
John berjalan kearah meja kasir yang saat ini, orang-orang disana juga menatap kearah satu meja dan menjadi pusat perhatian. Bibirnya mengerucut lucu dengan manik rusanya yang berusaha menebak drama apa yang sedang terjadi disana.
"Ada keributan apa?! "
Seorang pegawai terlonjak saat mendengar suara rendah dan manis John yang bertanya diantara hening, membuat kesadaran gadis dalam balutan seragam hitam dan abu-abu itu kembali, lalu menjawab dengan suara tergagap.
"Sa-saya juga kurang tau John-nim, sepertinya masalah Cinta! "
John hanya dapat melihat dua orang gadis berdiri didekat meja tanpa bisa melihat wajah mereka, dan seorang pemuda tampan yang sedang menengahi keduanya.
"Haaah... dunia ini memang rumit! Catat setiap benda yang rusak akibat pertengkaran mereka! Aku tidak ingin dirugikan karena kekonyolan mereka! " John menggeleng tak paham akan tiga orang disana. "Kekanakan sekali! Apa tidak ada pria lain yang bisa dikencani hingga mereka berebut seperti itu? Wanita memang mengerikan, bukan begitu JiAn Ssi?" tanya John meminta pendapat pada pegawainya.
"Ah, N-nee... "
Ya, cafe itu miliknya, milik pemuda bernama John Wilson. John merintis usahanya mulai dari nol hingga berhasil seperti saat ini.
Setelah berpesan pada pegawainya, John berniat keluar dari sana dan berfikir lebih baik menghirup udara dingin diluar dari pada harus menyaksikan drama romanpicisan didalam cafenya.
"Jadi kau ingin membalas dendam padaku, Reyna?? "
Namun, langkah John terhenti tepat didepan bilah kaca yang sudah terbuka otomatis saat dirinya mendekat. Udara dingin menyapa wajah bersama rasa kejut yang ia dengar atas nama seseorang. Telapaknya terpatri pada pegangan pintu, membawa fitur tegasnya untuk menoleh sejenak guna memastikan.
Dan betapa terkejut dirinya saat mendapati gadis yang ia kenal sedang berdiri diantara kedua orang disana. Tertunduk dalam kecewa dan kesedihan yang terlihat jelas. John tersulut, rahangnya mengeras, jemarinya merosot dan mengepal sempurna pada kedua sisi sweater tebal yang membalut tubuh kekarnya.
"Kau ingin merebut kembali Val dengan cara merayu seperti gadis murahan seperti ini eoh??! "
John membolakan kedua manik rusanya mendengar penuturan wanita lain yang jelas tak ia kenali. Jengkel bukan main.
"HaNa-ya... Aku hanya ingin--"
"Diam, aku tidak ingin mendengar apapun darimu Val!! "
"Kenapa?! " tanya Reyna dengan suara pelan namun masih bisa didengar. "Apa kau takut padaku? Takut aku melakukan hal seperti yang kau lakukan saat merebutnya dariku dulu? "
Reyna terkekeh,
"Harusnya aku yang menyebutmu murahan karena kau memang seperti itu! "
Tanpa diduga siapapun, wanita yang disebut-sebut dengan nama HaNa itu melayangkan sebuah pukulan keras pada wajah Reyna hingga terpelanting dan jatuh tersungkur dilantai.
Seisi ruangan terbelalak menyaksikan hal tersebut, tak terkecuali John yang sudah hampir melangkah jika tak melihat seseorang menolong Reyna untuk berdiri.
Val yang sudah muak dengan perlakuan kekasihnya itu menarik HaNa untuk keluar dari cafe. Melewati John yang masih terpaku disana. John bisa melihat raut murka sang pria dengan jelas.
"Beri dia pelajaran agar tak berbuat hal memalukan seperti itu! " gumamnya pelan sembari menggeleng dan berbalik untuk memandangi Reyna yang sudah duduk pada salah satu kursi atas bantuan seorang pengunjung. John berjalan mendekat.
Pengunjung itu sedang membantu Reyna mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Namun Reyna mendongak saat mendapati presensi seseorang sedang berdiri didekatnya, membuat gadis yang membantu turut menaikkan pandangan.
"Jo-John... "
Pemuda itu tersenyum, mengangguk sebagai isyarat pada gadis didepan Reyna agar dia saja yang meneruskan pekerjaan itu.
Hati John seperti diremat saat melihat keadaan Reyna dari jarak sedekat itu. Bibirnya mengeluarkan darah, wajahnya sayu dengan kedua manik yang sedikit membengkak dan merah---efek menangis.
"Kau melihatnya? " tanya Reyna dengan suara parau.
"Eoh... " jawabnya lembut sambil terus membersihkan sudut bibir Reyna yang kini terlihat sedikit membiru.
"Eung... "
Reyna tertunduk dengan tawa kecil yang terdengar pilu.
"Memalukan sekali bukan? Pasti semua orang akan mengingat wajahku sebagai perebut kekasih orang setelah ini! "
"Kenapa kau terjebak dengan wanita seperti itu?! "
"Ceritanya panjang! "
John tersenyum lembut setelah menyelesaikan kegiatan pertolongannya untuk Reyna. Namun tak berhenti disana, John kini merapikan anakan rambut Reyna yang sedikit berantakan. Mengurai dan menautkannya dibalik daun telinga.
"Kenapa kau ada disini?! " tanya Reyna pelan dan lembut.
"Mungkin Tuhan mengirimku untuk menghapus kesedihanmu! "
Reyna terkekeh mendengar John dengan lawakannya yang terdengar canggung itu.
"Yah, kau tidak akan bisa menghapusnya dengan mudah, " goda Reyna sambil menyematkan senyuman pada bibir ranum itu.
"Kalau begitu, Tuhan mengirimku untuk mengantarmu pulang! Karena diluar sedang turun hujan! "
Hujan? Lagi? Reyna bahkan seperti merasakan sebuah kutukan diantara hujan. Sesaat kemudian, memandangi pantulan samar dirinya pada bentangan kaca yang berada tak jauh darinya.
"Hujan ya? Mengapa aku selalu mendapati hujan saat bertemu dengannya!? "
John hanya turut menatap keluar, karena tak tau maksud dari ucapan Reyna.
"Aku tidak suka hujan! Dia membuatku basah dan sakit setelahnya! "
Mengerut dahi, John semakin tak mengerti apa yang dikatakan Reyna. Dia hanya melihat wajah kelam sang gadis.
"Kenapa dia kejam sekali? Bahkan kini, ---"
Tiba-tiba Reyna tersadar. Mengerjap cepat mengingat ada seseorang yang sedang berada dihadapannya.
"Ah, maaf! Aku bicara melantur! " ucapnya sontak, kemudian berdiri dan hendak pergi jika saja John tidak meraih pergelangan tangannya untuk ia tahan.
"Aku akan mengantarmu... "
Reyna tersenyum hambar, "Eung, kedengarannya lebih baik seperti itu! Karena aku rasa tidak akan sampai rumah jika pulang sendirian! "[]
Note:
Vi's Here...
Terima kasih untuk yang bersedia mampir membaca Vienna. Mungkin, pada bab-bab selanjutnya akan ada scene dimana memerlukan kebijakan dalam menanggapi setiap adegan yang tertulis.
Dimana konflik selanjutnya mungkin akan berhubungan dengan Mentalhealth, angst, disorder, suicide, dan masih banyak lagi yang perlu disikapi secara bijak.
Sekali lagi terima kasih sudah membaca, dan saya sangat sangat berterima kasih untuk kalian yang sudah meninggalkan jejak like untuk cerita ini.
Salam hati warna Ungu,
Vizca.