
Malam harinya seperti Biasa keluarga Arnold makan malam bersama setelah menjalankan ibadah Shalat Magrib. Setelah makan malam mereka menyempatkan waktu untuk berkumpul dan berbincang di ruang keluarga sambil menonton televisi. Kesibukan Arnold membuat waktu Ayah dua anak itu jarang sekali berkumpul dan bergurau dengan anak-anaknya. Malam ini Arnold sepertinya memiliki banyak waktu untuk mengajak Anak-anaknya berbincang dan bercerita.
"Pa. Ma, Hari senin besok Aku akan di Wisuda. Kakak Harap Papa dan Mama bisa hadir di acara Wisuda Aku nanti ya. Kamu juga Dek!" ujar Shaka memberitahu orangtuanya kalau dirinya akan segera Lulus S1 dan Wisuda minggu depan.
Shaka melirik Zea mengajak serta sang Adik untuk ikut menghadiri Acara Wisuda dirinya nanti.
"Kamu sudah Sidang Skripsi Shaka?" Tanya Arnold sambil tersenyum bangga pada Shaka.
Shaka mengangguk sambil tersenyum menatap sang Ayah.
"Iya Pa. Tadi siang Aku baru saja menyelesaikan Sidang Skripsi dan Alhamdulillah Aku di nyatakan Lulus!" jawab Shaka dengan Bangga
"Wah. Kakak Hebat, Sebentar lagi Kakak akan menjadi CEO muda dong Pa!" Zea dengan sumringah tersenyum bangga pada Sang Kakak dan melirik pada Arnold sang Ayah.
Arnold tersenyum dan mengangguk menanggapi sang Putri!
"Selamat ya Kak. Mama bangga sekali sama Kamu Shaka!" Ujar Liana tersenyum bahagia pada Shaka.
"Terimakasih Ma. Pa!" ucap Shaka membalas tersenyum pada Sang Ibu dan melirik pada Ayahnya yang juga masih tersenyum Bangga padanya.
"Kamu juga. Terimakasih ya Dek!" sambung Shaka seraya mengacak rambut sang Adik dengan gemas!
Zea mengerucutkan Bibirnya menyorot tajam pada Shaka. Namun kemudian Zea tersenyum kecil, karena Sang Kakak sedang berbahagia malam ini,
"Sama-sama Kakak Sayang" Zea pun tidak jadi merajuk dan malah terkekeh, membuat Arnold dan Liana ikut terkekeh gemas pada sang Putri!
Malam semakin Larut, Zea dan Shaka pun pamit undur diri ke kamar mereka masing-masing, sedangkan Arnold dan Liana masih stand by di ruang keluarga, Mereka menatap langkah Shaka dan Zea dengan perasaan haru.
Liana maupun Arnold tidak pernah berpikir kalau hidupnya akan sebahagia itu ketika Allah mempercayai mereka titipan seorang bayi perempuan yang kini sudah tumbuh menjadi Gadis yang sangat Cantik dan ceria. Namun Arnold dan Liana tentu saja memiliki rasa khawatir jika suatu hari nanti Putrinya itu akan mengetahui rahasia besar tentang dirinya.
Arnold dan Liana masih belum tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan sesuatu yang tidak mudah itu pada Zea. Rahasia besar yang mungkin saja Zea tidak dapat menerima kenyataan bahwa selama ini dia hanyalah anak angkat di keluarga grup Jegguk, bahkan kemungkinan juga Zea lebih tidak menerima lagi jika dia tahu, kalau dirinya hanyalah Putri seorang pelayan yang selama ini menjadi pengasuhnya di waktu kecil!
"Pa. Ketakutan terbesar Mama adalah kehilangan Zea, bisakah rahasia itu tetap terjaga sampai kapanpun?" Liana merasa hatinya hancur ketika dia mengingat bagaimana perjuangannya membesarkan Zea dari Bayi dengan kasih sayang yang begitu tulus.
Arnold menatap sendu pada Sang Istri sambil tersenyum kecut!
"Sudahlah Ma. Kita pikirkan lagi nanti ya. Jangan memikirkan hal yang belum terjadi. Berdo'a saja apapun yang terjadi nanti, Zea tetaplah putri kita!" Arnold mengusap punggung sang Istri dengan lembut untuk sekedar membuat Liana sedikit tenang.
Liana menatap dalam pada Sang Suami lalu mengangguk.
***
HIGHT SCHOOL OF JEGGUK
Zea datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Karena harus mengumpulkan hasil tugas kelompok kemarin pada Leon Guru killer yang telah memberinya tugas itu.
Tugas kelompok yang di kerjakan bersama kemarin oleh Zea and the geng itu, di bawa oleh Zea karena Zea adalah ketua kelompoknya.
Zea menelusuri koridor sekolah berjalan gontai menuju ke ruangan guru, Zea masuk ke ruang guru setelah mendapat ijin dari dalam.
Zea menatap meja Leon dan menghela nafas, Zea harus siap menerima ultimatun lagi seperti tempo hari karena sebuah kesalahan. Zea menunduk sopan dan duduk di kursi menghadap pada Leon Guru Killer itu.
"Permisi Pak. Ini hasil tugas kelompok kami, Ma'af Pak, apa Saya orang pertama yang mengumpulkan tugas ini?" Zea menatap takut pada Leon. pasalnya Zea tidak melihat tumpukan tugas dari kelompok lainnya.
"Ya. Kamu orang pertama, Sepagi ini kamu datang ke sekolah hanya untuk mengumpulkan tugas?" ujar Leon tak habis pikir sambil menyorot tajam pada Zea.
"Silahkan keluar. saya akan memeriksa hasilnya!" Leon dengan tegas dan datar menyuruh Zea keluar dari ruangan Guru.
Zea menghela nafas sambil menekan bibirnya. Dalam hati Zea mengumpat kesal pada Guru Killer itu.
"Saya Permisi Pak!" Zea berdiri dan membungkuk sopan lalu memutar tubuhnya keluar dari ruang Guru.
Para Guru yang sudah datang dan menempati tempatnya masing-masing itu menatap tak percaya pada Leon sambil geleng-geleng kepala.
Leon adalah Guru Yang di kenal tegas dan Killer. Maka tidak heran banyak siswa yang tidak berani padanya termasuk Guru-guru lainnya di sekolah itu. Leon sudah di percaya oleh ketua dewan pemilik Sekolah Jegguk untuk mengajar sekaligus memantau perkembangan di sekolah itu
Sikap Leon yang tegas dan berwibawa membuat Semua orang mengagumi sosok Leon meskipun terkenal dingin dan sedikit galak pada Siswa dan siswinya.
Zea yang sejak keluar dari ruang Guru menekuk wajahnya berjalan gontai menuju perpustakaan, karena jam masuk masih lumayan lama Zea memilih melipir ke perpustakaan saja untuk menenangkan pikirannya.
"Ze!" Panggil Rachel sambil berlari kecil menghampiri Zea yang sudah sedikit membuka pintu perpustakaan.
Zea menoleh dan mengerutkan alisnya menatap Rachel yang terengah-engah karena berlari mengejarnya.
"Ze, Gue mau ngomong sama Lo!" Rachel dengan nafas tersengal menatap Intens pada Zea.
"Masuk yuk. Kenapa harus lari-larian sih" Sahut Zea seraya merangkul bahu Rachel mengajaknya untuk masuk ke perpustakaan.
"Ze. Jawab dengan Jujur pertanyaan Gue, Oke!" ujar Rachel menatap serius pada Zea.
"Ada apa. Coba ngomong dulu yang jelas!" Zea menatap Rachel dengan dahi berkerut sambil menekan bahu Rachel sampai Rachel terduduk di bangku.
Rachel menghela nafas panjang dan mulai menatap lagi pada Zea dengan tatapan yang lebih serius dan dalam!
"Apa benar Lo baru aja Pacaran sama Kak Bima?" tanya Rachel menatap intens pada Zea.
Zea melotot dan kaget, bagaimana bisa Rachel langsung mengetahui tentang hubungannya dengan Bima yang baru saja terjalin kemarin.
"Ze. Jawab dong. Benarkah itu?" Rachel mengguncang bahu Zea meminta penjelasan pada Zea dengan tidak sabaran.
"Apa Kak Bima sudah menceritakannya ke Lo. Hel ?" Zea menatap Rachel
Rachel mengangguk dengan cepat "Jadi benar Ze?" Rachel menatap intens pada Zea.
"Iya. Dia nembak Gue kemaren pas pulang kerja kelompok!" Jawab Zea menundukkan kepalanya. Zea merasa malu telah tertangkap basah oleh Temannya karena sudah lancang berpacaran dengan Kakak sepupunya.
Rachel menatap tak percaya pada Zea. bukan karena Rachel tidak menyukai Zea berpacaran dengan Kakak sepupunya, tapi Rachel merasa khawatir dengan Zea yang bisa saja terancam jika Kanza mengetahui soal Bima yang telah berpacaran dengan temannya.
Rachel yang memiliki janji untuk melapor apapun tentang Bima pada Kanza, seketika hatinya menjadi Gamang. Rachel tidak mungkin mengatakan dengan jujur kalau Kakak sepupunya sekarang sudah memiliki kekasih.
"Hel. Kenapa sih, ada masalah kah?, Lo nggak suka ya klo Kak Bima pacaran sama Gue?" Zea menatap sendu pada Rachel, Gadis itu menjadi salah paham pada Rachel.
Rachel segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tersenyum tipis menatap pada Zea.
"Nggak papa Ze. Ya udah Selamat ya!" Rachel tersenyum lebar dengan terpaksa dan menarik Zea ke pelukannya.
'Semoga semua akan baik-baik saja' batin Rachel dengan hati gelisah, Rachel tersenyum kecut di balik punggung Zea.