Vienna

Vienna
29. It's. . .



Siang ini, HaNa memiliki dua jam bebas sebelum memulai kembali pemotretan dengan sebuah Brand fashion ternama. Dia memutuskan untuk menghubungi Val dan mengajaknya untuk bertemu pada salah satu restoran besar di Seoul.


Hana gelisah, karena sejak kejadian malam itu—saat dirinya memukul Reyna, Val jadi seperti menjauh. Pria tunangannya itu tak menjawab atau membalas telepon darinya.


Setelah sekian waktu menunggu, akhirnya dia bisa tersenyum dan bernafas lega saat melihat sosok yang sangat dirindukan sedang berjalan kearahnya. HaNa melambai, memberi isyarat pada Val tentang keberadaannya.


Harum maskulin yang sangat ia rindukan itu kini tepat berada dihadapannya, meskipun raut yabg disuguhkan datar tanpa ekspresi.


"Kau datang dari rumah kan Honey? "


"Eung... " tak berbohong, Val memang menyempatkan diri untuk pulang sebelum bertemu HaNa.


"Aku meneleponmu berkali-kali, tapi kau tak membalasnya! Apa kau sibuk? "


"Tidak! " sahut Val sekenanya.


"Apa?? " Sontak HaNa membuka lebar kedua maniknya mendengar jawaban Val yang mengejutkan. "Lalu, kenapa tidak menjawab teleponku! "


"Aku sedang dirumah sakit! "


HaNa semakin penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi. Dia sadar Val berubah dingin sejak kejadian dirinya menampar Reyna, tapi untuk apa dia pergi kerumah sakit? Apa seseorang sedang sakit?


"Rumah sakit? Siapa yang sakit? "


Val menatap manik HaNa, atensinya tertuju pada raut penuh tanya sang gadis.


"Reyna,"


Bagai dihantam meteor, kepala HaNa terasa berat ditengah hatinya yang seolah sudah retak, atau bahkan sudah membuncah dikepung amarah.


"Reyna?"


"Eoh! " jawab Val singkat tanpa memberi penjelasan lebih, membuat HaNa bersungut marah.


"Kau mengabaikan aku dan memilih menemani Reyna disana! Val, sebenarnya apa yang terjadi pada hatimu? " Sarkasnya.


"Kau tidak perlu tau---"


"Aku perlu tau karena aku tunanganmu!" Sahut HaNa dengan nada tinggi membumbung, menarik perhatian beberapa pengunjung restoran. Val hanya memperhatikan HaNa dengan lamat.


"Apa kau lupa sudah menyakitinya beberapa hari yang lalu? "


"Aku yang meminta bertemu dengannya! Bukan dia! Kau tidak pernah mau mendengar penjelasanku! " Kali ini Val berteriak, dia sudah tak bisa lagi menahan emosinya. Urat malunya pun turut putus, tak peduli sekitar menatap kesal pada mereka berdua.


"Hei, kenapa kau berteriak padaku? " tanya HaNa dengan suara rendah dan bergetar.


"Reyna berniat mengakhiri hidupnya karena perlakuanmu! Dan kau juga pasti tau, aku belum bisa melepas Reyna sepenuhnya! "


HaNa tersenyum getir, pupilnya bergetar, dan tak menunggu detik selanjutnya air mata sudah luruh membasahi pipi.


"Kau memang keterlaluan Val! "


"Anggap aku seperti itu jika memang kau mau, HaNa... " ucapnya ragu, tercekat bersama saliva yang tiba-tiba melewati kerongkongan.


Suara Val saat menyebut nama HaNa, membuat HaNa kembali mengangkat pandangannya pada pria tampan yang sangat ia harapkan tersebut.


"—maafkan aku!" lanjut Val dengan intonasi sangat rendah dengan baritonenya.


"Untuk apa? "


Val mengangkat kedua lengannya keatas meja, meraih cincin couple yang hampir dua tahun tersemat dijari manisnya, memutar ragu hingga lingkaran berwarna silver itu berhasil lolos dari jari tengah telapak kirinya.


Meletakkan bulatan berkilau itu dalam genggaman HaNa. "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi! Mari kita menjadi teman baik saja! "


Jika saja diberi pilihan, mungkin HaNa akan lebih memilih untuk tidak memulainya sama sekali daripada harus merasa sakit disaat dirinya sedang berharap penuh pada sesuatu untuk masa depannya.


"Apa kau bilang? " ucapnya penuh derai air mata. Bagaimanapun dia hanya seorang manusia, wajar bukan jika menangis seperti saat ini?


"Kita akhiri hubungan kita! "


HaNa menggeleng. Betapa tidak, kabar itu begitu mendadak dan mengejutkan, dia bahkan tak percaya jika hal itu terjadi padanya.


"Tidak, itu tidak akan terjadi! Kita akan tetap bersama! "


Val hanya tersenyum tipis menanggapi penolakan HaNa. "HaNa, aku bersungguh-sungguh! Aku melakukannya atas dasar kemauanku sendiri! Dan aku ingin fokus dulu pada karir yang dipercayakan ayah padaku! "


"Bohong! "Sahut HaNa cepat, "Kau berubah sejak bertemu Reyna malam itu! " Lanjutnya.


"Tidak! Bukan karena siapapun! Ini kemauanku sendiri! "


HaNa tersenyum miring ditengah tangisnya yang mengharu biru. "Apa perlu aku melakukan hal yang sama seperti Reyna untuk menahanmu agar tak pergi meninggalkanku, Val? "[]