Who Are My Parents

Who Are My Parents
Who Are My Farents Bab 10



Zea dengan Lesu dan tidak bersemangat mengikuti pelajaran pertama hari ini, Zea masih kepikiran perihal Bima yang mengantar Rachel ke sekolah, terlebih lagi Rachel mengaku bahwa Bima adalah Pacarnya, Zea merasa sangat bodoh karena telah terjebak dalam perangkap Pesonanya Bima yang menariknya masuk ke hatinya, Namun hari ini Zea merasa sangat kecewa dan kesal!


"Ze. Kantin yuk?" Ajak Rachel setelah pelajaran selesai dan Guru sudah menginterupsi anak-anak untuk Istirahat.


Zea mendongak dan menggeleng, "Gak deh. Aku lagi males ke kantin, Aku nitip minuman aja ya!' Ujar Zea pada Rachel dengan Wajah datar.


"Oke Deh," Rachel tidak ingin banyak bicara lagi melihat wajah Zea yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Rachel lebih memilih ke kantin sendiri dan mengiyakan pesanan Zea.


Zea menjatuhkan kepalanya pada Meja, Gadis itu memiringkan kepalanya dan menatap pada bangku kosong di sebelahnya, Bangku tempat Namira sang Sahabat duduk dengannya, Namun hari ini Namira tidak masuk Sekolah karena masih sakit!


"Ra. Kenapa Lo pake acara sakit segala sih. Gue butuh Lo buat cerita, Argh Sial Lo malah nggak masuk!" Gumam Zea lirih menatap bangku kosong tempat Namira Duduk, Kemudian Zea memejamkan matanya untuk mengusir rasa gundah di hatinya.


"Ra. Lo nggak ganti baju?" Tiba-tiba Aldo mengagetkan Zea sambil membawa Seragam olahraga di tangannya.


Zea sontak saja mendongak menatap Aldo dan melirik seragam olahraga yang di bawa oleh Aldo.


"Ya Ampun, hari ini ada pelajaran olahraga ya. Gue Lupa bawa seragam nya. Gimana dong!" Zea panik ketika dia menyadari kalau dirinya lupa membawa seragam olahraganya.


"Kenapa bisa lupa sih Ze. Gue ada dua sih, yang satu di ruang penyimpanan barang siswa, kalau Lo mau Lo boleh pake punya Gue, masih baru kok!" Aldo menawarkan Seragam barunya pada Zea, laki-laki itu dengan senang hati meminjamkan seragam nya pada Teman sekelasnya.


"Kuncinya!," Zea berdiri dan menengadahkan tangannya pada Aldo meminta kunci berangkas milik Aldo.


"Cari Nama Gue nomor 25" Aldo memberikan kunci berangkasnya pada Zea.


Zea langsung melipir ke ruang ganti dan penyimpanan barang Siswa dan mengiyakan perkataan Aldo dengan Jempolnya yang di acungkan ke Aldo!


Aldo geleng-geleng kepala menatap kepergian Zea dan langsung berganti pakaian kemudian menyusul yang lain ke lapangan!


"Ini dia!" Zea yang sudah menemukan berangkas milik Aldo hendak membuka kunci berangkas itu namun dari samping Zea berdiri Guru Olahraga yang terkenal Killer menyodorkan Seragam Olahraga pada Zea dengan wajah datar saja.


"Eh Pak Leon!" Zea kaget dan menoleh pada Leon Guru Olahraga sambil melirik seragam di tangannya


"Pakai Ini, jangan memakai bekas laki-laki yang bukan muhrim!" Leon memberikan Seragam itu pada Zea sambil menatap datar pada Muridnya.


"Iya Pak. Terimakasih!" Zea menerima seragam itu dari tangan Leon sambil membungkuk sopan.


"Sama-sama, Jangan Lupa besok bawa uang untuk membayar seragam nya. Cepat ganti dan bergabung dengan yang lain!" Leon berbalik badan beranjak begitu saja usai menginterupsi Zea untuk segera berganti pakaian dan menyusul teman-temannya yang sudah berkumpul di lapangan.


Zea Cengo, menatap tak percaya pada punggung Guru Killer itu sambil mendengus kesal,


Leon tersenyum tipis usai membuat wajah Zea menjadi tegang oleh ulahnya yang sok Killer.


Zea ikut bergabung bersama yang lain usai berganti pakaian dan mengembalikan kunci berangkas milik Aldo pada pemiliknya.


"Loh, ini bukan seragam olahraga milik Gue kan, terus Lo pake punya siapa Ze?" Aldo menatap intens pada Zea seraya menerima kunci berangkas miliknya.


"Di kasih sama Pak Leon!" Jawab Zea jujur saja


"Hah. Pak Leon ngasih seragam ke Lo?, ada apa Lo sama pak Leon?" Tanya Aldo menatap penuh selidik pada Zea.


"Apaan sih Do, dia ngasih seragam baru ke Gue buat ikut olahraga lah, dan Besok Gue di suruh bayar!" ujar Zea mendengus kesal.


Aldo justru malah tertawa menertawakan Zea dengan puas!


"Sialan Lo!" Zea meninju lengan Aldo dengan keras namun tidak terasa sakit bagi Aldo, Aldo masih cekikikan menatap Zea merasa sangat Lucu.


"Zea, Rachel, Aldo, Haikal," Leon menyebutkan Nama muridnya yang akan mendapatkan giliran untuk bermain voli.


Zea dengan teman-temannya masuk bergabung ke stand masing-masing. Mereka bermain sambil di selingi tertawa bersama, seketika Zea lupa dengan kegalauan nya karena terlalu asyik tertawa bersama teman-temannya.


Setelah selesai bermain Voli, Zea dengan yang lain beristirahat. Zea duduk di atas rerumputan hijau di lapangan itu sambil mengelap keringatnya yang bercucuran sehabis bermain Voli tadi.


"Nih minumannya!" Rachel menyodorkan minuman dingin pada Zea dan ikut duduk di sebelah Zea.


"Makasih ya!" Zea melirik Rachel dan tersenyum tipis di balas dengan anggukan oleh Rachel.


Dari arah kejauhan sebuah bola melayang menghampiri Zea dan Rachel, tanpa di duga Bola itu mengenai kening Zea dengan tidak sopannya, Zea sontak saja terhuyung ke belakang merasakan kepalanya pusing,


"Aakk!" Zea hampir saja oleng ke belakang namun dia masih bisa menahan berat tubuhnya sehingga tidak sampai tergeletak atau pingsan.


Zea berdiri sambil memegangi keningnya yang terasa panas karena sebuah Ciuman lucknat dari si Bola yang dengan tidak sopannya mampir ke wajahnya!


Zea menyorot tajam pada salah satu temannya yang tidak sengaja melempar bola itu ke wajah Zea, Zea menghampiri Haikal dengan wajah garang siap menerkam.


"Lo bisa hati-hati Gak, sakit nih Jidat Gue!" Zea dengan sarkas memarahi Haikal menatap tajam pada Haikal.


"Sorry Ze. Gue Nggak sengaja!" ujar Haikal penuh sesal meminta ma'af menatap kasihan pada Zea.


para Siswa berkumpul memutari Zea dan Haikal yang sedang adu argument alias adu mulut membuat Leon selaku Guru Olahraga itu menghampiri Dua muridnya yang sedang bersitegang!


"Ada apa ini?" Leon menerobos segerombolan siswa dan menyorot tajam pada Zea dan Haikal


"Saya tidak sengaja melempar bola ke wajahnya Pak, tapi dia masih nggak terima, padahal saya sudah minta ma'af!" Jelaskan Haikal sambil menunduk.


Leon menatap pada Zea dan benar saja, pria itu melihat dengan jelas memar kemerahan di kening Zea!


Zea memberengut masih menatap tajam pada Haikal.


"Ya sudah, kalian semua bubar dan masuk kembali ke kelas. dan Kamu ikut saya ke ruang UKS!" Leon membubarkan siswa siswinya untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran berikutnya, kecuali Zea, gadis itu mengikuti langkah Guru Killer itu ke ruang UKS!


"Ma'af Pak, perawat yang biasa stand by di sini hari ini tidak masuk!" Seorang Ofice Boy sekolah memberitahu pada Leon kalau Perawat khusus sekolah itu tidak masuk.


Leon pun mengangguk dan menyuruh Ofice Boy itu untuk pergi dari sana. Leon mencari kotak P3K dan menemukannya di dalam rak bersama obat-obatan.


Leon mendekati Zea yang duduk anteng di berangkar.


"Biar saya Obati, kening kamu memar!" Leon mulai mengobati kening Zea dengan hati-hati.


Zea tanpa sengaja memperhatikan wajah Leon dari jarak yang begitu dekat.


"Sudah!" Leon tanpa sengaja menatap dalam pada Zea yang juga sedang menatapnya.


Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat keduanya jadi salah tingkah dan menaham malu, Zea menyentuh keningnya dan Leon pun tersadar dari lamunannya yang terlalu dalam menatap Muridnya itu.


"Terimakasih Pak, Saya permisi!" Zea dengan sopan membungkuk pada Leon dan pamit undur diri untuk kembali ke kelas.


Zea maupun Leon menjadi salah tingkah, Leon menahan senyumnya menatap punggung Zea yang sudah keluar dari ruang UKS.