Who Are My Parents

Who Are My Parents
Who Are My Farents Bab 6



Zea maupun Bima sama-sama Spechlles bertemu lagi untuk kedua kalinya secara tidak sengaja.


"Bima, kamu kenal dengan adik ini?" Maura membuyarkan lamunan Bima dan Zea yang sejak tadi saling menatap dalam satu sama lain karena kaget.


Bima pun menoleh pada sang Ibu dan tersenyum tipis lalu melirik pada Zea.


"Aku baru bertemu dengannya kemarin saat konser Ma, jadi kami belum begitu kenal!" jawab Bima menatap datar pada Zea.


Zea mendongak pada Bima dengan dahi berkerut. Zea merasa Bima tidak terlalu menganggap pertemuan dengannya itu istimewa, Zea merasa sedikit kecewa dengan jawaban Bima namun Zea tetap berusaha bersikap biasa saja!


"Oh begitu rupanya" Maura melirik sekilas sambil tersenyum tipis pada Zea.


Bima mengangguk pelan "Mama ngapain di sini, ada keperluan apa Mama dengan sekolah ini?" tanya Bima penasaran kenapa Ibunya bisa ada di sekolah Jegguk pagi-pagi.


"Nanti Mama jelaskan di rumah saja, ayo kita pulang sekarang, badan Mama sakit ini" Ujar Maura sambil memegangi pinggang nya yang terasa sakit karena terjatuh di lantai tadi.


"Mama kenapa?" Bima mengamati tubuh sang Ibu dengan penuh kekhawatiran.


"Ma'af Kak, Mama Kakak tadi terpeleset karena tidak sengaja menabrak ember berisi air pelan, Ma'af Aku yang sudah ceroboh menaruh ember di jalan" Zea membuka suara dan membungkuk pada Bima menyesali kecerobohannya yang sudah membuat Ibunya Bima itu celaka.


"Sudah tidak apa-apa kok, Ayo Bima!" Maura tidak ingin melihat Bima marah pada Gadis pelajar itu. Ibu satu anak itu pun segera mengajak Putranya untuk pergi dari sana.


"Lain kali hati-hati ya" Bima menatap datar pada Zea sambil membantu sang Ibu berdiri.


"Tante pergi dulu ya, Semangat jalani hukumannya" Maura tersenyum pada Zea.


"Iya, Hati-hati Tante!" Zea membalas tersenyum sambil membungkuk sopan pada Ibunya Bima.


Bima mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. saat sang Ibu sudah berbalik arah, Bima tiba-tiba menyodorkan ponselnya pada Zea sambil bergumam.


Bima menunjukkan Nama akun Instagram nya pada Zea agar Zea memfollow nya, namun Zea yang kurang memahami maksud Bima itu, gadis polos itu mengernyitkan dahinya menatap Bima.


Bima dengan gemas menggigit bibir nya memberi kode pada Zea sambil melirik ponsel nya. Zea pun akhirnya mengerti dan melihat pada layar ponsel Bima lalu mengangguk sambil tersenyum tipis. Bima merasa lega karena Zea akhirnya mengerti, Bima Tersenyum lebar masih menoleh pada Zea.


"Bima kamu lihatin apa sih, ayo cepat!" Maura melirik sang Putra dengan tatapan menyelidik.


"Iya Ma!" Bima menoleh dan menuntun sang Ibu sampai ke mobil.


Zea pun membuka ponselnya dan mencari Akun Instagram milik Bima yang di tunjukkan nya tadi. Zea tersenyum saat sudah menemukan akun resmi milik Bima sang idola.


"Eh tunggu. Apa Ini, tadi aja ketus banget bilang sama Mama nya tidak kenal. tapi malah ngasih nama IG nya buat di Follow. Random banget sih tuh Cowok. Untung ganteng!" Zea cekikikan sendiri sambil melihat-lihat foto Bima di layar ponsel nya.


Zea pun segera memfollow Instagram Bima dan kembali melanjutkan hukuman yang belum selesai.


Namira kembali menghampiri Zea pada saat Zea hampir selesai membersihkan seluruh kaca.


"Heh anak Itik, Lo ke toilet apa ke Mall, lama bener. sengaja mangkir dari hukuman kan Lo" Zea langsung mencibir Namira dengan wajah galak.


"Hah, Serius Lo sakit beneran Ra!" Zea menatap Namira sambil menyentuh Dahi sahabatnya. "Tapi Lo nggak panas" sambung Zea.


"Perut gue yang sakit bukan Jidat Zea Ih" Namira kesal pada Zea, di saat genting begini Bisa-bisanya Zea malah bercanda!


"Iya-iya sewot mulu cepet tua Lo!" ujar Zea


"Udah ah Gue mau ke kelas dulu sekalian Ijin pulang, Ini sudah mau selesai kan?" Namira mengamati Kaca yang sudah terlihat bersih itu dan melirik pada Zea.


"Iya, udah sana Lo pulang aja, tinggal dikit biar Gue yang beresin" ujar Zea, Gadis itu tentu saja tidak tega melihat wajah lesu sahabatnya yang menahan sakit.


"Thank ya Ze!" Namira mengusap pundak Zea sambil tersenyum tipis.


"Iya, Lo hati-hati ya pulang nya!" Zea menyentuh tangan Namira dengan lembut sambil membalas tersenyum


Namira pun meninggalkan Zea yang masih harus menyelesaikan hukumannya sendirian. Dan Zea melanjutkan pekerjaan nya yang hampir selesai.


Setelah selesai Dengan sebuah hukuman, Zea melipir ke kantin karena merasa haus dan lapar, gadis itu pun ke kantin tanpa di temani sang Sahabat, Zea memesan makanan dan minuman untuk mengisi perutnya yang terasa lapar!


***


PT. JEGGUK GROUP


Shaka mendatangi Kantor sang Ayah dan menemuinya di ruangan Presiden pemilik perusahaan Jegguk.


"Shaka kamu datang juga!" Arnold berdiri dari kursi kebesarannya dan menghampiri putranya lalu duduk bersama Shaka di sopa.


"Seperti yang Papa minta aku sudah keluar dari Walker dan aku minta Papa tidak akan memaksaku untuk ikut bergabung di kantor sebelum aku lulus skripsi dan wisuda!" Shaka dengan wajah datar menatap intens pada sang Ayah.


Arnold pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum bangga menatap sang Putra!


"Baiklah, Selesaikan dulu skripsi mu Shaka, setelah kamu Wisuda Papa akan mengurus semuanya agar kamu bisa segera masuk ke perusahaan!" Arnold dengan tenang memberi kesempatan pada Shaka untuk menyelesaikan kuliah nya terlebih dulu.


"Terimakasih Pa, Hanya itu yang mau aku sampaikan. Aku akan pulang sekarang!" Ujar Shaka sambil berdiri.


"Oke, Kamu mau pulang kan, Jemput sekalian Adik mu, karena supir yang biasa mengantar jemput Zea sedang sakit" Arnold meminta Shaka untuk menjemput adiknya sebelum Shaka membuka pintu untuk keluar dari ruangannya.


"Iya Pa, Aku permisi!" Shaka dengan sopan berpamitan pada sang Ayah.


Shaka melihat jam di pergelangan tangannya, jam pulang sekolah masih sekitar 30 menitan lagi. Shaka pun menunggu Adiknya di depan sekolah saja sambil memesan kopi. daripada Shaka telat menjemput, sang Adik akan mengomel sepanjang jalan.


Meskipun Zea hanyalah adik angkatnya namun Shaka sudah menyayangi Adiknya itu sejak Bayi. bahkan Shaka ikut menyimpan rahasia besar yang sampai saat ini masih tertutup rapat dari Zea.


Shaka begitu menyayangi sang Adik seperti layaknya adik kandung nya sendiri. mereka hidup bersama dan tumbuh menjadi dewasa bersama pula!


Namun Shaka terkadang tidak bisa memungkiri kalau Dirinya bisa saja menyukai sang adik bukan sebagai seorang kakak terhadap adiknya tapi sebagai seorang pria dewasa yang menyukai seorang gadis. melihat Zea tumbuh menjadi gadis yang Cantik dan menawan. Shaka harus bisa menahan perasaan nya pada sang adik. Shaka tidak ingin Zea mengetahuinya , cukup lah Zea tahu kalau Dirinya hanyalah seorang kakak yang rese bagi sang Adik!