
Dua puluh delapan desember, cutinya dimulai hari ini. Reyna memasukkan beberapa potong baju kedalam tas ransel yang akan ia pergunakan untuk mengunjungi kampung halamannya saat ini.
Antusias dan rasa tidak sabar sudah membuncah dalam dirinya. Bayangan sang ibu yang akan menyambutnya dengan sebuah senyuman diambang pintu menjadi satu-satunya alasan dia tersenyum dalam diamnya saat ini.
Mengikat tinggi rambut hitam panjangnya, mengenakan kaos putih, celana jeans panjang, dan dibalut dalam mantel tebal sebatas lutut, dan sepatu converse merah, Reyna berjalan keluar dari kamar apartemennya. Menghirup udara kebebasan yang akan membahagiakan dirinya dalam waktu satu minggu kedepan.
Tiket kereta juga sudah ia siapkan sejak ia mendengar cuti tahunannya disetujui. Reyna berjalan menuju stasiun yang berjarak tidak terlalu jauh dari apartemen.
Hiruk pikuk didalam sana seolah menjadi tanda jika akhir tahun merupakan hal yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak, hampir semua aktifitas dihentikan karena para pegawainya libur, menghabiskan hari bersama keluarga, atau bahkan kekasih merupakan suatu hal yang tak bisa dilewatkan.
Reyna mengulum senyum kala seorang gadis kecil yang berada dalam gendongan sang ayah. Melihat itu, dia jadi teringat pada sosok ayah yang sudah pergi mendahuluinya. Pupilnya mulai bergetar saat melihat pria itu mencium penuh kasih pada Putri kecil dalam dekapannya. "Ayah, bagaimana kabarmu hari ini? Aku sangat merindukanmu! Kau selalu membelikanku permen dan baju baru saat pergantian tahun seperti ini! " gumamnya mengingat kenangan indahnya bersama sang ayah. "Ah, kenapa aku jadi begini? Harusnya aku bahagia karena akan bertemu ibu dan Roy! "
Mengerjap cepat demi menghilangkan kabut yang menyelimuti pandangannya, Reyna kembali menatap pantulan dirinya pada pintu kaca yang mungkin beberapa menit lagi akan terbuka secara otomatis. Dia berharap tak terlihat menyedihkan dihadapan sang ibu nanti.
Mungkin, menahan tangis bukanlah jalan terbaik. Karena hatinya terasa begitu nyeri, sakit sekali.
Kakinya turut bergetar saat roda kereta yang akan membawanya ke daegu menggesa kesadarannya. Pintu terbuka, memuntahkan berbagai warna manusia dari dalam sana. Reyna melangkah masuk, mencari tempat duduknya dan menatap keluar jendela dengan Netra kuyunya.
Kapsul kereta itu mulai melesat dengan kecepatan tinggi, menampakkan bentangan cakrawala yang terlihat sedikit Indah hari ini.
Kedua Netra Reyna berpendar, memperhatikan langit dalam balutan lazuardi dengan cahaya orange matahari yang semakin mempercantik bumi seoul.
"Harusnya, aku melangkah kearah lain atau bahkan pergi saat melihat diriku sendiri dalam kubangan kelam!" ucapnya dalam hati. "Namun mengapa selalu kembali kesana dengan wajah yang menyedihkan seperti ini?" Reyna menyandarkan kepalanya perlahan. Menarik nafas dalam dan memejam saat mendengar lantunan musik yang dikirim John padanya beberapa waktu lalu.
Kini, kakinya sudah menapak pada tanah dimana dia dilahirkan. Daegu. Melepas penat dan juga hiruk pikuk kehidupan kota yang memuakkan.
Aroma gunung, alam, dan juga dingin yang membaur menjadi satu; Menenangkan. Tinggal selangkah lagi dia akan bertemu dengan rumah sebenarnya, tempat berlabuh yang sangat dirindukannya; ibu.
Melangkah keluar dari stasiun dan berjalan menuju halte bus dengan tujuan desanya, Reyna menarik nafas lega dan tersenyum samar.
-
Derap langkahnya begitu cepat, telapak dengan sepatu lusuh itu berlari dengan kencang sambil membawa selembar kertas bernilai sempurna yang ia dapat pada ujian sekolah kali ini.
"Ibu... "Teriaknya antusias, membuat perhatian sang ibu tertuju hanya pada Putri kecilnya yang sedang berlari bahagia kearahnya.
Dilihatnya gadis yang cantik itu terengah, tertawa bangga sembari menunjukkan lembaran yang ia bawa dengan wajah sedikit pucat karena lelah. "Ini, ini... " ucapnya terbata dalam sengal nafas. "Rey mendapat nilai sempurna dalam ujian ilmu berhitung ibu..."
Senyuman Indah yang selalu disukai Reyna adalah milik sang ibu, tidak ada yang menandingi kecantikan ibunya sampai kapanpun.
"Benarkah? Waaah, Putri ibu pandai sekali... " sahutnya penuh bangga saat Reyna memberikan kertas padanya.
"Ibu, aku akan menjadi orang yang pintar dan kaya saat besar nanti! " ucapnya semakin menggebu sambil menunjuk dirinya sendiri dengan dua ibu jarinya yang mengacung kearah dada.
"Benar! Kau akan menjadi gadis yang pintar dan tangguh! Aigooo... Putri ibu berbakat sekali... " pujinya sembari mengusuk surai hitam Reyna yang berusia delapan tahun. Gadis itu tersenyum manis dan cantik sekali.
Namun, kesadarannya akan hal menyenangkan itu dipaksa kembali saat menatap rumah berdesign tua dihadapannya. Langkahnya terpaku, kakinya terasa berat sekali untuk berjalan.
Maniknya menangkap presensi renta dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya, duduk diatas kursi tua yang seingatnya dulu, waktu dia masih kecil, selalu dipergunakan ayahnya untuk memanjakan dirinya, sedang memegang kain dengan sebuah pembidang; merajut.
Tanpa terasa airmatanya luruh, berderai tak bisa ia hentikan. Melangkah dengan kaki sedikit terseret, Reyna memangkas jarak. Bibirnya bergetar.
Tak terlihat lagi senyuman secerah Mentari, yang ada kini sebuah senyuman yang di semati kerutan diwajah tuanya. Reyna berlari menuju pelukan sang ibu, meluapkan segala kerinduannya dalam tangis sendu hingga isakan keras dibahu layu ibunya yang sangat ia sayangi.
"Kau datang sayang?! " tanya sang ibu dengan suara bergetarnya.
"Eummm," jawab Reyna dalam anggukan dan pelukan erat untuk ibunya. "Aku merindukanmu Ibu... "
"Aigoo, aigoo... kenapa putri cantik ibu menangis seperti bayi begini? " Godanya sembari mengusuk punggung Reyna.
Tangisannya semakin pecah saat sang ibu menjauhkan diri, menyematkan poni yang menutupi wajah cantik putrinya dibalik telinga tanpa anting-anting. "Berhenti menangis! Kau terlihat jelek dengan mata sembab! "
"ibu... " Reyna mengusap kasar airmatanya, disusul jemari sang ibu yang turut mengusapnya lembut.
"Lihatlah, bahkan ingusmu turut menetes! "
Reyna tertawa samar.
"Ayo masuk, kau pasti lelah! "
"Eung, lalu dimana Roy? "
"Dia bilang ke kebun sebentar untuk melihat sayuran yang masih hidup! "
"Kenapa dia menanam sayur dimusim dingin seperti ini?! " gumam Reyna melayangkan protes.
"Tidak menanam juga sih, tapi itu sisa yang masih ada saat musim panas lalu! "
Ibunya membawa Reyna masuk kedalam. Mereka berbincang cukup lama, berbagi kerinduan dan juga kehangatan ditengah hari yang semakin dingin.
"Ibu, aku ingin bertanya sesuatu! "
"Apa itu? Katakan?! "
Sebenarnya, itu adalah hal yang mengganggu dirinya saat berjalan pulang tadi.
"Rumah... nenek Val, aku melihat orang lain menempatinya! "
"Ah, itu! sekitar enam bulan yang lalu neneknya meninggal, dan pihak keluarganya menjual rumah itu!"
Reyna tertegun, apa itu artinya Val tidak akan datang pada hari dimana mereka akan bertemu? Entahlah, Reyna akan tetap kesana pada hari itu. Meskipun kecil kemungkinan Val akan benar-benar hadir disana.
"Ibu, aku membawa sesuatu untuk ibu! " ucapnya sembari mengeluarkan sebuah pakaian yang ia beli di seoul beberapa hari yang lalu. "Aku harap ibu suka... "
"Wah, cantik sekali! Terima kasih sayang... "
Reyna kembali menyuguhkan senyuman manis. Hatinya terenyuh melihat kebahagiaan diwajah ibunya.
"Aku juga membawa satu untuk Roy! Aku harap ibu dan Roy selalu dalam lindungan Tuhan sampai kapanpun! Dan juga, selalu mengingat Rey sampai kapanpun! "[]