
Deru mesin mobil terdengar samar kala John sudah menghentikan lajunya, sebab rumah dimana Reyna disemayamkan sudah berada tepat didepan mata.
Hyuji masih tertunduk dengan mata sembab, wajahnya layu, jemarinya saling meremat cemas.
John mencoba menenangkan, ia raih kepala Hyuji dan mengusapnya untuk kesekian kali. "Ayo kita turun dan memberi penghormatan terakhir untuk Reyna! "
"Aku tidak sanggup John! " jawabnya kembali berderai air mata.
"Hyu, kau adalah sahabatnya! Jangan biarkan dia menunggumu!"
Reyna mengangkat pandangannya, menatap manik rusa John yang sedang menatapnya lembut.
Dan pada akhirnya, mereka berdua keluar dari mobil. Disambut dengan suhu dingin pegunungan, dan juga beberapa tetangga yang datang untuk berbela sungkawa.
John meraih telapak Reyna, menggenggam erat dan membawanya berjalan masuk.
Hati Hyuji seperti disayat pisau tajam saat melihat ibu Reyna yang terduduk lesu memandangi peti dimana Reyna terbaring tak bernyawa, begitu juga Roy, pemuda itu tertunduk dalam tangis.
Hyuji mendekat bersama John, memberi salam hormat untuk ibu Reyna. Wanita itu menatap sayu pada sosok Hyuji.
"Kau datang Hyu... " dengan suara parau dan bergetar.
Hyuji mengangguk tak dapat lagi membendung airmatanya yang menetes lebih banyak.
"Reyna, Reyna... "
Dengan cepat Hyuji meraih tubuh renta ibu Reyna kedalam pelukannya.
"Maafkan Hyuji yang tidak bisa menjaga Reyna dengan baik Bibi... "
"Tidak nak, ini sudah jalan takdir Reyna! Bibi tidak akan menyalahkan siapapun, bibi menyesal tidak bisa membuat hidup gadis sebaik Reyna berakhir bahagia! Ternyata selama ini dia memendam beban berat hidupnya sendiri... "
John turut meneteskan airmatanya. Kemudian mendekat pada Roy, memegang pundak sang pemuda.
"Hai, " sapanya kaku. Dia baru tau jika adik laki-laki Reyna benar-benar tampan.
"Maafkan kak Reyna jika memiliki kesalahan padamu Hyung. " tandasnya.
"Kakakmu orang baik, dia juga tidak pernah melakukan kesalahan padaku! Tidak ada yang perlu dimaafkan! "
Kini, tak ada lagi Reyna yang berdiri tegar dengan senyuman yang terlampau Indah diwajah cantiknya. Tanah pemakaman yang dingin, hanya dapat menatap wajah cantik itu dari balik bingkai foto yang diletakkan diatas pusara.
Hyuji menyembunyikan wajahnya didada bidang John, menangis tertahan disana saat sosok Reyna telah benar-benar kembali pada sang kuasa. Keluarga Hyuji yang juga hadir disana turut merasakan kesedihan, karena selama ini Reyna sudah seperti keluarga nagi mereka.
Dan saat semua prosesi pemakaman sudah berakhir, Hyuji belum mau meninggalkan pemakaman dan John turut berada disana. Membiarkan Hyuji yang memeluk pusara Reyna dalam tangis yang ia luapkan dengan suara keras. Yang bisa ia lakukan hanya mengusap punggung Hyuji menyalurkan ketenangan.
"Hari sudah mulai gelap Hyu, ayo kita kembali ke Seoul! " bujuk John dengan suara madunya. Hyuji menggeleng, masih menyandarkan kepalanya pada gundukan tanah yang basah dan dingin.
"Ayo kita datang kesini lagi saat akhir pekan! Aku janji akan mengantarmu kapanpun kau ingin datang kesini! "
Perlahan, Hyuji bangkit. Mengusap wajah Reyna yang ada didalam bingkai, sekali lagi tergugu. "Rey, aku akan mengunjungimu lagi! Kau--- maksudku, beristirahatlah dengan tenang! Maaf aku harus pulang... "
Hyuji mencoba berdiri dengan bantuan John, pria itu berlutut demi membersihkan tanah yang mengotori pakaian Hyuji kemudian menuntunnya semakin menjauh untuk pulang.
Sunyi,
Bingkai itu tertiup angin dingin, senyumannya masih tercetak sangat Indah.
Sendirian, dalam gelap. Semua orang akan pergi dengan kenangan yang tersisa.
Dan pada akhirnya semua akan dikembalikan kepada sang pemilik kehidupan dengan jalannya masing-masing. Dari tanah kembali ke tanah, begitulah prinsipnya. Tidak ada yang akan berubah.
***
Tiga hari kemudian,
Val kembali dari liburan bulan madunya bersama HaNa. Meja yang dipenuhi tumpukan berkas yang perlu ditandatangani, dan juga, sebuah surat yang saat ini menarik perhatiannya. Dia menariknya terlebih dahulu.
Surat pengunduran diri dan pemberian santunan, serta pesangon atas PHK.
Val mengerut dahi, membuka penutup surat tersebut dan membacanya perlahan. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat nama Reyna disana.
Tubuhnya terhuyung, bergetar hebat, bahkan pandangannya memburam. Dirinya merosot kelantai, bersandar pada meja kerjanya, Val tergugu. Menekuk kedua kakinya guna menyembunyikan wajah yang saat ini sedang terisak.
Haruskah semua berakhir seperti ini? Kehilangan Cinta bahkan sebuah nyawa?
Mendadak pening menyerang kepala Val dengan hebatnya. Membuat pria itu mengerang dan meremas surainya yang tertata rapi.
Frustasi? Mungkin akan lebih tepat jika disebut menyesal. Bahkan dia menganggap dirinya tidak berperasaan sekarang.
"Kenapa jadi begini? " rintihnya dengan suara berat dan sendu. Membenturkan kepala belakangnya beberapa kali pada meja kerjanya.
"Aku harus ke Daegu sekarang juga! "
Val berdiri kasar, mengusap airmatanya dan berjalan tergesa-gesa.
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dan berhenti pasa sebuah toko bunga untuk ia bawa ke tempat pemakaman Reyna.
Daegu,
Setelah Val sampai didaegu, dia melihat ibu Reyna sedang merawat tanaman di halaman rumah. Sudah lama Val tak melihatnya. Terakhir, sekitar tujuh tahun yang lalu, wanita itu masih terlihat tegap dan cantik. Tapi pemandangan berbeda ia lihat saat ini. Wanita itu sudah terlihat renta, kerutan diwajahnya terlihat begitu jelas.
Mereka berdua saling menatap, Val memangkas jarak.
"Ibu... " panggil Val.
Wanita itu tersenyum membuat Val kembali digulung rasa bersalah. "Kim? Kaukah itu? "
Val mempercepat langkahnya, meraih wanita itu kedalam pelukannya. Dan dibalas sebuah usapan banyak dipunggung kekarnya.
"Iya, ini saya ibu... "
"Kau terlihat semakin tampan nak, kau juga terlihat gagah sekarang! "
Entah, Val harus tersenyum atau bagaimana?! Karena hatinya benar-benar tidak baik-baik saja.
"Masuklah dulu, ibu akan membuatkanmu makanan kesukaanmu! "
"Tidak perlu ibu," jawabnya sambil menarik tubuh dari pelukan ibu Reyna.
"Kau pasti mendengar berita tentang Reyna? "
Val mengangguk pelan sambil berderai airmata.
"Saya ingin---"
"Pergilah, Reyna pasti juga merindukanmu! " sahut ibu Reyna cepat seolah sudah tau pasti apa yang akan dikatakan pemuda yang pernah menempati hati putrinya tersebu sambil mengusap satu sisi wajah Val.
Kakinya seperti lemas tak bertulang saat melihat tanah pemakaman yang masih basah. Hatinya terasa nyeri, bersamaan dengan denyut yang menyakitkan.
Val meletakkan seikat bunga anyelir, mengusap batu nisan bertuliskan nama Reyna. Masih terlihat sisa taburan bunga yang meniupkan aroma harum diantara bingkai foto sang gadis.
"Apa kau melakukan ini karena aku? " tanya Val dengan bibir bergetar. "Maaf... "
Hanya itu yang bisa Val katakan untuk Reyna yang benar-benar sudah meninggalkannya. Hanya sisa kenangan Indah yang ia rasakan saat bertemu terakhir di daegu beberapa waktu yang lalu yang masih terlintas didalam ingatan Val.
"Dulu adalah masa lalu! Dan sekarang, Kau sudah menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia! Aku hanya berharap kau bahagia selamanya bersama dia! "
Val masih ingat betul apa yang dikatakan Reyna sebagai doa untuk kebahagiaannya. Dan dia tak menyangka jika pertemuan dan doa tersebut adalah hal terakhir yang ia dapat dari Reyna. Val meronta, pundaknya yang kokoh jatuh begitu saja.
Sebuah penyesalan memang selalu datang diakhir.
"Berjanjilah juga, Untuk bertemu denganku lebih cepat dikehidupan selanjutnya kelak!"[]
End.
●
●
●
Notes:
Akan ada satu bab epilog sebagai penutup. mengapa Hyuji tiba-tiba menjauhi Reyna juga ada didalam bagian epilog.
Untuk cerita bagaimana Hyuji dan John yang tiba-tiba menikah, bisa dibaca di SpinOff cerita terpisah dengan judul 'another Winter'. Akan aku Up setelah epilog di Vienna.
Alur cerita mereka berbeda dengan alur cerita Vienna. Akan ada dimana keUWUan dan bagaimana cara mereka menjalani kehidupan mereka setelah menikah dan kepergian Reyna.
Jadi jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak juga disana.
Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua readers yang sudah mengikuti Vienna sampai sejauh ini. Dan dengan sangat Vi's meminta maaf jika ada salah kata yang disengaja maupun tidak, atau jalan cerita yang masih kurang. Vi's hanya berharap cerita ini dibaca dan dinikmati oleh banyak orang. Diambil sisi baiknya.
Salam hati warna Ungu,
💜💜💜
Vizca.