
Reyna bahkan tidak tau mengapa dia berada dijembatan sungai Han di jam sembilan malam. Seingatnya, dia hanya ingin berada disini, itu saja.
Cup americano yang menemaninya selama tiga puluh menit yang lalu itu telah kosong tak berisi. Udara dingin juga mulai menusuk wajahnya yang sedang menatap bebas pada bentangan sungai luas di seoul tersebut.
Sekelebat ingatan tentang sang ayah kembali meluap.
Air itu pembunuh yang senyap Rey! Sekali kau masuk kedalam sana, kau akan kesulitan keluar karena kau masih kecil! Jadi ingat pesan ayah, jangan pernah bermain dilaut atau sungai sendirian! Mengerti?!
"Aku tau ayah... " gumamnya masih terpaku pada bentangan sungai dihadapannya. "Tapi ayah, kenapa aku tiba-tiba ingin sekali masuk kedalam sana? "
Potongan senyuman dan wajah khawatir sang ayah kembali menyeruak, membuat Reyna berpikir kembali pada ucapannya. Kecewa karena merasa kalah dengan sesuatu yang bahkan hanya menjadi bayangannya.
Reyna berjalan pergi dari sana, dan kembali ke apartemen. Jalanan masih saja ramai meskipun sudah malam dengan suhu yang luar biasa dingin. Mungkin akhir pekan adalah jawabannya.
Langkahnya terhenti kembali. Otaknya dipenuhi oleh berbagai macam ingatan yang sungguh memuakkan. Reyna mendesah kasar. "Benar, besok pesta itu akan berlangsung! " ucapannya merujuk pada sebuah acara sakral penyatuan dua insan dalam ikatan suci, Val dan HaNa.
"Tapi siapa yang akan menemaniku datang kesana? Hyuji pun sudah memiliki John untuk ia bawa kesana! " Reyna terkekeh, merasa konyol dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia berakhir seperti ini? Semua orang pergi darinya, meninggalkan dia tanpa sebab yang pasti. Hyuji juga tak sekalipun membalas pesan yang diam-diam ia kirim karena merasa rindu pada sahabatnya itu.
Menekan passcode, pintu apartemen itu terbuka otomatis. Reyna melepas sepatu dan bergegas menuju laptopnya yang bertengger manis diatas meja didalam kamar. Jemarinya mengetik dengan lincah disana. Sesekali dia juga merasa lelah dan melakukan peregangan kecil.
"Ah, benar-benar melelahkan... "
Dia merasa lega karena sudah berhasil mengetik beberapa kata yang menurutnya sudah sempurna. Melirik jam dinding dan melihat jarum itu berada pada angka satu dini hari.
"Ternyata memakan waktu lama untuk mengetik itu! " gumamnya sembari menutup mulutnya yang menguap, maniknya mulai terasa panas. Dia bergegas mengirim ketikan itu pada satu alamat email yang sangat ia hafal diluar kepala.
Dan senyuman mengembang kala pada layar laptop tersebut terlihat kata SEND.
Dia beranjak meraih ponselnya, dia juga sempat menambah nomor baru diponselnya tadi. Kemudian dia mengetik sekali lagi, pada ponselnya.
Hyu, ini aku. Reyna.
Maaf sudah mengganggumu dengan nomor provider baru karena kau tak pernah membalas pesanku di nomor lamaku.
Aku yakin kau akan kesal dan menyesal setelah tau pesan ini dariku.
Aku hanya ingin bilang kalau aku mengirim sebuah pesan di emailmu.
Komohon bacalah, dan temui aku di daegu.
Reyna ragu, namun dengan berat hati menekan tombol hijau diujung papan teks.
Send...
Success.
Reyna berdiri dan menuju nakas, mengambil botol putih yang ada didalam sana. Kemudian berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil segelas air.
Reyna kembali menatap sendu dan ragu pada botol dalam genggamannya, mengeluarkan butiran tersebut dalam jumlah yang cukup banyak dan menelannya sekaligus. Nafasnya terengah karena mengingkari janjinya pada diri sendiri dan juga orang kepercayaannya. Hyuji. Namun getir terasa saat mengetahui Hyuji memang sudah membuangnya begitu saja.
"Maaf Hyu... Kali ini aku tidak akan merepotkan siapapun! Kau juga tak akan peduli lagi padaku bukan? Aku harap kau hidup bahagia bersama John! Dan untuk Val, kau juga, semoga hidup bahagia bersama pilihanmu! " Reyna bermonolog. Tidak menunggu detik berputar lebih banyak, Reyna berjalan menuju kamar mandi dan menyalakan shower. Meringkuk dibawah guyuran air dingin dan membiarkan air itu membawa kuyub pada raganya, ditengah malam musim bersalju.
Mungkin, bagi orang lain, itu merupakan pilihan buruk, akan tapi Reyna melakukannya.
"Aku akan melakukannya dengan tenang tanpa membuat siapapun kesusahan, Kau cukup hadir di daegu, dan kita akan bertemu disana Hyu..."
Seperti kata ayahnya dulu, tentang air, Reyna menunggu semua akan berakhir cepat.
-
-
-
Hyuji menggeliat dibalik selimut karena ponselnya yang bergetar. Mengira John yang mengirim pesan karena suaminya itu belum kembali di jam satu malam, dia pergi bersama temannya untuk mengerjakan satu proyek pekerjaan sejak pukul delapan malam tadi.
Namun, rasa kantuknya tidak cukup kuat untuk ia tahan. Meraih ponsel dan melihat sekilas jika pesan itu berasal dari nomor yang tidaknia ketahui pengirimnya, Hyuji mendengus kesal. Ingat beberapa hari yang lalu dirinya juga mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang menawarkan paket Honeymoon padanya. Dia juga heran darimana manusia itu tau nomor ponsel dan juga dirinya sudah menikah.
"Yaissssh... !!!" umpatnya kesal sembari melempar ponselnya kembali keatas nakas.
"Mati saja kamu yang mengirim pesan ditengah malam seperti ini!!! Sial!! " umpatnya sekali lagi menyumpahi.
Pesan itu terlupakan dengan sebuah umpatan dan sumpah serapah yang keji. Hyuji bahkan tak melihat potongan pesan yang terlihat jelas menyebut nama Reyna disana.
Hyu, ini aku. Reyna. []