Vienna

Vienna
21. Broke.



7.00 PM KST,


Diluar dingin, Hyuji membawa sekotak ayam berbumbu pedas yang menjadi favorit mereka berdua.


Sendu, mungkin itu yang tercetak jelas pada wajah Reyna saat ini. Tatapannya kosong, seperti tak ada lagi gairah seperti yang biasa Hyuji lihat.


"Ada apa denganmu? "


"Hyu, jika itu dirimu, apa kau akan menerima ajakan seseorang dimasa lalumu saat dia meminta bertemu? "


"Val? Dia mengajakmu bertemu? " tandas Hyuji dengan suara meninggi.


Reyna merotasikan kedua maniknya kepada sang sahabat. Seolah menahan semua kesedihan dan rasa sakit dalam dirinya, Reyna tersenyum pahit.


"Eummm, besok!"


"Dan kau menerima ajakannya? "


Reyna tertunduk, masih dengan senyuman yang ia paksakan. Mengangguk pelan, menatap jemarinya yang saling meremat.


"Eoh, dia bilang sebelum dia tak bisa lagi bertemu denganku seperti ini! Aku tidak bisa menolaknya Hyu! Aku akan datang besok! "


"Rey, " Hyuji meraih telapak Reyna dan menggenggamnya erat. "Jika kaulakukan itu! Sama saja kau menyakiti dirimu sendiri! "


"Aku akan melakukannya Hyu! Untuk yang terakhir!"


Hyuji menggeleng, meyakinkan Reyna agar tak melakukan itu.


"Tenanglah, tidak akan terjadi apapun! Kau tau, Val sepertinya masih menginginkanku Hyu! Itu artinya, HaNa kalah bukan?"


Hyuji menatap lekat kedalam manik Reyna yang sudah basah. Terkekeh berdua kala menyadari betapa konyolnya pikiran Reyna.


"Kau masih sama baiknya seperti dulu jika mengenai Val! Bahkan kau tidak peduli pada dirimu sendiri! "


"Karena dulu aku sangat menyayanginya Hyu! Dan untuk saat ini, aku hanya ingin benar-benar mengakhiri semuanya! Untuk terakhir kalinya!"


"Baiklah! Tapi, berjanjilah! Kau akan kembali dengan perasaan yang lebih baik setelah bertemu dengannya! "


"Eung, tentu saja! Kau tidak perlu khawatir! "


Malam dingin hari ini pun mereka lalui dengan memakan ayam dan bercerita, penuh canda dan tawa. Bertukar pikiran tentang masa depan yang ingin mereka lalui jika sudah berkeluarga dan tua nanti. Berharap nasib baik selalu mengitari mereka. Karena tidak ada yang tau, seperti apa Tuhan menulis garis hidup datu orang dengan orang lainnya. Entah suka atau duka, entah bahagia atau malah sebaliknya.


-


-


-


Bapsae Cafe,


Myeongdong street, 480


Reyna memasukkan kembai kertas tersebut kedalam saku jaket tebal sebatas lutut berwarna hitam yang ia kenakan. Sisa salju masih membuat jalanan terasa licin, begitu juga aroma salju yang masih kuat memaksa masuk ke paru-paru dan membuat Reyna sedikit kesulitan meraup oksigen.


Sesaat kemudian, Reyna merasa sedikit pusing. Jantungnya juga berdetak lebih cepat dari sebelumnya saat mendapati sebuah bangunan yang berdiri megah diantara bangunan lainnya. Cahaya temaram terlihat begitu nyaman, sebab banyak pengunjung yang tersenyum didalam sana.


"Semua akan baik-baik saja! Tidak, tidak menjadi perebut, aku hanya ingin mengakhiri semua ini! " gerutunya sambil menepuk-nepuk pelan dadanya.


Reyna membuka bentangan kaca dan menjejakkan kaki untuk masuk. Ruangannya lebih hangat dari yang ia perkirakan. Reyna bergegas mencari sosok Val, dan menemukannya duduk sendiri pada sudut gedung yang nyatanya sangat luas dan berdesign modern ini. Pemiliknya pasti seseorang yang fashionable dan berselera tinggi dalam arsitektur.


"Hey!! " panggil Val dengan senyuman yang mengembang sempurna sembari melambaikan tangan pada Reyna.


Reyna berjalan melewati meja yang penuh dengan pengunjung yang berpasang-pasangan. Kemudian menghentikan langkah dan duduk tepat dihadapan Val yang mengenakan pakaian santainya.


"Terima kasih sudah datang! "


Reyna meletakkan jaket tebalnya pada sandaran kursi dan merapikan anakan rambut yang sedikit berantakan.


"Ada apa kau mengajakku bertemu seperti ini Val? Dan juga... Apa HaNa tau tentang pertemuan kita ini? Aku tidak ingin terjadi kesalah fahaman nanti! "


"Tidak! HaNa tidak tau!"


Reyna sukses terbelalak, menyesal pun sudah terlambat. Sebab itu, dia hanya bisa tersenyum pada sudut bibirnya.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Kau ingin menjadikanku seperti HaNa?"


Suara Val tercekat, tak mampu memberikan jawaban atas pernyataan Reyna yang begitu menohok. Kendati demikian, Val kembali tersenyum sembari menegakkan punggungnya yang sempat merosot. Membuka menu dan menawari Reyna minuman apa yang ingin ia pesan.


"Katakan saja intinya, aku ingin cepat kembali kerumah sebelum hujan kembali turun! "


Telapak yang semula membuka buku menu terhenti. Val diam beberapa detik, lalu bicara dengan lembut kepada Reyna. "Apa kau masih ingat tempat kesukaan kita sepulang sekolah dulu?---" tanyanya, menjeda sejenak sembari ingin memastikan ekspresi Reyna. "Aku ingin kesana, bersamamu! "


Reyna hanya diam, ia rasa tak perlu memberikan jawaban apapun akan semua perkataan Val.


"Aku baru sadar jika aku masih---"


"Lalu mengapa kau meninggalkan aku saat itu?! Kau pikir aku tidak terpuruk saat itu?! Val, apa kau pernah merasakan kesedihan dan terpuruk berlebihan hingga kau hampir mati karena gila memikirkan kesalahan apa yang kau perbuat sampai-sampai orang yang paling kau sayangi menghianatimu?! " Suara Reyna meninggi, air matanya berlinang, membuat beberapa orang disekitar menoleh kearah mereka.


Tak sedikitpun mengalihkan pandangannya, Val menatap lekat pada sosok Reyna yang kini terlihat rapuh. Kedua manik Indah yang dulu ia tau sangat terpancar kebahagiaan kini terlihat layu, birai ranumnya bergetar, dan wajah lembut, cantik dan penuh kasih itu terlihat diliputi kesedihan mendalam.


"Maafkan a---"


"Aku sudah pernah bilang jika aku sudah memaafkanmu kan? Jadi kau tak perlu melakukannya berulang kali! Lupakan aku, dan jangan buat aku kembali terpuruk seperti saat itu Val! Karena aku belum cukup sembuh dari semua itu! " tutur Reyna sendu, disela isak tangisnya yang sudah tak dapat ia tahan. Meluapkan semua rasa yang selama ini ia pendam.


Reyna berdiri, meraih jaket tebalnya dan hendak pergi. Namun Val menahannya, sangat erat. "Jangan pergi lagi... " pintanya dengan nada sendu.


"Kau memintaku tetap tinggal disaat kau sudah bersama wanita lain! Kau memang pria jahat! "


Hingga, tanpa diduga tangan lain turut memisahkan keduanya.


"A~h... Jadi kau ingin menggodanya ya? "[]