
Demi apapun, hari ini HyuJi berisik sekali. Dia tak berhenti bertanya pada Reyna tentang John yang mengantarnya pulang, apa yang terjadi, hingga pertanyaan-pertanyaan lain yang menurut Reyna tidak terlalu penting.
Bagai buah simalakama, Reyna menatap sendu teman baiknya itu. Mendadak, muncul sebuah rasa bersalah pada benaknya, mengingat apa yang dikatakan John padanya tempo hari. Tentang perasaannya. Kendati demikian, dirinya juga tak mau berakhir menyakiti hati Hyuji hanya dengan mengatakan yang sesungguhnya pada gadis bersurai sebahu itu. Dia terlampau bersemangat tentang pemuda itu.
"Kau menyukai John Hyu? "
Gadis itu merona seketika terdiam, sepertinya dia terlalu malu mengakui itu pada Reyna. Meraih kedua telapak tangan sang sahabat, menggenggamnya erat seraya tersenyum lembut, Reyna berkata. "Aku akan membantumu jika kau menyukainya! Dia pemuda baik! "
"Yah!! Dia itu lebih muda dari kita! Mana mungkin aku mencintai pria yang lebih kecil dariku! "
"Usia bukan sebuah jaminan untuk mengukur seberapa dewasa dia berfikir Hyu! Dia pemuda baik! "
"Yah hahahah---"
"Dia juga dewasa! "
Hyuji stagnan. Dia melihat bagaimana binar Reyna tulus mengatakan tentang pribadi pemuda yang mereka temui tempo hari, Hyuji tertunduk, hanya mampu menahan jawaban yang seharusnya sudah ia katakan sedari tadi.
"Katakan saja padaku, apa kau tidak percaya padaku Hyu?"
Hening, hingga suara dering telepon dimeja Reyna melebur bersama keduanya. Reyna melepaskan telapak Hyuji demi meraih gagang telepon yang tak berhenti meraung untuk segera di terima.
"Makanlah bekalmu, kita bicara lagi nanti setelah jam kerja berakhir! "
Gadis itu tersenyum antusias mendengar penuturan Reyna, kemudian kembai ke meja kerjanya sembari menoleh sekilas guna memperhatikan Reyna yang sedang sibuk berbicara dengan sambungan telepon yang beberapa saat lalu berdering.
-
Reyna berjalan cepat melewati lobby, membawa beberapa lembar berkas yang diperlukan oleh kepala devisinya.
Sesampainya depan sebuah ruangan, Reyna dengan segera mendorong bilah kaca itu hingga kini dia dapat melihat presensi lain selain pak Park. Val.
Langkah Reyna seketika terhenti, tak ingin masuk lebih jauh kedalam sana saat melihat pemuda itu turut ada disana dan menatapnya lekat.
"Kenapa berdiri disana Rey, masuklah! " pinta pak Park, membuat Reyna mau tidak mau harus memaksa diri untuk kembali menjejakkan langkah diatas lantai dingin ruangan pak Park.
Dan entah kenapa, Reyna jadi turut fokus pada Val yang masih berkutat dengan kertas-kertas bertabur huruf dengan tinta hitam diatasnya. Munafik jika dia menampik rasa debar yang tiba-tiba saja muncul.
Sosok yang dulu begitu ia cintai dan kagumi karena kebaikan dan kepolosannya, kini menjelma menjadi sosok yang mempesona dan maskulin.
"Tidak, aku tau ini tidak benar! Aku benar-benar dalam masalah sekarang!" batinnya, merutuk, terjebak kembali dalam masa bahagia dan kelam secara bersamaan.
Tapi, yang lebih mengejutkan, pak Park pergi begitu saja keluar ruangan sambil membawa berkas ditangannya tanpa mengucap apapun pada Reyna, membuat gadis itu terbelalak penuh tanya.
Saat kakinya hendak menyusul, tiba-tiba suara berat Val terdengar memenuhi ruangan.
"Dia hanya pergi untuk menggandakan berkas tersebut untukku! Jadi kau bisa menunggunya sebentar disini! "
"Bersamamu? Tentu saja aku lebih memilih keluar dari sini! " jawab Reyna dengan seringaian dan sarkasme, kemudian berbalik.
"Sebenci itukah dirimu padaku? "
Sial!
Sialan memang, Reyna kembali terjebak dengan Val dalam satu ruangan yang membuat jantungnya bekerja tidak baik.
Reyna berbalik menatap pada sosok pemuda yang sedang bersamanya, kedua maniknya berair, seraya berkata. "Lalu aku harus bagaimana? Berpura-pura baik-baik saja? Seperti itu? "
Tanpa berkata apapun, Val melihat pada sisi meja, meraih secarik kertas kemudian menulis sesuatu disana.
Dunia seolah berhenti berputar kala Reyna mendapati Val berjalan mendekat padanya. Meraih paksa telapak tangan dan menyematkan kertas itu diantara telapak mereka yang bersatu.
"Aku mohon, sekali saja! Sebelum aku benar-benar tak bisa lagi bertemu denganmu!"
Val pergi, meninggalkan Reyna yang sukses terpaku ditempatnya. Menggenggam jemari yang berisikan selembar kertas bertulis tangan dari Val.
Menundukkan pandangan dan melihat tangannya yang bergetar, kedua pupilnya turut bergetar saat kertas itu terbuka sempurna. Air matanya menetes tak terkendali.
"Baiklah! Kali ini aku akan memenuhi keinginanmu!"[]