Vienna

Vienna
35. Memorable Place *1.



(Rekomendasi playlist musik- Song from a secret garden. Atau kalian bisa memutar musik apapun di play list kalian yang bisa membawa nuansa menjadi sendu. Resapi bersama alunan musiknya. Thank's.) Happy Reading...


Katakan saja jika Reyna adalah gadis periang yang sampai saat ini masih sama. Sebab, dia selalu menunjukkan sisi cerianya dikedua presensi yang begitu ia sayangi, sang ibu dan adik semata wayangnya, Roy.


Dulu, saat Reyna berusia sembilan tahun, dia sangat membenci adik laki-lakinya yang baru lahir karena merasa perhatian ayah dan ibunya beralih pada sang adik. Akan tetapi, kini, dia sangat bangga pada pemuda yang nyatanya begitu baik tersebut. Bahkan merawat dan menjaga ibu mereka jauh lebih baik dari dirinya—pikir Reyna.


Hari ini, tanggal dua puluh sembilan desember. Langit senja hanya terlihat abu-abu. Sebab, menurut ramalan cuaca pagi tadi, sekitar pukul delapan malam hingga dua dini hari nanti akan turun salju.


Reyna berjalan menyusuri beberapa gang demi menuju sebuah toko kue diujung desa, dan dia berharap toko itu belum tutup karena gulung tikar atau hal semacamnya.


Mempercepat langkah hingga sampailah dia di pertigaan yang akan membawa Reyna pada toko kue kesukaannya saat masih duduk dibangku sekolah dulu. Dia bernafas lega karena toko tersebut masih berdiri kokoh, masih dengan harum kue yang sama.


Suara gemerincing bel yang ada pada pintu terdengar nyaring saat dia berhasil mendorong bilah kaca tersebut. Seseorang menyambutnya, bertanya pada Reyna dengan lembut tentang Kue apa yang ingin dia nikmati di sore hari yang dingin seperti ini.


Manik Reyna berkeliling memilah kue didalam etalase. Ada banyak bentuk dan rasa yang berbeda, namun atensinya tertuju pada sebuah kue kecil berbentuk bulat dengan balutan coklat yang terlihat lezat.


"Unnie, bisakah saya memesan kue itu untuk besok sore? "


"Yang ini? "


Reyna mengangguk,


"Tentu saja, apa untuk seorang kekasih? " tanya sang penjaga toko.


"Teman, "


"Ah, maaf! Saya kira untuk kekasih?! Karena kue ini kebanyakan dipesan oleh pasangan yang ingin merayakan ulang tahun kekasihnya! "


Tak mau larut dalam perbincangan yang semakin mengulur waktu, Reyna segera membayar sesuai harga yang tertera dan berniat mampir disebuah mini market untuk membeli minuman hangat dan kembali berjalan menuju rumahnya dengan cepat.


Namun, sekali lagi langkahnya terhenti tepat didepan sebuah bangunan tradisional, dimana dulu seorang pemuda bersama neneknya tinggal disana.


"Mereka benar-benar menjualnya! " gumam Reyna pelan sebab melihat dua orang yang tak ia kenali terlihat sedang duduk diteras sambil bercengkrama dan menikmati minuman.


Mendadak rasa cemas menyambangi benak Reyna. "Apa Val tidak akan datang besok? Hyuji bilang Val tak membalas pesan yang dia kirim! " Reyna gelisah, jika saja memang Val tidak akan datang, dia hanya perlu menikmati kue itu sendirian kan? Disebuah tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang mereka berdua.


Reyna kembali melangkahkan kakinya dengan gusar, melewati gang yang sama hingga pagar rumahnya kembali terlihat.


Jemarinya terhenti saat hendak mencapai pagar yang terbuat dari kayu tersebut, Reyna kembali menengok kebelakang. Rambut panjang itu tertiup angin hingga sedikit berantakan dan menutupi wajah cantiknya. Dikejauhan, terdengar samar-samar bunyi lonceng kereta yang berdenting. Seolah membawanya kembali kemasa lalu.


"Aku harap kita bertemu sekali lagi Val..." Ucapnya sendu, kedua mata, hidung, dan juga telinganya memerah. Entah karena suhu yang semakin menurun, atau dirinya yang sedang menahan sebuah perasaan yang muncul secara tiba-tiba. Membuncah hingga mbuat hatinya terasa begitu ngilu. Reyna meremas pakaian tepat didada.


Air matanya menetes satu per satu, membasahi pipi yang juga mulai berubah memerah.


"Aku harap kau bahagia bersama wanita yang menjadi pilihanmu, meskipun aku yang harus merasakan semua rasa sakit terlampau mengerikan ini! "


Kedua kakinya masih terpaku diantara tanaman yang tertimbun salju sisa kemarin malam.


"Bahkan aku masih tidak bisa melupakan dirimu! Sama sekali tidak bisa! "


Rintik hujan mulai ia rasakan menyentuh kulit kepala. Menyakitkan, bahkan mampu membuat kewarasannya semakin luruh.


"Aku—" Suaranya tercekat, nafasnya tersengal hebat, hampir tersedak salivanya sendiri, Reyna melanjutkan. "—Aku, masih mencintaimu sama seperti dulu! Aku masih merindukanmu sebanyak dirimu tak lagi melihat, atau bahkan mengingatku!"


Reyna tertunduk, bahkan butiran bening itu meluncur semakin deras. "Aku mencintaimu Val! Selamanya! Selama hidupku! Meskipun kau tak akan pernah tau! Maafkan aku yang egois!"


-


-


-


Val sudah menyelesaikan semua pekerjaan dan meminta sang sekretaris untuk menghandle semua pekerjaan yang mungkin akan terbengkalai karena kepergiannya selama dua hari nanti.


Senyuman merekah selalu menghiasi bibirnya, dia merasa sangat bahagia hari ini.


Setibanya di apartemen, Val mengemas beberapa pakaian untuk ia pergunakan menginap di Villa yang sudah ia pesan beberapa hari lalu, di daegu. Ia sedikit kesal, sebab harus menyewa Villa karena keluarga ayahnya menjual rumah peninggalan sang nenek.


"Harusnya mereka juga melibatkan aku! Aku lahir dan besar disana bersama nenek! Tapi mereka menjualnya tanpa seizinku, saat aku sibuk di luar negri! " gumam Val.


"Aku bisa saja menuntut mereka, tapi aku tidak sejahat itu! Mereka keluarga ayah dan aku masih menghormati mereka sebagai saudara! Keterlaluan!! "


Tiba-tiba saja, netranya tertaut pada cincin yang masih melingkar di jari manis. Dia ingat sang pemilik pasangan cincin tersebut menghubunginya beberapa saat lalu, meminta untuk menjemput malam ini karena ingin bermalam di apartemen Val guna memperingati ulang tahun berdua nanti malam, akan tetapi Val sudah berhasil menolak dan memberikan alasan yang membuat HaNa mau tidak mau harus melepas Val.


Tak bicara apapun, Val kembali mengemas segala keperluan yang akan ia bawa kedalam koper.


Tentang pertengkaran mereka beberapa waktu lalu, Val memutuskan untuk memikirkan dampak dari ancaman HaNa.


Merasa bersalah, tentu saja. Benaknya merasakan hal tersebut. Akan tetapi, dirinya sudah membulatkan tekad untuk bertemu Reyna.


"Maafkan aku HaNa, aku terpaksa berbohong karena aku tidak bisa lari dari perasaanku sendiri! Jadi, sebelum aku benar-benar menjadi milikmu, aku ingin melihat dan meyakinkan jika Reyna memaafkan aku, untuk yang terakhir kali! "[]