Who Are My Parents

Who Are My Parents
Who Are My Parents Bab 20



Malam sudah hampir larut. Liana mengajak sang Putri untuk segera pulang sebelum malam semakin larut, sebentar lagi Mall pun akan di tutup dan para pengunjung mulai meninggalkan Mall tersebut!


"Terimakasih ya atas Waktunya In, nak Aldo!" ujar Liana tersenyum pada Indira.


"Iya. Sama-sama, lain kali kita ketemu lagi ya. Anak kamu sangat Cantik Li" Indira sejak tadi tidak lepas pandangan dari Zea.


Indira dan Liana memiliki rencana terselubung di balik pertemuan mereka kali ini. Liana dan Indira ingin mendekatkan Zea dan Aldo setelah mereka lulus Sekolah nanti tanpa Zea dan Aldo sadari rencana Ibu mereka yang ingin menjodohkan mereka berdua.


Indira tersenyum menatap Zea, Zea pun menunduk sopan pada Indira seraya mencium punggung tangan Ibu dari Aldo itu dengan takzim. Kemudian Zea dan sang Ibu pamit undur diri, mereka berpisah di lobi Mall dan menaiki mobil masing-masing untuk pulang ke rumah.


Keesokan harinya, Zea yang terbangun kesiangan bersama sang Kakak yang memang lebih sering bangun siang di bandingkan dengan Zea.


Zea dan Shaka berjalan gontai menuju dapur dengan setengah mata yang masih mengantuk, mereka berjalan beriringan saling lirik menatap datar.


"Anak Gadis jam segini baru bangun!" cetus Shaka seraya menarik kursi lalu duduk.


Zea memicingkan matanya menatap tajam pada sang Kakak.


"Kakak sendiri juga begitu!" Sahut Zea tak mau kalah.


Shaka hanya mengedikkan bahunya tersenyum miring pada Zea. Dengan wajah polos dan rambut yang berantakan Shaka masih terlihat tampan khas bangun tidur.


"Nona Muda Dan Tuan Muda bangun kesiangan ya, Nyonya dan Tuan sudah pergi sejak tadi pagi!" Nina datang membawakan dua porsi makanan untuk sarapan Kakak beradik itu.


Shaka dan Zea reflek menoleh pada Nina secara bersamaan!.


"Mama dan Papa pergi kemana Bi sepagi itu?" tanya Shaka.


"Makasih Bi!" Zea menatap Nina seraya menarik piring berisi makanan itu ke hadapannya sambil menunggu jawaban Nina.


"Mungkin mereka mau olahraga Tuan, Silahkan di makan Tuan, Nona. Bibi permisi ke belakang ya!" Jawab Nina. Nina pamit undur diri dan kembali ke belakang.


"Silahkan Bi dan terimakasih Bibi sudah repot-repot buatkan kami Sarapan" ujar Shaka.


Nina tersenyum dan mengangguk lalu beranjak dari meja makan.


"Tumben banget Mama sama Papa Olahraga!" ujar Zea sambil menyendok makanannya.


"Biarin aja Dek, mungkin mereka mau bernostalgia ke masa muda!" ujar Shaka sambil terkekeh.


Zea ikut terkekeh menimpali celotehan Shaka!


Nina yang tadi sudah ke belakang kembali lagi menghampiri Zea dan Shaka yang masih makan. Zea dan Shaka pun menoleh dan menatap pada Nina dengan tatapan bingung.


"Ada apa Bi?" tanya Shaka menatap Nina dengan dahi berkerut.


Zea mengerutkan dahinya menatap intens pada Nina sang pelayan.


"Di depan ada tamu Tuan, nyariin Nona Muda!" Nina menatap Zea dan memberitahu bahwa di depan sudah ada tamu yang mencari Zea.


"Tamu siapa. Sejak kapan kamu punya tamu?" Shaka memicingkan matanya menatap tajam pada sang Adik.


Pasalnya selama ini Zea tidak pernah memiliki tamu kecuali teman-temannya yang hendak mengerjakan tugas bersama di rumahnya. Tentu saja Tamu kali ini membuat Shaka mencurigai Sang Adik!


"Mungkin si Aldo?" Zea meletakan sendok di piring dan berdiri.


Gadis itu pun berjalan ke depan ke arah luar untuk menemui Tamunya itu, Shaka dan Bi Nina mengekor di belakang Zea untuk memastikan kalau tamunya itu bukan orang yang berbahaya untuk Zea.


Benar saja apa yang di duga oleh Zea, bahwa Tamu itu adalah Aldo teman sekelasnya yang akan berangkat bersama ke rumah Rachel.


Aldo menunggu dengan elegan, dengan pakaian Casual khas anak muda dengan Motor spot yang menambah kesan Keren pada Diri laki-laki remaja berusia 18 tahun itu.


"Aldo!" Zea membuka pintu gerbang dan memanggil Aldo, Aldo pun menoleh dan tersenyum.


"Harusnya Lo kabarin Gue dulu Al. Bahkan Gue belum siap-siap" ujar Zea merasa tidak enak pada Aldo yang sudah jauh-jauh menjemputnya, tapi justru Zea belum siap karena baru saja bangun tidur.


"Tidak masalah Ze, Gue bisa tunggu Lo siap-siap dulu kok! Ujar Aldo tersenyum tipis.


Shaka yang sejak tadi terdiam memperhatikan interaksi Adik dan temannya itu, Pria itu menatap intens pada Aldo membuat Aldo menunduk, Aldo membungkuk sopan pada Shaka sambil tersenyum tipis. Sedangkan Nina memilih kembali lagi ke belakang setelah tahu kalau tamu itu adalah teman sekelas sang Putri.


"Masuk dulu Do. Gue mau siap-siap dulu!" Zea tanpa menoleh pada sang Kakak yang sejak tadi berdiri di sampingnya, Zea menarik lengan Aldo mengajaknya untuk menunggu di dalam rumah.


Shaka yang merasa di cueki oleh sang Adik, pria itu dengan cepat menyusul langkah Zea dan Aldo, dan memutus tautan tangan Zea yang menarik lengan Teman sekelasnya itu.


Zea dan Aldo langsung menoleh dan menatap bingung pada Shaka.


"Bisa jalan sendiri kan?" Sahut Shaka menatap tajam pada Aldo.


"Ih Kakak. Kebiasaan banget deh!" Zea mengerucutkan bibir nya menatap jengah pada sang Kakak.


Aldo hanya tersenyum tipis, meski dalam hati Aldo menggerutu kesal dengan sikap Kakak dari Zea itu yang kelewat posesif terhadap Adiknya, Aldo tetap bersikap tenang dan berusaha tetap ramah pada Shaka.


Aldo duduk dengan elegan di ruang tamu menunggu Zea yang sedang bersiap-siap. Aldo harus menunggu dengan sabar karena perempuan jika bersiap-siap untuk pergi memang sangat lama.


Shaka yang sejak tadi mengawasi pergerakan Aldo. Membuat Aldo merasa semakin tidak nyaman saja. Namun Aldo tetap menampilkan senyum terbaiknya di depan Kakak Dari Zea itu.


"Memangnya ada janji apa dengan Zea?" tanya Shaka mencairkan suasana tegang.


Aldo mendongak menatap Shaka datar lalu menjawab dengan jujur.


"Kita ada tugas kerja kelompok Bang di rumah teman kita yang lain!" jawab Aldo.


Shaka mengangguk-anggukan kepala dengan angkuh nya. Membuat Aldo menelan saliva, Aldo tentu bingung menghadapi Shaka yang terlihat sangat dingin.


"Jangan terlalu dekat dengan Adikku. Paham!" Shaka memperingati Aldo dengan tatapan tajam menatap pada Aldo.


"Iya Bang. Tenang saja. Saya akan jagain Adik abang sampai pulang lagi ke rumah!" Aldo meyakinkan Shaka dengan jantung yang berdetak kencang. Aldo benar-benar di buat menciut oleh sikap Shaka.


"Bagus!" Shaka kemudian berdiri dan beranjak ke kamarnya, meninggalkan Aldo sendirian menunggu Zea keluar dari kamarnya.


Zea yang sudah selesai bersiap-siap berpapasan dengan sang Kakak saat hendak turun menemui Aldo. Zea memicingkan matanya menatap sang Kakak dengan tatapan tajam.


"Nggak usah ngeliatin Kakak kayak gitu!" Shaka melirik Zea seraya mengusap wajah Zea dengan usilnya. Lalu melangkah begitu saja naik ke atas.


"Iissshh!" Zea mengerucutkan bibirnya mencibir dan menatap punggung sang Kakak yang menyebalkan baginya.


Zea kembali fokus pada Aldo dan segera menghampiri Aldo yang sudah dengan sabar menunggunya lumayan lama.


"Al. Sorry ya, nunggu lama!" ujar Zea setelah berdiri di hadapan Aldo.


Aldo langsung berdiri dan celingukan menatap sekeliling. Aldo takut Shaka masih berada di sekitaran dirinya mengawasi.


"Udah santai Aja, yuk berangkat sekarang!" Ujar Aldo, remaja itupun segera mengajak Zea untuk keluar.


Zea mengangguk dan mengikuti langkah Aldo dari belakang.


Aldo dan Zea langsung menuju dimana motor Aldo terparkir. Aldo langsung menyalakan motornya dan menginterupsi Zea agar segera naik seraya mengulurkan tangannya untuk memudahkan Zea naik ke atas motornya.


Zea menerima uluran tangan Aldo dan naik dengan aman ke atas motor Aldo.


Aldo segera meninggalkan rumah Zea setelah di rasa Zea sudah naik ke motornya dengan Aman.


Shaka dari atas balkon kamarnya tersenyum tipis menatap kepergian sang Adik dengan laki-laki lain dalam satu motor. Shaka menghela nafas berat dan memutar tubuhnya mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Shaka memilih untuk membersihkan diri dan segera pergi berkumpul dengan teman-teman geng nya!