Vienna

Vienna
39. You Hate Me Too.



Seoul,


Reyna sudah berada didepan aparteman Hyuji sesampainya dari daegu. Tapi apartemen Hyuji kosong, bel yang ia bunyikan tak membuat pintu besi itu terbuka. Passcode kamarnya juga tidak berfungsi. Hyuji benar-benar hilang ditelan bumi.


Tidak ada balasan apapun yang Reyna terima dari Hyuji sejak kemarin.


Tiba-tiba seseorang menyapa Reyna, seorang wanita paruh baya.


"Kau teman pemilik unit ini? "


Reyna membungkuk sopan memberi hormat. "Nee... "


"Aku melihat beberapa hari yang lalu pemiliknya mengangkut barangnya keluar dari sana! Bersama seorang laki-laki! "


"Laki-laki? " tanya Reyna bingung, karena selama ini dia tidak pernah tau jika Hyuji mebawa laki-laki ke apartemen nya.


"Eumm, dia tampan dan tinggi! "


Tampan? Tinggi?


"Apa laki-laki itu berambut sedikit, pirang? "


"Tidak terlihat jelas karena itu malam hari dan gelap! "


Rasa cemas membumbung dalam relung hati Reyna. Mengucapkan terima kasih pada sang bibi dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang lain. John.


Nomor yang anda tuju---


"Sial!" Umpat Reyna kesal.


-


-


-


02 januari,


Hari dimana seluruh staf mulai melakukan aktifitasnya kembali. Reyna bergegas mencari Hyuji, tapi tak terlihat sedikitpun Batang hidungnya.


"Kemana sebenarnya Hyuji sialan?!! Kenapa dia tak bicara apapun! "


Reyna berlari menuju ruang kepala devisi dan menanyakan perihal absen Hyuji. Dan dirinya terkejut karena Hyuji mengajukan cuti tambahan selama satu hari. Nafasnya sedikit lega kali ini. Itu artinya besok dia akan melihat dan meminta penjelasan sahabat yang sudah membuatnya seolah mati berdiri.


Keesokan harinya.


Reyna melihat Hyuji berjalan dikejauhan, diapun mempercepat langkahnya mendekati Hyuji kemudian menarik kasar lengan Hyuji hingga terpelanting.


"Rey, ada apa? " meronta ingin dilepas.


Reyna melepas pergelangan tangan Hyuji saat sampai di taman depan perusahaan.


"Kemana dirimu beberapa hari tidak bisa dihubungi?! Jelaskan padaku juga mengapa kau pergi dari apartemenmu?"


Hyuji tertunduk lesu. Meremat rok selututnya dengam cemas.


"Aku---"


"Katakan dengan jelas!!! " Bentak Reyna.


Hyuji menggigit bibir bawahnya takut. "Aku, sebenarnya aku menikah dengan John beberapa hari lalu, "


"APA??! "


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Rey! Kami menikah karena terpaksa! Maaf tidak memberitahumu sebelumnya! "


"La-lalu...? "


"Aku dan John sekarang tinggal dirumah yang dibeli John di kawasan Yangcheon! "


"Jadi... "


"Plis, jangan menanyakan apapun saat ini! " Hyuji tertunduk lesu, wajahnya tertekan, ada sarat emosi juga dibalik jelaga nya.


Reyna sebenarnya tidak bermaksud sedikitpun memaksa Hyuji mengatakan tentang apapun, dia hanya tidak bisa mengungkapkan rasa khawatirnya.


"Aku mohon,jangan mengatakan apapun... dan juga, temui aku di kantin saat jam makan siang nanti!"


Masalah? Hyuji menyimpan sebuah masalah darinya? Reyna semakin tak mengerti. Dia memeluk Hyuji dan menepuk punggung layunya sejenak.


"Baiklah! Aku akan kesana nanti! " jawab Reyna singkat sebelum meraih dan menarik Hyuji untuk ia bawa kedalam pelukannya. Namun apa yang ia dapatkan, sebuah penolakan.


-


-


-


Jam makan siang tiba, Reyna mengemas perlengkapan kerjanya dan bersiap menuju cafetaria untuk mengambil jatah makan siangnya. Dia juga ada janji dengan Hyuji disana.


Berjalan melewati lobby kantor dengan perasaan sedikit kalut, langkahnya dihentikan oleh suara yang tak asing lagi ditelinganya.


"Rey... "


"HaNa...? "


"Kenapa? Kau terkejut mengapa aku bisa menemukanmu disini? Waah, ternyata Val mampu menyembunyikan ini dariku!"


Reyna tak mengerti maksud ucapan HaNa. Dia hanya menatap bagaimana langkah HaNa semakin mendekat.


"Jangan takut! Aku hanya ingin memberikan undangan untukmu!" ucanya sembari menyodorkan lembaran yang sama dengan yang diberikan Val beberapa hari lalu di daegu.


"Aku sudah tau, kau tak perlu memberikannya! Aku akan datang! "


"Benarkah? Datang, bukan untuk menggoda Val bukan? " cercanya dengan senyuman miring.


"Kau masih takut aku merebutnya darimu? Bahkan aku tak pernah memikirkan hal itu! "


HaNa semakin mendekati Reyna dan berbisik tepat di samping telinganya. "Yah~Jangan kau pikir aku tidak tau pertemuan kalian di daegu! Kau yang menginginkannya bukan? "


Sontak Reyna menahan nafasnya, kedua maniknya membola, bahkan tak mampu lagi berdiri lebih lama. Reyna hanya membeku.


"Aku harap kau berhenti di titik itu! Atau, pergi saja dari dunia ini! Aku lebih suka itu!"


HaNa menjauhkan diri, tersenyum sinis diantara kejut yang Reyna terima.


"Bukan begitu? Reyna-ssi??! "


Telapak tangan Reyna mengepal sempurna, dia tak habis pikir jika HaNa mampu mengatakan hal keji seperti itu.


"Bahkan aku tak habis pikir, mengapa Val mau membayar biaya rumah sakitmu saat itu?! "


"Rumah sakit? "


"Eoh, kau tidak tau juga? Wah luar biasa! "


HaNa bertepuk tangan meriah sembari tersenyum sarkas.


"Okey, aku hanya ingin memberikan itu padamu!"


HaNa berlalu, Reyna hanya menatap dengan manik yang memburam. Terkekeh pelan sebelum kembali memutar arah dan berjalan menuju dimana Hyuji mungkin sudah menunggunya saat ini.


Dan benar saja, sahabatnya itu sudah berada disana. Bahkan sudah memakan habis jatah makan siangnya tanpa menunggu kedatangan Reyna. Namun Reyna bersyukur dan lega karena Hyuji masih makan dengan baik.


"Maaf terlambat Hyu... " sambil meletakkan nampan makan siangnya dan menarik kursi yang hendak ia duduki. "Aku tadi ber---"


"Tolong jangan ganggu aku lagi mulai saat ini!"


Bagai tersambar petir disiang hari tanpa hujan, Reyna terpaku. Tubuh yang hendak ia simpuhkan terhenti dan stagnan pada posisi sedikit membungkuk.


"Hei, jangan bercanda! Kenapa kau bergurau sejauh ini? "


"Kau pikir aku sedang bergurau? "


Reyna sedang benar-benar diambang keputus-asaan, dan sekarang, Hyuji membuatnya semakin terpuruk dengan apa yang baru saja dikatakannya.


Mendadak wajah Reyna memucat, dia menggeleng tak percaya. "Hyu, sebenarnya apa yang sedang ter---"


"Aku hanya ingin mengatakan itu! Selebihnya, jangan pernah bertanya atau menemuiku lagi! Kau paham bukan? "


Reyna tak tau lagi bagaimana sistem kerja dunia ini mempermainkannya. Dia hanya berdiri tegak sambil menyaksikan kepergian Hyuji dari hadapannya dengan wajah memucat. Reyna meraih ujung blezernya untuk menyalurkan rasa cemasnya yang datang menghujam bertubi-tubi.


Saat tak lagi melihat punggung Hyuji, dia duduk kaku diatas kursi. Bertanya-tanya, mengapa semua meninggalkannya disaat harapannya ingin bahagia ditahun yang baru saja berganti ini.


Menatap nampan makan tanpa mengatakan apapun dan memasukkan makanan tanpa ekspresi gembira seperti biasanya saat bertemu Hyuji.


Semua kenangan bersama Hyuji berputar acak didalam kepalanya. Tawa, canda, tangis, bahkan semua hal yang sudah mereka lalui bersama sirna begitu saja tanpa ia tau sebabnya.


Reyna tergugu, tertunduk dengan wajah memerah dan isak yang tertahan. Menimbulkan nyeri yang mengerikan didalam dadanya.


-


-


-


Waktu berlalu begitu saja, seperti keinginan Hyuji, Reyna tak lagi menghubungi atau menampakkan diri dihadapan Hyuji. Bahkan kini, mereka seperti tak pernah saling mengenal saat berpapasan. Reyna masih melemparkan sebuah senyum sapaan saat melihat presensi Hyuji, namun berbanding terbalik dengan Hyuji yang membuang wajahnya begitu saja.


Reyna duduk disisi ranjang, meraih ponselnya dan membuka galeri foto. Ada sekitar tiga puluh lebih fotonya bersama Hyuji, ia lihat satu persatu. Tersenyum lembut, bahkan mengusap wajah sahabat yang sangat dirindukannya.


"Bahkan kini kau pun pergi dariku Hyu!" gumamnya pelan.


"Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan sekarang! " keluhnya merasa lelah sekali dengan hidupnya sendiri.


"Kemana aku harus pergi, mengadu, bahkan menangis jika kau pergi meninggalkan aku seperti ini! "


Senja semakin sirna, Reyna meraih botol kecil dari dalam nakas dan mengeluarkan dua butir obat yang beberapa waktu ini ia konsumsi. Menelannya bersamaan.


Pergi saja dari dunia ini, aku lebih suka itu.


"Haruskah aku melakukannya HaNa? Kau memberiku jalan keluar! " gumam Reyna sembari mengepal erat disisi ranjang.


Suara itu bergema terus menerus sebelum kantuk menyerangnya. Merebahkan diri perlahan, menaikkan selimut sebatas dada sembari menatap langit-langit kamar dengan manik yang sudah memanas. Kantuknya datang lebih cepat setelah mengkonsumsi obat tidurnya. Dia bergumam sekali lagi, "Ah, benar! Aku hanya perlu pergi dari dunia ini! Tanpa siapapun! Dengan tenang!"


Kedua maniknya terkatup sesaat kemudian, wajahnya terlihat begitu tenang seperti tanpa beban. Tapi, dibalik itu semua, Reyna benar-benar menderita.[]