
Semalam, sepulangnya John dari rumah sakit, Hyuji hanya menatap penuh tanya pada Val yang masih Setia dihadapan Reyna. Dia tidak mau menyimpulkan sendiri apa maksud dari informasi yang diberikan John padanya. Lantas dia dihadakan pada dua pilihan, hanya mampu menunggu Val mengatakan yang sebenarnya atau dia yang bertanya.
Namun alih-alih berani memantapkan kedua pilihannya, Val malah menyuruhnya untuk pulang agar beristirahat dan dia juga bersikeras untuk menunggu Reyna hingga siuman.
Dan disinilah Val pagi ini, menunggu Reyna terbangun dari tidurnya yang menyakitkan tanpa berhenti memanjatkan do'a kepada sang pemilik alam.
Dia tak peduli selelah apa dirinya saat ini, terlebih, dia tak peduli pada ratusan pesan dan puluhan panggilan yang masuk kedalam ponselnya sejak semalam.
Hening didalam ruangan, hanya terdengar bunyi defibrilator yang merujuk pada denyut jantung Reyna.
Val menyatukan kedua telapak dan meletakkannya tepat di depan kening, kembali memanjat do'a untuk kesembuhan Reyna.
Seperti sebuah keajaiban, ataukah Tuhan sedang berbaik hati kepadanya, saat ini dia melihat Reyna menggerakkan jemari yang terlihat sedikit membengkak miliknya.
Val tercekat, sontak dirinya terlonjak dan bergegas keluar ruangan untuk mencari tenaga medis yang sedang bertugas pagi itu. Dan dia kembali bersama dua orang perawat bersamanya.
Val melihat Reyna membuka kedua maniknya di kejauhan, dia hanya tidak ingin Reyna yang baru saja membuka mata itu melihat presensinya, kemudian berubah menjadi petaka karena kehadirannya. Val tersenyum lega dengan jantung yang berdebar tak karuan---seperti mendapati Cinta pertamanya kembali.
"Terima kasih sudah mendengar do'a ku, Tuhan... " desahnya sembari memejam mata dan menitihkan airmata beberapa kali.
-
Pukul dua belas siang, Hyuji segera berlari menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit dan juga pesan Val. Dia bahkan meminta izin untuk bekerja setengah hari, hari ini.
Hyuji membuka sebuah pintu ruang rawat inap yang sedang ditempati Reyna, disambut senyuman hangat dari sahabatnya itu.
"Hyu...." sapa Reyna dengan suara lembutnya.
"Kau mencari seseorang? Aku sendirian sejak pagi! " sahut Reyna memecah keheningan.
Tak lama kemudian, Hyuji berhambur kedalam pelukan Reyna. Bahkan dia sengaja menyalurkan rasa khawatir dan takutnya dengan memukul kecil punggung Reyna.
"Sakit Hyu... "
"Rasakan itu! Kenapa kau membuatku takut dan khawatir seperti ini eoh! Harusnya kau bercerita padaku, bukan malah menyakiti dirimu seperti itu, gadis bodoh!! " Cerca Hyuji disela tangisnya yang meledak tak terkendali. Bahkan, Hyuji tak mengerti tentang apa tangisannya saat ini, bahagiakah akan Reyna yang sudah bangun dari tidur selama beberapa hari ini, atau karena rasa takut kehilangan yang begitu mengguncang hati.
"Maaf, maafkan aku! Aku—"
"Berhenti mengarang alasan, dan jangan coba-coba melakukan hal itu kembali, atau aku yang akan membunuhmu dengan kedua tanganku!"
"Iya... iya, maafkan aku... "
Mereka kembali memeluk satu sama lain.
Diluar ruangan, Val yang berada dibalik pintu melihat mereka yang sedang tertawa membuat perasaannya menghangat. Dia sudah tau betapa kuatnya pertemanan mereka berdua.
"Syukurlah, Hyuji tidak benar-benar memukul kepala Reyna! " tawa kecil Val tersemat kala mengingat sepatah ancaman yang dilontarkan Hyuji karena kesal, saat melihat Reyna yang tak kunjung membuka matanya beberapa hari yang lalu.
Val berjalan menjauh, merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya kembali bergetar, HaNa menghubunginya.
"Eoh, tunggu aku disana! Aku akan datang! "[]