Vienna

Vienna
41. Black.



Hyuji mengerjap saat Mentari menyapa kelopak matanya yang masih terkatup. Menggeliat dan berusaha semampunya membuka mata, Hyuji mendapati presensi John disamping jendela sambil membetulkan jaket jeansnya.


"Bukankah kau harus hadir di pesta pernikahan Boss besar perusahaanmu?! "


Hyuji terlonjak, memang hubungan mereka masih terasa dingin. Tapi John memang morning person, dia selalu bangun lebih awal dari Hyuji.


"Eoh, acaranya masih pukul sepuluh nanti! "


"Bukankah wanita lebih sibuk saat akan menghadiri pesta? Aku sarankan kau bangun lebih cepat jika tidak ingin terlambat! " ucap John sembari berjalan menuju nakas guna mengambil jam tangan.


"Semalam, kau pulang jam berapa? "


"Entah, kamarmu gelap! Aku tidak bisa melihat jam! "


"Isssh... " cibik Hyuji malas.


"Kau mau kemana sepagi ini? Lagi pula ini hari minggu?!"


John menatap datar Hyuji yang masih berusaha membuka matanya. "Bekerja, kemana lagi memangnya?! Kau mau aku berdiam diri dirumah dan memakan enak dengan gaji yang kau dapat dengan susah payah? Hyu, aku bukan pria pemalas yang berpangku tangan ---"


"Baiklah, baiklah! Aku mengerti! Kau juga pria yang egois dan keras kepala! Jadi lakukan saja sesukamu! " Potong Hyuji saat John belum selesai bicara.


John mengedikkan bahu, "Aku pergi dulu! Jika aku belum sampai rumah saat waktu makan malam, kau makan saja dulu! "


"Eummm... "


John pergi, Hyuji yang masih malas berjalan lunglai menuju kamar mandi guna bersiap untuk hadir di acara pernikahan Val.


Tentang pesan semalam, Hyuji melupakannya begitu saja.


-


Ruangannya luas, suara musik classic mengalun lembut, dengan berbagai jenis orang dan jabatan didalam sana. Pestanya cukup meriah dan Hyuji berkumpul bersama teman satu devisinya di kantor.


Hidangan yang menggugah selera, sambutan yang begitu berkelas, dan sosok mempelai yang sempurna. Hampir satu Jam Hyuji berada disana dan dia tak melihat Reyna barang sekelebat pun.


"Apa dia tidak datang? " batin Hyuji, dan saat hendak mengambil ponselnya seseorang mengejutkannya, HaNa.


"Lama tidak bertemu Hyu? "


Hyuji tersenyum sarkas menanggapi mempelai wanita yang juga alumni SMA nya dulu.


"Ternyata selain Reyna, kau juga bekerja di perusahaan suamiku? "


"Sayangnya iya, apa kau kecewa HaNa-ssi? "


"Tidak! Aku hanya tidak menyangka jika kau dan Reyna bisa berteman selanggeng itu! " tuturnya sambil menyematkan senyuman kaku yang dibuat-buat.


Hyuji mengeratkan rahang, menahan gejolak emosinya. Bagaimanapun, Reyna adalah teman dekatnya dan dia tak suka saat HaNa menyebut nama Reyna.


"Ah, selamat atas keberhasilanmu merebut kekasih sahabatmu sendiri HaNa-ya?! Aku juga tak menyangka jika hubungan terlarang kalian sampai ditahap seserius ini! " Cibik Hyuji tak mau kalah, menyertakan sebuah kenyataan yang hakiki. Telapaknya terulur secara cuma-cuma.


"Terima kasih. " jawab HaNa tanpa menanggapi Hyuji, dan pergi begitu saja.


-


Acara telah selesai dan Hyuji kembali kerumahnya dengan mobil pribadi miliknya. John belum pulang dan dia merasa kesepian. Dalam benaknya jadi merasa bersalah karena menjauhi bahkan meninggalkan Reyna begitu saja.


Mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dan menghubungi seseorang.


"Eoh??! "


"John, apa kau akan pulang malam? "


"Tidak, aku hanya perlu menghabiskan kertas ini dan pulang! "


"Kertas? Yah, sebenarnya apa pekerjaanmu huh? "


"Kau tak perlu tau! Aku akan pulang setelah ini! Tolong masak sesuatu yang enak untukku! "


"Kau pikir aku pembantumu?! "


"Setidaknya memasaklah untuk makan malamku jika kau tak bisa bangun pagi... "


"Aaah, baiklah, baiklah.... "


Hyuji kesal dan mematikan teleponnya sepihak. Dia teringat tentang pesan semalam, namun malas untuk membukanya. "Chhh, Honeymoon apanya?!! "


Berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan televisi. Chanelnya belum berubah sejak kemarin dia melihatnya, dan saat ini sebuah berita Live dari tempat kejadian perkara.


Terlihat seorang reporter sedang mewawancarai seorang wanita paruh baya yang sepertinya tidak asing dimata Hyuji.


"Dimana aku pernah melihat ahjumma itu?! "


"Ah~benar, dia tetangga Reyna yang saat itu memberikan kimchi... "


Tunggu, Hyuji kembali membaca tulisan di platform berita.


Live


Seorang gadis berusia 28 tahun ditemukan over dosis didalam kamar mandi dengan kondisi yang sudah tak bernyawa.


Hyuji tercekat, nafasnya tersengal kala mendapati sang reporter menyebut nama keluarga yang disandang korban. Jang.


Reyna bermarga Jang kan?, batin Hyuji semakin cemas. Dia buru-buru mencari berita diportal internet.


Ponselnya terjun bebas pada lantai yang dingin dibawah kakinya. Tubuhnya bergetar hebat, dengan telapak yang menutup mulutnya yang menganga karena kejut. Menggeleng tak percaya, Hyuji sudah bermandikan airmata.


"Tidak, ini pasti salah! Itu bukan Reyna."


Sekelabat, Hyuji melihat pakaian yang familiar yang dikenakan gadis malang tersebut. Yang ia tau Reyna juga memiliki pakaian tersebut. Hyuji kembali meraih ponselnya dan bergegas menghubungi nomor Reyna, bunyi Beep dua kali dan seorang laki-laki bicara diseberang.


"Halo"


"Halo, dimana Reyna, mengapa anda menjawab panggilan saya, dimana Reyna!" tanya Hyuji dengan nada dingin.


"Kami dari kepolisian, apa anda teman saudari Reyna? "


"Saya sahabatnya! " jawab Hyuji tegas dengan suara sedikit bergetar.


"Saya ingin menyampaikan bahwa teman anda, saudari Reyna kami temukan sudah tak bernyawa di apartemennya! Dan kami melihat saudari Reyna mengirim pesan kepada anda sebelumnya! "


"Saudari Reyna sudah dibawa ke daegu tiga jam yang lalu karena pihak keluarga menolak autopsi jenazah! "


Reyna mengakhiri panggilan secara sepihak dan segera mengecek pesan yang masuk.


Betapa hancur hati Hyuji saat mengetahui pesan yang ia abaikan semalam adalah pesan dari Hyuji. Tubuhnya kaku, membeku, bahkan seperti nyawanya ditarik paksa dari raga.


Hyuji berjalan tergopoh demi meraih laptop yang tergeletak sejak semalam didalam tas kerjanya.


Dengan derai airmata yang tak bisa berhenti, dia mengecek email. Dan benar saja, satu pesan dia terima.


Jari telunjuknya bergetar hebat saat menekan tombol untuk mulai membacanya.


Hyuji semakin histeris saat tau jika email tersebut memang dikirim Reyna untuknya. Hyuji terjatuh diatas bantalan duduknya dengan tangisan yang meluap. Meronta bahkan menjambak rambutnya kecewa.


Jika saja dia lebih cepat membuka pesan itu semalam, dia pasti masih bisa melihat Reyna tersenyum, tidak, menangis dalam dekapannya saat ini. Hyuji berteriak menggila.


John yang baru saja membuka pagar rumah dan mendengar teriakan keras Hyuji pun bergegas berlari menghampiri wanita yang menjadi istrinya itu.


Dia melihat Hyuji sudah mengacak seisi rumah, gadis itu menangis histeris dan meringkuk di lantai.


"Hyu, ada apa denganmu? " tanya John panik. Mengguncang tubuh Hyuji yang masih tergugu dalam ronta. Bahkan wajahnya sudah berantakan.


"Hyu, lihat aku! " John menangkup kedua pipi Hyuji yang basah. Manik gadisnya itu sungguh dipenuhi jutaan rasa sesal.


"R-reyna... " Suaranya tercekat.


"Reyna? Ada apa dengan Reyna?! "


"Dia---dia... John katakan ini semua salahku!! " teriak Hyuji kembali meronta. Kini pandangan John teralih pada laptop Hyuji yang menyala. Berjalan mendekat dan membacanya, John menutup mulut tak percaya dengan manik tak kala berkabut dari milik Hyuji.


"Reyna meninggal John... " Histeris Hyuji sambil memukul kepalanya.


John tak sanggup melihatnya, dan menghentikan Hyuji, memeluknya erat dalam dada bidangnya. Mengusap rambut pendek dan harum milik Hyuji. John tak kalah terpukul, karena Reyna yang ia kenal dan sempat menempati hatinya telah pergi dengan cara kejam.


"Hyu, sadarkan dirimu! Ini bukan salahmu! "


"Tidak! Ini semua salahku! Jika aku tidak meninggalkannya karena keegoisanku, dia pasti masih disini bersamaku sekarang! Aku orang jahat John! Katakan padaku jika aku orang yang membuat Hyuji seperti ini?! "


John menggeleng, airmatanya turut luruh. Dia mempererat pelukannya untuk Hyuji, mengusap surainya penuh kasih agar Hyuji tak turut terjerembab kedalam keterpurukan.


"Bagaimana aku menunjukkan wajahku didepan ibu dan adiknya John? Bagaimana? " tutur Hyuji sambil memukul dada bidang John.


"Hyu, dengarkan aku! " John menjauhkan tubuh Hyuji dan menangkup kedua pipinya sekali lagi. Memperhatikan lamat manik kuyu Hyuji John berkata. "Dia ingin kau bahagia bersamaku! "


"Aku---"


"Ayo ke daegu sekarang! Kita beri penghormatan terakhir untuknya! "


Hyuji tertegun dalam sengal isak tangisnya sendiri, dia menatap manik rusa John yang Indah, memeluk dan menangis histeris sekali lagi. Merasa menyesal karena keegoisannya.


Kini, Reyna yang baik dan penyabar tak lagi ada untuknya. Dia pergi untuk selamanya,meninggalkan sejuta kenangan yang tak akan mungkin pernah Hyuji lupakan dalam hidupnya.[]