
Setelah dari kantin Zea dan Namira kembali ke kelasnya dengan membawakan satu cup minuman dingin untuk Rachel.
Mereka melanjutkan pelajaran kedua dan terakhir hari ini.
pelajaran terakhir Guru tidak masuk, sebagian anak-anak bersorak riang karena mengira jam pelajaran terakhir kosong dan bisa pulang lebih awal. namun mereka langsung terdiam saat tiba-tiba Guru pengganti masuk dengan tatapan tajam menatap satu persatu anak-anak yang berada di ruangan itu.
Tidak ada yang berani bersuara, semua kembali duduk dengan rapi ke bangku masing-masing sambil menundukkan kepalanya tidak berani mengangkat wajah ke depan termasuk Zea.
"Buka Halaman 72 dan perhatikan dengan baik setiap Bab nya!" Leon menginterupsi semua murid nya untuk fokus ke satu pelajaran.
Ya. Leon lah yang menggantikan Guru Fisika yang tidak masuk itu, Dengan tegas dan dingin, Leon menjelaskan setiap Bab pelajaran Fisika pada Siswa siswi nya. Sesekali mata Leon menyorot tajam pada Zea dan Namira yang terlihat tidak fokus mendengarkannya, mereka malah bisik-bisik mengobrol.
"Ze, ngaku Lo. Ada hubungan apa Lo sama Pak Leon?" Namira menyenggol bahu Zea dengan suara lirih.
Zea menoleh dan melotot pada Namira!
"Apaan sih Lo. Lo udah salah paham deh, Doi yang Gue maksud bukan Pak Leon!" Tekankan Zea menatap tajam pada Namira.
"Terus siapa dong. Si Aldo?" Namira tertawa kecil meledek.
"Sialan. Makin ngaco aja Lo!" Zea melotot tidak terima dengan tuduhan sang Sahabat yang begitu absurd.
"Zea!" Tiba-tiba Leon memanggil Zea dengan tatapan tajam.
Zea dan Namira menoleh bersamaan ke depan dimana Leon berdiri menyorot tajam pada Mereka, Zea dan Namira langsung menciut dan menunduk!
"Zea Chasandra. Silahkan maju ke depan dan isi dengan benar Bab 4 yang sudah saya jelaskan tadi!" Leon dengan tegas menyuruh Zea maju dan mengisi soal di papan tulis.
Zea mengangkat wajahnya menatap pada Leon.
"Saya Pak?" Zea menunjuk dirinya sendiri dengan perasaan takut untuk ke depan, padahal sudah jelas-jelas nama Zea hanya dirinya saja di kelas itu. Tapi Zea seolah-olah lupa!
"Memangnya ada Nama Zea yang lain di kelas ini?. Cepat maju!" Leon dengan tegas menyuruh Zea ke depan sekali lagi dengan tangan yang memegang spidol!
"Lo sih!" Zea melirik sekilas pada Namira dengan wajah cemberut.
"Udah sana maju, di coba dulu. Semangat!" Namira malah menyemangati Zea tanpa rasa bersalah sambil menahan senyumnya.
Zea pun terpaksa beranjak dari bangku duduk nya melangkah ke depan menghampiri Leon yang sejak tadi masih menyorotnya tajam.
Leon menyerahkan spidol di tangannya pada Zea dan Zea dengan takut-takut menerima spidol itu.
Zea menatap sejenak pada tulisan di papan tulis, Zea merasa buntu karena saat Leon menjelaskan tentang Bab 4 tadi dirinya sama sekali tidak menghiraukan malah asik mengobrol dengan Namira. Zea merasa menyesal namun sudah terlanjur. Zea pun dengan asal menuliskan jawabannya, tidak perduli benar atau salah yang penting dirinya sudah mencoba menjawab!
Leon mengernyitkan dahinya menatap jawaban yang di tulis oleh Zea lalu melirik pada Zea menatapnya intens.
Zea menyerahkan kembali spidol itu pada Leon sambil menunduk!
"Apa Jawabannya benar, Haikal tolong jelaskan?" Leon masih menahan pergerakan Zea yang hendak beranjak dari sampingnya dan meminta Haikal untuk membenarkan Jawaban yang di tulis oleh Zea.
Haikal terkenal Siswa yang pintar di kelas itu, Haikal langsung menjawab dengan benar jawaban Bab 4, membuat Zea melotot tak percaya, Zea merasa malu, Gadis itu semakin menundukkan kepalanya menahan malu pada Leon dan teman-temannya.
"Zea. Seharusnya kamu bisa memberi Contoh yang baik pada teman-temanmu, sebagai anak pemilik Grup Jegguk dan sekolah ini, Apa prestasimu?. Jangan mentang-mentang kamu memiliki Akses di sekolah, lalu dengan seenaknya kamu belajar sesuai keinginan kamu sendiri?" Leon dengan tegas memperingati Zea.
Zea merasa berkecil hati dan merasa dirinya memang bodoh. Sangat berbeda dengan Kakaknya Shaka.
"Ma'af Pak. Saya akan belajar lebih giat lagi!" Zea menghela nafas berat dan menunduk.
"Kembali ke bangku mu!" Leon merasa tidak tega melihat wajah Zea yang sudah memerah menahan Malu dan pastinya Zea seperti menahan tangis karena di marahi olehnya!
Zea kembali ke bangkunya dan duduk dengan lesu menekuk wajahnya,.
Zea menoleh dan hanya mengangguk pelan lalu kembali fokus menatap pada Leon yang sedang menjelaskan Tugas kelompok.
"Haikal, Aldo, Zea, Rachel dan Namira. Kalian satu kelompok dan kerjakan tugasnya di luar sekolah" Leon menyebutkan Nama siswa yang akan bekerja kelompok di bagi menjadi 5 orang setiap kelompok nya.
Setelah selesai memberi tugas pada siswa-siswinya, Leon pamit undur diri dan menginterupsi bahwa pelajaran hari ini telah selesai, lalu membubarkan siswa-siswi di kelas itu untuk pulang!
Zea and the Geng masih stay di kelas, mereka berunding untuk kerja kelompok besok akan di kerjakan di rumah siapa.
"Gimana kalau di rumah Lo aja Hel, biar nggak di rumah si Zea terus. Ya gak sih?" Namira memberi ide pada teman sekelompoknya dan melirik Rachel.
"Boleh tuh, Gimana Hel?" sahut Aldo.
Rachel mendongak dan melirik Zea sekilas, lalu menjawab.
"Gue coba tanya Om dan Tante Gue dulu ya, masalahnya Gue tinggal sama Om dan Tante!" ujar Rachel
"Ya sudah, nanti kabari saja kalau sudah dapat Ijin dari Om dan Tante Lo ya" Sahut Zea seraya menepuk pelan bahu Rachel.
Rachel pun mengangguk dan tersenyum tipis.
Setelah berunding, Zea dan keempat temannya pun membubarkan diri untuk pulang.
Zea, Namira dan Rachel berjalan beriringan ke depan Lobi sekolah menunggu jemputan masing-masing, Sedangkan Aldo dan Haikal melipir ke parkiran karena mereka membawa motor sendiri!
Mobil jemputan Zea berhenti tepat di hadapan tiga gadis remaja Itu, Zea langsung pamit pada Namira dan Rachel lalu segera masuk mobil dan meninggalkan sekolah.
"Jadi Zea itu anak pemilik Sekolah ini ya Ra?" Tanya Rachel dengan hati-hati menatap sekilas pada Namira.
"Iya, Emang Lo baru tahu ya?" Tanya balik Namira pada Rachel.
"Baru tahu tadi pas Pak Leon bilang di kelas!" jawab Rachel jujur.
"Gue duluan ya!" Namira menepuk bahu Rachel dengan pelan sambil tersenyum dan pamit undur diri karena jemputan nya sudah datang.
Rachel hanya mengangguk sambil menatap intens pada Namira yang sudah masuk ke mobil.
Rachel celingukan lalu menghela nafas panjang. Rachel duduk sejenak masih menunggu Bima yang menjemputnya.
Sesampainya Zea di rumah, Gadis itu langsung melipir ke kamar sang Kakak dengan membawa satu buku tulis dan satu Buku LKS yang tadi belum sempat di isi oleh Zea waktu di kelas.
"kak, Kakak!" Pekik Zea langsung menerobos masuk ke kamar sang Kakak.
"Apa Sih Bocah!" Shaka yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap tajam pada sang Adik yang kelewat bar-bar itu.
"Kak Shaka, Pakai Bajumu!" Zea menoleh dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menjatuhkan Buku ke lantai!
Zea begitu kaget pada saat Shaka keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Shaka yang baru saja habis mandi tidak pikir panjang lagi keluar seperti biasa.
"Siapa suruh masuk kamar Kakak nggak ketuk pintu dulu!" Shaka menyorot tajam pada sang Adik.
"Ya sudah, Kakak cepat ganti pakaian dulu, aku tunggu di luar pintu!" sahut Zea sambil berbalik badan dan membuka pintu kamar Shaka lalu menutup kembali pintu itu,
Zea menunggu dengan kesal di depan pintu kamar Shaka dan Shaka tidak menyahut lagi, pria itu langsung berganti pakaian dengan pakaian yang sudah Rapi hendak pergi.
Shaka melirik buku milik Zea yang tergeletak di lantai dan mendekati buku itu setelah selesai berganti pakaian.
Shaka mengambil buku itu dan membukanya lalu dengan cepat mengisi semua soal yang belum terisi oleh Zea. Meskipun Shaka selalu menasehati sang Adik untuk giat belajar tapi Shaka selalu tidak tega membiarkan Zea dalam kesulitan perihal pelajaran sekolah!