
Seperti kesepakatan sebelumnya yang ia buat bersama Hyuji, Val tak lagi menampakkan diri di sekitar meja kerja Reyna. Dia bahkan mendengar Reyna sudah mulai bekerja lagi hari ini.
Entah mengapa, debaran dalam hatinya semakin menjadi kala mendapatkan balasan pesan dari Hyuji jika Reyna ingin menemuinya diakhir bulan desember.
Val meraih kertas bertuliskan angka-angka yang duduk manis di atas meja kerjanya. Hari ini, masih tanggal lima belas, masih pertengahan desember.
"Apa dia ingin mengatakan sesuatu dihari kelahiranku?! "
Memang, akhir desember, lebih tepatnya tiga puluh desember adalah hari kelahiran Val. Dimana pada tanggal itu juga, mereka berdua menjadi sepasang kekasih, saat itu.
Val mengulum sebuah senyuman, meraih ponsel dan membuka kembali pesan dari Hyuji beberapa hari lalu.
Reyna ingin bertemu, akhir desember, sore, ditempat biasa kalian bertemu dulu! Jangan lupa, atau kau akan habis ditanganku!
Val malah terkekeh membaca pesan Savage dari seorang Hyuji. Gadis itu tak pernah berubah, tetap sensitif jika menyangkut Reyna.
"Baiklah, mungkin aku akan menjadi egois untuk kesekian kali! Aku akan bertemu dengannya disana! "
Jahat ya? Mungkin Val akan dikutuk dikehidupan selanjutnya karena sudah mempermainkan perasaan gadis sebaik Reyna, namun ia rela terlahir kembali sebagai apapun untuk menebus dosanya saat ini. Dia masih mencintai Reyna dan tak ingin melepasnya meskipun dia sudah menghianati gadis baik itu.
-
-
-
John, pemuda tersebut sibuk membaca laporan hasil penjualan di cafenya selama musim dingin berlangsung.
Tidak buruk, malahan, penjualannya mengalami kenaikan. Hingga sebuah ketukan menyambangi rungunya, menampakkan seorang supervisor cafe bersama presensi lain dibelakangnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah ibundanya, Joana Wilson.
Wanita bergincu merah menyala tersebut memang terkadang sesekali datang untuk melihat keadaan cafe putra keduanya tersebut.
"Mama, mengapa tidak memberitahu jika datang? "
"Mama kebetulan lewat sini saat kembali dari kantor! Bagaimana keadaan cafemu John? "
"Tidak ada yang perlu mama khawatirkan! Semua berjalan baik dan sesuai rencana!"
Wanita dalam balutan pakaian mahal bermerk tersebut mengangguk lembut, berjalan mendekat pada jendela dilantai dua, menatap keluar dimana hari mulai gelap.
"Beberapa hari yang lalu, pegawaimu bilang, kau pergi bersama seorang gadis, siapa dia dan bagaimana latar belakang keluarganya?"
John terdiam sejenak, memerhatikan sang ibu yang sedang melipat kedua tangannya didepan dada.
"Teman, dia hanya seorang teman Mam..."
"Kau tau, mama tidak suka kau bergaul dengan sembarangan gadis! "
"Iya ma, aku masih mengingatnya! "
"Lalu, katakan! Siapa dan dari mana dia berasal! Dan juga seperti apa keluarganya?! "
Menimbang secara jeli, John rasa itu adalah hal yang kurang pantas dibicarakan dikantor seperti ini.
"Aku akan datang ke rumah mama nanti!"
Perlahan, sang ibu mendekat. Mengusap pucuk surai putranya dengan lembut, penuh afeksi.
"Baiklah! Mama tunggu! Ajak dia bersamamu!"
Wanita itu meraih tas hitam mengkilatnya yang ia letakkan di atas meja kerja John saat tiba tadi, kemudian melenggang keluar. Menyisakan John yang masih terpaku, memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan nanti saat kedua orang tuanya bertanya.
Menghela nafas dalam, lalu menegakkan punggung kekar dengan bahu lebarnya, John meraih ponselnya. Menekan sebuah nomor kontak yang tersimpan pada persegi pintarnya tersebut, hingga pada beep ketiga, seseorang diseberang menyahut dengan suara lembut.
"Ada apa John? "
"Hyu, tidak, maksudku kak Hyu---"
"Hei, panggil aku seperti biasa saja! "
"Oh, okey!"
"Jadi, ada perlu apa menghubungiku?! "
John ragu, tapi tidak ada pilihan lain.
"Aku... Maksudku, apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu? "
"Eung, aku sudah dirumah! Kenapa? "
"A-aku, perlu bantuanmu! "
"Katakan! "
"M-mamaku mendapat laporan dari seorang pegawai saat aku membawa Reyna keluar dari Cafe beberapa waktu lalu! Dia ingin bertemu, Dan aku tidak mungkin membawa Reyna dengan kondisinya saat ini bukan?! "
Jauh disana, Hyuji yang sedang menikmati sore harinya dengan mengunyah sekantong keripik singkong pedas kesukaannya, terperangah. Membulatkan kedua maniknya bersamaan kala mendengar pemuda John itu memintanya untuk datang menemui orang tuanya.
Jantung Hyuji berdebar tak karuan, mungkin hanya sebuah sandiwara, tapi dia rasa sedang diberi anugrah oleh Tuhan . Sepertinya ucapan Reyna tempo hari menjadi nyata. Apa mereka berdua berakhir menjadi sepasang jodoh yang sudah ditulis oleh sang Maha Pencipta?
"A-apa??! "
"Mama memintaku bertemu, kau... mau membantuku bukan?! "
"Mana mungkin aku---"
"Kau cukup berbicara apa adanya saja! "
"Se-semudah itukah? "
"*Selebihnya, serahkan padaku! Atau jika tidak, aku akan berakhir dengan orang yang tidak aku cintai*!"
Hyuji tak tau harus menolak atau menerimanya. Akan tetapi, apa salahnya hanya membantu, toh John juga sudah banyak membantunya.
"Ba-baiklah! "
"Kalau begitu, bersiaplah! Kirim alamat tempat tinggalmu! Aku akan menjemputmu! "
"I-iya... "
Panggilan berakhir, dan kini, dia sibuk mengacak isi lemari guna mencari pakaian yang pantas untuk ia kenakan demi bertemu keluarga John. Ada jeda sekitar tiga puluh menit untuknya mempersiapkan diri.
"Yaiiisshh!! Kenapa tidak ada pakaian yang bagus dan cocok sih!"
Hyuji harap, setidaknya, ada sepotong dress yang bisa ia kenakan malam ini. Dan agaknya, Tuhan memang memberi jalan, ada sebuah dress hitam tergantung paling ujung di dalam lemari.
"Ah, aku selamat! Terima kasih Tuhan... "
Hyuji bergegas, mengganti pakaian santainya dengan dress hitam yang ia kenakan saat acara kantornya sekitar dua tahun lalu. Sedikit menata rambut dan mengikuti saran Reyna saat dia bertemu pertama kali dengan John dulu.
"Make-up nya tidak perlu terlalu tebal! "
Hingga akhirnya John datang, dan mereka berdua tanpa terasa sampai begitu saja didepan rumah orang tua John. Hyuji tidak tau jika rumah orang tua John semegah itu, ia bahkan tidak tau jika dirinya dijamu layaknya tamu penting keluarga.
"Ikuti aku, atau Lakukan saja sebisamu! " bisik John saat mendapati raut khawatir Hyuji melihat peralatan makan yang begitu berfariasi dihadapannya. Gadis itu mengangguk.
Dua presensi sedang menuruni anak tangga, seorang wanita dan pria yang ia yakini adalah orang tua John.
Mereka membungkuk memberi salam hormat saat keduanya sampai dimeja makan kelewat lebar itu, lalu turut mendudukkan diri saat keduanya sudah menyamankan diri mereka.
"Jadi siapa namamu nak? " tanya ayah John.
"H-hyuji, paman..."
Dia melihat sekilas pada pria Kisaran enam puluh tahunan itu, pria itu tersenyum ramah.
"Ayo kita selesaikan makan malam kita dulu, setelah itu kita bisa ngobrol sepuasnya setelah perut kenyang! Tidak perlu secanggung itu nak," lanjut pria berwajah sedikit ke-bulean itu.
"Ah, iya... " jawab Hyuji sopan sambil sedikit merunduk dan tidak lupa membubuhkan senyuman termanisnya. Namun maniknya bergetar kala presensi wanita yang sejajar dengan tempat duduk John mulai membuka suara.
"Banyak hal yang ingin aku tau tentangmu, aku harap kau sudah menyiapkan jawaban yang tepat untuk meyakinkan aku melepas putraku! "
Hyuji mendapati tatapan tak suka dari mama John tersebut. Dia bahkan melihat senyuman mengintimidasi dari wanita paruh baya itu. Dan lagi, Hyuji tak tau maksud dari ucapan Mama John tentang melepas putranya. Apa wanita itu mengira John dan dirinya memiliki hubungan spesial?
"Mam,---"
"Aku tidak ingin putraku berakhir dengan wanita yang salah!"
Entah mengapa, hati Hyuji serasa diiris secara sadis. Kepalanya tertunduk semakin dalam, dirinya yang sudah merasa rendah sebelum bertemu tadi, kini terasa semakin jatuh kebawah. John meraih telapak Hyuji tanpa memutus kontaknya dengan sang ibu.
"Mam, aku mencintai dia apa adanya!"
Bohong, ini hanya sandiwara bukan? Jika John berbuat sejauh ini, maka aku akan semakin terseret masuk pada kehidupannya dan juga keluarganya bukan?, Batin Hyuji meronta.
"Hidup tidak melulu tentang Cinta sayang! Akan tetapi Hidup itu tentang pilihan, sekali kau salah memilih, kau bisa saja kehilangan segalanya! "
"Benarkah? Jadi harus yang seperti apa aku menjatuhkan pilihanku, Mam? "[]