Vienna

Vienna
36. Memorable Place *2



(Recomendasi playlist musik: Adagio- Secret garden, Song from a secret garden- Secret Garden, Nocturne- Secret Garden. Atau kalian bisa mencari sendiri playlist musik kesukaan yang menurut kalian bisa mendatangkan nuansa sendu. thank's) Happy Reading...


(Playlist 1: Adagio)


Gadis itu mampu merasakan betapa hebatnya degupan yang sedang dirasakannya saat ini. Masih tersisa salju tebal yang membuat jalanan beraspal yang dilaluinya menjadi licin, dingin yang menggigit seluruh lapisan kulit, bahkan membuat mati rasa. Akan tetapi, dia tak peduli.


Menyusuri jalanan yang nyatanya masih menyimpan berjuta kenangan membuat Reyna tak serta merta menyerah. Hingga dia dapat melihat samar pegunungan yang masih tertutup kabut dingin dan juga salju, Reyna tersenyum.


"Pohonnya sudah tumbang! " Gumamnya kala tak lagi melihat pohon sansuyu yang seingatnya dulu tumbuh subur didekat lonceng kereta, diseberang tempatnya berdiri saat ini. "Atau seseorang sengaja menebangnya? " lanjutnya sembari memiringkan sedikit kepala.


Sekitar sepuluh menit yang lalu, jam diponselnya menunjukkan pukul tiga sore.


Maniknya beralih melihat tumpukan kayu masih tetap berada ditempat yang sama meskipun sudah lebih dari tujuh tahun berlalu, tertimbun salju hingga tak terlihat. Dan sebuah bangku, dimana dulu dia dan Val selalu menikmati senja berdua, sepulang sekolah. Bayangannya masih terlihat nyata, canda dan tawa.


Pupil Reyna bergetar. Tidak tau harus bersedih atau bahagia kali ini. Sedikit membungkuk, menyibakkan salju yang menutupi seluruh permukaan. Meletakkan kantong berisi kue, minuman panas, dan juga sebuah hadiah untuk Val.


Reyna tau dirinya begitu menyedihkan hingga harus memberikan hadiah kepada seseorang yang nyatanya bukan miliknya.


Sialan memang.


Reyna duduk menunggu, sesekali mengusuk telapak yang sudah mulai mati rasa. Meniup perlahan berharap menyalurkan sebuah rasa hangat. Val tak kunjung datang.


-


-


-


(Playlist 2: Song from a Secret Garden, Nocturne)


Langkahnya begitu antusias. Bahkan, senyumnya mengembang sempurna saat dikejauhan dirinya dapat melihat presensi seseorang. Bahkan kini, Val mempercepat langkahnya untuk segera bertatap muka dengan presensi yang sudah sangat ingin dia lihat.


Bibirnya bergetar kala melihat gadis tersebut melipat kedua lengannya karena kedinginan.


"Rey... " sapanya lembut dengan suara yang sedikit bergetar.


Reyna terkesiap, sontak dirinya terbangun saat mendapati pemuda yang sudah ia tunggu berdiri nyata dihadapannya saat ini. Pipinya semakin memerah, menyuguhkan senyuman kecil terlampau manis, Reyna menjawab. "Hai... "


Seketika, kecanggungan tak dapat dihindari dari keduanya. Val terpaku, stagnan pada pijakannya saat ini. Melihat presensi Reyna yang begitu cantik, surai panjangnya yang tak luput dari terpaan angin dingin itu turut melambai. Mempercantik kelembutan aura yang dimiliki sang gadis.


"Maaf membuatmu menunggu... " ucap Val sedikit gugup sembari mengusuk pelan tengkuk lehernya yang mulai terasa kaku karena rasa beku yang semakin menyeruak.


"T-tidak! Aku juga ba-ru saja sampai... "


Mendadak lonceng kereta berdenting, membuat suasana masa lalu semakin menyembul ke permukaan. Bibir Reyna bergetar saat Val berjalan mendekat memangkas jarak. Jantungnya serasa ingin terjun bebas kedasar lambung jika saja tiba-tiba Val mengulurkan telapaknya.


Semua terjadi, hal yang menjadi masa lalunya kembali menyeruak. Val mengulurkan telapaknya yang besar dan terlihat hangat dihadapan Reyna.


Manik jelaga Reyna tak sanggup untuk tak memperhatikannya. Seolah dihujam tombak tepat dihatinya, Reyna menyambut Val dengan luka perih yang kembali menganga, membuatnya menitihkan airmata.


"Bagaimana kabarmu? "


Canggung sekali. Tapi benar, semua berada pada porsi dan posisi masing-masing. Val bukan miliknya, wajar jika dia hanya menanyakan kabar tanpa memanggil sebutan nama yang membuatnya berdebar, seperti saat dulu.


"Baik! " sahutnya dengan tutur yang lembut, sembari menautkan maniknya pada Netra Indah sang lawan bicara.


Kereta menampakkan diri dengan sombongnya, helaian rambut hitam Reyna terbawa, semakin membuatnya terlihat anggun dimata Val.


"Ah, "


Suara Reyna, memutus kontak keduanya saat kereta sudah berlalu. Reyna juga menarik telapak tangannya sepihak.


"Duduklah Val, aku membawa sesuatu untukmu, " ucapnya antusias sambil mendekat pada kantong yang ia letakkan diujung kursi.


Val tersenyum, sungguh melihat Reyna adalah sesuatu yang sangat ia rindukan. Dia pun mengikuti Reyna yang sudah terlebih dahulu bersimpuh diatas kursi taman yang terlihat sedikit lusuh dan berkarat dengan sisa salju dibagian sandarannya.


Dengan hati-hati Reyna mengeluarkan dua cup teh yang suka dipesan Val dulu, dan juga kue ulang tahun kecil yang terlihat menggoda untuk segera disantap.


Mendadak Val tercekat saat mengetahui fakta bahwa Reyna masih mengingat semua tentang dirinya. Teh, kue, bahkan gadis itu saat ini sedang berusaha menyalakan lilin yang sudah ia sematkan dengan tangannya yang bergetar.


Val menghentikannya, menggenggam lembut pergelangan tangan berbalut jaket tebal milik Reyna, membuat gadis itu tersentak, berhenti seketika; Terpaku.


"Biarkan aku yang menyalakan itu, "


"A-Ah tentu saja! " Sahutnya sambil menarik pergelangan tangannya dari kungkungan Val.


Reyna tertunduk, meremat buku jarinya hingga memutih, dan juga menggigit sekilas bibir bawahnya saat melihat Val sedang menyalakan lilin kecil itu.


Lilin menyala redup karena dingin yang membeku, tak apa, seperti itu saja sudah membuat Reyna lega.


Menepukkan kedua telapak canggung, Reyna mengalunkan sebuah lagu ulang tahun untuk Val. Pemuda itu tersenyum, hatinya menghangat melihat bayangan senyuman Indah Reyna pada pupil matanya.


"---semoga panjang, umur... " lagu berakhir dengan tepukan tangan yang lebih meriah dari Reyna. "Buat permintaan dan segera tiup lilinnya sebelum benar-benar padam V---"


Tanpa sengaja, nama itu terlontar begitu saja dari bibir Reyna. Segera dia berhenti bicara agar tak menimbulkan salah faham.


"Tidak apa-apa! Panggil aku dengan sebutan apapun yang kau inginkan! " timpal Val sambil memejam perlahan, menautkan kedua telapaknya, membuat permohonan. Dan membuka kembali maniknya, meniup bara redup sang lilin.


"Terima kasih untuk ucapan ulang tahunnya! "


Reyna kembali tersenyum,


"Dan terima kasih juga untuk pertemuan ini--"


"Aku tau, tidak seharusnya kita selalu hidup dalam rengkuhan benci bukan?! "


Val tertegun, menatap fitur Reyna yang sedang menatap bebas keseberang jalan kereta.


"Dulu, adalah masa lalu! "


Bohong, bahkan Reyna mampu menyembunyikan semua rasa sakitnya dengan sempurna.


"Dan saat ini," Reyna menjeda, melihat pada Val kemudian mengulurkan telapaknya guna mengusap fitur Val yang sedang menatapnya intens. Kemudian melanjutkan. "Kau sudah menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia! Aku hanya berharap kau bahagia selamanya bersama dia! "


Lalu bagaimana dengan dirinya? Akankah terus hidup dalam rengkuhan derita?


"Kau tak perlu memberikan doa sebaik itu untukku! " jawab Val menyambut telapak Reyna yang masih berada pada sisi kanan pipinya. "Kau terlalu baik untukku! "


Reyna menitihkan butiran bening itu semakin deras. Tak terkecuali Val yang juga menatap Reyna sedikit buram, maniknya berair.


"Kau bukan seorang manusia Rey, kau jauh dari itu! " Val memejam sejenak, bulir itu jatuh membasahi kedua pipinya. "Kau adalah malaikat! " lanjutnya masih dengan mata terpejam.


Sendu, keduanya terisak dalam dinginnya suhu yang semakin menggigil.


"Dan kau tidak pantas aku miliki! Kau berhak bahagia dan mendapatkan orang yang jauh lebih baik dariku! "


Reyna menggeleng, dia menautkan sebelah telapaknya yang lain untuk menggapai sisi lain fitur Val.


"Tidak, kau terbaik untukku Val! Kau segalanya bagiku! " Reyna semakin terisak, "Aku akan mencintaimu sampai jiwaku tak lagi ada dalam ragaku! "


Val tertunduk, tak bisa lagi mengatakan apapun sebab dikuasai oleh emosi yang meledak. Hanya isak yang terdengar.


"Berjanjilah untuk selalu hidup dengan baik! " ucap Reyna bersamaan memiringkan pandangan dan kepala guna mendapati manik Val yang ia sembunyikan. " Bahagiakan HaNa meskipun itu adalah luka bagi orang lain, bahkan dirimu sendiri!"


Val semakin tergugu, tubuhnya bergetar hebat mendengar penuturan Reyna.


"Berjanjilah juga---"


Reyna mengulum senyuman ditengah isak tangis. "Untuk bertemu denganku lebih cepat dikehidupan selanjutnya kelak!"[]


Notes:


Vi's benar-benar merekomendasikan playlist diatas untuk diputar saat membaca Chapter ini. Karena Feelnya akan benar-benar ---- Sad.


Mungkin Chapter selanjutnya masih berhubungan dengan yang nyesek-nyesek.


Tinggalkan komentar tentang chapter ini. Vi's ingin tau pendapat readers...


Sampai jumpa di beberapa Chapter menuju ending...


bye...


Salam hati warna ungu,


Vizca.