
Jika dalam pelajaran fisika, setau Hyuji, yang ia pahami, jika dua buah kutub yang berbeda disatukan, maka mereka akan saling menarik kuat satu sama lain. Berbeda halnya jika dua kutub yang sama saling didekatkan, keduanya akan saling bertolak belakang dan tidak akan sekalipun bisa dipertemukan.
Sama halnya dengan dirinya saat ini, sejak bertemu dengan keluarga John dia yakin jika dirinya memanglah berasal dari dua kutub yang sama. Maksudnya, tidak akan bisa bersatu meski dipaksakan.
Jam makan siang kantor akan berakhir sekitar empat puluh menit lagi, tapi tak sesendokpun Hyuji menyentuh makan siangnya. Wajahnya kuyu, tidak terpancar semangat sama sekali, seperti biasanya.
"Kenapa wajahmu kusut seperti cucian yang tidak disetrika Hyu? Ada masalah? " Reyna datang dengan nampan makan siangnya.
"Rey, aku dalam masalah! "
"Masalah?"
Gadis berambut cepak itu mengangguk dengan bibir maju.
"John membawaku bertemu kedua orang tuanya kemarin, dan sekarang John memaksa agar aku mempertemukan kedua orang tuaku padanya! "
"Benarkah? Bagus dong?! " jawab Reyna sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Bagus? Yahh!! Pertemuan kami bukan hal yang wajar! Itu hanya sandiwara yang dibuat pemuda itu untuk mempertahankan harga dirinya didepan orang tuanya!"
"Kau yakin? John pemuda baik loh?! " lanjut Reyna tanpa kendala.
"Baik apanya! " Gerutu Hyuji tak terima.
"Ya sudah! Pertemukan saja mereka! Bawa John ke daegu! "
Hyuji terbelalak, mana mungkin dia serta merta membawa laki-laki pulang untuk dipertemukan kedua orang tuanya. Dan juga, dia belum siap dengan segala kemungkinan yang akan diambil pemuda John itu sebagai jalan pintas. Menikahinya mungkin.
"Rey, jangan bercanda! Level keluarga John itu berbeda dengan masyarakat sekelas kita! Rumahnya mewah bak istana, semua-muanya dilakukan pembantu! Dan juga ibunya, dia sepertinya tak menyukaiku! Kau bisa membayangkan jika aku menjadi menantunya! " cerocos Hyuji dalam sekali tarik nafas seperti seorang rapper kelas atas.
Reyna berhenti mengunyah, dia menautkan maniknya pada Hyuji yang terlihat cemas.
"Apa? " tanya Hyuji sinis.
Reyna melipat kedua lengannya didepan dada, tanpa memutus sedikitpun tatapan penuh afeksinya pada Hyuji.
"Lalu sekarang apa keputusanmu! Kau sudah terlanjur masuk kedalam kehidupan keluarga John! Jalan keluar satu-satunya yang ada yakni kau menyelesaikan masalah ini sebagai wanita bermartabat, atau lari seperti seorang pecundang?! Pilih yang mana hemm??! "
"Aku memilih jadi pecundang saja! Dari pada hidupku berakhir didalam kandang serigala! "
Reyna berdecak pelan, menggeleng sembari meraih telapak Hyuji. "Kau tau bukan, seseorang yang menikah sebab perjodohan nyatanya lebih langgeng dari pada mereka yang saling mencintai dalam waktu lama sebelum ikatan tersebut terjalin! "
"Tapi ini kasusnya berbeda Rey! "
"Hyu, John pemuda baik! "
Hyuji menggeleng, menyanggah pendapat Reyna. "Tidak seperti yang terlihat dan kau pikirkan Rey!"
Reyna menarik telapaknya, melepas genggamannya pada telapak Hyuji yang lembut. "Kalau begitu aku saja yang menikah dengan berondong tampan dan kaya itu! "
"Yah....!! "
Wajah Hyuji bersungut, tak dipungkiri dia memang menaruh rasa pada sosok John Wilson. Akan tetapi jika dihadapkan pada sebuah keseriusan, apalagi sebuah pernikahan, dia belum berfikir jauh sampai disana. Mungkin saat bercanda dengan Reyna, dia selalu menunjukkan jika ingin memiliki kekasih dan hidup bersama. Akan tetapi, sebenarnya bukan seperti itu.
"Kalau begitu, anggap saja pertemuan singkat ini adalah jalan Tuhan mempertemukan dirimu dengan jodohmu!"
Hyuji diam, tak mengatakan apapun.
"Pertemukan dulu dia dengan kedua orang tua mu! Jika mereka tidak suka, kau punya alasan untuk pergi! Bukan sebagai pencundang, melainkan sebagai wanita bermartabat seperti sebuah berlian yang terjaga kemurniannya! "
Ide bagus, kali ini dia setuju dengan ucapan Reyna.
"Baiklah, aku akan membawanya ke daegu dan bertemu ayah dan ibu! "
"Semoga hidupmu lebih bahagia dari siapapun Hyu!"
Do'a sederhana Reyna begitu menyentuh hati Hyuji, membuat pupil nya bergetar. Mengingat kembali perjalanan Reyna yang sungguh berliku.
"Aku harapkan hal yang sama terjadi padamu! Aku selalu berharap Tuhan memberikan dirimu hal terbaik setelah melewati semua cobaan berat ini! "
Reyna tersenyum lembut, menampakkan deretan gigi putihnya. "Semoga saja! Aku juga berharap Tuhan memudahkan semuanya, atau memanggil diriku untuk kembali padanya!"[]