
Rachel melepas pelukannya dan mengajak Zea untuk duduk dan meminta Zea menceritakan bagaimana awal mulanya Zea bisa berpacaran dengan Kakak sepupunya.
"Coba Lo ceritain dong Ze. Gimana ceritanya Lo bisa secepat itu pacaran sama Kak Bima?" tanya Rachel dengan antusias
Zea malah senyum-senyum malu, Zea sendiri masih tidak menyangka kalau dirinya kini telah berpacaran dengan Bima yang selama dua tahun ini menjadi Crush nya.
Zea menatap Rachel sambil tersenyum tipis, Zea pun mulai menceritakan pada Rachel tentang kejadian kemarin dari awal sampai akhirnya Dirinya di tembak oleh Bima di pantai.
"Ya Ampun. Jadi Ban motor Aldo bocor dan Lo di ambil alih sama Kak Bima. Haishh itu pasti hanya alibinya Kak Bima saja, Gue curiga deh, jangan-jangan Kak Bima yang sengaja menyabotase motornya Aldo!" Rachel menatap intens pada Zea.
Zea mengerutkan alisnya menatap Rachel.
"Masa sih Kak Bima setega itu!" ujar Zea tidak terima dan tidak percaya kalau Bima sampai tega melakukannya .
"Bisa aja lah. Secara kan dia pengen bawa Lo, makanya dia buat rencana itu biar bisa beralibi nganterin Lo pulang. Hmmm Licik banget tuh Orang. Kan Kasihan si Aldo!" ujar Rachel tersenyum miring dan memaki Kakak sepupunya.
Zea terdiam dan menunduk, Gadis itu menjadi merasa bersalah pada Aldo, karena telah meninggalkannya sendiri pada saat temannya itu kesusahan.
"Ze. Gue salah ngomong ya. Sorry, Gue nggak bermaksud buat nyinggung Lo kok!" Rachel menatap sendu pada Zea, demi melihat wajah Zea yang tiba-tiba berubah murung. Rachel merasa tidak enak hati pada Zea!
Zea mendongak dan tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Nggak papa Hel. Apa yang Lo omongin itu memang benar kok, harusnya Gue nggak ninggalin Aldo sendirian" ujar Zea merasa semakin bersalah.
"Bukan Salah Lo. Udah nggak usah di bahas, Lo kan lagi bahagia karena baru jadian sama Kak Bima, Semoga berjodoh ya, sampai Lo jadi sodara sepupu Gue nanti!" Ujar Rachel mengalihkan perhatian Zea agar Zea tidak merasa bersalah lagi dan sedikit menghibur Zea sambil terkekeh.
Zea hanya menanggapi dengan senyum kecil, Dua gadis remaja itu pun keluar dari perpustakaan karena bel masuk sudah berbunyi. Zea dan Rachel berjalan bergandengan tangan sambil tertawa kecil menuju Kelas!.
Namira yang melihat keakraban Sahabatnya dengan Teman barunya itu memicingkan mata dan tersenyum miring, Namira tidak terima dengan sikap Zea yang seolah-olah lupa dengan dirinya yang sudah bersahabat dari pertama masuk Jegguk!
"Hai Ra!" Zea menyapa Namira sambil tersenyum seperti biasa seraya Duduk di sebelah Namira.
Namira hanya menanggapi Zea dengan senyum tipis dan datar.
Leon datang dan semua siswa siswi menyapa hormat pada Guru mereka. Leon mempersilahkan semua siswa siswinya untuk duduk kembali, karena Leon akan mengumumkan hasil kerja kelompok dari kelas 12 a.
"Kelompoknya Zea. Selamat ya, Tugas bersama kalian sangat luar biasa dan mendapatkan nilai A plus" Leon tersenyum bangga pada kelompok Zea and the geng dan bertepuk tangan di ikuti oleh serentak siswa siswinya.
Zea dan teman sekelompok nya tentu tersenyum lebar dan senang karena kerja keras mereka akhirnya mendapatkan nilai plus yang memuaskan.
Setelah mengumumkan hasil nilai tugas kelompok, Leon memberikan pelajaran lain pada Siswa Siswinya dengan fokus dan serius, tidak ada satupun Siswa yang bersuara, termasuk Zea, Gadis itu lebih fokus mengikuti pelajaran karena tidak ingin di marahi lagi oleh Guru Killer itu!
90 menit berlalu, pelajaran pun selesai, semua Siswa siswi berbondong-bondong menuju ke kantin untuk sekedar mengisi perut yang kosong atau hanya sekedar jajan.
"Ra. Kantin yuk!" ajak Zea pada Namira seraya mengemasi buku dan memasukannya ke tas ransel nya.
"Males ah, kenapa nggak Ajak Rachel aja, bukannya Lo lagi deket sama Rachel sejak kemaren!" Cetus Namira dengan nada Jutek dan melengos. Lalu menjatuhkan kepalanya miring membelakangi Sahabatnya.
Zea mengerutkan alisnya menatap Namira tak percaya. Ada apa dengan Sahabatnya itu!
"Lo kenapa sih Ra. Gue ada salah sama Lo?" Zea merasa sikap Namira terhadapnya tidak seperti biasanya.
Namira hanya menggeleng pelan tanpa menoleh dan mengangkat wajah nya.
Zea menghela nafas dan membiarkan saja Sahabatnya itu dengan sikap dinginnya. Zea berdiri dan meninggalkan Namira begitu saja dengan perasaan kesal.
Namira Melirik pada Zea yang sudah berjalan ke arah pintu dengan perasaan Gamang terhadap Sahabatnya itu.
Tidak terasa Jam pulang sekolah sudah di bunyikan, semua Siswa siswi meninggalkan gedung sekolah.
Zea yang sedang melamun sendirian menunggu Bus datang sampai tidak sadar dengan motor Bima yang berhenti tepat di belakang nya. Bima tersenyum menatap punggung sang Kekasih dan menghampirinya secara mengendap-ngendap.
"Sendirian aja, Cantik!" Bima mengagetkan Zea sambil memiringkan tubuhnya melongok wajah kekasihnya yang terlihat murung tidak bersemangat.
Zea reflek menoleh menatap pada Bima yang masih membungkukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya pada wajah Zea, membuat wajah keduanya begitu dekat sampai hembusan nafas mereka pun bisa mereka rasakan.
Dengan jantung yang sama-sama berdebar Zea maupun Bima terpaku saling menatap dalam, Bima menelan saliva dan menekan bibir bawahnya. begitupun juga dengan Zea yang kaget saat tiba-tiba Bima ada di sampingnya saat ini
"Tid tid tid_"
Lamunan Zea dan Bima terbuyarkan oleh beberapa klakson motor dan mobil yang berlalu lalang di jalanan. Bima celingukan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk, lalu beringsut duduk di sebelah sang Kekasih. Zea menahan senyumnya, Gadis itu merasa malu dengan dirinya sendiri, bisa-bisanya Zea punya pikiran kalau Bima akan menciumnya lagi untuk kedua kalinya seperti kemarin!
"Kak Bima, Aku mau tanya, Boleh?" Zea menoleh menatap intens pada Bima.
"Boleh Sayang, mau tanya apa. Hmmm?" Bima menetralkan kembali tubuhnya dan duduk menghadap pada Zea sambil menatap pada Zea.
"Apa Kak Bima telah memberitahu pada Rachel, kalau Kita sudah berpacaran?" tanya Zea dengan tatapan serius
"Iya. Memangnya kenapa. Kamu keberatan ya?" Bima menatap serius pada Zea, pria itu takut kalau sang Kekasih merasa tidak nyaman.
Zea menggeleng dan tersenyum tipis.
"Nggak papa kok!" jawab Zea dengan wajah datar.
"Sayang. Katakan saja kalau kamu memang keberatan, Aku minta ma'af ya!" Bima meraih tangan Zea dan menggenggamnya, pria dewasa itu menatap sendu pada sang Kekasih.
Zea lagi-lagi tersenyum dengan tingkah Bima yang begitu terlihat takut dirinya akan marah.
"Nggak papa Kak. Sepertinya Bus sudah dekat, Aku pulang dulu ya Kak!" Ujar Zea seraya mengendurkan genggaman tangan Bima dan tersenyum tipis.
Namun pada saat Zea hendak berdiri dan Busway sudah berhenti di Halte itu, Bima segera menahan lengan Zea agar tetap tinggal.
"Pulang denganku. Aku akan mengantar kamu pulang Dek, Pak ma'af tidak jadi naik!" Bima menginterupsi Zea agar pulang bersamanya dan membungkuk sopan pada Supir Busway karena telah membatalkan penumpang.
Setelah Busway pergi, Bima kembali menatap pada Zea dengan tatapan dalam.
"Aku minta ma'af kalau hubungan kita bikin kamu nggak nyaman, Dek. Aku memberitahu Rachel hanya untuk berbagi kebahagiaan saja karena aku telah di terima menjadi pacar mu. Apa itu salah?" Bima menatap intens pada Zea
Zea dengan cepat menggeleng dan tersenyum.
"Kak Bima jangan terlalu serius. Aku hanya bertanya saja kok" Ujar Zea.
"Ma'af aku terbawa suasana. Zea, perlu kamu tahu apapun yang akan terjadi nanti. Aku akan mempertahankan hubungan kita sampai kita menikah nanti. Kamu mau kan Nikah sama Aku?" Bima malah semakin serius dalam obrolan yang lebih jauh.
Zea tentu saja kaget dan menatap Bima tak percaya.
"Kak Bima kenapa berpikir sejauh itu, aku bahkan masih sekolah Kak!" ujar Zea sambil terkekeh
"Aku serius Zea. Sebentar lagi kamu lulus kan?" Bima menatap Zea masih menatapnya dalam.
"Iya. Tapi aku gak mau langsung nikah, aku mau kuliah Kak!" kini Zea gantian yang menatap serius pada Bima.
Bima mengangguk dan tersenyum, Pria itu mengusap rambut Zea yang terurai.
"Tapi berjanjilah kalau Kamu mau sampai menikah denganku!" Bima masih ingin meyakinkan Zea, kalau mereka harus hidup bersama di masa depan.
Zea mengangguk dan tersenyum, untuk mempercepat jawaban agar Bima tidak terus mendesaknya untuk sebuah jawaban yang menurutnya begitu jauh.