Vienna

Vienna
33. I'm Fine.



Pagi ini, masih dikungkung suhu yang menggigil, Reyna membuka kelopak matanya perlahan saat jam waker diatas nakas membangunkannya. Meraihnya setengah sadar, Reyna terduduk. Memijat pelipisnya sekilas. Kemudian menatap kalender yang tergantung di dinding kamarnya.


Sudah lewat tanggal dua puluh, dan dia berencana akan mengajukan cuti akhir tahunnya besok. Karena dia sudah rindu kepada ibu dan adik laki-lakinya di desa, rindu sekali.


Dia ingin kembali pulang ke kampung halaman selama pergantian tahun, dan juga, tentang janjinya akan bertemu seseorang disana.


Wajah seseorang tersebut tergambar jelas dalam ingatan, tak pernah luruh meskipun dia mencoba untuk menghancurkan setiap detail fitur yang nyatanya semakin tak mampu ia lupakan. Membekas seperti sebuah luka yang tak akan bisa sirna.


Rasanya dia ingin pergi bertemu Jimmy saja hari ini. Mengatakan sesuatu dengan pribadi itu mungkin bisa meringankan sedikit bebannya, begitu, kira-kira.


Reyna mengerjap dan bangkit dari ranjangnya menuju jendela, membuka gorden yang nyatanya menampakkan matahari bersinar redup hari ini. Melihat sekilas bekas luka gores di pergelangan tangan kirinya, terlihat guratan yang masih memerah, hatinya terasa nyeri. Sungguh Menyakitkan. Namun ia berusaha tersenyum, bersyukur karena memiliki teman sebaik Hyuji yang masih setia berada disisinya. Meski dirinya sedang terpuruk.


Berjalan kembali kearah nakas dan duduk ditepian ranjang. Meraih ponsel dan mencari kontak Jimmy untuk membuat janji dengan pemuda yang juga seorang dokter psikis pribadi Reyna.


Dia menghembus nafas lega kala Jimmy memberikan respon cepat, meskipun mereka baru bisa bertemu siang hari nanti.


-


-


-


Pukul dua belas lebih sepuluh menit, Reyna sudah sampai disebuah cafe dan duduk di salah satu meja didekat bentangan kaca yang menampakkan jalanan siang seoul yang lumayan lengang hari ini.


Sebuah pandangan menyita atensinya, dimana sepasang kekasih berjalan melewati cafe sambil bergandengan tangan, saling berbincang, juga saling berbalas tatap dengan perhatian dan senyuman hangat.


Dan lamunannya berhambur sirna saat seorang waitress datang menawarkan menu, Reyna memutuskan untuk memesan dua Cup americano hangat. Setaunya, Jimmy juga menyukai americano.


Hingga akhirnya yang ditunggu tiba, Jimmy datang dengan pakaian santai dan jaket tebal, kemudian duduk tepat dihadapan Reyna. Dia harap mereka tidak canggung saat bicara nanti, mengingat dirinya tidak seperti Hyuji yang pandai memulai pembicaraan.


"Maaf terlambat! Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan! "


"Tidak apa-apa! Aku juga baru saja sampai kok! "


"Oh, kalau begitu, mau pesan minuman apa? " tanya Jimmy antusias sambil melepas jaketnya.


"Aku sudah memesan americano hangat! Kau juga suka minum americano kan? "


Jimmy mengangguk, membuat Reyna lega karena tidak membuat pesanan yang salah.


"Jadi, ada sesuatu yang ingin dibicarakan? " suara Jimmy kembali terdengar, dia melipat kedua lengannya diatas meja yang nyatanya terasa lebih dingin dari perkiraannya.


Reyna tertegun seketika. Kepalanya tertunduk takut salah bicara.


"Sebenarnya aku bosan dirumah! Hyuji sedang pulang ke daegu! Apa aku menyusahkanmu Jim? "


"Tidak, tentu saja tidak! Aku Free hari ini! Tapi ada hal yang harus aku kerjakan pagi tadi! Itulah sebabnya aku tidak bisa bertemu denganmu pagi-pagi. Baiklah, sekarang mari kita berbicara tentang apapun! "


Ternyata, suasananya tidak secanggung yang ia bayangkan. Jimmy berubah menjadi sosok yang lebih bersahabat saat diluar klinik.


"Aku dengar kau baru saja dirawat dirumah sakit?" tanya Jimmy memulai pembahasan, agak sensitif, tapi Reyna percaya penuh pada pemuda dihadapannya itu.


"Eummm... " mengangguk, memberikan jawaban singkat kepada Jimmy dengan jemari yang saling meremat diatas pahanya, dibawah meja kayu yang dingin.


"Sekarang, bagaimana keadaanmu? "


"Cukup baik! Bahkan aku juga sudah mulai bekerja lagi! "


"Kau... masih berada disana? " tanya Jimmy ragu bersamaan sedikit memiringkan kepalanya.


Reyna mengangguk, ia tak tau harus bagaimana dan mencari pekerjaan dimana lagi jika pergi dari perusahaan asuransi milik keluarga Val, tempatnya bekerja saat ini.


"Rey, aku pernah bilang padamu itu tidak akan baik-baik saja untukmu bukan?! "


Jimmy mengerutkan keningnya menelisik, sebenarnya apa yang membuat Reyna sampai tak bisa melupakan sosok kekasihnya itu.


"Aku ada cuti selama tahun baru, dan aku akan pulang ke daegu untuk beberapa hari! " lanjutnya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Bagus, mungkin itu bisa kau gunakan untuk merefresh fikiran! "


Benar, seharusnya Jimmy mendukungnya seperti itu saja. Walaupun Reyna tak pernah mengatakan tujuannya pulang ke daegu adalah untuk bertemu Val.


"Benar! Aku ingin melakukan itu! "


"Jadi bersenang-senang lah selama masa liburmu! " Hibur Jimmy pada Reyna yang saat ini juga sedang melihat padanya.


"Apa harapanmu ditahun yang hendak berganti ini Rey? " imbuh Jimmy bersama menyesap americano hangat yang baru saja diletakkan waitress dimeja mereka.


Mendadak, alunan musik didalam sana berubah menjadi sebuah instrumen yang terdengar sendu.


"Aku? Simple saja! Aku berharap semoga ibuku selalu diberi kesehatan, adikku juga! Dan aku harap tahun depan berjalan lebih baik! " Reyna menjeda sejenak. Kemudian melanjutkan, "Ya, aku harap baik-baik saja! "


-


-


-


Senin,


Dimana semua aktifitas menjadi seperti sebuah dejavu, sibuk, bahkan membuat fikiran menjadi semakin stress saking banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan.


Reyna datang membawa surat pengajuan cuti akhir tahun keruang kepala devisi. Sosok pemimpin devisi yang masih sama saat memberikan dia semangat beberapa waktu yang sudah lewat. Pak Park.


Mengetuk pintu, kemudian membukanya perlahan. Dilihatnya pak Park sedang sibuk dimeja kerjanya, ada seseorang yang sedang berdiri disisi kanannya. Tak ingin mengganggu, Reyna duduk pada kursi tunggu yang tersedia diruangan luas tersebut. Menanti gilirannya berbicara sambil menatap kosong amplop berwarna putih ditelapak tangannya.


Sedetik kemudian, mengangkat kembali pandangan guna mengagumi alam. Terlihat samar dibalik bentangan kaca, cahaya senja yang selalu Indah. Reyna bahkan selalu menyukai warna jingganya, hingga tanpa sadar ia termangu. Terlonjak dalam kejut saat presensi lain yang tadinya berada disamping pak Park tiba-tiba berjalan keluar dan membungkuk padanya, disusul suara pak Park yang terdengar menyambangi rungunya.


"Reyna, ada perlu apa? Kemarilah! "


"Ah, Nee... "


Suara ketukan sepatu Reyna memenuhi seantero ruangan, lalu menyerahkan amplop berwarna putih yang sedari tadi ia tatap kepada pak Park. "Saya mau mengajukan cuti akhir tahun Park-nim! "


Pak Park membuka amplop dan membaca surat pengajuan cuti tersebut, kemudian membubuhkan tanda tangan dan juga stempel devisi mereka.


"Aku akan mengabarimu besok! Aku harus meminta persetujuan CEO dulu! "


"Ah, baiklah! Kalau begitu saya pamit undur diri... "


Pak Park mengangguk, namun kembali menghentikan langkah Reyna kala dia sudah hampir sampai diambang pintu.


"Rey... "


Reyna menoleh seketika, surai panjangnya turut berputar dan jatuh didepan bahunya yang terbalut blazer hitam legam.


"Nee? "


"Kau baik-baik saja kan? " tanya pak Park ingin memastikan.


Dalam sisa kejut, Reyna memutar bola mata sekilas, mencari jawaban yang sekiranya tepat untuk ia utarakan. Lalu kembali menatap torso kepala revisinya, tak ingin menunjukkan luka batin yang ia derita, dengan berat hati Reyna memberikan sebuah senyuman hangat kepada pria paruh baya itu sembari mengangguk meyakinkan.


"Ya, tentu saja, saya baik-baik saja! "[]