Vienna

Vienna
26. Lakuna.



John ingat, beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan neneknya yang telah tiada dalam mimpi. Menurut mitos yang dipercaya warga, bermimpi seperti itu bukanlah pertanda baik.


Dia sudah menghubungi keluarganya, dan mereka semua baik-baik saja, dia bahkan menghubungi sahabat dan juga kerabat, mereka juga memberikan kabar yang menenangkan.


Disisi lain, dia khawatir akan keadaan Reyna yang sudah hampir tiga hari ini tidak bisa ia hubungi sama sekali. Setelah mengantar dia kembali ke apartemen dan mengirim file lagu yang dimintanya malam itu, Reyna sudah mematikan ponselnya.


"Apa... Aku tanya saja pada Hyuji?! " gumamnya pelan sambil memutar ponselnya diatas meja kerja. "Tapi, tidak masuk akal jika aku tiba-tiba menghubungi Hyuji dan menanyakan Reyna! "


John mendengus kesal, menyandarkan kepalanya dengan keras pada sandaran kursi, menatap langit-langit sambil menerka--- mengapa Reyna tidak bisa dihubungi.


"Okey!! Besok aku akan datang ketempat tinggalnya! "


-


Keesokan harinya,


Hari ini adalah hari keempat Reyna tidak bisa dihubungi. Sesuai dengan apa yang dia katakan kemarin malam, dia mendatangi apartemen Reyna. Berjalan menyusuri lobby yang ternyata lebih sepi dari dugaannya. Dan berhenti tepat di unit nomor 130.


Sudah dua kali dia menekan tombol bel, tapi tidak ada sedikitpun tanda pintu itu akan terbuka.


John melihat jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya, pukul tujuh petang. Seharusnya, semua kegiatan perusahaan ataupun kantor sudah berhenti saat ini, kecuali pegawai yang harus bekerja lembur.


"Pasti lembur?! "


Baru saja ingin menekan bel untuk yang ketiga kalinya, seorang tetangga yang lewat menatap John kemudian menyapanya.


"Permisi... "


"Astaga!! " jawab John terkejut, dan buru-buru membungkuk untuk memberikan hormat.


"Kau teman Reyna?! "


"I-iya... saya temannya! " jawabn John gugup.


"Sudah tiga hari dia dirumah sakit! Kau tidak tau?"


John menggeleng cepat dengan binar penuh tanya.


"Gadis malang itu mencoba melakukan bunuh diri!"


Sontak, John terperangah. Kedua manik rusanya melebar, nafasnya seolah tertahan tanpa sebab di kerongkongan tanpa ia minta.


"S-saya tidak mengerti maksud anda... "


"Dia melukai dirinya sendiri, tiga hari yang lalu! Dan sekarang dia masih dirawat dirumah sakit! "


Seluruh akal sehatnya seolah dipaksa menghilang dari raga. John merinding, tubuhnya bahkan bergetar mendengar penjelasan bibi yang masih berdiri dihadapannya itu.


"Ru-rumah sakit? Apa anda tau rumah sakit di daerah mana bibi?! "


"Rumah sakit Seoul!"


"Iya! " jawab si bibi singkat sembari berbalik meninggalkan John yang masih terjebak dalam keterkejutan.


Tanpa berfikir panjang, John berlari cepat menuju mobil yang beberapa menit lalu terparkir di halaman apartemen itu. Tubuhnya yang masih bergetar berusaha untuk tetap dalam batas yang bisa ia kendalikan. Mengenakan seatbelt dengan tergesa, dan pergi menuju rumah sakit yang di maksudkan bibi tadi. Memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan Seoul yang sudah menggelap sempurna.


Tak dapat menampik rasa khawatirnya, John memukul kemudi dengan keras saat melihat lampu lalu lintas berubah merah.


"Sial!!! "


Firasatnya tentang Reyna malam itu tidak salah, kesedihan serta rasa putus asa yang sempat ia lihat sebagai kelabu pada kedua manik Reyna adalah nyata. Gadis itu menyimpan luka yang sepertinya terlalu dalam.


Dia bersumpah akan mencari pemuda dan wanita yang sudah membuat Reyna hancur seperti itu. Iya, John bersumpah akan menghancurkan mereka berdua seperti mereka menghancurkan gadis bernama Reyna itu.


-


-


-


Val berhenti tepat didepan sebuah halte yang berada didekat kantornya. Disana, Hyuji sudah duduk menunggu kedatangannya. Val sekilas melirik jam pada dashboard mobil, 6.30 PM.


Hyuji membawa dirinya untuk duduk di kursi depan disamping Val.


"Rumah sakit Seoul! "


Tanpa membuang waktu, Val menginjak pedal gas mobilnya untuk segera menuju tempat yang dikatakan Hyuji.


Hening, hanya itu yang terasa saat ini. Hanya bunyi dengung samar dari mesin mobil yang sedang dipacu yang terdengar.


Hingga pada empat puluh menit berikutnya, mobil berjenis palisade itu terparkir sempurna. Val menyamakan langkah dengan Hyuji memasuki ruangan beroma disinfektan yang akan membawanya bertemu dengan Reyna.


Kini, kedua kaki yang biasanya setegar baja, tubuh sekokoh pilar itu berubah lemah. Tulangnya seolah rapuh dan luluh saat melihat Reyna yang terbaring diatas ranjang rumah sakit, tak berdaya, dengan berbagai alat bantu medis yang tersemat pada beberapa bagian tubuhnya.


"Rey... " panggilnya pelan, tangan kanannya terulur untuk meraih tubuh Reyna yang nyatanya terhalang oleh bentangan kaca ruang ICU. Betapa hancur perasaan Val saat mengingat masa indahnya bersama gadis tersebut. Senyuman yang dulu sangat ia sukai, suara lembut yang selalu ia dengar, begitu juga dengan sikap baik, tegar dan terkadang manja, masih terpatri didalam ingatan Val.


Mungkin, atau jika diberi kesempatan sekali lagi untuk kembali kemasa lalu, dia pasti tidak akan melepas gadis sebaik Reyna. Dia menyesali keputusannya, sekarang.


"Kau ingin masuk? " tanya Hyuji dengan suara bergetar.


Nyatanya Val tidak setegar yang terlihat. Tubuhnya terperosot kelantai, kedua telapak menutupi wajah yang saat ini sudah memerah dan berderai air mata. Suara beratnya tak lagi bisa menahan tangis.


"Maafkan aku Rey... " desahnya disela sengguk yang mencekik kerongkongan. Menjambak putus asa surai yang tadinya tertata rapi.----


"Aku mencintaimu Val... "Ucap Reyna dibawah rintik hujan yang terasa menyegarkan ditengah musim panas yang membakar. Tak peduli seragam ataupun sepatu yang akan basah kuyup, atau dimarahi ibu karena buku pelajaran yang rusak nantinya, diantara suara lonceng dan disusul roda kereta yang beradu.


Val tersenyum lembut, mengurai anakan rambut Reyna yang terbang terbawa angin. "Aku juga mencintaimu! " Balas Val dengan penuh perhatian. "Berjanjilah untuk tetap Setia mencintaiku meskipun nyatanya aku bukan seorang pria yang sempurna! "


Reyna mengangguk dengan senyuman hangat yang ia sematkan pada birai ranumnya. Mengulurkan kedua lengan pualamnya guna meraih lekukan pinggang Val untuk ia rengkuh, menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Val yang sangat disukainya. Keduanya menatap bebas pada jalanan kereta yang sudah kembali sunyi, dengan kaki terayun diudara. Moment yang paling disukai Reyna kala dirinya bersama Val.


"Aku akan mencintaimu meski kau membuatku sakit sekalipun! Aku berjanji akan mencintaimu selamanya! Sampai duniaku berakhir! "[]