
Reyna pernah berkata padanya, jika dia akan selalu mengingat Val sebagai kenangan terindah meskipun sudah membuatnya jatuh hingga hancur berkeping.
Barang kali saat itu Reyna sedang berada dalam masa labil dimana Cinta pertama tak bisa dilupakan, itulah yang sempat Hyuji pikirkan dulu. Dia menyangka Reyna hanya membual tentang Cinta pertama, tapi tidak, dia membuktikannya. Dia rela membuat dirinya benar-benar hancur, sehancur-hancurnya hingga rela membuat dirinya sendiri sekarat. Dan Hyuji sadar, itu bukan sekedar bualan. Reyna gadis yang setia, dan dia sangat mencintai Val.
"Bodoh!" gumam Hyuji pelan sembari meneguk americano hangat yang sudah menemaninya sejak sepuluh menit yang lalu.
Sudah tiga hari dia menjaga Reyna yang dirawat dirumah sakit dan hari ini, masa cuti yang ia ajukan sudah berakhir dan harus kembali bekerja seperti seharusnya.
Menghubungi keluarga Reyna bukanlah jalan terbaik. Hyuji tau keadaan ibu Reyna---renta, dan adik laki-laki Reyna itu juga tidak mungkin harus melihat kakaknya yang dalam keadaan hancur seperti itu. Jadi, Hyuji memutuskan bahwa cukup dia saja yang merawat sahabatnya itu dalam keadaan terpuruk seperti itu.
"Baiklah, pertama-tama temui Val untuk meminta penjelasan darinya! Aku yakin, sebenci apapun, dia tidak akan menyakiti Reyna apalagi sampai menghajarnya! Ya, aku harap dia tidak melakukan itu! Atau aku akan benar-benar membawa kasus ini kepada pihak berwajib! "
Langkahnya terhenti didepan sebuah ruangan yang cukup mewah jika dilihat dari luar. Dia segera melangkah melewati bilah pintu dan jangan ditanya lagi, seseorang sudah menatapnya penuh tanya.
"Maaf, apa anda sudah membuat janji dengan pak CEO? "
"Kau pikir aku perlu membuat janji dengannya terlebih dahulu! " jawab Hyuji ketus, meluapkan perasaan penuh emosi sudah meletup-letup bak sebuah gunung yang hendak menyemburkan lava panas.
"Tentu saja, anda tidak bisa sembarangan bertemu beliau tanpa membuat janji terlebih dahulu! "
"Tidak perlu! Aku ingin bicara hal penting dengannya! "
"Nona, anda tidak bisa berbuat seperti ini! Anda sudah menyalahi aturan perusahaan..." jawabnya sembari menahan tubuh Hyuji yang memaksa masuk.
"YAH!!! " teriak Hyuji dengan suara memekik. "LEPASKAN AKU! AKU HARUS MENEMUI PRIA SIALAN ITU! "
"Nona, anda bisa---"
Belum menyelesaikan ucapannya, Hyuji sudah menarik rambut gadis itu hingga terpelanting diatas Heels tinggi yang ia kenakan. Gadis sekretaris itu meronta sambil menahan cengkeraman dari Hyuji.
Dan dalam waktu bersamaan, Val memasuki ruangan sambil merapikan Jas berwarna abu-abu yang ia kenakan. Kedua maniknya terbelalak saat melihat seseorang sedang menganiaya sekretarisnya.
"Yah!! Apa yang kau lakukan!! "
Tangan kekar Val berhasil memisahkan mereka hanya dengan sekali sentak. Hyuji yang sudah dipenuhi amarahpun terengah, menepukkan telapaknya beberapa kali setelah melakukan aksi jambak menjambak tersebut. Memang seperti itulah Hyuji, sebab itu lah dia dijuluki peri pelindung Reyna saat Menengah Pertama dulu.
"Hyu... Ji"
"Ya, ini aku! " sahut Hyuji cepat tanpa basa-basi dengan manik yang terbuka lebar.
Val melihat pada sekretarisnya yang terlihat berantakan, lalu menatap kesal pada Hyuji.
"Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu pada sekretarisku! "
"Lalu kenapa?! "
Val menggeleng, sadar betul akan keras kepalanya seorang Hyuji. Setidaknya, mereka dulu berstatus teman.
"Rapikan dirimu! Aku tidak ingin orang lain berpikiran buruk tentangku! Aku akan bicara dengannya! "
"Baik pak CEO! " jawab sang sekretaris dengan sopan, kemudian berlalu dengan tatapan tak suka pada Hyuji.
Val berjalan memasuki ruangannya, diikuti Hyuji yang mengekor dibelakang dengan wajah kesal.
"Ada apa kau memaksa bertemu?! "
Hyuji tersenyum sarkas, menatap pemuda itu nyalang. "Kau pikir, kenapa aku sampai memaksa masuk seperti ini huh?! "
Val hanya bisa diam dengan bibir terkatup. Menatap manik Hyuji yang berkilat syarat emosi yang menggebu.
"Apa yang kau lakukan pada Reyna? "
"Apa maksudmu? "
Val terdiam, dia tak menampik. Reyna pasti memberitahunya.
"Eummm, kami bertemu! Lalu kenapa?! "
"Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal itu pada Reyna Val?!! "
Seolah mengerti maksud Hyuji, Val hanya menatap wajah sahabat kekasihnya dulu. Sudah tiga hari Reyna meminta izin cuti libur, dan Val tau betul alasannya. Dan kedatangan Hyuji padanya hari ini pasti tentang luka memar yang ada ada Reyna setelah insiden pemukulan oleh tunangannya malam itu. HaNa.
"Dia mengadu padamu? Tidak aku sangka! Dia kekanakan sekali! " cibik Val dengan sebuah seringaian.
"Kekanakan kau bilang?! " jawab Hyuji tak terima, kedua bola matanya nyaris menggelinding keluar karena mendengar jawaban Val. "Hei, tuan kaya yang terhormat! Asal kau tau! Kau sudah menyakiti seorang wanita! Dan kau pikir, dirimu laki-laki sejati! "
Hyuji tidak tau apa pun, biar saja seperti ini atau dia akan mendatangi HaNa dan menjambak rambutnya. Pikir Val singkat.
"Seseorang hampir kehilangan nyawanya dan kau pikir itu kekanakan? Val, aku tidak menyangka kau---"
"Apa maksudmu?! "
Sontak Val terkejut, bak disambar petir disiang bolong, wajah yang tadinya terlihat biasa saja sekarang lebih terlihat khawatir dan, ketakutan.
Hyuji tersenyum getir, kedua maniknya mulai berair dan meneteskan butiran bening.
"Hyu, jawab aku!! "
"Reyna mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dan sekarang, dia masih terbaring belum sadarkan diri dirumah sakit!" pekik Hyuji memenuhi seantero ruangan.
Hyuji tertunduk, tubuh Val merosot, terduduk dimeja seketika setelah mendengar penjelasan Hyuji. Sama seperti Hyuji, kedua Netra Val mulai memburam.
Val memejam dengan kedua telapak mengepal sempurna. Merasa bersalah, tentu saja. Jika bukan karena dia meminta bertemu, tentu saja ini semua tidak akan terjadi.
"Kau belum puas menghancurkan harapannya dulu? Dan sekarang kau hadir kembali, juga berbuat kasar padanya! "
Val membatu, tubuhnya bergetar hebat mendengar penuturan Hyuji. Wajahnya memucat.
"Dan kau bilang itu kekanakan?! " Hyuji bertepuk tangan keras sembari tertawa bersamaan suara yang dibuat-buat, butiran bening yang menetes semakin deras."Kau benar-benar hebat Val! Aku bahkan tak habis pikir, semua ini harus terjadi pada gadis sebaik Reyna!"
"Katakan dimana dia dirawat! "
"Tidak, tidak akan aku katakan padamu!" jawab Hyuji tegas, membuat Val mengeratkan rahangnya.
"Hyu, katakan padaku... Kumohon... "
Hyuji tertawa puas melihat Val yang memohon dengan wajah sayu, dan dia berniat membiarkan pria itu menderita dengan rasa bersalahnya. Ya, sepertinya itu akan menjadi hal setimpal yang harus dirasakan pria tak berperasaan seperti Val, pikir Hyuji.
Namun pada langkah kesekian saat ia akan keluar dari tempat beraroma chamomile tersebut, kakinya terhenti sempurna.
"Kau pikir, aku tega melakukan hal itu pada orang yang nyatanya masih menempati seluruh hatiku Hyu?! "
Hyuji terperangah, bahkan sempat ingin menyesali perbuatannya pada Val beberapa detik yang lalu.
"Kau pikir aku mengajak Reyna bertemu untuk menyakitinya? Kau salah besar! "
Lalu, siapa yang melakukan itu pada Reyna? pertanyaan itu merenggut semua kinerja otak Hyuji.
"Biarkan aku bertemu dengannya Hyu! Aku mohon! "
Hyuji berbalik, menatap sendu pada sosok Val yang terlihat frustasi. Tak mampu menahan kesedihan yang semakin membuncah, Hyuji menyerah pada ke egoisannya sendiri.
"Temui aku di halte dekat kantor sepulang kerja! Dan... " suara Hyuji tercekat, menyeka air bening yang masih mengalir dari kedua maniknya. "Berjanjilah untuk tidak hadir di kehidupannya lagi! "
Val menatap Hyuji dengan hati yang terasa nyeri, mengangguk, merutuki diri sendiri, kemudian menyanggupi, "Baiklah! Aku akan pergi dari hidupnya! Aku berjanji padamu!"[]