
Sepulang Sekolah Zea menunggu Busway di halte karena Zea telah mendapatkan telepon dari sang Kakak kalau Shaka tidak bisa menjemputnya karena Shaka sedang mengalami Insiden yang tidak bisa di tinggalkannya, Shaka menyuruh Zea untuk pulang naik taxi namun Zea lebih memilih menunggu Busway saja untuk pulang ke rumah.
Zea masih menunggu dengan sabar kedatangan Busway itu, gadis itu duduk termenung di bangku tunggu di Halte itu, Zea menundukkan kepalanya sampai Zea tidak menyadari kedatangan Bima yang tiba-tiba duduk di sampingnya, Bima melongok wajah Zea sambil memiringkan wajahnya ke bawah membuat Zea kaget dan langsung duduk tegap menatap Pada Bima!
Bima Tersenyum melihat Zea yang kaget dengan wajah bingung menatapnya.
"Kok Kak Bima tiba-tiba ada di sini?" Zea celingukan mengamati sekeliling tidak ada siapapun selain dirinya dan Bima di sana.
"Adik Cantik ngapain sendirian di sini, Bahaya loh kalau di culik Om-om!" Bima balik bertanya sambil menahan senyum menatap Wajah polos Zea yang terlihat panik!
"Ih Kok Kakak malah nakut-nakutin sih!" Zea memberengut membuang muka ke depan. Zea menjadi kesal pada Bima, seketika Zea teringat kejadian tadi pagi saat Bima mengantar Rachel ke sekolah.
Bima masih betah menatap intens pada Zea, Bima merasa gemas dengan wajah Zea yang cemberut menurutnya begitu lucu.
Zea menoleh pada Bima dan menatap tajam membuat Bima mengerutkan dahinya.
"Kak Bima belum jawab pertanyaan ku, Kakak ngapain di sini?" Tanya Zea dengan juteknya menatap tajam pada Bima.
"Aku Nggak sengaja lewat sini, terus lihat kamu di sini, ya sudah aku samperin deh. Kenapa?. Nggak Boleh ya?" Bima memasang wajah Iba pada Zea sambil melongok wajah Gadis SMA itu dengan gemas.
"Tentu saja tidak Boleh, karena Kakak punya pacar dan Rachel bisa marah kalau tahu Kakak di sini bersamaku!, Memangnya Kakak tidak menjemput Pacar Kakak itu?" Ujar Zea dengan lantang sambil membuang muka menahan kesal.
Bima mengerutkan Dahinya di buat bingung oleh celotehan Zea yang sama sekali tidak dia pahami. Pacar. Rachel. Apa maksudnya!
"Pacar?, siapa?" Bima menatap intens pada Zea mencoba mencari jawaban.
"Iya. Kak Bima pacarnya Rachel kan. Tadi pagi Kak Bima mengantar Rachel ke sekolah kan?, Lalu kenapa Kakak mencoba untuk mendekatiku, Dasar playboy!" Zea memaki Bima dengan wajah kesal semakin membuat Bima gemas dengan bibir ranum yang cemberut itu!
Bima tersenyum kecil menanggapi celotehan Zea, Bima akhirnya menyadari kalau gadis di sampingnya saat ini sedang Cemburu padanya dan Sepupunya, Bima menahan senyum nya melongok kembali pada wajah Zea yang masih cemberut.
"Kamu Cemburu ya?" Bima tersenyum menatap Zea sambil menggoda.
Zea memalingkan wajahnya menghindari tatapan Bima, Zea merasa mati kutu di tatap intens oleh Bima.
"Kenapa aku harus Cemburu, memangnya Kakak Siapa?" Zea dengan juteknya menepis tuduhan Bima.
Bima lagi-lagi di buat gemas dan tersenyum lebar menatap pada Zea, Bima merasa Puas telah menggoda Zea dan Bima telah berhasil memancing reaksi Zea yang begitu berlebihan menahan cemburu pada Rachel!
Tidak lama kemudian Busway berhenti tepat di hadapan Zea dan Bima, Zea tanpa menoleh lagi pada Bima, gadis itu langsung naik Bus tanpa permisi.
Namun Bima merasa puas telah mendapatkan lampu hijau dari gadis yang dia sukainya itu untuk lebih bisa mendekatinya lagi!
Zea yang sudah hampir sampai Rumah nya meminta Supir Busway untuk berhenti di depan. Zea pun berjalan menuju ke rumah dengan hati yang masih kesal pada Bima.
Langkah Zea terhenti saat melihat Nina sang pelayan di rumah nya sedang berbincang dengan seseorang, orang itu adalah laki-laki paruh baya yang sudah lama tidak menemui Nina semenjak Nina hamil besar, bahkan saat Nina berjuang melahirkan Putrinya sendiri, laki-laki itu bahkan tidak muncul hanya untuk sekedar melihat bayi nya 18 tahun yang lalu!
Zea mengerutkan dahinya melihat Interaksi Nina dan Laki-laki itu yang tidak terlalu jelas dia dengar dari jarak yang lumayan masih agak jauh dari tempatnya berdiri. Zea melanjutkan langkahnya semakin mendekati Nina dan Laki-laki paruh baya itu membuat Nina kaget dan terdiam menghentikan ucapannya saat Zea berjalan semakin dekat ke arah nya.
"Bibi. Kenapa Tamunya tidak di ajak masuk?" Zea melirik sekilas pada Laki-laki paruh baya itu yang sejak tadi menatap intens pada Zea. Zea membungkuk sopan pada Laki-laki paruh baya itu!
"Tidak apa-apa Nona, Dia sudah mau pergi kok. Iya kan Pak!" Nina terpaksa senyum pada Laki-laki itu agar Zea tidak mencurigainya.
Dilan Ayah Biologis Zea itu Masih terpaku dan terdiam menatap dalam Zea, entah kenapa Hati Dilan merasa begitu dekat dengan gadis berseragam SMA Jegguk itu!
"Nona. Silahkan masuk duluan, nanti Bibi nyusul ya!" Nina yang melihat Dilan menatap Putrinya sejak tadi, segera menyuruh Zea untuk masuk lebih dulu. Nina tidak ingin Dilan terlalu lama menatap sang Putri, Nina juga tidak ingin Dilan mengetahui bahwa Zea adalah Putri kandungnya yang telah Dia tinggalkan sejak dalam kandungan!
Rasa kecewa dan sakit hati Nina pada Dilan 18 tahun yang lalu membuat Nina begitu keras menutup dan menjaga Rahasia tentang Putrinya yang sudah di adopsi oleh sang Majikan.
"Siapa gadis itu?" Tanya Dilan pada Nina setelah Zea masuk ke dalam rumah.
"Tidak perlu tahu siapa Dia!, yang jelas dia Nona muda di rumah ini, Silahkan pergi kalau sudah tidak ada kepentingan lagi. Aku Sibuk Mas!" Nina mengusir secara halus pada Dilan dan berbalik badan hendak membuka pintu gerbang namun Dilan menahan lengan Nina agar tetap tinggal.
"Di rumah ini bukankah hanya ada satu Putra laki-laki, kenapa bisa ada seorang putri, kapan Nyonya Liana Melahirkan putrinya?" Dilan masih kekeh mencari tahu tentang Putri kandungnya.
Bahkan Dilan tidak tahu Bayi yang di lahirkan oleh Nina itu bayi laki-laki atau perempuan, Setelah 18 tahun berlalu mengapa Dilan baru sekarang mencari Anaknya.
"Anak itu sudah meninggal, Jadi jangan pernah mencarinya lagi, dan jangan pernah mengganggu Nona Muda, pergilah Mas!" Nina dengan cepat masuk dan menutup pintu Gerbang.
Dilan terdiam menatap pintu gerbang yang sudah tertutup itu dengan hati yang tidak karuan. Dilan merasa begitu menyesal telah meninggalkan Nina dan calon Bayinya waktu itu. Kini menyesal pun percuma, Dilan hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menemukan info apapun tentang Bayinya.
Dilan pergi dengan perasaan yang hancur meninggalkan rumah mewah milik Sahabatnya Arnold dan Liana orangtua Shaka dan Zea itu!
Nina mengintip Kepergian Dilan dari celah pagar gerbang dengan hati yang begitu sakit dan hancur, Nina meneteskan air matanya sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Selama ini kamu kemana Mas. Aku sudah terlanjur kecewa terhadapmu, ma'afkan Aku Mas, Aku tidak akan membiarkan Putri kita bertemu dan mengetahui bahwa dia memiliki seorang Ayah yang jahat sepertimu!" Gumam Nina sambil menangis tanpa suara, Nina mengusap kasar air matanya dan berjalan gontai masuk ke dalam rumah sang Majikan!