
"Berjanjilah juga---"
Reyna mengulum senyuman ditengah isak tangis. "Untuk bertemu denganku lebih cepat dikehidupan selanjutnya kelak!".
Semua gejolak emosi, penyesalan, bahkan secuil kebahagian menguasai Val sepenuhnya.
Kacau,
Seolah semua terdengar seperti olokan yang bersorak di dalam kepalanya. Val meraih tubuh rapuh Reyna dan membawanya kedalam dekapan. Begitu erat, bahkan tak ingin sedetikpun melepaskannya.
Nafas hangat Reyna menyapa remang pada ceruk lehernya, Val tergugu dalam frasa yang menggila didalam otaknya.
Terkejut, bahkan terpaku dalam diam. Reyna berusaha tetap membawa dirinya dalam batas kesadaran diri. Telapak yang semula mengapung diudara karena kejut, kini mencoba meraih pinggang dalam balutan mantel tebal berwarna putih sang lawan bicara.
Berfikir jika seharusnya hari ini adalah hari yang menyenangkan, Reyna mengurungkan niat awalnya. Beralih mengusap punggung lebar Val dan terkekeh kecil dalam isak, membuat suaranya terbata, tercekat dalam sengal nafas.
"H-hei... seharusnya kita berbahagia hari ini!"
Val tak peduli dan tetap mengungkung Reyna dalam pelukannya.
"Hei, aku tidak bisa bernafas... "
Mendengar suara protes Reyna, Val tersadar dan segera melepas pelukannya perlahan. Mengusap airmatanya kasar dibalik punggung Reyna.
"Maaf... "
Reyna mengulum senyuman dan menyeka sisa airmatanya perlahan.
"Ayo kita makan kuenya sebelum berubah menjadi es! " Canda Reyna berhasil membuat Val terkekeh.
"Kenapa kau mengalihkan topik?! "
"Karena kau sudah menjadi pemuda cengeng!" sahut Reyna sambil mengambil sendok kue, menggambil sedikit bagian atas dan menyodorkannya pada Val.
"A... " titah Reyna pada Val agar membuka mulutnya. Val tertawa, membuang wajah kearah lain sambil mengusap tengkuknya.
"Kau pikir aku bayi? Yah, aku bisa makan sendiri! "
"Jangan rewel!! A... "
Tak bisa berkata lagi, Val menurut. Dia membuka mulutnya sebesar suapan kue yang diberikan Reyna, gadis itu tertunduk lega. Mengambil sesendok lagi dan memasukkan kedalam mulutnya sendiri. "Eummm, kuenya dingin dan sedikit keras! Ini salahmu!! " menatap Val sengit.
Karena tak terima, Val menatap Reyna dengan kedua bola mata yang nyaris menggelinding keluar.
"Kenapa jadi salahku?! "
"Kau terlalu banyak bicara! "
Val tertawa lepas, gadis itu masih sama seperti yang ia kenal dulu. Dengan tanpa ia duga lengannya terulur begitu saja meraih pucuk kepala Reyna dan mengusapnya penuh perhatian.
"Kau masih Reyna yang kukenal! "
"Tentu saja, kau pikir aku akan berubah menjadi seperti apa? Monster?! "
Val semakin membuka birainya dan bersuara lantang dalam tawa.
"Hei, kau tidak bisa berubah menjadi monster hanya kerena aku tidak melihatmu dalam waktu yang lama! "
"Lalu? Berubah menjadi seperti Hyuji?! "
Ah, benar. Reyna jadi merindukan sahabatnya yang sudah hampir tiga hari tidak bisa ia hubungi. Rumah Hyuji juga kosong saat terakhir Reyna tiba di daegu.
"Tidak! itu ide buruk!! "
Gelak tawa menghiasi hari yang sudah semakin dingin dan gelap.
"Ayo habiskan kuenya! Aku harus pulang sebelum gelap, ibu pasti khawatir padaku! "
Reyna terkejut saat Val menghentikan jemarinya yang hendak mengambil kue. Reyna dengan begitu jelas merasakan usapan jemari panjang Val yang sedang mengusap ujung bibirnya.
"Ada coklat dibibirmu! Kau ini makan seperti anak kecil saja! Berikan sendoknya padaku! "
Val meraih paksa sendok dari tangan Reyna, beralih dirinya yang menyuapi Reyna mebuat gadis itu mengerjap cepat, menimbulkan perasaan aneh dari dalam diri Val.
"Cepat ditelan, jangan melihatku seperti itu... " ucap Val sembari memasukkan sesendok besar kue kedalam mulutnya.
"Hei, jangan panggil aku dengan sebutan itu saat diluar kantor! " kesal Val, mengangkat sendok guna memberi peringatan.
Reyna meraih kantong kertas disebelahnya, memberikannya pada Val.
"Selamat bertambah tua Val, maaf tidak bisa memberikan hal yang mewah atau sesuatu yang berharga padamu! "
Val menerimanya, menatap intens pada manik Reyna.
"Terima kasih sudah mengingat hari ini! Apapun yang kau lakukan, aku harap kau selalu dalam kebahagiaan Rey... "
Tatapan mereka terkunci. Tak dapat berpaling sedikitpun.
"Maaf aku sudah mengecewakanmu... "
Reyna mengatupkan bibir, sesaat berfikir kembali kepada semua kehidupan berat yang sudah ia lalui. Kemudian melempar tawa kecil hangat yang disukai seorang Val.
"Tidak, tidak ada yang buruk! Anggap saja semua ini sebuah pelajaran hidup! Dengan begitu, aku, " Reyna menjeda saat meletakkan telapak pualamnya didada, kemudian melanjutkan. "---dan juga kau!"
Reyna meletakkan telapak tangannya tepat didada Val. Dengan cepat Val menahan telapak tersebut, kembali menatap dalam pada Reyna dengan pupil bergetar. Mendekatkan diri pada sosok Reyna hingga nafas hangat mereka saling menyapa.
Val mengusap lembut pipi Reyna, kemudian menyusupkan jemari dinginnya dibalik telinga Reyna. Menyapa birai Reyna dengan lembut, membuat Reyna mematung dengan jantung terasa seolah meledak seketika. Sesaat melihat Val memejam, membuat Reyna larut dalam suasana dan menyentuh lengan Val yang masih berada dibalik surai hitamnya. Merasakan birainya yang perlahan menghangat karena Val meraih kewarasannya semakin dalam, begitu lembut hingga membuat sistem kerja otak Reyna berantakan. Hanya Val yang memenuhi pikirannya saat ini.
Membalas singkat pagutan tersebut sebelum benar-benar berakhir, Reyna meneteskan kembali airmatanya. Val berhenti, dia menjauh dengan bibir masing-masing yang masih merona.
"Saat kembali ke seoul nanti, jika kau tidak keberatan, datanglah ke pesta kami... "
Hancur bagai dihantam meteor, Reyna kembali rapuh. Ia ragu, ingin menolak, namun tak bisa berbuat apapun saat kedua manik jelaga itu terlihat sayu.
"Tentu saja... "
Reyna bahkan tak mampu lagi merasakan sakitnya telapak tangan yang mulai kebas dan mati rasa. Kembali terjerembab dan terjebak didalam sakit yang sama, menerima kenyataan bahwa dulu bukanlah sekarang. Val memang bukan takdirnya.
Val mengeluarkan selembar undangan dari balik jaket tebalnya dan memberikannya pada Reyna.
Bukankah seharusnya, nama yang tercetak tebal dan berwarna emas disana adalah namanya? Dirinya dan Val? Nama mereka berdua? Reyna membunuh sendiri perasaannya dengan sebilah senjata berupa penyesalan. Mengubur semua angan dan menerima kenyataan bahwa memang seperti inilah dirinya harus berakhir.
"Aku akan datang jika tidak ada sesuatu yang menghalangi, kau tau sendiri pekerjaan seorang customer service itu tidak semudah yang orang lain bayangkan!"
Val tertawa canggung.
"Apa perusahaanku terlalu kejam? "
"Eoh... kejam sekali! "
Val tercekat, ia dapati Reyna yang sudah berantakan tepat didepan kedua matanya.
"Kau sangat kejam, tapi kau tak pernah tau akan hal itu! "
"Rey, aku---"
Reyna menahan jemari Val yang hampir menyentuh pundaknya, menampiknya perlahan.
"Berhenti sampai disini Val! Aku akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir padaku!"
Reyna menegakkan kembali tubuhnya, berdiri dan hendak melangkah jika saja Val tidak menahannya.
"Rey---"
"Val, sudah aku katakan aku tidak apa-apa! Aku baik-baik saja, dan aku akan hadir disana! Dipesta yang memperlihatkan dirimu bersama dengan orang lain! Seharusnya aku sadar diri sejak awal, aku orang yang egois bukan? "
"Itu tidak benar Rey! "
Reyna menarik diri dan pergi, semakin jauh dan tak lagi terlihat dikedua pelupuk mata Val. Meninggalkan Val yang tergugu dalam tangis, meluapkan semua beban dihatinya tentang Reyna. Tentang seseorang yang masih meninggalkan banyak kenangan Indah yang sayang sekali jika dilupakan.
Val meremas surainya penuh keputus asaan.
"Maafkan aku sekali lagi yang sudah bodoh membuatmu hancur untuk kesekian kalinya Rey! "
Val tersungkur diantara tumpukan salju yang dingin diatas kedua lututnya, meronta dengan suara beratnya, mengepal, mengeratkan rahangnya rapat.
"Maaf... "[]