
Sudah seminggu Reyna berdiam diruangan bercat putih bersih dan luas ini. Hari ini, dia sudah diperbolehkan pulang karena kondisi yang sudah perlahan membaik. Membereskan pakaian yang ia gunakan beberapa hari ini, Reyna berhenti sejenak guna melihat kembali setiap sudut ruangan luas dan berkelas tersebut.
Pikirannya kembali menelisik, sebenarnya siapa yang sudah berbaik hati mau menanggung biaya rumah sakitnya yang tidak murah. Apalagi kamar yang ia tempati tersebut termasuk kategori VVIP.
"Hyuji dan pihak rumah sakit tidak mau menyebutkan nama orang itu! " ucapnya sembari memasukkan pakaiannya kedalam tas besar. Ia tidak lupa jika perusahaan juga membantu menjamin biaya perawatannya, akan tetapi, seingatnya tidak semewah itu. Paling tidak dia hanya akan terbaring diranjang kelas menengah jika menggunakan asuransi kesehatan yang diberikan oleh tempatnya bekerja.
Dia menatap kembali pergelangan tangan yang masih terlilit perban. Sedikit nyeri, namun tak akan ia tunjukkan.
Pintu mendadak terbuka, menampakkan sosok Hyuji bersama seorang pria yang belum lama ini ia kenal, John.
"Bagaimana bisa kalian datang bersama? "
"Tentu saja aku yang meminta bantuannya Rey! "
Gadis itu tersenyum dan menautkan kedua maniknya pada sosok kekar yang berdiri di samping Hyuji.
"Bagaimana perasaanmu Rey? " tanya Hyuji sambil meraih tas besar milik Reyna dan tanpa diduga, John meraihnya dari Hyuji.
"Aku, baik! "
"Janji jangan membuatku khawatir lagi, Okey!!"
Reyna mengangguk, tidak yakin.
"Maafkan aku Hyu! Dan terima kasih sudah merawatku! "
Mereka bertiga pergi menuju basement dimana mobil John terparkir disana. Reyna memilih duduk dikursi belakang.
Hatinya menghangat, dia mengulum senyumnya sekilas kala mendapati John dan Hyuji masuk kedalam mobil secara bersamaan.
"Kalian terlihat seperti pengantin baru yang baru saja pindahan! " celetuk Reyna menggoda.
"Yah, kau mau mati ditanganku eoh?! " jawab Hyuji dengan rona merah dikedua pipinya. Belum sedetik terperangah, ia harus dikejutkan kembali oleh jawaban yang terlontar dari bibir John.
"Benarkah?! "
Reyna mengangguk pasti, dia senang bisa membuat Hyuji tersipu seperti itu.
"Lalu, haruskah aku mewujudkan itu?" lanjut John sambil melirik pada gadis bersurai cepak disamping kemudinya.
"Hei, kau bicara apa?! Cepat jalankan mobilnya!"
Suara gelak tawa terdengar samar dari bibir Reyna dan John kala mendapati Hyuji yang semakin memerah.
"Tapi, Hyu... " suara madu John kembali terdengar saat mobil itu sudah berhasil keluar dari area parkir. "Kau akan kesulitan jika menjadi istriku! "
Tak dapat berkata-kata lagi, Hyuji menepuk keras bahu pemuda berjaket hitam tebal yang sedang mengemudi tersebut. "Yah!! Kenapa tiba-tiba kau membicarakan hal seperti itu! Diam dan fokuslah pada jalanan licin didepan! Kau membawa dua nyawa lain disini!! " kesalnya.
John mengerucutkan bibirnya lucu sembari mengangguk paham. Hingga akhirnya, mereka bertiga pun sampai di depan apartemen Reyna. Hyuji membuka pintu tersebut untuk keduanya.
"Welcome Home... " Teriak Hyuji dibarengi rentangan kedua lengannya.
Tidak ada lagi bau anyir, tidak ada benda berkilat yang tergeletak, semuanya sudah kembali rapi. Reyna ingat terakhir dia melihat, darah melebar didepan pintu masuk apartemen nya. Dia mengulum senyum, meraih Hyuji untuk ia peluk.
"Terima kasih Hyu, kau memang terbaik! "
"Aih, tidak perlu seperti ini... "
"Hei kalian! Jangan lupakan aku! " tukas John tiba-tiba, mengembalikan kesadaran mereka berdua bahwa ada orang lain yang saat ini bersama mereka.
Seketika, tawa meledak diantara mereka. John tidak menyangka, jika dia bisa lebih merasakan hidup setelah berteman dengan kedua presensi dihadapannya.
John mengedikkan kedua bahu dan berjalan masuk melewati Reyna dan Hyuji. Meletakkan tas berisi pakaian Reyna sesuai perintah Hyuji.
"Terima kasih sudah meluangkan waktumu! Kau bilang harus segera kembali ke tempat kerjamu bukan? " tanya Hyuji.
"Eung! Ada hal yang perlu aku lakukan! "
"Kalau begitu bergegaslah! Aku akan menghubungimu lagi jika memerlukan bantuan! "
"Okey! Kalau begitu aku pergi dulu! "
"Aku akan mengantarmu sampai pintu! " ucap Hyuji sembari mengekor dibelakang tubuh kekar John yang berjalan menuju pintu utama.
Reyna mendengar samar-samar mereka berbicara singkat diambang pintu, kemudian terdengar suara intercom kembali terkunci dan memunculkan kembali sosok Hyuji yang berjalan masuk.
"Hyu, kalian cocok! " celetuk Reyna asal.
"Rey, jangan membuatku berharap lebih tentang pemuda yang lebih muda dariku itu! "
"Tidak, aku bersungguh-sungguh! "
Hyuji menatap sengit dengan kilat mata mengintimidasi disana.
"Rey! Dia itu putra orang kaya! Bisa berteman saja aku sudah bersyukur! "
"Siapa tau jodoh! "
"issshh... benar-benar!! " sahut Hyuji cepat sembari mengangkat tangan kanan, memberi isyarat hendak memukul. Akan tetapi mengurungkan niatnya dan tergelak tawa.
Tiba-tiba Hyuji terperanjat dan meraih ponselnya. Ekspresinya berubah datar, kaku, bahkan jemarinya terpaku tepat diatas persegi pintar yang masih berdenyar.
"Siapa Hyu? " tanya Reyna penasaran.
Hyuji tidak tau harus menjawab apa pada Reyna yang masih menunggu bibirnya bersuara. Satu hal yang ingin ia tutupi rapat agar Reyna tak kembali mengingatnya tentang siapa yang mengirimi pesan itu. Val.
"Ji-jimmy!" ucap Hyuji gugup, mencoba mencari nama lain. "Jimmy mengirim pesan menanyakan kabarmu! Y-ya, Aku menghubunginya tadi! "
Reyna tau, jika Hyuji memanglah tak pandai berbohong, sebab itulah ia gugup. Tapi, Reyna tetap menghargai privasi sahabatnya dan berusaha percaya.
"A~h, bilang padanya! Aku akan datang untuk berkonsultasi lagi!"
"Rey-"
Manik mereka tertaut, Hyuji berjalan mendekat pada Reyna dan dengan ragu menyodorkan ponselnya.
"Maaf aku berbohong, sebenarnya, Val yang mengirim pesan! Dia menanyakan kabarmu!"
Reyna tertegun, telapaknya bergetar saat meraih ponsel Hyuji. Bibir yang semula tersenyum manis terkatup seketika, seperti terkunci.
"Hyu, kalian sudah sampai rumahkan!? Tolong jaga Reyna! Aku harap keadaannya semakin membaik! Dan aku mohon sekali lagi sebagai seorang teman, jaga dia baik-baik! "
Perlahan, Reyna memejam. Mencoba membuyarkan bayangan Val dalam benaknya, namun sia-sia. Nyatanya, dia masih berada jauh didalam lubuk hati Reyna paling dalam.
"Katakan padanya, aku ingin bertemu pada akhir bulan desember! "
"Rey—"
"Aku tidak apa-apa Hyu! Aku benar-benar—" Reyna menjeda sejenak ucapannya, menarik kurva bibir membentuk sebuah senyuman, lalu melanjutkan. "...aku, ingin bertemu dengannya! Untuk yang terakhir kali!"[]