Vienna

Vienna
24. The Hurt.



Derap langkahnya begitu tergesa, kedua kaki kecil itu berhenti tepat didepan sang ibu yang sedang membawa beberapa sayur didalam keranjang yang mereka petik dari ladang milik keluarga.


"Ibu, mengapa mereka memakan daun kol itu? Kan jadinya bolong seperti itu? Tidak bagus! Jelek!"


Sang ibu tersenyum lembut, mengusap pucuk surai Putri kecilnya penuh kasih.


"Itulah yang dinamakan rantai makanan Rey, dan juga, ulat itu makhluk hidup! Mereka juga butuh makan untuk bertahan hidup! "


"Kan kasihan ayah! Harus menyingkirkan mereka setiap hari! " sambung Reyna dengan wajah kesal. Kesal sekali hingga bibir dan dahinya berkerut lucu.


Ibunya berhenti, berjongkok guna menautkan kedua manik pada Putri kecil yang sepertinya dalam keadaan kesal dan marah pada ulat bulu yang menyusahkan sang ayah.


"Nah, kalau sudah besar nanti, kau harus menjadi gadis yang pintar dan kuat! Agar tidak seperti ibu dan ayah! Eoh!"


"Aku ingin menjadi seperti ibu dan ayah saja!" protesnya dengan nada lucu.


"Tidak, ibu yakin kau akan hidup lebih baik dari kami berdua nak! Ibu berjanji akan melakukan apapun demi masa depanmu! "


Wajah kesal itu berubah dihiasi senyuman merekah.


"Putri cantik ibu akan menjalani hidup yang baik dimanapun dia berada! Kau pasti akan bahagia sayang! Ibu pastikan itu! "


Nafasnya tercekat, aroma besi berkarat, suara dengingan yang semakin kuat memenuhi telinga, pandangan yang semakin menggelap dan berkunang. Sekelebat ingatan masa lalu bersama sang ibu itu turut memperindah ingatan yang semakin memudar dan tubuh yang semakin melemah.


Reyna melirik dengan rasa berat yang bergelayut pada kedua kelopak mata, cairan merah pekat itu melebar diatas lantai berwarna krem. Benda berkilat itu sudah tergeletak tak jauh dari tempatnya bersimpuh. Reyna tertawa getir saat senyuman dan harapan sang ibu dimasa lalu ternyata tidak bisa ia wujudkan.


"Maafkan Rey, ibu, Maaf... " ucapnya sembari memejam dan merasakan sakit yang semakin menjalar disekujur tubuh.


Dingin, semakin menggigil. Tubuh Reyna bergetar, bibirnya memutih. Dia mengerjap perlahan mencoba mengingat apa yang masih bisa ia ingat dalam sisa --- nyawanya mungkin.


Sebelum kesadaran itu terenggut sepenuhnya, Reyna sempat mendengar seseorang menekan passcode pada intercom pintunya. Kemudian tubuhnya terdorong pelan hingga seluruh kesadaran yang ia miliki itu sepenuhnya sirna.


-


-


-


Hyuji datang bersama seorang tetangga apartemen tempat tinggal Reyna. Setelah berhasil memasukkan passcode, Hyuji bwrusha keras untuk mendorong pintu rumah sewa tersebut, dan tanpa diminta sang tetangga turut membantu.


Dan betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat lantai yang penuh dengan cairan merah pekat dan berbau anyir itu melebar.


Hyuji sontak melompat untuk memeluk raga sang sahabat, dan tetangga yang datang bersama Hyuji itu segera memanggil ambulance.


"Apa yang terjadi padamu Rey? Mengapa kau melakukan ini? " teriak Hyuji ditengah rasa panik, tangis dan juga sakit dalam relung hati. Memeluk Reyna erat.


Lima menit menunggu dengan gelisah, akhirnya bantuan medis datang. Berbagai alat bantu disematkan pada tubuh Reyna yang sudah tak berdaya.


Beruntung, Hyuji datang tepat waktu hingga nyawa sahabatnya itu dapat diselamatkan.


Musim dingin yang mencekam, Hyuji tak akan pernah melupakan bagaimana sahabatnya itu ingin mengakhiri hidupnya sendiri.


Ruang ICU, Reyna terbaring lemah didalam sana. Hyuji bangkit saat melihat dokter yang menangani Reyna melangkah keluar.


"Bagaimana keadaannya dokter?! "


"Anda walinya? "


"Iya! " jawab Hyuji tegas.


"Apa sebelum melakukan percobaan bunuh diri dia menerima kekerasan dari seseorang?"


Hyuji tercekat, suaranya tertahan kuat di kerongkongan. Kekerasan? Apa Val tega melakukan itu pada Reyna? Pertanyaan itu berputar dikepala Hyuji, pupil matanya bergetar, dan kembali meneteskan airmata.


"A-apa maksud anda dokter? "


"Saya menemukan luka pukul pada pipi kiri dan robekan pada sudut bibirnya! Bahkan luka tersebut seperti baru saja terjadi! "


Hyuji mengusap kasar airmatanya yang menetes semakin deras.


"Jika memang itu terjadi, kami bisa melakukan visum dan membawa kasus ini ke kepolisian! "


"A-h, s-saya akan menanyakan itu pada Reyna jika keadaannya sudah membaik nanti! "


"Saya mengerti! Jadi, tolong jaga pasien Reyna dengan baik! Dia butuh pendamping untuk beberapa waktu!"


Hyuji membungkuk dengan penuh hormat sebagai ucapan terima kasih. Kemudian, menatap Reyna yang sedang terbaring tak berdaya dari luar ruangan.


"Val?! Aku harus bertemu dan meminta penjelasan untuk semua ini! "


Jika saja waktu bisa diputar kembali, Hyuji memastikan bahwa dia tak akan melepaskan Reyna sendirian, apalagi untuk bertemu Val hari ini.


Menyesal, tentu saja. Itu yang sedang menyelimuti Hyuji saat ini. Bagaimana tidak, sahabatnya itu sedang meregang nyawa didalam sana.


"Keterlaluan! Kau akan menerima balasan yang setimpal jika memang melakukan ini padanya Val! Aku bersumpah! "[]