
Hyu, maaf harus mengatakan ucapan perpisahan dengan cara seperti ini. Aku tau kau mungkin akan menyesal sudah membaca pesan dari orang yang sangat kau benci. Tapi sungguh, aku merindukan sosok Hyuji yang selalu memberikan motivasi padaku.
Aku ingin meminta maaf, dan juga, beberapa hari lalu aku bertemu HaNa. Tapi percayalah ini semua keputusanku sendiri.
Tolong jangan bersedih, atau menyalahkan dirimu setelah tau apa yang terjadi padaku. Dan jangan pula menyalahkan orang lain karena ini memang keputusanku.
Hyu, hiduplah bahagia bersama John. Dan jangan katakan apapun pada ibu dan Roy tentang apa yang sudah aku lewati saat hidup di seoul.
Aku menyesal hanya bisa mengatakan ini tanpa melihat dirimu dihadapanku. Tapi aku bahagia karena kau dan John terlihat sangat cocok.
Aku rasa tidak ada lagi yang bisa aku katakan.
Aku kalah Hyu,
Aku ingin pergi, melupakan semuanya. Maafkan aku sekali lagi.
Sampi jumpa di daegu,
Semoga kita bertemu kembali dikehidupan selanjutnya masih sebagai Reyna dan Hyuji yang sama. Terima kasih sudah hadir untukku. Aku menyayangimu.
sahabatmu, Reyna.
***
Untuk kesekian kalinya, Hyuji melangkahkan kaki di tempat yang sama. Meletakkan tas hitamnya diatas meja kecil didepan sofa, tubuhnya terpantul pelan kala terduduk diatas bentangan empuk berwarna krem tersebut. Bernafas seolah menghirup udara hampa, menatap lurus dengan pandangan kosong tak ada makna.
"Harusnya aku tak bicara apapun padamu saat itu! "
"Harusnya kau mengatakan itu lebih cepat! Itu yang lebih tepat John! " sahutnya cepat dengan tatapan lurus pada foto pernikahan sederhana dirinya dan John Wilson.
John tak menimpali jawaban apapun, dia hanya kembali melangkah dan mengambil segelas air putih untuk menghilangkan dahaganya setelah mengemudi lebih dari dua jam lamanya.
"Meskipun begitu, tak akan mengembalikan Reyna! "
Namun, kini Hyuji menatapnya lebih tajam dari tatapan seekor serigala yang sedang mengintai mangsanya. Hyuji tersenyum sarkas, mengepal kuat pada kedua telapaknya.
"Setidaknya, jika kau mengatakan perasaanmu tentang Reyna lebih awal padaku, kau bisa menyelamatkan dia! Menikah dan menjadi pengganti sosok bajing*n yang sudah menghancurkan harapan hidup Reyna! " nafasnya memburu diikuti lelehan cairan bening dari pelupuk matanya, Hyuji meringkuk.
John terpaku, tak bisa mengatakan apapun sebab semua yang dikatakan Hyuji ada benarnya. Jika saja ia bicara jujur sejak awal, jika saja dia meminta Reyna yang menjadi pendamping hidupnya malam itu, dan jika saja dia tak menyebut nama Reyna dalam pertengkarannya bersama Hyuji, mungkin saja semua hal itu tak akan terjadi. Mendadak merasa seperti ditindih beton yang terlampau berat dikedua pundaknya, John tertunduk kalah.
Mengangguk sekilas, John berjalan mendekat pada sosok Hyuji yang masih terisak diantara kedua kakinya yang terlipat. "Maafkan aku... " ucapnya sambil meraih pucuk kepala Hyuji, yang mendapat tampikan keras dari telapak Hyuji.
"Aku---ingin membuka lembaran baru bersamamu!" pinta John dengan suara madu yang parau. Mencoba mengikis semua kesedihan dan penyesalan yang menggulung jiwa Hyuji. "Jangan salahkan dirimu sendiri, biarkan ini berlalu Hyu! Aku tau mungkin ucapanku terdengar egois tapi---" suara John kembali tercekat, hampir tersedak salivanya sendiri kala melihat Hyuji mengangkat wajah untuk melihat padanya. "Aku akan berusaha membuatmu lebih baik! "
***
Kesadaran Val seolah ditarik kembali pada dirinya saat maniknya menangkap presensi seorang wanita sedang menggunakan dapurnya. Berantakan, bahkan dia samar-samar mendengar wanita itu berdecak kesal saat minyak didalam penggorengan itu meletup mengenai kulit putihnya.
Ia letakkan tas dan juga jas kerjanya dimeja ruang tengah, memerhatikan punggung kecil wanita yang tak lain adalah istrinya, HaNa.
"Sesibuk itukah dirimu sampai tak melihatku pulang? "
"Ah, kau sudah datang? Aku pulang lebih cepat, jadi aku putuskan untuk membuat makan malam untuk kita?! "
Val tidak yakin akan menu yang akan terhidang diatas meja makan nanti.
"Berhenti, dan kita pesan saja! "
"Hei, jangan meremehkan aku! "
"Tapi aku tidak yakin makanan itu tidak membuatku sakit perut nanti! " cercanya sambil melipat tangan didepan kedua dadanya.
HaNa memutar bola matanya melihat sekitar, mendapati dapur sudah seperti kapal yang mendapat serangan dari kawanan perompak.
"Maaf... "
Mendengar kata maaf, mendadakan Val menghapus senyuman diwajahnya. Berjalan masuk ke kamar, buru-buru HaNa mematikan kompor dan menyusul Val.
"Terserah! " jawabnya singkat.
"Kenapa sepatumu kotor seperti itu? Darimana saja?! "
"Kau tidak perlu tau! "
"Apa maksudmu? "
Val menghentikan jarinya yang melepas tali sepatu dan membiarkan pandangannya mengedar diudara. Nyaris berkata, namun terhenti tepat saat HaNa keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat keras. Val menghela nafas, menegakkan punggungnya dan menatap pada belah pintu yang baru saja mengejutkan dirinya, kemudian bergumam. "Jika aku mengatakannya, kau pasti tidak akan bisa menerimanya! Karena kau terlalu sibuk membencinya! "
Val ingat betul bagaimana Reyna berharap dirinya bahagia bersama HaNa meskipun menyakiti perasaannya sendiri. Memejam sejenak, Val melihat senyuman Reyna menyapa dalam imajinasinya. "Aku akan berusaha Rey, semampuku! Seperti yang sudah kau minta padaku! Sebuah kata yang bahkan mungkin tak pernah kau rasakan saat melihatku! "
Seperti ombak yang datang menyapu pasir ditepi pantai, Val dipenuhi rasa bersalah, mengerang dalam helaan nafasnya perlahan dalam sesal.
"Maafkan aku... "
***
Roy mendapat beasiswa disebuah universitas ternama di korea. Tahun ini memang menjadi tahun yang sangat berat untuk dirinya dan keluarga. Kepergian sang kakak yang mendadak, dirinya yang harus menghadapi ujian akhir sekolah yang sungguh menguras isi otaknya, dan juga merawat ibunya yang sudah renta. Namun ia jalani dengan tulus, menyayangi dan menjaga ibunya seperti yang diinginkan mendiang Reyna.
Dan semua usahanya berbuah manis. Akan tetapi menjadi sebuah dilema saat melihat kesehatan ibunya yang semakin menurun.
"Aku akan merawat ibu saja disini! "
"Kau harus pergi demi masa depanmu Roy?! "
Roy menggeleng, menangkup jemari berkerut ibunya pada kedua telapaknya yang besar.
"Tidak ibu, ibu adalah segalanya bagi Roy! Roy tidak akan pergi kemanapun! Mengolah perkebunan sudah menjadi pekerjaan Roy! "
Roy tersenyum lembut memandang fitur sang ibu yang sedang terbaring diatas ranjang tua didalam kamar. "Roy akan merawat ibu dan menjadi petani buah yang sukses! Jadi ibu tidak perlu khawatir dan cepatlah sembuh! "
Sang ibu menitihkan airmata, hatinya menghangat, meraih putranya yang sudah dewasa kedalam pelukan.
"Baiklah, rawat ibu dengan baik sampai ibu pergi nanti, dan ibu berharap kau mendapat ganjaran yang setimpal akan kebaikanmu sayang! "
Roy tersenyum, memeluk erat sang ibu penuh kasih.
Kau harus hidup dengan baik, rawat ibu semampumu. Perlakukan ibu seperti kau memperlakukan dirimu sendiri, dia adalah segalanya Roy.
Jika kau tiba-tiba menemukan aku hanya berupa makhluk tak bernyawa didalam sebuah peti, berjanjilah untuk tetap menjadi pria dewasa yang kuat seperti yang aku kenal. Jangan menangis dihari pemakamanku, dan pergunakan tabungan yang kakak berikan dengan baik untuk kehidupanmu dan ibu. Tidak banyak, tapi bisa kau gunakan sampai kau lulus sekolah dan mendapat pekerjaan.
Dan satu hal lagi, saat kau menemukan surat ini, berjanjilah untuk tidak mengatakan apapun pada ibu. Hanya dirimu. Kakak percaya padamu, dan juga, Maaf kakak tidak bisa menemanimu sampai akhir.
Hiduplah dengan baik dan bahagia sampai kau benar-benar menemukan seseorang yang baik sebagai pendamping hidupmu.
Ah, pasti senang melihat kau tumbuh dewasa dan menikah. Tapi maaf, maafkan kakakmu sekali lagi karena harus menyerahkan tanggung jawab seberat ini untuk dirimu. Maafkan kakak,
kakak harap kita bertemu kembali pada kehidupan baru masih sebagai saudara, lahir dari rahim yang sama, dan besar dengan orang tua yang sama pula.
Berbahagialah selamanya. Roy.
Kakakmu,
Reyna.
----FIN----
Terima kasih atas semua perhatian dan cinta dari para pembaca.
Sampai berjumpa dikarya selanjutnya...
💜💜💜
Vizca.