
Shaka dan Sang Ayah kembali ke rumah, Zea dan sang Ibu yang sudah menunggu kepulangan Ayah dan Kakaknya itu pun langsung menghampiri pintu utama dan menyambut kepulangan dua laki-laki beda usia itu dengan wajah tegang dan khawatir!
"Papa. Shaka. Gimana mereka nggak nuntut kamu kan Shaka?" Liana langsung bertanya dengan panik pada Suami dan Putranya.
"Masuk dulu Ma, nanti Papa jelaskan di dalam!" ujar Arnold seraya menuntun sang Istri masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Shaka dan Zea di belakangnya.
Arnold pun menjelaskan pada Liana dan Zea keadaan Gadis yang telah di tabrak oleh Shaka itu dan Arnold juga menceritakan pertemuannya dengan Arfan dan Kiana yang ternyata mereka adalah orangtua dari Gadis itu.
Liana sontak saja kaget dan tak menyangka bisa kebetulan seperti itu, namun Liana tentu merasa lega karena keluarga Gadis itu tidak akan menuntut Shaka. Liana melirik intens pada Shaka sang Putra.
"Shaka, lain kali hati-hati kalau bawa mobil. Kamu bawa motor nggak pernah jatuh. Sekalinya bawa mobil malah nabrak anak orang!" Liana memicingkan matanya menatap tajam pada sang Putra.
"Iya Ma. Namanya juga musibah, siapa yang tahu Ma!" ujar Shaka menyela sang Ibu.
"Benar itu Ma. Musibah nggak akan ada yang tahu kan!" Zea ikut menyela dan membela sang Kakak.
"Tumben kamu belain Kakak" Shaka melirik sang Adik sambil memicingkan matanya.
Zea merolingkan matanya mendengus kesal pada Shaka dengan wajah juteknya. Dan Shaka hanya tersenyum kecil sambil mengacak rambut sang Adik dengan gemas, sedangkan kedua orangtua mereka hanya geleng-geleng kepala melihat Shaka dan Zea yang memang susah sekali untuk akur, meski begitu mereka saling menyayangi satu sama lain, hanya saja Shaka maupun Zea selalu gengsi untuk mengakuinya!
Shaka pun Masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bergabung makan malam setelahnya.
Setelah makan malam Shaka maupun Zea sama-sama kembali ke kamarnya masing-masing!
Zea berkutat dengan Buku-buku pelajaran di kasur, Zea memiliki meja belajar namun gadis itu lebih nyaman belajar sambil berbaring di ranjang. Kali ini Zea tidak ingin melibatkan sang Kakak dalam mengerjakan tugas sekolahnya, Zea juga sudah memesan minuman dan cemilan pada Nina untuk di bawakan ke kamarnya.
Nina masuk kamar Zea setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, namun tidak ada sahutan dari Zea, Nina pun masuk langsung saja, mungkin Zea sedang fokus belajar sampai tidak mendengar Nina yang mengetuk pintu!
"Loh, Non Zea sudah tidur!" gumam Nina demi melihat Zea yang memejamkan matanya masih dengan memegang bolpoint di tangannya di atas buku.
Nina meletakkan minuman dan cemilannya ke nakas, wanita itu mengemasi buku-buku milik Zea dan bolpoint, Nina membenahi tubuh Zea agar tertidur dengan benar dan nyaman. Wanita itu juga menyelimuti tubuh Zea dengan perasaan gamang.
Nina berjongkok di hadapan Zea di bawah ranjang sambil memperhatikan garis wajah Zea dengan tatapan sendu.
"Putriku, terimakasih kamu telah tumbuh dengan baik, kamu begitu Cantik Sayang. Ma'afkan Ibu, Ma'afkan Ibu Nak, Ma'afkan Ibu karena Ibu tidak bisa menjadi seorang Ibu seperti yang kamu harapkan_" Gumam Nina dalam hati dengan gamang Nina menatap lekat pada wajah sang Putri, mata Nina berkaca-kaca menahan sesak di dadanya!
"Jika suatu hari nanti kamu mengetahui kebenarannya, Bahwa Ibu adalah Ibu kandung mu, tolong jangan membenci Ibu Nak, tetaplah menyayangi orangtua angkatmu yang sudah membesarkanmu dan memberimu kehidupan yang layak, Nak_" Nina tercekat meski hanya bermonolog dalam hatinya, Wanita paruh Baya itu menahan tangis di depan sang Putri yang sudah tertidur lelap dengan damai.
Nina menundukkan kepalanya menyentuh dadanya yang terasa sakit, rasanya ingin sekali Nina memeluk tubuh Sang Putri sebagai seorang Ibu, namun Nina tidak cukup berani melakukannya karena takut Nyonya Liana tahu dan menjauhkannya dari Zea.
Nina mendongak menatap dalam pada Zea sambil mengusap air matanya, Tangannya terulur mengusap lembut wajah polos sang Putri, Nina tersenyum kecut sambil menghela nafas berat!
Liana yang hendak masuk ke kamar sang Putri tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika dia melihat Nina yang duduk bersimpuh di lantai menghadap ke arah sang putri yang sedang tertidur lelap. Liana melihat Nina menangis dalam diam. Liana merasakan sesak di dadanya sambil memperhatikan Nina yang mengusap wajah Zea dengan wajah sembab dari balik pintu kamar Zea yang terbuka sedikit.
Liana menghela nafas berat dan tersenyum kecut!
Liana merasa kasihan pada Nina, namun Liana juga tidak ingin kehilangan Zea yang sudah dia rawat sejak bayi seperti putri kandungnya sendiri. Liana begitu egois dan ketakutan terbesar Liana adalah ketika Zea mengetahui kebenarannya tentang dirinya kelak. Sungguh Liana belum siap kalau Sang Putri akan membencinya nanti!
Liana menutup kembali pintu kamar Zea dengan hati-hati kemudian berjalan gontai menuju kamarnya dengan perasaan Gamang!
***
RUMAH SAKIT MEDICA
Kanza di temani Bima untuk sementara sampai orangtua Kanza kembali.
"Kak Bima!" Panggil Kanza menatap Bima yang begitu cuek memainkan ponselnya duduk di sopa
Bima mendongak sekilas dan mematikan ponselnya lalu mendekati Kanza.
"Ada apa, kamu butuh sesuatu?" tanya Bima datar.
"Tolong ambilkan ponsel aku Kak!" Kanza melirik ponselnya yang tergeletak di nakas.
Bima menoleh pada ponsel itu dan mengambilkannya untuk Kanza!
"Kak Bima bisa kan duduk di sini sebentar saja!" ujar Kanza meminta Bima untuk duduk di sampingnya di atas berangkar.
Bima memicingkan matanya menatap Kanza dengan tatapan curiga!
"Sebentar saja Kak!" Ujar Kanza memohon dengan wajah sendu menatap pada Bima.
Bima pun tidak menyahut dan langsung menuruti keinginan Kanza duduk di sebelahnya. Kanza pun tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Terimakasih Kak, sudah mau menemaniku di sini!" Kanza tersenyum menatap wajah Bima dari jarak dekat membuat Kanza merasa senang.
"Hmmm" Bima hanya menanggapi dengan datar dan dingin melirik sekilas pada Kanza.
Kanza yang merasa Bima begitu cuek padanya, Gadis itu membuka ponselnya dan menekan kamera, Kanza memiliki ide untuk Selfie bersama Bima. Dan dengan cepat Kanza telah berhasil mengambil gambar dirinya dan Bima dengan posisi yang begitu dekat, pengambilan gambar yang sempurna, saat Bima menoleh dan menatap pada Kanza dan Kanza menatap pada Bima, membuat Foto mereka terlihat begitu romantis!
"Kanza Apa-apaan kamu mengambil foto kita berdua?" Bima langsung beringsut berdiri menatap tajam pada Kanza.
Kanza sontak saja kaget dan mendongak menatap Bingung pada Bima. Kanza merasa Bima sangat berbeda sekarang, Dia begitu dingin, tidak seperti saat mereka bersama dulu. Bima orang yang sangat lembut dan penuh perhatian. Tapi semenjak Mereka bertemu kembali setelah beberapa tahun lamanya, Sikap Bima berubah total pada Kanza.
"Kak Bima, kenapa sih?, ada apa denganmu Kak. Kenapa sikap Kakak begitu berubah menjadi dingin seperti ini terhadapku?" Kanza menatap intens pada Bima dengan mata yang sudah berembun.
"Ma'afkan Aku Kanza" Sesal Bima, Bima memalingkan wajahnya dari tatapan Kanza yang mulai menangis karena sikapnya.
"Kak Bima Tatap Aku Kak, Jawab dengan Jujur pertanyaanku. Apakah Kakak punya pacar?" Kanza menyentuh lengan Bima dengan suara lirih.
Bima menoleh dan menatap intens pada Kanza. Bima menghela nafas berat dan menjawab!
"Aku tidak punya pacar, tapi Aku sedang mendekati seorang Gadis yang aku sukai, jadi tolong jangan banyak berharap padaku Kanza, karena itu hanya akan menyakiti hati kamu!" jelaskan Bima, Bima dengan tegas mengatakan kalau dirinya menyukai seorang Gadis, membuat Kanza perlahan menurunkan tangannya yang bertengger di lengan Bima.
"Karena itukah Kak Bima begitu menjaga jarak dengan ku, karena ada hati yang Kakak jaga di luar sana?" Dengan Gamang dan suara parau Kanza tetap mencoba tenang dan tegar menerima pernyataan Bima yang dengan terang-terangan mengakui bahwa dirinya lebih memilih orang lain daripada dirinya yang sudah mengenalnya dari kecil!
"Ma'afkan Aku Kanza, kita hanya boleh dekat sebatas teman, tidak bisa lebih!" Bima dengan sendu menatap pada Kanza.
Kanza tidak menyahut lagi, Kanza hanya mengangguk lesu namun hatinya merasa hancur, di tolak sebelum menyatakan Cinta itu menyakitkan!
Kanza Mengusap Air matanya dan memalingkan wajahnya ke samping, Kanza memilih kembali tiduran dan memiringkan tubuhnya membelakangi Bima yang masih berdiri di sampingnya.
Bima menghela nafas panjang menatap punggung Kanza dengan perasaan gamang, Bima merasa bersalah pada Kanza tapi Bima juga merasa lega karena sudah mengatakan isi hatinya pada Gadis yang di kenalinya sejak kecil itu.
Bima beranjak kembali duduk di Sopa menyandarkan punggungnya pada sandaran sopa sambil memejamkan matanya!