atau keluarga mereka yang turut menghadiri Wisuda para wisudawan yang akan benar-benar lulus hari ini!
Shaka menetralkan degup jantung nya menanti namanya di panggil oleh ketua dosen.
"Kakak. jangan tegang, semangat!" Zea menggenggam punggung tangan sang Kakak sambil menatap tersenyum menyemangati Shaka.
Shaka reflek menoleh pada sang Adik dan menatapnya intens. Shaka merasa di beri kekuatan oleh sang Adik. Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk seraya menumpu tangannya pada genggaman tangan Zea.
Entah mengapa Shaka merasa hatinya menghangat telah mendapatkan perhatian kecil dari Zea, Shaka menatap dalam pada Zea dengan perasaan gamang.
"Ananda Arshaka Jovano Putra dari Bapak Arnold Lesmana dan Ibu Liana Saraswati!"
Shaka mendongak menatap lurus kedepan saat namanya di panggil untuk Giliran Wisuda. Suara tepuk tangan yang meriah dari para mahasiswa membuyarkan lamunan Shaka.
"Ayo kak, sudah di panggil!" Zea menginterupsi sang Kakak untuk segera maju.
Shaka menoleh pada kedua orangtuanya. Liana dan Arnold mengangguk tersenyum pada Shaka.
"Semangat!" Zea mengepalkan tangannya memberi semangat pada sang Kakak dengan senyum manis mengembang.
Shaka tersenyum dan mengangguk lalu berdiri. Shaka mengusap lembut kepala sang Adik sebelum beranjak melangkah ke panggung Wisuda. Sikap kasih sayang yang secara spontan itu pada sang Adik. Membuat semua orang menatap haru pada Shaka.
Shaka berjalan ke depan dan menerima pemberkatan Wisuda dari ketua dosen. Saat itu juga Shaka telah di nyatakan lulus Sarjana ekonomi dengan nilai terbaik. Shaka mendapatkan gelar lulusan terbaik tahun ini. Di susul oleh Bima sahabatnya di belakang Shaka. yang juga mendapatkan nilai terbaik sama dengan Shaka. Dua sahabat itu berhasil lulus S1 bersama dan lulus dengan lulusan terbaik tahun ini!.
Shaka dan Bima sama-sama melempar senyum bangga dan saling merangkul penuh kehangatan persahabatan mereka. Dua pria dewasa itu berjalan kembali ke arah stand kursi masing-masing di dekat keluarga mereka!
Zea yang melihat sang Kakak berjalan bersama Bima. Gadis itu tersenyum tipis menatap intens pada Bima. Rasanya Zea ingin sekali mengucapkan selamat pada Kekasihnya itu, namun Zea tidak punya keberanian untuk menyapa Bima. Zea hanya mampu menahan diri dan tetap duduk manis di tempat.
Bima yang menyadari keberadaan sang Kekasih pun menatap dan tersenyum tipis. Bima tidak hilang akal. Pria itu mengedipkan sebelah matanya pada Zea dengan cepat, hingga tidak satu orangpun yang melihat aksi genitnya pada Sang Kekasih!
Zea menahan senyum nya menunduk malu. Gadis itu tentu saja salah tingkah dengan kelakuan absurd Kekasihnya itu.
Acara Selesai. Semua mahasiswa berbondong-bondong keluar dari gedung Universitas elit itu. Mereka menyempatkan untuk mengabadikan moment wisuda bersama keluarganya masing-masing, termasuk Shaka dan Bima.
Shaka dan Bima sibuk berfoto mengabadikan moment mereka dengan keluarga mereka masing-masing. Zea yang sejak tadi bingung mencari celah untuk bisa mendekati Kekasihnya merasa kesal sendiri. Pasalnya dirinya sama sekali tidak bisa memisahkan diri dari keluarganya begitupun juga dengan Bima.
Namun yang menjadi fokus Zea, ketika melihat seorang Gadis yang sejak tadi berdiri di samping Bima. Zea memicingkan mata menatap curiga pada sang Kekasih.
Bima yang sudah selesai berfoto dengan keluarganya tidak sengaja menoleh pada Zea yang sedang menatapnya intens. Bima langsung menyadari tatapan sang Kekasih yang memicingkan mata padanya, Bima menoleh pada Kanza yang berdiri di sebelahnya.
Bima langsung menghindar dari Kanza agar Zea tidak mencurigainya. Saat ini Bima tidak bisa menjelaskan pada Zea tentang siapa Kanza.
Namun secara kebetulan orangtua Bima dan Kanza berpamitan lebih dulu untuk pulang. Karena Bima masih harus mengurus berkas-berkas kelulusannya bersama Shaka. Bima tentu tidak ikut pulang bersama keluarganya.
Bima melongok sang Kekasih yang masih menekuk wajahnya, Zea berdiri di belakang sang Kakak yang sedang mengobrol dengan Bima.
Shaka mengikuti arah pandang Bima yang melongok sang Adik di belakang punggung nya. Shaka memicingkan mata pada Bima. namun Bima tidak perduli. Pria itu mendekati Zea sambil menahan senyum.
"Ini hadiah buat aku kan?. Terimakasih ya, Cantik!" Cetus Bima berbisik lirih tepat pada telinga Zea.
Zea spontan mendongak dan melotot dengan mulut sedikit menganga. Gadis itu tentu saja kaget saat tiba-tiba sang Kekasih berada di dekatnya, sedangkan sang Kakak kini berdiri tepat di hadapannya dengan mata memicing menatapnya intens!