Vienna

Vienna
38. Brotherhood.



Aku mencintaimu Rey,


Aku mencintaimu Rey,


Aku mencintai...


Aku...


...


Suara itu terus bergeming, menyesakkan dan membuat tubuh Reyna semakin dirundung rasa cemas yang berlebihan. Berhenti disebuah tepian jalan karena terhuyung, tubuhnya merosot dan bersandar pada sebuah tiang besi. Reyna mengeluarkan sebuah botol berwarna putih berisi butiran yang akan membuatnya tenang dalam beberapa saat, setidaknya sesampainya dirumah nanti, ibunya tak akan melihat sisi hancurnya saat ini.


Kelopak matanya tak lagi sanggup mengerjap, hanya panik, hampa dan hancur yang menyelimuti setiap inci perasaan Reyna. Mengeluarkan dua butir pil penenang dari dalam botol kecil, lalu menelannya dengan rakus, nafas Reyna memburu. Memejam guna menenangkan diri dan perasaan, Reyna membuang nafas kasar.


Meraih ponsel yang berada didalam saku jaket tebal yang menghangatkan diri, Reyna menelepon seseorang yang nyatanya tak bisa sama sekali dihubungi. Entah mengapa Hyuji seolah menghilang ditelan bumi.


Mencobanya sekali lagi, namun usaha keras Reyna tetap sia-sia.


Nomor yang nada tuju sedang diluar jangkauan kami, silahkan meninggalkan pesan setelah bunyi beep---


Reyna menurunkan ponsel kecewa, lelah sekali hari ini. Reyna mencoba berdiri dengan meraih sebuah tiang disampingnya, berusaha berdiri sekuat tenaga diatas kedua telapak kaki yang bahkan masih bergetar. Berjalan pulang dengan langkah lemah.


Hingga aroma sedap masakan sang ibu tercium kla Reyna berhasil melewati bentangan pintu depan.


"Aku pulang... " Sapa Reyna membuat ibu dan adiknya menoleh bersamaan.


"Kakak darimana saja? "


"Kakak bertemu teman lama! " jawab Reyna tenang sembari melepas jaket tebalnya yang setengah basah karena tiba-tiba hujan turun saat perjalanan pulang tadi.


"Ibu memasak japchae kesukaan kakak! Ayo kita makan malam sekarang! Aku sudah lapar! " Rengek Roy karena kesal menunggu kedatangan Reyna.


Reyna mengusuk surai madu adiknya.


"Baiklah, maafkan kakak! "


Suasana didalam rumah terasa sangat hangat, melihat adik laki-lakinya yang tumbuh menjadi pemuda baik dan tampan membuat Reyna mengulum senyuman.


"Ibu, aku akan kembali ke seoul besok pagi! "


"Mengapa tiba-tiba? Bukankah masih dua hari lagi masa cutimu berakhir? "


"Iya, tapi ada satu hal yang harus aku lakukan di seoul! " jawabnya sembari memasukkan sesendok besar japchae hingga memenuhi rongga mulut.


"Hal apa yang akan kau lakukan sampai kau tak bisa menundanya? "


Reyna tercekat, dia tak tau harus menjawab apa kali ini. Dia hanya terdiam dan melanjutkan makan malamnya.


Setelah selesai membersihkan semua sisa makan malam, Reyna mendatangi Roy yang sedang membaca buku diteras. Duduk disamping adik laki-laki yang sangat ia sayangi.


"Membaca apa Roy? "


Roy sedikit menggerakkan badannya, menatap sang kakak yang sedang melipat kakinya diatas kursi. "Ilmu berhitung... "


"Belajarlah bahasa asing juga, itu akan bermanfaat untuk masa depanmu! " titahnya.


Roy hanya berhenti melihat deretan angka yang berjejer didalam buku tersebut, "Masa depanku adalah mengelolah perkebunan peninggalan ayah! Jadi aku hanya perlu memperdalam ilmu bisnis dan ilmu berhitung saja! Aku rasa itu sudah cukup! "


"Lalu bagaimana jika suatu saat nanti usahamu berkembang dan kau memiliki clien dari luar negri?! Bukankah bahasa asing itu akan sangat berguna? "


"Roy... "


"Eung... "


"Seandainya kakak pergi lebih cepat dari dunia ini, kakak hanya berpesan agar kau merawat ibu dengan baik! "


Roy menutup bukunya dengan kasar, menatap nyalang pada sang kakak. "Kenapa kakak bicara seperti itu? Kakak akan hidup lama dan bahagia! "


Reyna meraih telapak Roy yang kini ukurannya sudah lebih lebar dari miliknya, dan mengusap lembut.


"Tidak ada yang tau umur seseorang! Kakak hanya berjaga-jaga! " tersenyum kala manik hazel sang adik masih nyalang. "Menikahlah dengan wanita baik yang mau merawat ibu dan dirimu! "


"Kakak berlebihan! " jawabnya asal sambil kembali membuka buku dan membaca bab selanjutnya.


Reyna membebaskan pandangannya pada bentangan hujan yang masih gemerisik.


"Kakak hanya berpesan padamu, jika hidup itu sebuah pilihan! Cintailah wanita yang juga mencintaimu, dan jangan pernah melukai hatinya karena itu tidak akan baik! "


"Kakak sedang mengigau? "


"Tidak! Kakak sadar seratus persen! "


"Jadi itu artinya aku sudah diizinkan berpacaran? "


Reyna ternganga sebab keluguan sang adik.


"Kau tidak sedikitpun mengerti ucapan kakak ya? " Kesal Reyna.


"Kakak sih bicaranya ngawur! "


"Roy, "


"Eoh??! " dengan nada kesal.


"Ingatlah ucapan kakak tadi!"


"Haaaah... " Roy menghela nafas panjang melihat sifat aneh sang kakak setelah bertemu dengan teman lamanya hari ini. "Baiklah, terserah kakak... " Roy berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Reyna karena merasa sedikit tidak nyaman dengan pembicaraan yang dibawa Reyna.


Melihat adiknya sudah menghilang dibalik pintu, Reyna menekuk kedua kaki dan menautkan dagunya diatas lutut. Memirsa hujan yang masih turun tanpa memberi jeda.


"Hujan... tidak taukah dirimu jika selalu hadir disaat aku sedang terpuruk seperti ini?" gumam nya pelan. "Kau membuatku selalu mengingat seseorang yang seharusnya sudah lama aku lupakan... "


Reyna kembali meraih ponsel dari saku, belum ada panggilan apapun dari Hyuji. Diapun menekan sekali lagi nomor temannya itu, masih sama seperti tadi, tidak aktif.


"Sebenarnya kemana Hyuji pergi?! Apa dia sedang ada masalah? Keluarganya juga tak terlihat, rumahnya sepi! Apa mungkin mereka sedang berlibur bersama John? "


Reyna mengetuk ujung persegi pintarnya beberapa kali kemudian mengirim pesan.


"Hyu, kau dimana? Aku sedang membutuhkan dirimu."


Send.


Saat sudah berada di kamar, Reyna menulis sesuatu diatas kertas polos lalu ia letakkan pada salah satu laci dimana dia biasa meninggalkan uang untuk Roy saat kembali dari Seoul. Tatapan Reyna kosong, namun mencoba tersenyum.


"Semoga dia menemukan surat ini saat aku sudah benar-benar pergi!" gumam Reyna sambil menetap amplop berwarna biru yang ia selipkan diantara tumpukan kertas-kertas tagihan bulanan. "Roy, maafkan kakak! Kakak akan tetap menyayangimu meskipun kita berada ditempat yang berbeda dan jauh! Hiduplah dengan baik, dan juga—semoga kau selalu bahagia!"[]