
Warning!!
Mature and disorder content, be a wise reader!!
Suara musik yang mengalun dari pemutar musik yang ada pada dashboard mobil terdengar begitu klasik. Reyna tak menduga pemuda John itu memiliki selera musik yang sedikit unik. Suara pria dalam alunan musik itu juga terdengar lembut dan enak didengar. Mustahil jika Reyna tidak ingin mendengarnya juga nanti, saat sendirian dirumah. Dengan alasan tersebut, Reyna berani membuka mulut untuk bertanya.
"Lagunya enak didengar! Aku juga ingin mendengarnya dirumah nanti! Apa judul lagunya?! "
"Kau suka? To Each His Own! "
Bahkan, lidah Reyna tak sanggup mengulang bahasa asing tersebut. Bisa-bisa lidahnya terbelit atau terpeleset pada kata pertama.
"A-apa? kenapa sulit sekali? "
Pemuda itu terkekeh tanpa memutus fokusnya pada jalanan yang basah dan licin diluar karena hujan masih turun.
"Akan aku kirim nanti! "
"O-eoh.. baiklah! "
Hening sejenak. Tapi rasa kahawatir John tak dapat ia hindari begitu saja, barangkali itu sudah naluri yang ada pada dirinya. Dia ingat betul ketika sang ibu dulu selalu menyuruhnya untuk berbuat baik dan berbagi kepada sesama.
"Kau baik-baik saja? Lukamu terlihat membengkak dan membiru! "
"Aku baik-baik saja kok! Tidak perlu khawatir padaku! "
Mungkin, Tuhan memang sengaja mengirim pemuda itu untuknya saat ini. Untuk sekedar menghilangkan rasa pahit hidup yang ia tapaki, sejenak. Namun tak yakin dia akan baik-baik saja saat sampai dirumah nanti. Ya, dia tidak yakin pada dirinya sendiri.
Setelah menggesa jalanan yang cukup mengancam keselamatan, mereka akhirnya sampai pada sebuah gedung bertingkat dimana Reyna tinggal.
John meraih payung yang ada di jok belakang mobil dan keluar terlebih dahulu guna membuka pintu untuk Reyna dan mengantarnya hingga pelataran bangunan tanpa terkena tetesan air hujan.
"Ougggh... Ternyata hujannya lumayan deras!"
"Eoh! Terima kasih atas tumpangannya! Aku tidak tau bagimana cara membalas kebaikanmu nanti John! "
"Traktir aku makan enak! " ucapnya antusias.
"Baiklah! Aku akan membeli makanan enak untukmu saat menerima gaji nanti! "
Reyna tertawa, namun apa yang ditangkap John dari manik gadis tersebut tidaklah secerah senyumannya. Kelabu, mungkin itu yang ia lihat kedalam netra Reyna.
"Rey--- "
"Hei! Kau lupa!? Aku ini lebih tua darimu, harusnya kau memanggilku dengan sebutan Kak! Bukan malah menyebut namaku selantang itu! " canda Reyna.
"Ah, maafkan aku! "
"Aku hanya bercanda, kenapa serius seperti itu? Sekali lagi terima kasih, dan berhati-hatilah saat menyetir pulang! Hubungi aku jika sudah sampai! "
John mengangguk mengerti, membalik badan kemudian melangkah beberapa kali.
"Jangan lupa file lagu tadi! Aku tunggu! "
"Okey... Aku pulang dulu, Kak Rey,"
Reyna mengangguk dan memastikan John benar-benar telah pergi dari tempat tinggalnya ini. Wajah yang semula terlihat cerah bak Mentari pagi, berubah suram sekelam malam. Melangkah dengan kaki terseok menaiki anak tangga menuju unitnya, Reyna berusaha agar tak terjatuh dan tetap menjaga kesadaran.
Bagitu banyak hal terlewati hari ini, semua bergumul didalam fikirannya. Terputar secara jelas antara tawa dan juga airmata.
Dengan jemari yang bergetar, dia meraih kunci dan membuka unit tempat dirinya tinggal. Terlalu sulit untuk Reyna mengingat passcode diantara rentetan memori yang sedang bercampur aduk, membuat perut mual.
Dan rasa mual itu semakin menjadi saat pintu sudah tertutup kembali. Dia mengacak surainya hingga tak berbentuk, hingga sesekali menyandarkan kasar kepala pada daun pintu yang terbuat dari aluminium itu.
Reyna Meraih apapun untuk membantunya berdiri, berjalan sempoyongan dan meninggalkan ponsel itu begitu saja, menuju kamar untuk menemukan botol obat penenang yang ia dapat dari dokternya beberapa waktu lalu. Jimmy.
Seperti kehilangan akal, Reyna mengacak semua laci yang ada didalam kamar. Berusaha menemukan butiran pil yang akan membuatnya sedikit tenang. Sialnya, benda itu tak ada dimanapun. Dia meronta, bahkan menarik keras surai hitam hingga beberapa helaian yang patah itu terselip diantara jemarinya.
"Dimana?! Dimana aku meletakkannya?! " Wajah Reyna berubah pucat pasi diliputi rasa takut yang berlebihan. Semua sistem kerja dalam dirinya seolah berubah tiga ratus enam puluh derajat. Dia kembali berjalan keluar kamar, tak peduli rasa sakit saat lututnya membentur nakas yang letaknya berada disisi pintu kamar.
Berjalan menuju dapur dan mencari pada setiap kotak yang terpasang pada dinding, dan juga laci dibawah meja.
Tanpa sadar, lengan Reyna menjatuhkan beberapa benda yang sebelumnya tergeletak diatas meja dapur. Tubuh bergetar itu turut tersungkur, hingga kini netranya menangkap sebuah benda berkilat. Reyna tersenyum seolah menemukan obat baru untuknya, meraih dengan tubuh yang masih terjerembab diatas lantai. Tertawa bahkan berderai air mata. Dia benar-benar merasa hancur sekarang.
Ponselnya meraung disana, dia mendengar, bahkan ingin menggapai. Tapi pesona benda berkilat itu lebih menarik perhatian, maka ia berusaha meraih itu terlebih dahulu.
Dan, senyuman lebar mengembang pada bibir bengkaknya saat berhasil meraih benda tajam tersebut. Segera bangkit dan bersandar pada daun pintu kecil dari meja dapurnya, menghembus nafas lega dan terbahak seolah menemukan harta karun.
"Kenapa warnamu seperti ini? Kau membuat mataku silau!" candanya dengan sebilah pisau dapur yang sudah berada pada genggaman. Kali ini denting pesan terdengar dari ponselnya.
"Aish, siapa yang mengganggu?! "
Dia mencoba berdiri, masih dengan benda berkilat di telapak kirinya. Berjalan mendekat pada ponsel yang masih menyala, dan duduk bersandar pada daun pintu.
"Hyuji? Siapa ---? A~h, gadis itu ya? "
Reyna mengetik balasan pada pesan yang ia baca dengan antusias.
-
-
-
HyuJi menunggu balasan dengan cemas, diluar masih hujan dan tidak mungkin dia menerjang hujan menuju tempat tinggal Reyna di jam yang hampir menunjuk pukul sepuluh malam bukan?
Sahabatnya itu sudah berjanji akan baik-baik saja, tapi dia tidak akan percaya begitu saja. Terlebih lagi setelah bertemu dengan masa lalunya.
"Tolong, Rey! Cepat balas pesanku! "
Ponselnya menerima notifikasi pesan. Hyuji bergegas membuka pesan yang sedari tadi ia tunggu.
Rey, Kau sudah pulang?
Rey,
balas aku!
Yah!!
Setidaknya itu isi pesan yang ia kirim pada Reyna tadi.
Iya, ak sidh sampzi du Romag.
Hyuji terbelalak, tergesa, dia meraih jaket tebalnya tanpa berfikir panjang. Persetan dengan hujan.
Ia yakin Reyna sedang buruk. Menyandang kata sahabat bukanlah sekedar ada disaat teman dalam keadaan bahagia bukan. Dan Hyuji mengenal Reyna lebih dari siapapun, dia tau Reyna yang diliputi kelam kembali.
Hyuji mengemudi sedikit serampangan, butuh sekitar dua puluh menit untuk sampai di tempat Reyna, tanpa berhenti menghubungi sahabatnya itu. Namun tak sekalipun mendapat jawaban.
Hyuji takut. Dia takut Reyna berbuat diluar kendalinya. Dia tidak ingin kehilangan Reyna. Sahabatnya.
"Aku mohon jangan menyakiti dirimu Rey...!"[]